Globalisasi: Kemajuan Jaman atau Sebuah Scenario Planning?

krisna's picture

Oleh: Letkol Laut (K) dr.Wiweka, Kadiskes Lantamal XI - Merauke, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Perkembangan dunia dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan yang begitu cepat, seakan-akan manusia tidak dapat mengejar laju perkembangan dunianya sendiri walau dengan berlari kencang sekalipun. Salah satu perkembangan yang berakibat sangat dominan saat ini adalah Globalisasi, dimana globalisasi seakan-akan membuat dunia menjadi tanpa batas, tanpa negara dan mungkin tanpa pemimpin, karena setiap orang dapat berbuat apa saja dan mengetahui apa saja dalam sekejap mata.

Globalisasi dunia saat ini seakan sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Seluruh dunia harus mengakui dan menerima globalisasi, seolah-olah globalisasi merupakan sesuatu yang mutlak harus diterima dan dijalankan. Menurut Bandoro B, peneliti dari CSIS dalam kuliah umum tentang Strategi Diplomasi dan Hubungan Internasional pada Pasis Dikreg Seskoal Angkatan 45, bahwa era yang paling popular di abad ke-20 ini adalah era perang dingin dan era globalisasi. Kedua era ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda satu dengan yang lain yaitu:


Globalisasi: Alami atau Rekayasa?

Banyak peneliti, ekonom, politisi, negarawan bahkan para pengamat militer sekalipun memandang globalisasi sebagai suatu tuntutan dari perubahan pola hidup, pola pikir dan pola tindak dari bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari pandangan tersebut dapatlah diartikan bahwa globalisasi merupakan suatu perubahan yang terjadi secara alamiah karena pengaruh faktor-faktor perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hampir dapat dikatakan tidak ada pakar di negara kita ini yang memandang globalisasi sebagai sesuatu yang direncanakan, terpola dan terstruktur oleh suatu negara/bangsa atau bahkan tidak ada pakar Indonesia yang berpikir bahwa globalisasi itu merupakan sebuah grand strategy atau dapat dikatakan suatu scenario yang dibuat oleh suatu negara. Apabila kita mau belajar dan mengkaji dengan teliti jauh ke belakang mungkin kita dapat membuat suatu analisa yang dapat mengagetkan banyak pihak.

Kenapa dapat mengagetkan? Mari kita simak uraian dan analisa singkat di bawah ini.

Amerika Serikat pada tahun 1959 telah membuat suatu Strategi Besar (Grand Strategy) bagi negaranya yang ditulis di dalam buku yang berjudul National Strategy in an Age of Revolutions yang dipublikasikan oleh Frederick A. Praegar di New York, Amerika Serikat. Dalam buku tersebut, Amerika Serikat membuat suatu perencanaan yang matang mengenai kondisi dunia di masa yang akan datang dan dapat dikatakan merupakan suatu scenario planning Amerika Serikat tentang dunia di masa yang akan datang. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan para Jenderal beserta para ahli dan pakar di bidang ilmu pengetahuan, baik di bidang teknologi, pendidikan dan bidang-bidang lain-lainnya. Sebelum menerbitkan buku tersebut, mereka melakukan pertemuan-pertemuan untuk membahas Grand Strategy negaranya.

Salah satu penulisnya yaitu Robert Strausz-Hupe yang menyampaikan sebuah gagasan mengenai suatu strategi yang disebutnya sebagai National Strategy in Bi-Polar World. Dalam pemikirannya tersebut, terdapat satu skenario tentang dunia di masa yang akan datang dimana ada dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dasar pemikiran strategi Bi-Polar (Dua Kutub) tersebut diambil dari pengalaman Inggris pada abad ke-19 dalam menerapkan strateginya untuk menguasai benua Eropa, yaitu dengan cara penyeimbangan kekuatan-kekuatan yang ada agar salah satu dari kekuatan tersebut tidak ada yang mendominasi. Dalam strategi tersebut dikatakan bahwa untuk menguasai dunia, maka Amerika harus memperluas jangkauannya sampai ke Eurasia dan Afrika serta membagi dunia menjadi dua samudera yang dikontrol dengan kekuatan laut dan udara mereka dengan cara menyuplai persenjataan-persenjataan kompleks serta personel pengawaknya ke negara-negara aliansi Amerika di Euroasia dan Afrika. Kebijakan tersebut adalah untuk penangkalan peperangan jangka panjang agar kepentingan Amerika Serikat dapat terjaga di seluruh dunia. Hal tersebutlah yang menjadi dasar bagi Amerika Serikat membuat suatu strategy (scenario planning) sehingga mereka dapat survive dalam menghadapi Cold War (Perang Dingin) melawan Uni Soviet di era tahun 90-an yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet menjadi negara-negara kecil.

