Bagaimana Amerika Serikat Menggelar Sistem Deteksi Pertahanan Udara Nasional

noorpramadi's picture

Oleh: Kolonel Lek. Noor Pramadi

USA sebagai negara maju yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan teknologi di bidang pertahanan khususnya alat utama sistem senjata (Alutsista), telah membangun sistem pertahanan udara berlapis dengan memanfaatkan berbagai tipe sensor.    Pada kesempatan ini penulis ingin menganalisis gelar sistem deteksi pertahanan udara USA.   Analisis ini berdasarkan dari sumber-sumber literature yang tersedia, sudah barang tentu terdapat hal-hal khusus yang tidak dapat diungkap oleh penulis karena kurangnya data dan pada tahun 2009 ini sudah barang tentu telah berubah sesuai perkembangan teknologi dan lingkungan strategis.  Pemerintah USA memiliki konsep pembangunan jangka panjang (25 tahun) pembangunan sistem pertahanan udaranya untuk tahun 1996-2020 (Strategic Air Defense Mission Area Plan FY1996).

Konsep operasi pertahanan udara pada umumnya secara prinsip memiliki persamaan di setiap negara di dunia, demikian halnya dengan USA.    Sistem deteksi digelar di wilayah negara yang akan dipertahankan terutama di perbatasan dan berusaha memantau wilayah udara sejauh mungkin dari wilayah negara yang akan dipertahankan.    Sistem deteksi berupa Radar (berbagai type) dan AWACS (Airborne Warning and Control System) digelar untuk mendeteksi target, hasil deteksi dikirimkan ke R/SOCC (Region/Sector Operation Controle Centre) sebagai pengendali operasi, selanjutnya situasi udara saat itu dilaporkan secara real time kepada ACC (Air Combat Command’s) untuk dinilai dan diputuskan apakah target tersebut perlu dibayang-bayangi, dipaksa mendarat, diusir atau ditembak/dihancurkan.   Untuk melakukan penindakan seperti tersebut diatas, pesawat buru sergap/fighter diterbangkan untuk menuju target dibawah kendali R/SOCC.   Proses tersebut terus berulang setiap sistem deteksi berhasil mendeteksi target, untuk lebih jelas dapat digambarkan di gambar “Strategic Air Defence Concept of Operations” dibawah ini.

Konsep operasi pertahanan udara di atas dapat dijelaskan dengan model sistem strategi pertahanan udara, Alutsista deteksi berupa Radar dengan berbagai tipe dan AWACS bertugas melaksanakan observasi (observe) dengan kegiatan monitor, deteksi dan identifikasi.   Selanjutnya R/SOCC melaksanakan orientasi (orient) dengan memperhatikan data-data intelijen dan data-data lainnya untuk pengendalian operasi pertahanan udara.   ACC menerima data-data dari R/SOCC secara komprehensif dan memperhatikan berbagai faktor (factors) seperti data-data intelijen serta pertimbangan rencana operasi maupun data-data lain yang mendukung, menghasilkan keputusan (decide) untuk membayang-bayangi, memaksa mendarat, mengusir atau menembak target yang terdeteksi oleh Radar atau sensor lain.   Selanjutnya melakukan aksi (act) dengan menerbangkan pesawat buru sergap/fighter dengan misi sesuai perintah dan dikendalikan sepenuhnya oleh R/SOCC.   Semua proses operasi tersebut dapat divisualisasikan dalam model/gambar dibawah ini.

Peralatan sensor atau peralatan early warning yang digelar USA di daratan bagian utara untuk memonitor semua kemungkinan serangan dari Rusia.  Agar dapat memonitor wilayah utara sejauh mungkin, memanfaatkan perbatasan utara Canada sebagai Negara sahabat USA untuk menggelar sistem deteksi.   Pada prinsipnya USA berkepentingan untuk memantau wilayah udara sejauh mungkin ke wilayah kemungkinan datangnya ancaman.   Berbagai tipe sensor telah digelar di wilayah utara disesuaikan untuk menghadapi persenjataan yang dimiliki oleh calon musuh.    USA sebagai negara maju memiliki kemampuan untuk menggelar sistem deteksi di darat, di laut, di udara dan di ruang angkasa.    Terdapat tiga hal penting dalam melihat kemampuan sistem deteksi, ketiganya harus dilihat secara komprehensif, yaitu kemampuan Alutsista deteksi, kecepatan sistem komunikasi (real time) dan kecepatan  management pengambilan keputusan untuk pertempuran (Battle Management System).   Ketiganya sangat menentukan tingkat keberhasilan operasi secara keseluruhan.   Di bawah ini divisualisasikan gelar Alutsista sensor (early warning system) di daratan.

