Oleh: Letkol (Inf) Joko Putranto; Pamen Kodam I/Bukit Barisan, sedang tugas belajar di Naval Postgraduate School (NPS), Monterey, AS, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Sebagai perwira TNI maupun pemerhati pertahanan, tentunya rata-rata dari kita mengenal dengan baik siapa itu Clausewitz, setidaknya pernah mendengar namanya. Sebagian dari kita juga tentunya mengenal akan maxim yang pernah dikatakannya bahwa "perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain", atau "war is the continuation of politics by other means". Namun, tidak banyak yang mengenal dengan baik siapa itu Jomini, apalagi sumbangannya terhadap dunia kemiliteran pada jamannya sampai era kini. Ketidakakraban kita terhadap dua orang ini barangkali memang diakibatkan oleh setidaknya dua hal.
Pertama, sistem pendidikan di negeri kita yang bukan hanya kurang, tapi memang tidak memperkenalkan peperangan dan strategic thinking yang terjadi di Eropa atau Amerika pada era Napoleonic war, sebelum ataupun sesudahnya. Jelas ini tidak mengejutkan mengingat secara geografis kita jauh dari Eropa, dan yang lebih pasti lagi kita pernah dijajah sampai elek oleh salah satu European Power, yaitu Belanda.
Kedua, tantangan yang dihadapi oleh negeri kita sejak negara ini lahir, sebagian besar adalah urusan separatis dan pemberontakan dalam negeri, oleh karena itu memang dimensinya berbeda dengan gaya peperangan Eropa. Oleh karena itulah, barangkali pengambil kebijakan pendidikan di lingkungan TNI tidak menganggap krusial hal ini. Namun, tentu saja tidak ada buruknya bila kita dapat mengenal buah karya dari dua perwira yang paling ternama pada jamannya ini, dengan harapan kita bisa mengambil teladan dari keduanya.
Lalu barangkali timbul pertanyaan, memang apa pentingnya mempelajari hal itu semua? Kalau ini pertanyaannya, barangkali saya akan menjawab, bahwa soal penting dan tidak penting itu sangat relatif dan subyektif. Tetapi sebagai sebuah ilmu pengetahuan, tidak ada salahnya untuk diketahui bersama. Diakui atau tidak, kita yang banyak membaca buku pasti pernah suatu ketika menemukan nama Clausewitz dan Jomini, tapi tidak banyak yang peduli seperti apakah sebenarnya kontribusi mereka terhadap perkembangan dunia militer di Eropa, Amerika dan bahkan seluruh dunia. Kita biasanya tangkas men"cite" si A, si B dan si C, tapi kadangkala tidak cukup paham apa sebenarnya karya mereka itu semua. Oleh karena saya sengaja menulis kedua tokoh terkemuka pada jamannya ini, dan mencoba mengcompare dan mengcontrastkan cara berpikir keduanya. Tentu hal ini dimaksudkan untuk mendorong kita semua lebih akrab lagi dengan pemikiran strategi abad ke-19, agar kita bisa mencari jawaban mengapa pemikiran strategi militer berkembang hingga sampai kepada taraf yang kita lihat hari ini. Bagi pembaca yang memang ingin lebih dalam mengetahui perihal dua tokoh ini, silakan refer ke Wikipedia. Saya tulis artikel ini sebagai hasil rangkuman referensi dari berbagai sumber dan juga hasil diskusi di kelas untuk memperbandingkan pemikiran keduanya.
Pemikiran militer pada abad ke-19 dipastikan memang didominasi oleh kedua orang ini, Jenderal Baron Antoine Henri de Jomini (1779-1869), dan Jenderal Carl Philipp Gottlieb von Clausewitz (1780-1831). Keduanya mempunyai kontribusi yang amat besar terhadap teori militer pada era peperangan yang dilakukan oleh prajurit Napoleon / Napoleonic Wars (1799-1815). Jomini menulis buku "Treaties on Grand Military Operation" dan "Summary of the Art of War", sementara Clausewitz menulis "On War" yang terkenal itu. Sejak mereka mempublikasikan pemikiran mereka inilah, Eropa amat terpengaruh oleh teori perang yang dikembangkan oleh keduanya.
