Krisis multi-dimensi pada tahun 1998 membawa dampak buruk kepada berbagai sektor termasuk industri pertahanan. Namun seiring berjalannya waktu, industri pertahanan sedikit demi sedikit kembali tumbuh berkembang seiring komitmen pemerintah untuk memprioritaskan pengembangan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) buatan dalam negeri . Pembangunan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) yang merupakan kapal perang terbesar dan pertama dibuat di Indonesia adalah bukti nyata kebangkitan Industri Pertahanan dalam negeri tersebut.
Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pada Launching Rencana Pembangunan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan, pada Senin 16 Agustus 2010. Acara tersebut dihadiri Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata yang didampingi Oleh Deputi Menristek bdiang Relevansi dan Produktivitas, Teguh Rahardjo dan Staf Ahli Menteri bidang Teknologi Pertahanan Keamanan, Hari Purwanto. Turut hadir pula Panglima TNI, Djoko Suyanto; perwakilan Komisi I DPR dan anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan.
Menhan menambahkan, Kapal Perang Jenis PKR yang akan dibuat di Indonesia oleh PT. PAL dirancang dapat digunakan dalam beberapa misi operasi antara lain peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan dan bantuan tembakan kapal. Di samping itu kapal perang PKR tersebut dilengkapi dengan Rudal SAM, SSM dan Rudal Anti Kapal Selam. “Bahkan Kapal PKR ini dapat digunakan untuk Peace Keeping Operation ke luar negeri. Sebelumya kita pernah mengirim Kapal Perang sekelas Sigma yang dimensinya lebih kecil dari Kapal Perang PKR ke Libanon dan kapal tersebut sudah diakui sesuai dengan standard kapal perang NATO.
Selain untuk tugas tempur, Kapal PKR ini juga akan bertugas untuk menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Luasnya wilayah laut Indonesia membutuhkan tidak sedikit kapal perang yang canggih untuk menjaga kedaulatan. “Kapal PKR ini bila bertugas di Laut Cina Selatan atau di wilayah timur laut Indonesia, akan cukup untuk menjaga kedaulatan kita. Walaupun kita sudah memiliki banyak kapal perang yang besar, namun kapal PKR ini akan menjadi kapal yang paling modern dan canggih, sehingga akan menimbulkan efek gentar kepada siapapun yang mencoba mengganggu kedaulatan kita”, Ujar Menhan.
Pembangunan Kapal PKR adalah wujud persembahan anak bangsa dalam memperingati 65 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. “Pembangunan Kapal Perang PKR adalah satu langkah perjalanan besar bagi industri pertahanan Indonesia”, Ujar Menhan mengkahiri sambutannya.
Spesifikasi Kapal Perang PKR
Spesifikasi dari kapal perang PKR tersebut antara lain memiliki panjang keseluruhan + 105 meter, luas + 14 meter, kedalaman + 8, 8 meter, kecepatan (max/cruiser/ekon) + 30/18/14 kn dengan kekuatan utama + 4x9.240 hp.
Kapal tersebut dilengkapi pula dengan perlengkapan radar untuk mendeteksi kapan selam dan pesawat udara, perlengkapan persenjataan di antaranya meriam kaliber 76 sampai 100 mm dan kaliber 20 sampai 30 mm, peluncur rudal ke udara dan senjata torpedo serta perlengkapan pendukung lainnya. Kapal ini juga dilengkapi dengan fasilitas helipad di deck kapal.
Berdasarkan perhitungan PT. PAL yang berbasis di Surabaya, dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk membuat kapal perang PKR yang pertama. Pembangunan kapal perang PKR ini akan menggunakan anggaran sebesar 170 juta euro dan menyerap sekitar 1500 tenaga kerja lokal. (mwr/humasristek)
Sumber Berita:
Kemristek
Sumber Foto:
Defence Media Centre
Penjahit atau pembuat ?
Pembangunan sebuah kapal perang merupakan pekerjaan yang sangat kompleks apalagi dengan kemampuan yang dijelaskan diatas.(peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan dan bantuan tembakan kapal)
Mengapa demikian ? Hal ini tidak lain karena sebuah Kapal perang tersusun dari berbagai macam sistem yang dituntut bekerja secara sinergi satu sama lain, misalnya sistem Badan Kapal, sistem Pendorongan, sistem Senjata, sistem Komunikasi dan sistem Navigasi, bahkan sistem "besar" ini terpecah lagi menjadi bebeberapa subsistem dengan fungsi berbeda
Pertanyaannya adalah sampai di level mana PT PAL dan para "enginer"nya melaksanakan pembuatan PKR ini?
Apakah hanya disatu atau dua sistem saja misalnya Pendorongan dan Bakap sedangkan sisasnya membeli peralatan dari luar dan merakitnya di sini.
Berapa persentase peralatan/material berasal dari negara asing dan berapa yang murni produksi dalam negeri.