Gambar di atas memperlihatkan bahwa USA membagi wilayah udaranya dalam 6 region atau sector yang diberi kode AN/FYQ-93 R/SOCC (16 Maret 1996 disebut R/SAOC Region/Sector Air Operation Centre) dan AN/GSQ-235 Region Operations Control Center/Airborne Warning And Control Systems (ROCC/AWACS) Digital Information Link (RADIL).   Di wilayah utara Canada digelar AN/FPS-117 LRR (long range radar-240 Nm).    FAA/AF Radar (Federal Aviation Agency/Air Force Radar) digelar diseluruh perbatasan USA, pelaksanaan monitor wilayah udara dilakukan bersama antara otoritas sipil dan militer (FAA/AF Radar) dengan program Air Route Surveillance Radar Model 4 (ARSR-4) dan terintegrasi dalam Joint Surveillance System (JSS), hal ini untuk efisiensi.    Sedangkan AN/FSP-118 OTH-B (Over The Horizon Backscatter Radar) digelar dipantai timur dan barat, di wilayah selatan digelar sistem deteksi/sensor yang memanfaatkan aerostats (Aerostat Radar System memanfaatkan  balloon-borne radar).    Wilayah utara juga digelar FSP-124 SSR, jarak jangkau 70 NM dengan ketinggian 15.000 feet dikombinasikan dengan AN/FPS-117 LRR (long range radar-240 Nm).    Wilayah selatan tergelar unit-unit CBRN dan NADS (Chemical, Biological, Radiological, or Nuclear dan Navy Area Defense System).

Gambar-gambar diatas adalah berbagai sensor/multi sensor (early warning system) dalam jumlah yang banyak tersebar di wilayah USA maupun di negara sahabat (tetangga) dan berflatform di darat, laut maupun udara.    Disamping itu USA juga memiliki sensor di antariksa yang disebut  Space-Based Radar (SBR), di antariksa telah diluncurkan berbagai jenis Radar satelit antara lain :

  1. Synthetic aperture radar (SAR) for high-resolution imaging.
  2. Radar altimeter, to measure the ocean topography.
  3. Wind scatterometer to measure wind speed and direction.

Semua jenis sensor tersebut terintegrasi dalam Joint Surveillance System (JSS) dengan kecepatan penyampaian data mendekati real time, hal ini perlu karena hasil deteksi masing-masing sensor akan saling melengkapi data dan akhirnya High quality RAP(Recognised Air space Picture) for Air Defence dapat dicapai, seperti tergambar pada grafik dibawah ini.

Program pengembangan jangka panjang (25 tahun) sistem deteksi pertahanan udara USA dimulai tahun 1996 sampai dengan tahun 2020, dengan fokus/konsentrasi Air Defence Sensor SystemAir Defence Battle Management Systems dan Air Defence Communication System.
Fokus/konsentrasi pengembangan Air Defence Sensor System meliputi antara lain :

  1. Over-the-Horizon Technology Development/Experiments: radar untuk aplikasi pengawasan wilayah yang  luas dan deteksi target jarak jauh berpenampang kecil. 
  2. Bistatic Sensor Technology: Memperluas jangkauan, kepekaan, dan kemampuan untuk ECCM, deteksi pesawat kecil dan rudal jelajah.
  3. Space-Time Adaptive Processing: mampu untuk mendeteksi rudal jelajah dan pesawat pada jarak yang lebih jauh.
  4. Improved Sensor Resolution Techniquesmeningkatkan sensitivitas deteksi target, akurasi lokasi target, dan jangkauan, terutama untuk target yang terbang rendah.
  5. Indirect Hostile Target Identification: teknik deteksi target off-board dengan menggunakan sensor untuk meningkatkan kemampuan identifikasi sasaran.
  6. Real-Time Signal Processor Enhancement: prosesor berkemampuan tinggi dengan kemampuan memproses  yang jauh lebih tinggi, mengurangi ukuran / berat / power dan mudah diprogram.    Penggunaan algoritma yang lebih baik untuk meningkatkan deteksi dan pelacakan target.  
  7. Faster Automated Diagnosticscepat menunjukan indikasi kegagalan,  sehingga membuat peralatan lebih mudah untuk perbaikan dan mengurangi biaya operasi.  Masih terdapat fokus tambahan untuk pengembangan jangka panjang.