Jomini lahir pada tahun 1779 dan dibesarkan dalam lingkungan yang terpandang di Vaud, bagian Swiss yang berbahasa Perancis. Aslinya Jomini ini adalah seorang bankir, tapi karena tertarik dengan politik dan dunia militer maka akhirnya bergabung pada tahun 1798. Karena memang berbakat, maka karir militernya juga cepat menanjak, hingga jadilah Jomini sebagai seorang chef de bataillon (komandan batalyon). Meski sempat kembali ke dunia perbankan lagi, ketertarikan ke dunia militer tidak bisa ditolak. Jomini tidak pernah berhenti untuk berkarya dengan tulisan. Setelah masuk kembali ke dunia militer, mengkaji dalam jumlah besar strategi perang dari para pemikir militer pada era-era sebelumnya dengan dibimbing oleh seniornya a.l. Marshall Ney, dia kemudian menulis karyanya sendiri yaitu Treatise, yang jumlahnya 5 volume yang diselesaikan dari 1804-1810 (di dalam lingkungan militer Eropa, seorang perwira mempunyai mentor atau pembimbing senior adalah hal yang umum). Setelah mengikuti beberapa peperangan dan menduduki berbagai jabatan di lingkungan militer, pada tahun 1810 ia mendapatkan pangkat Brigadir Jenderal. Masalah timbul pada waktu pengajuan untuk menjadi Mayor Jenderal yang ternyata kemudian ditolak oleh mentornya sendiri, yakni Ney. Bukan hanya itu, kepala stafnya Napoleon dan bahkan Napoleon sendiri juga berkonflik dengan Jomini. Ini kemudian membuat Jomini hengkang ke Rusia. Sebagai Jenderal di militer Rusia, Jomini melanjutkan menulis buku, salah satu yang ternama adalah "Summary of the Art of War". Buku inilah yang membawa nama Jomini sempat melambung sebelum akhirnya surut. Di Amerika, West Point, selama bertahun-tahun sempat diajarkan teori Jomini "Summary" ini khususnya dalam era sebelum terjadi the American Civil-War.
Clausewitz lahir pada tahun 1780, umurnya hanya sampai 51 tahun, gara-gara terkena kolera yang merebak di Eropa pada kurun waktu itu. Bagi pembaca yang pernah mempelajari sejarah Perang Aceh (1873-1903), Belanda di Aceh juga banyak yang mati akibat kolera ini, yakni sekitar 18 ribuan, sedangkan orang Aceh sendiri sekitar 70 ribuan yang meninggal akibat penyakit yang sama. Karena memang virus kolera pada waktu itu sedang mewabah & banyak tentara yang mati, Clausewitz bergabung menjadi tentara Prussia (saat ini Jerman) pada umur yang masih sangat muda, 12 tahun. Seperti halnya Jomini, Clausewitz juga mempunyai mentor, yaitu Scharnhorst dan Gneisenau, keduanya adalah perwira reformer di Prussia. Dalam umur yang belum genap 30 tahun, dia sudah menulis buku, yang sampai hari ini masih dibaca di seluruh dunia, yakni "On War". Buku ini diterbitkan oleh istrinya, Marie von Bruhl, setelah Clausewitz meninggal.
Meski era kedua pemikir ini relatif bersamaan tetapi tidak didapati bukti bahwa keduanya pernah bertemu. Namun, diketahui bahwa mereka ini saling membaca buku keduanya, dan secara intelektual "berantem". Wujud berantemnya mereka ini dituangkan dalam buku masing-masing. Hebatnya, mereka melakukan ini semua dalam umur yang belum genap tigapuluhan. Jomini maxim menyangkut teorinya tentang taktik dan strategi. Taktik dikatakan bisa berubah-ubah dan amat mungkin jadi kuno / outdated. Sebagaimana halnya yang dilakukan oleh Napoleon yang mengganti taktik secara reguler tiap sepuluh tahun. Terutama terkait teknologi senjata, dari musket sampai howitzer saja sudah terjadi perubahan yang signifikan dan ini otomatis berpengaruh pada perubahan taktik di lapangan. Oleh karena itu, dalam Treaties, dikatakan bahwa "taktik dapat dipelajari secara teoritis oleh aturan dan prinsip-prinsip, akan tetapi, strategi dapat ditetapkan dengan hukum tetap / fixed law". Hingga akhir hayatnya, Jomini tetap bersikukuh bahwa penggunaan secara luas rel kereta api pun tidak dapat merubah prinsip-prinsip universal dari strategi. Oleh karenanya, Jomini dianggap tergolong sebagai seorang pemikir konservatif. Pemikir yang lain memandang teori Jomini ini terlalu geometris karena Jomini sering sekali mengulang "line of operations" dan "zone of combat".
