Serah terima CN 235-220 di Skadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanuddin
Pesawat CN 235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) telah resmi dioperasikan oleh Skadron Udara 5 dan menjadi salah satu kekuatan alutsista (alat utama sistem senjata) Skadron Udara 5 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin yang ditandai dalam acara penerimaan oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama TNI Ida Bagus Putu Dunia, pada hari Rabu (5/8) di Skadron Udara 5 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin.
Acara penerimaan dihadiri Komandan Wing 5 Kolonel Pnb Arif Mustofa , Kadis Ops Letkol Pnb Andi Heru Wahyudi, Kadislog Kolonel Tek Anwar Kasim, para Komandan Satuan, perwira staf dan undangan lainnya.
Pesawat CN 235-220 MPA merupakan pesawat buatan pabrik Cassa Nurtanio, PT Dirgantara Indonesia yang telah menjalani kegiatan flight training mission system di PT DI Bandung.
Dengan tambahnya satu buah pesawat CN 235-220 MPA -yang dilengkapi dengan peralatan mission console buatan pabrik Thales Perancis yaitu Tactical Commander (Tacco) radar console yang berfungsi untuk searching atau pencarian target, weather radar dan mapping- menambah kemampuan dan kesiapan operasional Skadron Udara 5 sebagai satuan intai yang menjaga dan menegakkan kedaulatan Negara di udara dalam wilayah udara yuridiksi Nasional Republik Indonesia.
Selain itu, CN 235-220 MPA juga dilengkapi dengan Equipment Support Mission (ESM) yakni console yang memiliki kemampuan untuk mengindentifikasi sinyal frequensi dari obyek lain dengan kemampuan pasif. Juga dilengkapi dengan kamera Agile-4 yang dapat merekam dan mencetak hasil target.
Pada acara penerimaan pesawat tersebut, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal pertama TNI Ida Bagus Putu Dunia menyampaikan bahwa pesawat CN 235-220 MPA dengan kelengkapannya adalah pesawat mahal dan canggih, yang dibutuhkan Lanud Sultan Hasanuddin dalam mendukung pelaksanaan tugas, untuk itu dituntut personel yang mampu mengawaki, mengopersikan dan memeliharanya.
Komandan selanjutnya mengatakan bahwa dalam hal pengawakan, telah menyusun personel-personel yang terlatih, dan diharapkan dalam waktu 2 minggu sampai satu bulan krunya sudah siap dan seterusnya perlu pembinaan serta regenerasi dari kru tersebut.
Silabi untuk pembinaan kru CN 235-220 MPA telah disusun, dengan harapan tepat sasaran. "Jadi harus bisa melaksanakan misi, baik misi untuk patroli udara, maritim maupun darat dan juga misi pengintaian." tegas Komandan Lanud Sultan Hasanuddin.
---
Sumber:
Pentak Lanud Sultan Hasanuddin sebagaimana dimuat di Situs Resmi TNI AU (http://www.tni-au.mil.id/content.asp?contentid=6651)
Tidak Efektif
Salam Defender,
Maaf kalau saya mau memberi tanggapan agak keras soal ini.
MPA akan jauh lebih bermanfaat jika dioperasikan oleh TNI-AL. Operasionalnya, Taktis penggunaan, maupun TEAM WORK dengan KRI.
Secara off the record ada selentingan yang mengatakan bahwa TNI-AL tidak boleh mengoperasikan pesawat lebih besar dari CASA-212, jadi CN-235 biarpun MPA, kalaupun nanti ada MADnya, SONOBUOY, atau segala kelengkapan yang lebih tepat dioperasikan oleh TNI-AL maka PASTI jatuhnya ke TNI-AU. Karena... "jatah" tadi.
Kapan kita akan maju kalau masih berpikir tentang "jatah"... bukan mission oriented...
...Jadi ingat Boeing MPA yang tidak pernah sampai ke Juanda...
kebijakan
menanggapi komentar sebelumnya, mungkin harus kita kembalikan lagi kepada kebijakan pimpinan TNI ataupun mungkin campur tangan pemerintah. untuk pengoperasian sebuah pesawat, tentunya membutuhkan dukungan yang melibatkan banyak pihak. saya sendiri yang sekarang terlibat dalam pemeliharaan pesawat C-130 Hercules TNI-AU merasakan beban yang berat dikarenakan kondisi dukungan perawatan pesawat yang begitu minim.
jadi apabila pesawat ini akan dioperasikan oleh TNI-AL, tentunya akan menambah beban bagi operasional, maupun pemeliharaan, dan yang lainnya sedangkan untuk perawatan kapal juga kondisinya tidak jauh berbeda dengan TNI-AU dalam perawatan pesawat.
so, mari kita dukung saja kebijakan yang sudah berjalan ini.
PROPORSIONAL & RASIONAL
salam kebangsaan..
menurut sy... kalau ingin maju n berkembang sdh selayaknya kita proporsional n rasional...
jgn setengah-setengah... bicara laut/maritim ya porsinya TNI AL... dlm hal ini alut yg mendukung tugas tni al termasuk pesawat yg berkategori MPA (Maritime Patrol Aircraft)ya serahkan ke TNI AL... agar koordinasi sistemnya tdk panjang...
masalah biaya operasional dan perawatan tdk ada masalah.. bukankah sama sj dioperasionalkan TNI AU ada anggarannya... jd ini tdk menambah cost tapi hanya mengalihkan ke TNI AL...
jd kalau mau maju n besar negara ini... mulai sekarang harus proporsional....
YG PENTING TERKORDINIR DGN BAIK
Klo menurut saya,...siapapun operatornya ngga masalah yg penting bisa mengkoordinir semua badan dan instansi yg ada demi satu tujuan..NKRI..!!
Klo di AU mungkin bisa lebih cepat krna setiap info yg masuk bisa di INTERCEPT langsung oleh elang2 dr pangkalan,....ato klo masuk AL bisa dikordinir dgn baik oleh Bakorkamla shgga lgsung Connect ke kapal2 patroli/KAL yg ada..........sekarang tggl masing2 satuan yg harusnya saling memberi dan diberi info...or butuh alat yg bisa mengintegrasikan itu semua........modelnya kaya yon2 arhanud yg secara struktural dibawah TNI AD tetapi secra operasional dibawah KOHANUDNAS....