Di bawah ini tergambar dengan jelas pemilihan jenis sensor dan jumlahnya, serta roadmap pembangunannya sampai dengan tahun 2020.

Fokus/konsentrasi pengembangan Air Defence Battle Management Systems meliputi antara lain:

  1. Architecture for Distributed Processing: menentukan bentuk arsitektur yang sesuai untuk berbagai jenis pemrosesan data dan meningkatkan jumlah sumber data yang dapat ditampung.     Ini juga akan membantu untuk berbagi data dengan lembaga/institusi lain. 
  2. 3-D Large Screen Display: memfasilitasi kebutuhan untuk memvisualisasikan data, meningkatkan deteksi dan identifikasi sasaran.  
  3. Extremely High-Capacity/High Speed Memory: memori yang sangat besar dengan kemampuan kecepatan tinggi dalam membaca dan penyimpanan/menulis data dengan lebih banyak, memungkinkan pengolahan data dengan teratur dan hanya sedikit kehilangan waktu menunggu proses data begitu diaktifkan. 
  4. Software for Distributed Computing: perangkat lunak yang tepat di setiap computer, sehingga semua fasilitas komputer beroperasi pada tingkat maksimum.  Hal ini memungkinkan pengolahan data yang lebih cepat dari semua tipe data. 
  5. Utilization Software for Imagery Weather and Geographic Datameningkatkan kemampuan pengolahan data untuk pemanfaatan lebih lanjut. 
  6. Multi-Spectral Observables Fusion: fusi/perpaduan  peningkatan dan perbaikan sensitivitas deteksi untuk identifikasi target.   
  7. Near Real Time Target Classificationalgoritma dan perangkat lunak yang mampu untuk mengidentifikasi target  tanpa keterlambatan waktu (delay) yang panjang setelah penerimaan data sasaran.  
  8. Automated Correlation/Identification Systems for Decision Aids: otomatisasi akan menghemat tenaga kerja, meningkatkan kehandalan, dan membuat perawatan menjadi lebih sederhana; korelasi / identifikasi keputusan membantu meningkatkan deteksi target dan pelacakan serta meningkatkan kemampuan untuk menemukan dan mengidentifikasi target.   

Di bawah ini tergambar dengan jelas pemilihan jenis prosessor dan jumlahnya, serta roadmap pembangunannya sampai dengan tahun 2020.

Fokus/konsentrasi pengembangan Air Defence Communications Systems meliputi antara lain:

  1. High-Speed Communication: komunikasi yang lebih cepat mengurangi backlog dan akan meningkatkan jumlah data yang dapat ditangani. 
  2. Multi-Media Komunikasi Routing: kemampuan untuk berkomunikasi dengan berbagai jenis komunikasi data (link komunikasi data) dengan menjamin semua yang memerlukan akan terpenuhi secara tepat waktu dan terjangkau serta terintegrasi. 
  3. Komunikasi otomatis Setup Link Control:  menyiapkan komunikasi dengan kontrol otomatis  akan mengurangi  jumlah personel operator dan meningkatkan kehandalan hubungan komunikasi.   

Di bawah ini tergambar dengan jelas pemilihan sarana komunikasi dan jumlahnya dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2020.

