Oleh: Wicaksono Aji, ST., Direktur TANDEF
"These men are highly dangerous … they must be ruthlessly exterminated." Demikian instruksi Adolf Hitler pada tahun 1944. Yang dimaksud "dangerous men" adalah para serdadu Special Air Service (SAS) bentukan David Stirling pada tahun 1941 di Afrika Utara.
Pada kurun waktu 1940-1943 medan pertempuran Perang Dunia II di Afrika Utara banyak mengambil tempat di sepanjang garis pantai yang sempit, memanjang antara Tunisia hingga Kairo. Di bagian selatan garis pantai tersebut terdapat Gurun Sahara yang terik. Kebanyakan perwira militer dari kedua belah pihak -Blok Sekutu maupun Blok As- tidak melihat keberadaan gurun ini sebagai sebuah ancaman, ataupun peluang untuk menggempur kekuatan lawan.
Namun rupanya ada seorang Letnan Dua angkatan perang Inggris yang melihatnya sebagai sebuah peluang untuk melakukan penetrasi kekuatan lawan. Dia berpendapat bahwa sebuah satuan tempur yang "unik" perlu dibentuk, dengan kemampuan melakukan penyerangan secara taktis, cepat, dan langsung ke sasaran, dan segera menghilang di hamparan Gurun Sahara. Perwira tersebut adalah Letnan Dua David Stirling.
Terlahir dari sebuah keluarga aristokrat Inggris pada tanggal 15 November 1915, Stirling mengenyam pendidikan di Ampleforth College dan Trinity College, Cambridge, Inggris. Ayahnya adalah Brigadir Jenderal Archibald Stirling, dan ibunya bernama Margaret Fraser, putri dari Simon Fraser yang masih keturunan Raja Charlers II dari Inggris.
Sebelum pecah PD II, Stirling sedang terlibat dalam latihan pendakian Everest. Stirling muda, yang bertubuh jangkung setinggi 198 cm, memiliki jiwa petualang, dan selalu tertarik dengan tantangan, terutama tantangan alam.
Pada tanggal 24 Juli 1937 dia memulai dinas militernya dengan bergabung pada kesatuan "Scots Guards" yang berinduk di Ampleforth College Contingent Officer Training Corps. Pada bulan Juni 1940 dia memutuskan untuk bergabung dengan kesatuan yang baru dibentuk bernama No.8 Commando di bawah pimpinan Letnan Kolonel Robert Laycock, yang juga menjadi bagian dari Force Z atau Layforce. Tak lama setelah itu Stirling ditugaskan ke Afrika Utara untuk melakukan operasi amfibi, meskipun operasi tersebut gagal. Sayangnya Layforce dan No.8 Commando dibubarkan pada tanggal 1 Agustus 1941.
Pada saat bergabung dengan No.8 Commando itulah Stirling berkesimpulan bahwa satuan-satuan tempur kecil yang diawaki oleh personel-personel terlatih sangatlah efektif dan efisien untuk menciptakan elemen kejut yang akhirnya menghasilkan tingkat kerusakan tinggi pada lawan, dibandingkan dengan satuan tentara konvensional.
Menjelang dibubarkannya Layforce dan No.8 Commando Stirling mengalami kecelakaan latihan terjun payung. Selama terbaring di tempat tidur rumah sakit di Alexandria Scottish Military Hospital, Mesir, Stirling menghabiskan waktu untuk mematangkan konsepnya mengenai satuan tempur yang menjadi angan-angannya tersebut.
Sekeluar dari rumah sakit di bulan Juli 1941, Stirling membawa rencananya tersebut kepada atasannya. Mengingat atasannya langsung terkenal sulit menerima masukan dari perwira junior, Stirling memutuskan untuk langsung menemui Deputy Commander Middle East, Jenderal Neil Ritchie, di Markas Besar British Army Middle East yang berkedudukan di Kairo.
Ritchie rupanya tertarik dengan gagasan Stirling, dan berkata, "I think this may be the sort of plan we are looking for. I will discuss it with the Commander-in-Chief and let you know our decision in the next day or two." Commander-in-Chief (CINC) yang dimaksud adalah Jenderal Auckinleck, yang relatif baru menduduki jabatan itu, dan tengah mendapatkan tekanan dari Perdana Menteri Inggris Winston Churchill agar segera melakukan serangan ofensif kepada kekuatan Nazi di Afrika Utara.
