Oleh: Kompol Harry Haryadi SIk, M.Hum, Wakapolresta Binjai, Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF
Dengan Dirgahayu Ke-63 Kepolisian Negara Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2009 ini, semoga kami dapat menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat yang lebih baik serta Polisi yang profesional guna memenuhi harapan masyarakat. Tulisan ini saya buat khusus untuk memperingati hari ulang tahun POLRI hari ini. Semoga bermanfaat:
Setelah sholat subuh aku langsung bersiap untuk berangkat melaksanakan apel pagi setelah sebelumnya mencium kening istriku dan membuka pintu kamar kedua anakku yang masih terlelap. Inilah suatu rutinitas pagi yang paling saya benci karena tidak sempat berbicara dan berpamitan dengan anak-anakku. Langit masih berwarna gelap dengan beberapa bintang yang masih tampak walaupun mulai kalah dengan semburat jingga sang surya. Udara terasa sejuk sekali, menyegarkan rongga paru-paru sekaligus memberikan energi baru untuk memulai hari ini.
Tepat pukul 05.45, aku sudah tiba di pelataran parkir Swalayan Suzuya, tempat kami personil Lalu Lintas melaksanakan apel setiap paginya. Kemudian tepat pukul 06.00, sebelum kemudian bergerak menempati pos masing-masing tempat kami melaksanakan pengaturan lalu lintas yang dalam istilah kami dikenal dengan "Pos Padat Pagi" dan "Pos Padat Sore".
Tepat pukul 06.30, aku sudah berdiri tegak lurus di perempatan yang sudah menjadi pos tetapku selama hampir 3 tahun terakhir ini. Kepadatannya tidak pernah berkurang namun makin bertambah setiap tahunnya. Demikianlah menurut pengamatanku, selama hampir 4 jam aku harus berdiri di sana sebelum pukul 10 nanti dapat beristirahat sejenak karena pada jam tersebut lalu lintas sudah mulai lancar dan hanya sesekali aku harus keluar dari pos untuk menertibkan angkot atau bus yang berhenti sembarangan atau membantu anak-anak dan orang tua menyeberang jalan. Selanjutnya tepat pukul 12.00, aku sudah harus siap lagi berdiri mengatur jalan hingga pukul 14.00, dan terakhir nanti pukul 16.00 sampai 18.00 harus sudah siap lagi mengantisipasi jam pulang kerja dan sekolah.
Satu jam pertama saat udara masih segar tidaklah sulit untuk melaksanakan pengaturan dengan memberikan aba-aba gerakan tangan yang tegas, bersemangat, disertai hembusan peluit yang cukup kencang. Tapi setelah 2 jam, lambat namun pasti keletihan akan datang menghampiri, belum lagi ditimpali dengan sikap para pengguna jalan yang bertindak semaunya, dengan satu pemikiran yang sama, yaitu tiba di tempat tujuan secepat-cepatnya. Sering aku berpikir apa mereka lupa kalau justru dengan ngebut, memacu kendaraan secepat-cepatnya, berusaha mengambil setiap celah yang kosong di jalan malah akan mempercepat mereka mengalami kecelakaan lalu lintas dan bukannya sampai di tujuan dengan selamat.
Itu belum ditambah bagaimana bila seandainya terjadi kecelakaan atau serempetan yang otomatis akan menyita waktu yang lebih banyak lagi untuk berdebat antara pihak yang terlibat, plus membuat jalanan semakin macet yang pada akhirnya akibat ulah yang demikian mengakibatkan "BANYAK ORANG" dengan sukses terlambat tiba di kantornya dan membuat mereka sudah kehabisan energi karena mengumpat dan menunggu jauh sebelum mereka tiba di kantor dan mulai bekerja.