Program pemerintah USA yang cukup menarik untuk dicermati adalah program Air Rute Surveillance Radar Model 4 (ARSR-4), suatu program efisiensi berupa kerjasama penggunaan sensor/Radar antara otoritas sipil dan militer yang tergabung dalam Joint Surveillance System (JSS).  JSS adalah suatu jaringan sensor/radar terintegrasi untuk pengawasan jarak jauh wilayah udara nasional, terutama yang dioperasikan dan dikelola oleh Federal Aviation Administration (FAA), berkewajiban menyediakan komunikasi dan data hasil deteksi Radar untuk FAA dan pusat kontrol USAF.    Pemerintah USA meluncurkan program Air Rute Surveillance Radar Model 4 (ARSR-4) yang fungsinya adalah fasilitas untuk  menyediakan data air situations untuk pertahanan udara (USAF) dan kontrol lalu lintas udara (FAA) untuk Amerika Serikat, Guam, dan Hawaii.    Empat puluhan gabungan situs radar dipasang selama periode 1992-1995, sebagai wujud pelaksanaan  program ARSR-4 adalah suatu upaya menurunkan biaya operasional (sebelumnya otoritas sipil /FAA dan USAF memiliki sistem Radar sendiri-sendiri).
Dibandingkan dengan radar sebelumnya, ARSR-4 lebih dapat diandalkan, kemampuan deteksi lebih baik, dan area jangkauan radar 200-250 Nm.     Radar mampu menyajikan data tiga-dimensi (range, bearing dan altitude), teknologi solid state, perawatan simple, Radar ini beroperasi pada  frekuensi 1215-1400 MHz dan menggunakan dual-channel frequency hopping/agility dan anti jamming pencarian dan pelacakan, dan mampu mendetek-si objek/target kecil (small RCS target) dengan kemampuan meminimalkan gangguan cuaca dan efek multipath.    Sistem radar ini berkewajiban untuk mendukung pertahanan udara nasional dan menyediakan data untuk kontrol lalu lintas udara otoritas sipil.

FAA dan USAF menjadi sangat prihatin, karena harus merealokasi frequency spectrum  yang digunakan oleh ARSR-4, hal ini akan berdampak pada kemampuan dual-frequency hopping/agility yang merupakan kunci desain Radar.   USAF menyatakan bahwa perlu memiliki Radar dengan kemampuan frekuensi-hopping/agility, kemampuan anti-jamming dan penggunaan Air Traffic Control dan keperluan lainnya.    USAF  menyatakan bahwa realokasi segmen band 1385-1390 MHz akan menurunkan kemampuan Radar  frequency hopping/ agility yang merupakan kunci untuk desain anti-jamming.         FAA dan USAF menyatakan bahwa realokasi frequency minimal memerlukan modifikasi perangkat lunak (soft ware) yang diperkirakan menelan biaya cukup besar.   Di bawah ini terlihat secara jelas gelar ARSR-4 di pinggir/perbatasan wilayah USA. 

Pengembangan sistem deteksi/sensor (multi sensor) untuk pertahanan udara direncanakan dengan jangka waktu panjang (perencanaan jangka panjang 25 tahun), dengan diawali program efisiensi penggunaan sensor bersama antara otoritas penerbangan sipil (FAA) dengan otoritas militer (USAF).   Pengembangan sistem deteksi/sensor difokuskan pada sistem sensor, sistem computer untuk battle management dan sistem komunikasi.   USA sebagai negara pulau dengan gelar sistem deteksi seperti dijelaskan diatas, berbeda dengan NKRI yang berbentuk negara kepulauan, oleh sebab itu sistem pertahanan USA tidak dapat ditiru begitu saja untuk diterapkan di Indonesia, namun perlu modifikasi.    NKRI yang berbentuk kepulauan mengandung konsekuensi lebih berat dalam mempertahankan kedaulatan dan berarti memerlukan biaya yang lebih besar untuk membangun sistem pertahanan.   Efisiensi penggunaan sensor radar secara bersama antara otoritas sipil dan militer adalah contoh baik untuk diterapkan di Indonesia.

Daftar Pustaka :

  1. Joseph J Ralston General USAF, Strategic Air Defense Mission Area Plan FY1996, 15 Nov 1995.
  2. Strategic Air Defence, http://www.fas.org/nuke/guide/usa/airdef/overview.htm, 16 Nov 2009.
  3. Strategic Air Defence Radar, http://www.fas.org/nuke/guide/usa/airdef/radar.htm, 16 Nov 2009.
  4. Strategic Air Defence Processor, http://www.fas.org/nuke/guide/usa/airdef/processor.htm, 16 Nov 2009.


USA berminat pasang radar pasif untu sistem hanudnya

USA akhir-akhir ini menandatangani kontrak pembelian Radar Pasif yang jumlahnya masih dirahasiakan, alutsista ini untuk memperkuat sistem hanudnya. Banyak duit soalnya, berarti dia mengakui kemampuan Radar Pasif.........