Henry M. Jackson dalam bab Free Men Against Time membuat konsep kebebasan rakyat Amerika Serikat untuk dapat survive dalam free world. Pada saat itu, Amerika Serikat mulai mempropagandakan dunia bebas (free world) untuk melawan komunis dalam menguasai dunia. Ada lima konsep dasar yang dibuatnya untuk menghadapi dunia bebas dan kesemuanya adalah untuk meningkatkan anggaran pertahanan Amerika dalam rangka peningkatan pertumbuhan Industri dan teknologi, pendidikan, pelatihan dan proyek-proyek baru dalam laboratorium serta mempercepat program sains untuk aliansi NATO dalam sekala besar.

Baron Friedrich August von der Heydte dalam bab Defense of Free World under Government Planning or Free Enterprise mencoba mendefinisikan freedom (kebebasan) dan menggagas freedom untuk kepentingan bangsa Amerika. Menurutnya, untuk bisa menang melawan kebebasan harus dimulai dari dalam negerinya lewat kehidupan berpolitik (political life) dan kehidupan ekonomi (economic life). Adapun cara mengontrolnya adalah dengan melakukan propaganda, yaitu propaganda antikomunis, propaganda pro Amerika dan propaganda kebebasan. Dikatakannya juga bahwa melakukan propaganda bukan hanya sebatas iklan semata, tetapi haruslah lebih dalam dan dapat memberikan informasi kepada seluruh umat manusia dan yang paling penting adalah unggul dalam persahabatan dengan mereka. Menjalin persahabatan dimana-mana sangatlah diperlukan oleh Amerika Serikat terutama di Asia dan Afrika karena ke depannya Asia dan Afrika lah yang akan memegang peranan penting untuk keseimbangan kekuatan. Pada bagian lain buku tersebut, Sir Ralph Cochrane menyatakan bahwa salah satu cara mengungguli dunia adalah dengan virtually world-wide yang sekarang kita kenal sebagai dunia maya atau internet dengan sandi www. Dari gagasan ini, sangat jelas sekali terlihat bahwa Amerika Serikat telah membuat suatu skenario globalisasi dunia bagi kepentingan mereka.

Di dalam buku ini juga, dibahas tentang strategi pendidikan dan iptek, strategi militer, tujuan nasional dan kekuatan antariksa, strategi industri dan perdagangan, strategi peperangan psikologi yang diwujudkan dalam program informasi dunia dan public relation, strategy perguruan tinggi, yang kesemuanya merupakan strategi yang bertujuan untuk memenangi perang dingin melawan komunis dan untuk mengontrol dan menguasai dunia.

