Bicara Safety - Capabilities Demands Model

AFP's picture

Oleh: Mayor (Pnb) Andy F. Picaulima, Skadron Udara 8 Atang Senjaya

Beberapa hari ini kita sering melihat kecelakaan-kecelakaan pada pesawat terbang baik dalam maupun luar negeri,militer maupun sipil. Tak terhitung berapa nyawa dan kerabat kita ikut menjadi korban dalam sebuah kecelakaan pesawat. Kali ini izinkan saya berbagi salah satu safety model (di luar Swiss Cheese Model milik Prof.James Reason yang juga digunakan) yang diberi nama “capabilities demands model”. Sebuah sistem safety yang diadopsi oleh TNI AU (saya belum tahu untuk instansi lainnya) dari negeri tetangga kita Singapura karena negeri Singa tersebut dianggap mampu mencapai zero accident setelah 30 tahun melakukan “Trial and Error” pada sistem safety AU mereka. (Lihat Gambar)



1. Operating Capabilities

- Man

Berbicara tentang personel tentunya meliputi para pilot, teknisi, bahkan sampai pekerja di ATC. Personel tentunya harus dididik ilmu pengetahuannya, dilatih keterampilannya dan dijaga kesehatan fisik dan psikisnya. Untuk pilot khususnya, guna mempertahankan skill terbangnya, tentunya dibutuhkan antara lain pesawat/simulator di homebase (banyak pesawat namun semua digunakan untuk operasional di pelosok Sabang sampai Merauke tidak termasuk ikut membantu meningkatkan profesionalisme penerbang) dan jam terbang latihan (bedakan dengan jam terbang operasional). Sebagai contoh: ferry flight selama 3 jam dari Bogor ke Surabaya karena tugas (jam operasional) hanya take off, level, bernavigasi dan landing, tidak akan lebih berarti untuk mempertahankan / meningkatkan keterampilan terbang dibanding dengan 1 jam penuh melakukan latihan emergency di homebase.

- Machine

Haruslah kondisi yang baik dan memiliki alokasi jam terbang yang cukup untuk melaksanakan latihan bagi seluruh penerbang yang ada sesuai dengan perencanaan pembinaan personel bukan hanya cukup untuk melaksanakan operasi penugasan. Berbicara tentang perawatan dan pemeliharaan berarti berbicara tentang anggaran yang mungkin juga disampaikan oleh Bapak Presiden ( http://news.okezone.com/read/2009/05/20/1/221588/presiden-hercules-jatuh...) namun jam alokasi jam terbang latihan lah yang sangat mempengaruhi tingkat profesionalisme penerbang, dan jam alokasi tersebut juga membutuhkan anggaran yang sangat besar. Ingat bisa saja terjadi pesawat dalam kondisi yang baik, namun keterbatasan alokasi jam terbang sehingga jam yang ada hanya difokuskan guna pelaksanaan tugas (jam operasi) bukan pada latihan.

Sehingga jelaslah adanya korelasi yang kuat antara man and machine. Tanpa machine / pesawat di homebase (sekali lagi di homebase) dan jam terbang latihan yang cukup, mustahil mendapatkan tingkat profesionalisme yang baik bagi para penerbang, dan tanpa penerbang yang baik, secanggih apapun machine takkan cukup untuk mengatasi operating demands.

2. Operating demands

Merupakan tuntutan tugas yang sering harus dihadapi antara lain :

- Mission
Misi penerbangan dapat berbagai macam, tiap misi memiliki manuver khasnya masing-masing dengan parameternya masing-masing.

- Medium

Medium dapat berupa cuaca yang dapat berubah setiap saat, dapat juga berupa medium yang sempit yang membatasi kemampuan manuver pesawat (gunung-gunung dan lembah curam) atau mungkin limitasi yang dimiliki pesawat itu sendiri yang dihadapkan dengan altitude atau attitude pesawat.

