Konsep Modernisasi dan Transformasi Menuju Kekuatan Artileri Medan Generasi Ketiga

Oke's picture

Oleh: Kapten Arm Oke Kistiyanto, S.AP, Danrai A Yonarmed-7 Kodam Jaya

Pendahuluan

Dalam konteks warfare strategy, untuk menumbuhkan kekuatan nasional (national power) dikenal istilah DIME (Diplomacy, Information, Military and Economics).

Keempat unsur ini berkaitan satu sama lain dan saling membutuhkan, militer (military) yang kuat akan menimbulkan efek getar strategis "deterrence effect" (informational) kepada negara-negara di kawasan sehingga dapat menjadi daya tangkal terhadap ancaman dari luar. Selain itu militer (military) yang kuat dapat mendukung upaya diplomasi (diplomatic-political) agar memperoleh bargaining position yang memadai dalam setiap penyelesaian suatu konflik antarnegara. Dengan bargaining yang kuat maka secara otomatis militer akan melindungi momentum kemajuan ekonomi (economics) dari gangguan pihak luar maupun dalam negeri, terutama dengan cara menciptakan stabilitas dalam negeri serta melindungi aset-aset ekonomi (economics).

Atas dasar teori diatas maka kekuatan nasional harus ditopang oleh militer yang kuat. Untuk menciptakan militer yang kuat maka dibutuhkan peningkatan anggaran yang memadai agar dapat berjalan sesuai rencana. Negara tentunya tidak mungkin dapat meningkatkan kekuatan pertahanannya secara instant dan signifikan dalam waktu singkat karena upaya tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengembangan kekuatan yang mungkin saat ini, dalam jangka pendek lebih logis jika difokuskan pada peningkatan "deterrence effect" kepada negara-negara tetangga melalui pengembangan kekuatan darat yang difokuskan pada pengembangan kekuatan artileri. Sedangkan dalam jangka panjang lebih baik difokuskan menuju kemandirian industri pertahanan dengan fokus pada perang generasi ketiga (3rd generation war).

Persiapan menghadapi perang generasi ketiga tentunya menelan biaya yang tidak sedikit, dibutuhkan konsep strategis yang matang serta kemauan dari para petinggi kita dalam melaksanakan transformasi, terutama didalam jajaran korps Armed sendiri. Maksudnya adalah agar korps Armed bisa berubah (bertransformasi) menjadi modern karena fungsi outward-looking menuntut kapasitas ini. Modern di sini bukan berarti memodernisasi teknologi alutsista Armed yang sudah tua, namun lebih condong pada mengganti teknologi alutsista dengan generasi terbaru. Tidak ada yang dapat dimodernisasi dari teknologi yang sudah kedaluwarsa.

Paradigma Permasalahan

Ada dua paradigma permasalahan yang diangkat mengapa peran Satuan Armed begitu penting dalam menciptakan "deterrence effect" bagi kepentingan nasional sehingga Angkatan Darat perlu mengadakan transformasi dan modernisasi kedalam. Pertama, bagaimana paradigma modernisasi kekuatan artileri medan dilakukan sehingga bisa menjadi efek getar strategis TNI terhadap negara tetangga. Hal ini didasari pemikiran apabila TNI memiliki Satuan artileri rudal jarak menengah di sekitar perbatasan maka hal ini merupakan suatu konsep strategis yang mempunyai deterrence effect bagi bangsa. Untuk merealisasikan konsep tersebut maka satuan Armed harus secara bertahap berevolusi menuju modernisasi dan kemandirian. Kedua, bagaimana transformasi dapat dilakukan sehingga Satuan Armed dapat melaksanakan berbagai macam bentuk dan metode pertempuran. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa saat ini dunia sudah berubah, dunia sudah tidak menganut pola bipolar, liberal atau komunis. Sehingga bentuk dan metode pertempuran sudah jauh berubah, tidak hanya linear namun juga non linear selain itu nantinya tidak hanya negara (state) yang nantinya menjadi aktor peperangan namun aktor juga non negara (non-state), seperti halnya kelompok teroris internasional juga dapat mengambil peran penting dalam peperangan kedepan.

Hubungan Militer Indonesia dan Negara "Big Power"

Amerika Serikat

Hubungan militer Indonesia-Amerika Serikat sejak kemerdekaan sampai saat ini, berfluktuasi dari periode ke periode meskipun secara menyeluruh cukup baik dan tidak pernah bermusuhan. Hubungan yang baik antara Indonesia-AS tidak dapat dikatakan sebagai suatu aliansi. Karena Indonesia masih mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara yang dianggap menentang kebijakan internasional Amerika seperti Iran, Kuba dan Venezuela. Terlebih itu Indonesia tidak pernah setuju dengan penempatan pangkalan militer asing di Asia Tenggara. Contohnya, ketika itu Indonesia tidak pernah setuju dengan keberadaan pangkalan militer AS di Filipina. Namun disisi lain, Indonesia juga tidak bisa mengusir negara adidaya itu dari Asia Tenggara. Saat ini terdapat tiga pilihan strategi bagi Indonesia berkaitan dengan hubungan militernya dengan Amerika1).