Menilik apa yang ada di buku National Strategy in an Age of Revolutions, dapat disimpulkan bahwa sejak tahun 1959 Amerika Serikat telah merancang suatu scenario untuk perencanaan masa depannya. Dari skenario-skenario tersebut, mereka membuat suatu strategy (planning) yang bukan hanya untuk melawan komunis di dalam perang dingin ataupun bi-polar world semata, akan tetapi juga untuk mewujudkan penguasaan dunia oleh Amerika Serikat dalam bentuk uni-polar world. Apa yang Amerika Serikat skenariokan di tahun 1959 kini telah terwujud dalam bentuk internasionalisme dan deteritorialisasi, universalisme, liberalisme dan westernisasi yang merupakan ciri dari globalisasi. Kita pahami bersama bahwa globalisasi adalah hal yang berlaku untuk seluruh dunia, akan tetapi tidak untuk Amerika Serikat. Amerika Serikat tidak akan membiarkan teritorialnya diganggu oleh negara lain, namun sebaliknya, Amerika Serikat akan dengan mudahnya masuk ke negara lain atau bahkan tidak mau mengakui teritorial negara lain dengan berbagai macam dalih dan alasan. Amerika Serikat tidak akan membebaskan barang-barang dari luar negaranya untuk bisa masuk ke pasar mereka, namun di sisi lain mereka memformulasikan aturan-aturan perdagangan internasional untuk mempermudah penjualan produk-produk mereka ke seluruh belahan dunia tanpa hambatan. Mereka juga membuat aturan yang cukup ketat untuk mendapatkan visa kunjungan dan hak kewarganegaraan bagi warga asing yang akan masuk dan menetap di Amerika Serikat.

Apa yang Dapat Indonesia Perbuat?

Melihat fakta-fakta dan analisa singkat di atas, kita bangsa Indonesia seharusnya mampu dan unggul dalam menyikapi globalisasi yang merupakan skenario dari negeri Paman Sam ini. Memang kita tidak bisa dan tidak mungkin menghindar dari globalisasi tersebut, karena globalisasi telah menembus ruang dan waktu. Untuk itu, pemerintah dan bangsa Indonesia seharusnya menyiapkan suatu Geostrategi, Geopolitik dan Geoekonomi yang jitu untuk menyikapinya.

Beberapa langkah penting yang harus diambil adalah:

  1. Menumbuhkan dan memperkuat nasionalisme.
  2. Memperbesar dan memperkuat TNI dengan peningkatan anggaran pertahanan.
  3. Mempercepat pertumbuhan ekonomi.
  4. Meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi tinggi (hi-tech).
  5. Meningkatkan penelitian yang berskala global.
  6. Meningkatkan kualitas SDM dengan cara meningkatkan mutu pendidikan.

Kesemuanya itu haruslah tertuang dalam suatu Strategi Nasional yang benar-benar terpadu dan bersinergi satu sama lain dalam bentuk Strategi Militer, Strategi Pendidikan, Strategi Ilmu Pengetahuan, Strategi Informasi, Strategi Ekonomy, Strategi Industri dan Perdagangan, Strategi Kelautan, dan mungkin satu strategi baru lagi yaitu Straregi Bhinneka Tunggal Ika yang kenyal dan handal. Untuk itu, para negarawan, petinggi TNI/Polri, cendikiawan, poltisi, peneliti, tenaga pendidik, dan tokoh agama/masyarakat harus duduk bersama untuk merumuskan Strategi Nasional tersebut.
Andaikata ini bisa terwujud, niscaya kita akan menjadi bangsa yang disegani di Asia, atau dengan kata lain (merujuk apa yang ditulis dalam buku tersebut tentang kejayaan EuroAsia), maka kita akan menjadi bangsa yang disegani di dunia pula. Selain itu Kepentingan Nasional (National Interest) kita untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur, tidak mustahil akan terwujud.

info yang sangat menarik

dimana kita bisa dapatkan buku grand strategy itu?? kalo kita anggap indonesia sebagai dunia dalam bentuk yang lebih kecil maka tentunya strategy itu bisa kita gunakan untuk mengambil alih indonesia dari "amerika" ( benar ga ya???)kemudian kita modifikasi sehingga bisa sesuai dengan kondisi terkini, tapi ada kekurangan bangsa ini sejak jaman penjajahan yaitu selalu ada penghianat yang menjual bangsa dan tanah airnya. sehingga sebagus - bagusnya grand strategy kalau akhirnya bocor akan percuma, sehingga semua harus dibarengi/diawali dengan membangkitkan nasionalisme, dan membersihkan para penghianat, poin terakhir ini yang paling sulit, apalagi kalau orang itu ternyata sahabat atau bahkan saudara kita, tapi kalau tidak dari sekarang sampai kapan bangunan yang kita bangun, tiba2 roboh karena ada salah satu pilar yang bergeser (berhianat) ... oh indonesiaku