Oleh: Letkol (Inf) Joko Putranto; Pamen Kodam I/Bukit Barisan, sedang tugas belajar di Naval Postgraduate School (NPS), Monterey, AS, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Baru-baru ini pemerintah Sri Lanka mengumumkan keberhasilannya dalam menumpas pemberontak separatis Macan Tamil (LTTE). Mengapa Macan Tamil (LTTE) akhirnya bisa ditekuk oleh pemerintah Sri Lanka secara militer, dan mengapa GAM tidak bisa ditekuk secara militer oleh pemerintah kita?
Kita akan analisa situasi ini dengan menggunakan teori direct dan indirect, serta mengaplikasikan teori Ivan Arrequin-Toft's Asymmetric Warfare (see: Weinberg and Eubank, Twenty-First Century Insurgency: Understanding the Use of Terrorism as a Strategy; In Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century, ed by James JF. Forest, p.86). Dalam konflik semacam ini baik GAM maupun LTTE sama-sama mempunyai posisi inferior dalam hal senjata, personel, finansial, tingkat latihan dan sebangsanya. Artinya, speknya relatif lebih rendah daripada militer milik pemerintah. Oleh karenanya, konflik seperti ini dikatakan sebagai asimetrik. Dalam konflik asimetrik semacam ini selalu ada peluang bagi yang lemah untuk menang dengan penggunaan asymmetric warfare, namun dalam hal ini pemerintah Sri Lanka bisa mengalahkan secara militer pemberontak LTTE. Tentunya harus ada penjelasan yang memadai untuk kasus ini.
Konflik dalam negeri antara pemerintah Sri Lanka dan pemberontak LTTE sudah berlangsung sekitar 26 tahun, mengakibatkan korban jiwa warga sipil yang tidak sedikit serta gelombang pengungsian yang besar. Beberapa waktu lalu pun kita sempat terkejut dengan kreativitas pemberontak LTTE yang mampu melakukan serangan dengan menggunakan pesawat udara, serta diberitakan pula LTTE sedang membangun kapal selam mini (see: Guardian, January 29, 2009). Meski dalam hal senjata tidak bisa dianggap remeh, tetapi jelas kekuatan militernya masih dibawah kekuatan militer pemerintah Sri Lanka. Meski pemerintah Sri Lanka yang mayoritas Buddha Sinhalese mendapat dukungan internasional untuk menumpas LTTE yang minoritas, tetapi bukan berarti sepi kritikan. Muncul pertanyaan misalnya mengapa Sinhalese yang mengadopsi ajaran ahimsa (non-violence) bisa bertindak keras secara fisik terhadap Tamil yang Hindu? Ini kasus rumit, karena menyangkut ajaran agama Buddha yang diyakini mayoritas warga Sri Lanka, di dalam keyakinan Buddha Sinhalese, Sri Lanka adalah milik Buddha, dan menjadi agama nasional serta Sinhala adalah pewaris Sri Lanka (Grant, Buddhism and Ethnic Conflict in Sri Lanka, 2009, p.103). Karenanya, Tamil tidak akan punya tempat di Sri Lanka. Kritikan Sinhalese yang parochial-minded ini tetap tidak bisa menghalangi pemerintah Sri Lanka untuk menumpas LTTE secara militer.
Penjelasan sederhana mengapa Macan Tamil dapat dikalahkan oleh pemerintah Sri Lanka adalah karena LTTE menghadapi militer Sri Lanka secara langsung. Artinya dengan kekuatan senjata yang relatif inferior LTTE nekad berhadapan langsung dengan kekuatan militer pemerintah yang jelas lebih superior. Ini disebut direct strategy yang tidak tepat dipraktekkan oleh LTTE. Ivan Arrequin-Toft (How the Weak Win War, a Theory of Asymmetric Conflict, 2005) menjelaskan situasi ini Sebaliknya, militer pemerintah yang kuat sekalipun akan mungkin kalah apabila menerapkan direct strategy langsung hantam ke lawan. Hal ini tampak seperti yang menimpa Amerika di Vietnam, Soviet di Afghanistan, Perancis di Aljazair dan beberapa big powers lainnya yang ditundukkan oleh kekuatan lokal yang lebih lemah. Apabila strategi hantam langsung ini diterapkan dan dihadapi secara langsung oleh kekuatan yang lebih lemah maka amat mungkin yang lemah akan kalah. Direct berhadapan dengan direct maka akan berimplikasi yang kuat akan mengalahkan yang lemah.
Kasus Amerika, Soviet dan Perancis yang kalah perang adalah karena menerapkan direct strategy namun tidak lantas diladeni dengan direct pula oleh lawannya. Artinya baik Vietcong, Mujahiddin, dan pejuang Aljazair menggunakan taktik gerilya yang hanya menyerang manakala musuh tampak lengah, menjauh manakala musuh tampak kuat. Dengan penggunaan taktik seperti ini, maka akan memerlukan waktu yang lama bagi yang kuat untuk mengalahkan yang lemah, dan selalu ada kemungkinan yang lemah malah akan menang. Dalam taktik seperti ini waktu akan favorable kepada yang lemah karena yang dikalahkan bukan kekuatan senjata lawan yang lebih kuat itu melainkan "will" / kemauan atau semangat bertempur musuh. Apabila sudah tercapai situasi seperti ini, diplomasi amat menentukan hasil akhir dari konflik semacam ini.