Teori berikutnya yang mengundang perdebatan langsung dengan Clausewitz adalah doktrin Jomini tentang posisi tengah / central position dan garis belakang / interior lines. Namun perlu diketahui bahwa meski teori Clausewitz belakangan lebih diakui, tetapi pada era itu justru pemikiran Jomini yang lebih mendominasi. Maklumlah, Clausewitz pada masa Napoleonic War hanyalah seorang perwira staf biasa di Angkatan Darat Prussia. Lagi pula buku "On War" yang termasyhur itu dipublikasikan setelah beliau meninggal pada tahun 1831. Teori Jomini ini memang tampak lemah karena ternyata Napoleon mengalami kekalahan. Sejak 1814, Napoleon mempertahankan Perancis dari serbuan tentara Sekutu (Napoleon dikeroyok oleh 6 negara: Austria, Prussia, Rusia, Swedia, Inggris dan Jerman). Meski prajurit Napoleon mampu bertempur dengan baik, tapi kekalahan tetap sulit dihindari mengingat Sekutu berjumlah jauh lebih besar. Meski Napoleon berupaya menembus bagian tengah dari Sekutu dengan harapan kekuatan Sekutu akan terpecah-belah sehingga lebih mudah bagi Napoleon untuk menghancurkannya (strategi ini dulunya memang selalu manjur untuk mengalahkan lawan), tapi kali ini Sekutu sudah paham benar akan akal Napoleon, sehingga upaya Napoleon untuk memisahkan kekuatan Sekutu selalu gagal. Buntutnya Napoleon harus menelan kekalahan di Waterloo.
Kegagalan Napoleon dalam upaya menghancurkan kekuatan sekutu inilah yang dipandang sebagai kelemahan teori Jomini, sehingga dipertanyakan validitasnya. Teori Jomini juga tampak hilang pamornya pada era-era berikutnya terutama setelah telegraf ditemukan, yang memungkinkan pasukan yang terpisah tetap bisa terhubungkan. Meski diakui Jomini mempunyai pengaruh yang luar biasa pada eranya, tetapi tampak jelas pula bahwa perubahan akibat kemajuan teknologi yang kemudian mengubah pola bagaimana sebuah peperangan dilangsungkan, telah menjadikan teori Jomini tidak bisa lagi dipertahankan validitasnya. Ditambah lagi Perancis bukan lagi menjadi kekuatan Eropa yang disegani sepeninggal Napoleon, maka praktis ide-ide Jomini juga berakhir surut.
Meskipun dalam hal pentingnya central position dan interior line, antara Jomini dan Clausewitz sama-sama sepakat, namun, Clausewitz tidak terlalu kaku sebagaimana halnya Jomini. Teori-teori absrak Jomini, menurut Clausewitz, banyak mengabaikan kenyataan dalam suatu peperangan, kekuatan moral, dan keunikan dalam setiap kasus peperangan yang terjadi. Oleh karena itulah, dalam buku "On War", Clausewitz juga menulis bahwa teori Jomini meski sempat populer dan menjadi acuan strategi pada waktu itu, lambat laun menjadi kehilangan validitasnya. Karena menurut Clausewitz, perang itu amat ditentukan oleh banyak faktor, dan akan selalu berubah.
Oleh karena itu, buku "On War" merupakan pukulan bagi teori-teori yang dikembangkan oleh Jomini. Meski Jomini sempat menikmati popularitas menjelang akhir hidupnya dikarenakan ide-ide Jomini dipelajari secara luas di Eropa dan bahkan Amerika, namun setelah kematian Jomini, ide-ide Clausewitz lebih mendominasi seiring sejumlah kemenangan yang diraih Jerman, dan Jerman pun menjadi kekuatan utama di Eropa.
Naik turunnya teori peperangan ini memang sangat lumrah. Kalau kita pelajari sejarah, sebelum Jomini dan Clausewitz, sempat ngetop Archduke Charles dari Austria sebagai reformer dalam AD Austria. Nah, kalau ternyata pada akhirnya Eropa diobrak-abrik oleh Hitler yang Jerman itu dan Amerika ikut ambil bagian dalam peperangan di Eropa yang kemudian berakhir dengan kemenangan Sekutu yang dipimpin Amerika, maka sudah suatu hal yang wajar pula manakala Amerika saat ini menjadi kiblat pemikiran strategi militer seluruh dunia. Apalagi saat ini Amerika menikmati posisinya sebagai satu-satunya superpower yang tidak memiliki lawan sebanding.
Sejarahlah yang telah mengajarkan kita bahwa mengapa hari ini seperti ini adalah tentunya diakibatkan oleh apa yang terjadi pada masa lampau. Sedangkan situasi ke depan, tentu bisa kita prediksi dengan menggunakan dasar kejadian pada masa lalu dan masa kini. Bagaimana dengan negeri kita? Militer kita tentu akan mempunyai kesempatan untuk maju manakala perwiranya juga mau berpikir untuk itu, tentunya dengan tidak mengabaikan tugas profesionalnya. Mudah-mudahan artikel ini bisa menggugah kita semua untuk selalu mau berpikir untuk kemajuan kekuatan pertahanan negara ini di masa kini maupun masa mendatang. Sama halnya dengan Clausewitz dan Jomini yang telah mulai menulis sejak umur duapuluh tahunan, bagaimana dengan kita?