3. Management

Sisi yang melaksanakan fungsi planning, control, supervision & support. Management dapat satu tingkat di atas pelaksana dan bisa juga sampai pada tingkat penentu kebijakan di atas sana. Manajemen lah yang harus menghitung berapa jumlah alokasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan jam operasi, jam perawatan dan jam latihan yang akan menjamin tingkat profesionalisme penerbang. Manajemen pula yang membuat SOP yang mengatur apakah secara psikologis, usia serta jam terbang seorang personel dapat diberi tanggung jawab sebagai Captain Pilot, dsb. Manajemen pula yang menentukan mampukah personel melaksanakan tugas spesifik yang mungkin jarang dilatihkan. Manajemen juga yang harus membudayakan bahwa decision seorang Captain Pilot di pesawat adalah absolut dan seharusnya tidak boleh dipengaruhi oleh pendapat dari penumpang walaupun penumpang tersebut lebih senior daripada sang Captain Pilot dalam kepangkatan kemiliteran. Dan masih banyak lagi.

Kesimpulannya adalah manajemenlah yang pada akhirnya harus menjamin bahwa sisi Operating Capabilities “lebih berat “ daripada sisi Operating Demands. When capabilities exceed demands, likelihood of an accident is much reduced, namun sebaliknya, jika sisi tuntutan tugas melebihi kemampuan, maka kecelakaan hanya menunggu waktu.

Kalau sampai di sini, masihkah kita menyalahkan penerbang....atau cuaca?

Patroli Bersama di Ambalat

Sore ini (10 Juni 2009) saya mendengar dan membaca berita di televisi bahwa Indonesia dan Malaysia sepakat untuk melakukan patroli bersama di Ambalat. Kalau berita itu benar, tentu saya TIDAK setuju dan kecewa dengan kesepakatan itu. Masa kita mau saja melibatkan Malaysia berpatroli di Ambalat yg kita yakini termasuk wilayah kedaulatan kita. Menurut saya, silahkan mereka berpatroli di wilayah mereka sendiri tapi tidak di Ambalat karena Ambalat adalah wilayah kedaulatan kita.

Mudahan2an berita itu tidak benar; jika berita itu benar dan memang ada kesepakatan, maka menurut saya itu suatu kesalahan dan kerugian bagi kita.

Faktor utama

Saya sangat setuju sekali dengan tulisan abang...Selama ini untuk AD juga memakai teori tsb. Namun menurut saya faktor utama adalah SDM secara spesifik manusianya. No 1 Man, itu mutlak adalah crew sebagai pelaksana penerbangan, no 2 Machine yg berkaitan dengan alutnya, faktornya adalah pemeliharaan...Siapa yg memelihara (merencanakan, manyiapkan, malaksanakan) tentu saja kembali manusianya. Sudah benar belum? Sudah baik belum Har yg dilaksanakan. Personel Har bagaimana? Mumpuni tidak? No 3 Mission. Siapa yg menentukan mission? Baik can,siap & pelaks nya? Tentu saja manusia2 dibali itu semua. Crew hrs mengetahui batas kemampuan berkaitan dg mission ini. No 4 Medium. Ini faktor alam, akan bersentuhan langsung dengan crew...Crew hrs punya kemampuan & pengalaman berkaitan dg faktor ini. Kemampuan & pengalaman akan bertambah dg jam terbang...No 5 management. Sangat erat kaitannya dg SDM, Who's the manager? Punya kemampuan tidak? Menguasai dunia penerbangan tidak?
Jadi menurut saya SDM yg ada harus ditingkatkan, semua SDM yang terkait dengan sistem, tidak cuma crew saja sehingga diharapkan SDM bagus akan meningkatkan kemampuan crew, pemeliharaan berjalan dg baik, mission possible, tingkat management yg baik didukung dengan anggaran yg cukup dr pemerintah. Sehingga tidak selalu faktor crew & cuaca yg selalu salah...(setuju bang)