GAM menggunakan strategi yang tidak bertumpu kepada kekuatan senjata semata. Setelah dihajar beberapa kali oleh TNI, GAM pada tahun 1998 merubah strateginya dengan porsi 20% militer dan 80% diplomatik (Aspinall & Crouch, Aceh Peace Process, Why It Failed, 2003, p.12). GAM melakukan ini setelah yakin bahwa kekuatan senjatanya tidak bisa mengalahkan militer pemerintah RI. GAM hanya bisa mencegah TNI mengalahkannya. Ditambah lagi pimpinan GAM tidak berada di Aceh melainkan di luar negeri. Bertujuan untuk mewujudkan situasi yang semakin sulit untuk dikalahkan secara militer, GAM menggunakan kemampuan diplomatiknya untuk "menginternasionalisasi" konflik Aceh, antara lain dengan mengekspos isu pelanggaran HAM, dsb. Situasi kemudian menjadi tidak memihak kepada pemerintah kita, apalagi setelah kita tersandung kasus HAM di Timor Timur yang berujung dengan pemberian hak referendum kepada Timor Timur.
Langkah pemerintah RI selanjutnya mengupayakan pendekatan diplomasi untuk menghantam GAM yaitu dengan menggunakan sentimen terorisme. Dengan harapan dunia internasional akan mendukung langkah pemerintah Indonesia, mengingat waktu itu terorisme sedang naik daun gara-gara Osama bin Laden bikin acara serangan ke Twin Tower. Mengapa dunia internasional tidak merespon langkah pemerintah RI dalam hal ini? Publik internasional tidak cukup percaya bahwa GAM adalah organisasi teror. Apalagi tujuan GAM sudah tidak lagi sama dengan Darul Islam (DI) yang ingin mendirikan negara Islam. Hasan Tiro menyadari bahwa dagangan Islam tidak bisa dia jual di Uni Eropa atau Amerika. Jadi yang dikampanyekan oleh Tiro adalah aneka ketidakadilan, ketimpangan sosial, eksploitasi sumber daya alam oleh pemerintah Indonesia, dll. Ini manjur, dan dunia percaya bahwa memang ada ketidakadilan di Aceh. Langkah pemerintah Indonesia berakhir gagal untuk memasukkan GAM jadi organisasi teroris.
Sedangkan LTTE dianggap organisasi teroris oleh Deplu Amerika Serikat, kemudian diikuti oleh Uni Eropa dan banyak negara lainnya. Bahkan oleh India sendiri yang pada awal tahun 1980an sempat membantu LTTE baik latihan maupun senjata akhirnya ikut pula mengakui bahwa LTTE adalah organisasi teroris (Thomas, Sri Lanka: Political Uncertainty Under the Threat of Insurgency, in Asian Security Handbook, ed by W. Carpenter, 2005, p. 279). Pemerintah Sri Lanka sukses memasukkan LTTE ke dalam daftar organisasi teroris internasional. Inilah salah satu alasan mengapa LTTE tidak banyak berkutik dalam melakukan upaya diplomasi internasional seperti halnya pimpinan GAM yang bermukim di luar negeri.
LTTE akhirnya lebih mengandalkan kekuatan militer untuk memenangkan perang. Thus, kekalahan LTTE tinggal menunggu waktu, just a matter of time. LTTE tidak punya pilihan lain untuk menghadapi militer pemerintah kecuali secara langsung (direct strategy). Strategi gerilya sudah tidak bisa diaplikasikan lagi secara efektif, menjadikan waktu di sini tidak favorable untuk LTTE. Dalam teori asimetrik semacam ini, jelas LTTE akan kalah, karena memang benar superioritas dalam kekuatan militer akan berimplikasi kepada kemenangan seperti argumen Toft. Jadi kita ucapkan selamat kepada pemerintah Sri Lanka yang telah sukses menekuk LTTE secara militer.
very insightful sir, this
very insightful sir, this article is an answer of my question when i heard that LTTE had lost their war with srinlankas armed forces.
Thanks pak Joko, semoga
Thanks pak Joko, semoga semakin sukses dan ditunggu di tanah air.
GAM dan Macan Tamil
syukurlah GAM bersedia menerima tawaran damai dari pemerintah pusat. seandai GAM berkeras kepala yang kasihan juga rakyat jelata. saat ini dan juga didekade mendatang adalah sangat sulit untuk ber-teroris ria dengan embel-2 Islam. Amrik, EU dan Rusia sepertinya akan tetap alergic.
Macan Tamil, sangat kasihan. dimasa-2 mendatang nasib mereka akan seperti bangsa kita yang dulu kena getah PKI, yaitu menjadi warga negara nomor dua. Adalah bukan kehendak mereka untuk tinggal di negeri Ceylon dengan darah Tamil, tetapi untuk bisa/diperbolehkan ikut mengatur dalam pemerintahan Sri Lanka? ah masih memakan waktu sangat lama.
Salam