Auckinleck pun tertarik, dan yakin bahwa gagasan Stirling-lah yang ia butuhkan. Satuan tempur yang diusulkan Stirling membutuhkan sedikit sumber daya, meskipun memerlukan keterampilan personel yang tinggi, dan kebetulan sekali kekuatan lawan sama sekali tidak mempunyai satuan tempur semacam ini. Tugas utama satuan tempur tersebut adalah beroperasi di garis belakang lawan dan menyerang sasaran-sasaran yang lemah seperti pasokan logistik, lapangan terbang, pesawat terbang, jalan raya, jalan kereta api, dan kendaraan-kendaraan perang. Pasukannya pun cukup terdiri dari sekelompok kecil tentara, antara 5-10 orang.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Auckinleck gagasan Stirling mendapatkan persetujuan. Sebagai langkah awal Stirling merekrut enam orang perwira ditambah 60 orang bintara-tamtama. Satuan baru tersebut diberi nama "L Detachment, SAS Brigade". SAS adalah kepanjangan Special Air Service, sebuah satuan yang fiktif hasil usulan Brigadir Dudley Clarke, seorang staf Intelligence Officer, untuk mengelabui lawan bahwa pasukan Inggris sedang mempersiapkan serangan udara besar-besaran di Afrika Utara. Stirling pun dipromosikan sebagai Kapten yang langsung mengomandani satuan khusus tersebut.
Tugas pertama yang diterima adalah penerjunan malam pada tanggal 17 November 1941 di gurun pasir dekat Gazala untuk menyerbu lapangan terbang Jerman. Rupanya tugas pertama ini berujung kegagalan. Prakiraan cuaca pada pagi, 16 November 1941 terlihat cerah, tetapi pada saat penerjunan angin bertiup kencang seperti akan hujan lebat, sangat jauh dari ideal untuk sebuah misi penerjunan. Namun Stirling bersikeras melanjutkan misi karena Auckinleck mengharapkan misi ini berjalan, dan para personel SAS pun merasa misi ini harus berjalan karena mereka ingin mempraktikkan materi latihan yang mereka terima.
Penerjunan pada malam itu berantakan. Para personel SAS terpisah-pisah, dengan satu orang hilang, beberapa orang menderita luka-luka, dan perlengkapan tempur tercecer tidak karuan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah membatalkan misi malam itu dan berjalan kembali ke lokasi penjemputan sejauh 40 mil di tengah gurun bertemu dengan patroli Long Range Desert Group (LRDG). Titik kumpul dengan LRDG baru dicapai setelah berjalan tiga hari. Beberapa orang meninggal di tengah gurun. Dari 41 orang pasukan, hanya tersisa tiga orang perwira (termasuk Stirling), dan 18 orang bintara-tamtama.
Namun tak berapa lama kemudian di medan penugasan berikutnya pada awal Desember 1941 pasukan SAS berhasil menghancurkan 24 buah pesawat tempur Jerman di Tamet, dan 37 buah di Agedabia. Fitzroy Maclean, salah seorang anggota SAS angkatan pertama menggambarkan kesuksesan tersebut sbb.: "Working on these lines, David achieved a series of successes which surpassed the wildest expectations of those who had originally supported his venture. No sooner had the enemy become aware of his presence in one part of the desert then he was attacking them somewhere else. Never has the element of surprise, the key to success in all irregular warfare, been more brilliantly exploited. Soon the number of aircraft destroyed was well into three figures."
Kesuksesan demi kesuksesan mewarnai berbagai macam operasi yang ditunaikan oleh pasukan SAS setelah itu, meskipun beberapa kegagalan kecil tetap ada. David Stirling sendiri pernah ditangkap pasukan Jerman saat menjalankan misi di Tunisia pada bulan Januari 1943. Berhasil melarikan diri, Stirling pernah ditangkap lagi oleh Jerman untuk dijebloskan ke Colditz Castle hingga PD II berakhir. Selama menjadi tawanan perang kepemimpinan SAS diambil alih oleh saudaranya Bill Stirling dan Blair "Paddy" Mayne, salah seorang perwira angkatan bersenjata Inggris yang berprofesi sebagai pemain rugby peringkat internasional sebelum pecah PD II.
Seusai PD II Stirling memutuskan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan seperti mendirikan "Capricorn Africa Society" yang memperjuangkan negara-negara Afrika agar bebas dari diskriminasi rasial pada tahun 1949. Stirling memimpin organisasi ini hingga tahun 1959. Pada tahun 1975 ia mendirikan organisasi GB75 yang peduli dengan ancaman kekuatan politik serikat dagang. Aktivitas bisnis pun pernah diterjuni oleh Stirling, seperti mendirikan Television International Enterprises yang memboyong program tontonan anak Sesame Street dari Amerika Serikat ke Inggris, dan menjadi partner di Watchguard International Ltd. yang bergerak di bidang perdagangan senjata dan peralatan militer, serta layanan jasa pasukan keamanan.
Pada tahun 1990 David Stirling dianugerahi gelar ksatria "Sir" oleh Kerajaan Inggris. Tak lama kemudian pada tanggal 4 November 1990 Colonel Sir Archibald David Stirling DSO (Distinguished Service Order) OBE (Order of the British Empire) meninggal dunia pada usia 75 tahun.
Jakarta, 18 Agustus 2008
Recent comments
1 week 5 days ago
2 weeks 2 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 5 days ago