12 Pulau Terluar Rentan Diambil Negara Asing

Pulau Nipah

JAKARTA--MI: Sedikitnya 12 pulau terluar milik Indonesia sangat rentan diambilalih oleh negara asing di perbatasan. Bila tidak segara diantisipasi, tidak mustahil, status kepemilikan pulau tersebut bakal lepas dari tangan Indonesia.

"Ini sebetulnya masih rahasia. Tapi sejumlah negara tetangga di perbatasan tercium tengah melakukan upaya guna meraih pulau itu. Bahkan tim bentukan Perpres No 78/2005 (tentang ppulau terluar) pun telah merekomendasikan agar ke-12 pulau itu perlu mendapat perhatian khusus," beber Sekertaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Siti Nurbaya Bakar, kemarin, di Jakarta.

Saat didesak, Siti menolak menjelaskan perihal upaya pengambilalihan pulau oleh negara lain itu. "Itu urusan Dephan. Tidak enak bila saya yang membeberkan," elaknya.

Secara garis besar, bentuk ancaman bermacam-macam. Ada yang dalam bentuk pembalakan liar, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat. Aparat tidak bisa berbuat banyak, lantaran pengusahan negara tetangga telah memberi 'mahar' pada sejumlah oknum petugas.

Lainya seperti, pengambilan pasir yang diekspor guna perluasan negara tetangga. Bila ini didiamkan, niscaya garis batas pantai negara tetangga bakal makin menjorok masuk ke wilayah Indonesia.

Bahaya lain adalah klaim kepemilikan yang sudah lama secara terbuka diajukan negara tetangga. Contohnya Pulau Batik yang diakui sebagai milik Timor Leste.
Ke-12 pulau yang terancam itu menurut Siti adalah Pulau Rondo, Pulau Sekatung, Pulau Nipa, Pulau Berhala, Pulau Miangas, Pulaua Marapit, Pulaua Bross, Pulau Fanildo, Pulau Marore, Pulau Batik, dan Pulau Dana.

Pulau-pulau tersebut terhampar mulai dari wilayah Aceh, Jambi, Kepri, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua.
Tercatat ada 92 pulau terluar yang ada di wilayah Nusantara. Luas pulau rata-rata 0,02 hingga 200 kilometer persegi. Hanya 50% dari 92 pulau terluar tersebut berpenghuni.

Terdapat 10 negara yang berdekatan dengan pulau terluar Indonesia. Negara tetangga itu antara lain Australia, Malaysia, Singapura, India, Thailand, Vietnam, Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste.

Kendati semenjak kasus lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan kita telah banyak banyak berubah, namun posisi Indonesia terbilang masih rentan. "Kalau ada sengketa dengan menggunakan hukum international, kita bisa repot," imbuh Siti.

Lantaran itu, ia mengusulkan dibentuk suatu badan khusus yang mengurusi penanganan pulau terpencil. Badan tersebut wajib memiliki kekuatan untuk mengoordinasikan sejumlah instansi bagi pengembangan potensi warga di pulau.

Pasalnya, sudah bukan rahasia lagi, bila kesejahteraan warga di pulau terluar tidak tergarap dengan apik oleh pemerintah. Ini adalah kelemahan paling mendasar Indonesia bila bertarung di sidang international.

Titik lemah lain adalah pihak Departemen Luar Negeri yang menjadi ujung tombak perundingan, sangat minim diberi pasokan informasi soal pemetaan wilayah yang baik, pengetahuan hukum interantional yang baik, dan lainya.

---

Sumber: Media Indonesia

Foto: http://tisda.org

My Islands

Sepertinya pulau Nipah dan Berhala familiar di telingaku, setidaknya pesawat Hawk 100/200 dari Pekanbaru sempat beberapa kali patroli di lingkar terluar wilayah Indonesia. Faktanya..... setiap ada pesawat indonesia yang mendekat lingkar terluar wilayah indonesia, pesawat-pesawat tempur tetangga juga mengudara dan melakukan shadow wing terhadap pesawat TNI-AU. Aneh memang, kita terbang di negara sendiri, tetap saja dibawah pengawasan "tetangga".

My Own

Harga diri bangsa adalah segala-galanya. Oleh sebab itu marilah kita bersama membangun negeri tercinta ini di segala bidang secara paralel. Baik itu masalah pendidikan, sospol, pembangunan infrastruktur, militer dll. Jangan pernah melihat militer dalam satu sisi saja. Apa yang dikatakan di atas itu bisa kita jadi kan pemicu semangat nasionalisme dan patriotisme kita sebagai anak bangsa. Sehingga kita punya kemandirian alutsista yang menjadikan kita kuat. Mari kita sama-sama bangkit! kita harus bisa menjadi tuan rumah di rumah kita sendiri baik itu darat, laut maupun di udara. Harga diri harga mati. Tapi jangan dilupakan juga kesejahteraan bagi mereka-mereka yang telah mengabdikan diri nya meninggalkan keluarga untuk mengawal negeri ini di perbatasan. BRAVO NKRI!!!