Saat kelelahan menyapa sementara kepadatan lalu lintas tidak pernah berkurang, ditambah lagi terik matahari yang mulai menyengat, bukanlah sebuah situasi yang menyenangkan bagi petugas lapangan seperti aku. Jujur harus kuakui bahwa dalam kondisi seperti di atas, emosi sangat gampang tersulut, apalagi bila ada pengguna jalan yang sudah diberi tahu dengan peluit atau gerakan tangan, namun tetap tidak mematuhi aturan. Dan harap diingat, pengguna jalan yang punya tabiat seperti itu bukan cuma satu tapi banyak sekali. Ketika 2 atau 3 orang yang demikian aku masih bisa saba, tapi kalau sudah berulang-ulang, siapa juga yang bisa tahan dan terpaksa harus ditilang atau diberi tindakan tegas.
Apa mereka lupa kalau aku juga manusia bukan robot yang diletakkan di tengah jalan dan diprogram khusus untuk mengatur jalan tanpa perlu diberi makan dan minum serta tanpa emosi sama sekali. Aku jadi teringat tulisan dari Prof.Satjipto Rahardjo seorang guru besar UNDIP yang sering menulis tentang polisi di berbagai surat kabar nasional. Beliau menyatakan bahwa menjadi seorang polisi itu haruslah HO2 yang berarti harus punya HATI, OTAK dan OTOT.
Punya HATI berarti bahwa dalam menegakkan hukum memang diperlukan ketegasan namun haruslah tetap manusiawi dengan melihat bagaimana situasi dan kondisi dari pelaku kejahatan atau pelanggar hukum. OTOT diperlukan dalam situasi yang memang mengisyaratkan petugas bertindak tegas untuk mencegah situasi menjadi lebih buruk dan merugikan masyrakat sekitar. OTAK mengisyaratkan seorang anggota Polri untuk mampu berpikir jernih dalam setiap situasi, cermat dalam melihat suatu permasalahan serta dapat mengambil keputusan secara cepat mengingat Polisi selalu dihadapkan pada permasalahan yang nyata dan memerlukan tindakan penanganan saat itu juga.
Kalau sudah berurusan dengan pelanggar lalu lintas, aku sudah harus siap mendengarkan alsan klasik yang akan selalu dilantunkan seperti: terburu buru, harus segera ke rumah sakit, tidak melihat lampu sudah berwarna merah, pengendara di depan saya juga jalan, atau saya harus ujian Pak, dll. Belum lagi pada saat diberikan slip tilang dan ditawarkan apakah mau dibayar di tempat atau mengikuti persidangan, maka biasanya jawaban yang terdengar adalah "Bagaimana kalau kita damai saja Pak?" . Hal seperti inilah yang sering membuat citra Polisi bertambah jelek dan juga menjadi potret buram penegakan hukum oleh Polri terutama di bidang lalu lintas.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, kalau menerima uang sogokan adalah salah, selanjutnya bagaimana dengan posisi masyarakat yang memberi dan menawarkan sogokan tersebut? Kalau memang masih ada rekan seprofesiku yang masih berbuat, minimal tindakanku bisa memberi sedikit arti untuk menetralisirnya.
Mengatur lalu lintas pada kondisi dimana jumlah kendaraan yang bertambah banyak demikian pesatnya setiap tahun dan tidak diimbangi dengan penambahan ruas jalan sudah barang tentu bukanlah suatu tugas yang mudah. Karena otomatis kemacetan akan menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan, maka kehadiran petugas lalu lintas dan rambu-rambu jalan tidak akan banyak berarti dalam menyelesaikan masalah kemacetan namun hanya pada sekedar upaya untuk mengurangi kemacetan. Ini ditambah lagi dengan tingkat ketaatan masyarakat kita yang sangat rendah pada hukum. Sudah jelas-jelas lampu pengatur berwarna merah masih juga diterobos dengan alasan tidak ada Polisi.
Ketika menghadapi situasi kemacetan, saya sering teringat dengan perkataan mantan Komandan saya yang sekarang sudah pensiun, "Jadi Polisi itu serba salah, ketika jalanan macet dan Polisi hadir maka masyarakat akan berkata bahwa wajar saja ada Polisi karena memang sedang macet. Tetapi kalau masih juga tetap macet, maka masyarakat akan bilang untuk apa ada Polisi karena tidak bisa membuat lalu lintas menjadi lancar."