Strategy and Tactics
Trima kasih pencerahan bang nya tentang sejarah baik Jommini maupun Clausewitz..khususnya pada paragraph ke 7 dst..sekalipun telah berkembang sedemikian rupa sejalan dengan perkembangan jaman, strategi selalu mengandung tiga elemen dasar yg ada yaitu: end, means dan ways untuk mencapainya. Oleh karena itu konteks strategi dalam pengertian ini sudah di gunakan secara luas dalam berbagai bidang di masyarakat Indonesia, baik politik, ekonomi, social, budaya bahkan olah raga, di dalam instansi pemerintah maupun swasta. Karena semua orang berbicara tentang strategi meskipun sebenarnya tidak tahu esensinya, akibatnya penggunaannya menjadi serampangan, sulit dimengerti dan membingungkan. Terlebih lagi mencampur adukkan antara strategi dan taktik. Sebagai contoh mau berbicara ttg taktik bagaimana sepak bola menyerang, tetapi yang di katakana adalah strategi. Padahal secara sederhana pengertian strategi dalam kaitan ini adalah bagaimana caranya memeperebutkan piala atau memenangkan turnamen, sedangkan taktik adalah bagaimana memenangkan suatu pertandingan. Akhirnya kita akan sepakat pada para ahli strategi: Strategy is a word that is often to used, but little understood
selamat belajar
Best regard
Arus Lain
Tulisannya bagus Bang. Salut!!! Masalahnya begini Bang, di matra abang itu memang kurang tertarik sepertinya mempelajari strategi militer klasik. Strategi itu mungkin tidak seksi dibandingkan strategi Sudirman. Padahal kalau kita ikuti pendidikan di luar negeri, mau tak mau harus pelajari strategi klasik itu dan lupakan strategi Sudirman. Dengan kata lain, tidak mau mengikuti arus utama dalam ilmu strategi militer.
Untuk menuju ke arus utama, harus ubah paradigma dulu. Itu pekerjaan besar, butuh waktu dan harus dilakukan bersama-sama.
Perbedaan besar!!!
Selamat dan terima kasih atas pencerahannya Pak Letkol. Kita seharusnya memang mendorong pemikiran pemikiran progresif untuk kemajuan TNI kita. Akan tetapi pengalaman sejarah kita kadang hanya dilihat dari hal hal patriotik saja tanpa membahas secara detil bagaimana aplikasi dan pengembangannnya di masa YAD. Istilahnya Lesson learned. Bagaimana pendapat bapak terhadap perkembangan TNI kita (bila keadaan ekonomi membaik). Sebagai Perwira AD yang sekolah di Sekolah AL (NAval Post Graduate) tentunya Bapak bisa bandingkan apakah strategi pulau besar masih bisa dijadikan strategi dasar. Apakah kita harus mengembangkan strategi maritim di negera kita. Memang kadang tidak ada yang mau mengalah. Tapi harus ada satu strategi dasar yang dijadikan Induk semuanya.
Tentunya BApak punya banyak referensi di sana dan akan membuat pencerahan yang satu tingkat lebih tinggi dengan kebijakan Maritim (AL) di Amerika..
Demikian dan tetaplah belajar. Satu saat nanti justru orang - orang pemikir seperti BApak yang seharusnya jadi Pemimpin (seperti JOmini dan Clausewits) Penunjukan orang orang Operasional bukanlah hal yang baku... Tetap semangat Pak!!!!
IMET ???
Selamat pagi dan salam sejahtera. Dalam setiap kurikulum sesko angkatan apakah ada pelajaran ini? Pelajaran dilanjutkan dengan belajar mandiri dan membuat rangkuman sendiri. Hanya orang orang yang terbiasa dengan pola pendidikan seperti ini akan maju dan berwawasan luas. BAgaimana kemungkinan hasil pendidikan ini untuk diterapkan di dalam negeri??(tentunya dengan penyesuain yang dibutuhkan). Sebagai orang yang mendapatkan kepercayaan sekolah di luar negeri apakah bapak mempunyai akses langsung untuk memberikan masukan (hal - hal baik ??) kepada atasan bapak???? Sekolah di angkatan lain (luar negeri)memang akan semakin memperdalam pengetahuan kita karena akan memberikan alternatif dan cara berpikir yang lebih lengkap dan beralasan. Begitu juga angakatan lain , misal AL sekolah ke Army Post Graduate School atau AU di NAval/Army Post Graduate. Thanks