Rujito's picture

Penjagaan perbatasan

Pengalaman anda sewaktu terbang di daerah perbatasan pernah juga saya alami. Waktu itu saya terbang di dekat perbatasan dengan Singapur dan juga pernah sekali di dekat semenanjung Malaysia pantai timur. Yang saya alami bukan berbentuk shadowing, melainkan peringatan melalui radio-teleponi yang mengingatkan saya waktu itu bahwa saya sudah terbang di daerah perbatasan. Mungkin TNI-AU dapat membangun sistem peringatan seperti itu dengan berbekalkan penempatan radar-radar sasaran udara di daerah-daerah perbatasan. Dengan demikian akan memberi kesan bahwa kita selalu alert terhadap pencerobohan perbatasan negara.
Rujito

Untuk Mengingatkan Saja

terdapat pertanyaan dalam benak saya siapakah Indonesia itu? dengan pertanyaan itu, saya teringat dengan pelajaran wawasan nusantara, PPKN dan sejenisnya. point yang saya dapat adalah terdapat sebuah pemahman dan pengajran yang salah tentang siapa Indonesia itu. dari situ saya paham apa yang sekarang banyak digemborkan ilmuwan bahwa kita gagal merajut historisitas kita.
menurut yang sudah saya baca, saya menyimpulkan : Indonesia adalah bangsa dan negara yang lahir tgl 17 agustus, lainnya tidak. Majapahit dan Sriwijaya, bukan nation-state.kita tidak bs berlindung dengan kejayaan kedua kerajaan itu. kita harus mengakui bahwa kita merupakan bangsa yang lahir sari sebuah penjajahan. Penjajahan Belanda yang ckup meninabobokan/membodohkan, dan penjajahan Jepang yang amat kejamnya. pemahaman itu yang harus kita miliki, yakni bahwa meski kita dibodohkan, ditindas dan terjajah, kita tetap melakukan perlawanan hingga lahirlah revolusi 17 agstus. dan pmahaman kebangsaan jangan diletakkan pada kejayaan dua kerajaan besar sebelum indonesia ada.
pemahaman kebangsaan kita hauslah diletakkan pada 17 agustus tersebut dan deklarasi juanda. dengan memahami deklarasi juanda, kita dituntut untuk memperhatikan setiap pulau tak perduli pulau itu paling dekat dengan perbatasan atau tidak.
terdapat beberapa teori tentang pendirian negara, tetapi secara umum setidaknya harus memiliki : wilayah, rakyat, dan pemerintahan. wilayah Indonesia merdeka sudah ditentukan sejak perumusan UUD 1945. berkurangnya wilayah merupakan suatu ancaman bagi negara ini, dan tidak dapat dengan mudah untuk diterima oleh rakyat, pemerintah maupun para perumus kemerdekaan kita. berdasarkan kenyataan itu, dan pemahaman pendekatan deklarasi juanda kita dituntut untuk memikirkan strategi dan memberikan perhatian khusus kepada pulau yang nyata-nyata rawan terlepas/terpisah dari negara kesatuan hasil rumusan para perumus kemerdekaan dan yang mempuyai ikatan psikologis dengan masyarakat indonesia.

Jangan jadi katak dalam tempurung

Bangsa kita serba terlambat, termasuk terlambat menyadari soal kepentingan nasional. Sementara bangsa2 lain tetangga kita sudah lama bermanuver demi kepantingan nasional mereka, kita masih sibuk dengan saling hujat di dalam negeri, seakan2 di dunia ini cuma ada orang Indonesia saja. Saat kelompok2 politik di Indonesia saling serang, negeri tetangga sibuk mengelola pulau sengketa, sehingga secara de facto mereka dengan mudah memenangkan claim atas pulau2 yang disengketakan (kasus Sipadan-Ligitan). Pemimpin2 kita saat ini dan orang2 yang membebek di belakangnya lebih sibuk memikirkan posisi masing2 di pemerintahan maupun di legislatif, gak ada wawasan kebangsaan yang cukup dan gak ngerti atau gak peduli soalan geopolitik dan geostrategis sehingga martabat kita diinjak2 bangsa2 lain. Kalau begitu percuma aja jadi negara berpenduduk besar, luas wilayah yang besar, dan kekayaan alam yang besar kalau dikelola olah pemimpin2 yang hidup bagai katak dalam tempurung. Saya sih tak berharap banyak dari mereka (pemimpin2 Indonesia saat ini), saya lebih berharap pada anda, saudara2ku yang datang ke situs ini untuk ikut membentuk opini publik tentang perlunya bangsa Indonesia keluar dari tempurung dan mulai membangun solidaritas kebangsaan, bekerja lebih keras, belajar lebih tekun, lebih jujur, ikhlas, dan berbuat lebih banyak lagi demi Indonesia yang maju, sejahtera, dan bermartabat. Jayalah bangsaku!

SANGAT SETUJU!!!!

SANGAT SETUJU!!!!

"saudara2ku yang datang ke situs ini untuk ikut membentuk opini publik tentang perlunya bangsa Indonesia keluar dari tempurung dan mulai membangun solidaritas kebangsaan, bekerja lebih keras, belajar lebih tekun, lebih jujur, ikhlas, dan berbuat lebih banyak lagi demi Indonesia yang maju, sejahtera, dan bermartabat. Jayalah bangsaku!"