Tanpa terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, malam sudah menggantung di langit, kulirik arlojiku tepat pukul 18.30 yang berarti aku masih harus segera apel ke kantor, baru kemudian bisa kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Berangkat meninggalkan rumah masih gelap dan kembali ke rumah pun ternyata langit juga belum berubah, masih tetap gelap juga. Do'aku semoga anak-anakku tercinta belum tidur sehingga aku masih bisa bercengkrama dengan mereka dan menanyakan bagaimana pelajaran sekolahnya hari ini. Terimakasih ya Allah, semoga tugasku menjadi berarti dan tidak sia-sia serta dapat menjadi amal baik di hadapan-Mu, aamiin.
"SELAMAT ULANG TAHUN POLRI"
dirgahayu kepolisian
dirgahayu kepolisian republik indonesia kami bangga padamu bapak-bapak polisi yang sudah bertugas siang malam tak kenal lelah ngurusin masyarakat indonesia yang suka komplein.... dirgahayu!
Terimakasih
Terimakasih atas pujiannya mas, semoga kami bisa lebih baik lagi kritik dan saran dari rekan rekan selalu kami nantikan.
Salut dan hormat serta mohon saran untuk SPN Mojokerto Jatim
Selamat siang Komandan, saya adalah Staf pengasuh di SPN Mojokerto, saya telah membaca tulisan Bapak dan saya salut dan hormat, sehingga saya lebih optimis Trust Building yang merupakan bagian dari Grand Strategy Polri akan dapat segera tercapai sebelum kita melangkah pada Partnership Building, karena saya masih menjumpai sosok Perwira yang akan memegang statment Say no to the Coruption, walaupun ini agak berat tapi kami selaku anak buah / bawahan sangat senang dan mendambakan pemimpin yang seperti bapak
Mohon ijin, apa saran Bapak bagi kami selaku juru masak Polisi sehingga akan didapat hasil masakan yang lebih Profesional, Modern dan bermoral sehingga benar-benar lebih mampu menjawab tantangan jaman di masa mendatang utamanya bidang Safety and security.
trimakasih dan mohon maaf bila dianggap kurang sopan karena kami hanya seorang bintara
Rekan seperjuangan di SPN Mojokerto
Yth. rekan Subari
Pertama saya ucapkan terimaksih atas pujiannya, namun saya harus jujur bahwa saya masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan, semoga dengan sarana ini membuat saya bisa lebih mengintropeksi diri dan berbuat yg terbaik bagi masyarakat juga Polri.
Kebetulan pada periode tahun 1999 - 2001 saya pernah bertugas menjadi pembina di AKPOL Semarang, saya kira pengalaman tugas kita dalam memndidik tidaklah jauh berbeda. Penugasan di lembaga pendidikan merupakan tugas yang sangat mulia, di ajaran agama saya diajarkan bahwa ketika kita meninggalkan dunia ini salah satu pertanyaan yang harus kita jawab adalah," bagaimana kau amalkan ilmumu?". Berarti secara tidak langsung pekerjaan yang kita laksanakan sehari hari ternyata mempunyai nilai ibadah yang sangat tinggi.
Saya pikir ada beberapa hal yang perlu menjadi penekanan kita dalam mendidik :
1. Ingat bahwa sosok yang kita didik adalah mereka yang kelak menjadi penegak hukum.
2. Kuasai bidang tugas kita dengan sebaik baiknya, salah ajar maka akan salah juga penerapannya.
3. Ajaran moral dan iman jadikan pondasi utama
4. Mencintai pekerjaan, dengan kecintaan melahirkan keikhlasan dan kegembiraan dalam mengajar dan membina.
5. Memberi contoh lebih baik dari seribu kata kata.
Demikian yang dapat saya sampaikan, sangat jauh dari sempurna ..... semoga bermanfaat dan selamat berjuang.
Salut buat para pencetak generasi muda Polri.