Pilihan pertama adalah hubungan Indonesia-Amerika Serikat sebagai pengimbang "ancaman" balance of threat. Pola hubungan ini menempatkan negara lain sebagai ancaman bersama bagi Indonesia dan Amerika Serikat. Secara logis pilihan ini akan semakin menguatkan kerjasama militer Indonesia-Amerika Serikat. Apabila pilihan ini yang memang diambil oleh Indonesia, maka Indonesia harus sepenuhnya membenahi berbagai kondisi yang secara tradisional dijadikan prasyarat yaitu penegakan nilai demokrasi dan HAM, termasuk pengusutan tuntas kasus pelanggaran HAM yang dilansir dilakukan oleh militer Indonesia di periode periode sebelumnya. Di sisi lain, Amerika Serikat harus sepenuhnya mendukung militer Indonesia baik dalam hal pengembangan sumber daya manusia melalui program pendidikan dan pelatihan International Military, Education and Training (IMET) maupun dukungan pengadaan alusista melalui program Foreign Military Financing (FMF). Sebagai pembanding, negara dengan pola hubungan ini seperti Filipina menerima rata rata hampir 30% dari porsi anggaran IMET untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik selama 2005-2009.

Pilihan kedua adalah strategi Indonesia sebagai pengimbang kekuatan besar Amerika Serikat (balance of power). Pilihan ini tentunya mensyaratkan hubungan Indonesia yang lebih dekat dengan negara besar lain di kawasan untuk mengimbangi kekuatan Amerika Serikat di kawasan. Pilihan ketiga adalah strategi berpengaman (hedging strategy). Pola hubungan ini adalah pola hubungan jalan tengah yang cenderung dipilih karena tidak ada kepercayaan satu sama lain di kawasan sehingga masing masing berusaha membatasi "kedekatan" militernya dengan negara lain karena dua alasan yaitu agar dapat melindungi diri dari kemungkinan buruk apabila kerja sama dibatalkan atau diarahkan oleh pihak lain sekaligus agar dapat menikmati tawaran dari banyak pihak secara bersamaan.

Selama ini jelas bahwa Indonesia memilih opsi hedging, tetapi hal pilihan ini ternyata tidak terlalu banyak membantu pengembangan kekuatan pertahanan Indonesia. Indonesia memang menikmati peningkatan alokasi anggaran IMET rata rata sebesar 23% sejak pembatalan embargo di tahun 2005 hingga proyeksi 2010, termasuk dengan pengurangan alokasi IMET sebesar 25% di tahun 2008 dibanding tahun sebelumnya. Namun jelas angka ini tidak signifikan dibandingkan alokasi untuk Filipina. Belum lagi semenjak embargo dan syarat-syarat yang memberatkan, Indonesia mengalami berbagai masalah dan kecelakaan alutsista yang mengambil korban jiwa anak bangsa.

Rusia

Rusia sebagai salah satu kekuatan besar di kawasan telah menunjukkan niatan mengembangkan kerjasama militer dengan Indonesia. Secara historis, hubungan Indonesia dan Rusia memang cukup dekat. Rusia bahkan pernah mendukung Indonesia sebagai salah satu kekuatan udara terkuat di Asia pada tahun 1960-an. Di masa kini, Rusia menawarkan bantuan militer sebesar 1 Milliar USD kepada Indonesia sejak kunjungan Putin ke Jakarta September 2007. Indonesia benar-benar ingin memperbaharui persenjataan militer yang ada setelah melihat pengalaman-pengalaman di lapangan. Pertama seringnya campur tangan negara Eropa dan Amerika Serikat dalam hal persenjataan militer. Kedua kasus Ambalat merupakan cermin yang sangat transparan dimana Angkatan Laut Malaysia sudah sangat berani, ini dikarenakan kapal-kapal perang Malaysia ternyata lebih baru dan modern dari yang dimiliki TNI AL. Rusia dipilih Indonesia untuk memasok persenjataan militer terbaru bagi TNI. Ini karena beberapa alasan, pertama sejarah hubungan militer Indonesia-Rusia. Kedua, Rusia lebih longgar dalam memberikan syarat-syarat dibidang militer. Ketiga, Rusia bisa lebih fleksibel dalam hal harga seperti bisa dibayar dengan komiditi yang dimiliki Indonesia. Keempat, Rusia memiliki teknologi militer yang sepadan dengan Eropa dan AS.

China

China tidak kalah tertarik untuk mengembangkan kerjasama militer dengan Indonesia. Menteri Pertahanan kedua negara menandatangani MOU di tahun 2007 untuk mengembangkan kerjasama militer yang dapat diupayakan sampai kepada proses pengadaan dan alih teknologi militer. Bentuk kerjasama militer ini diperlukan agar bisa menjadi penyeimbang kemajuan teknologi militer negara-negara barat. Bentuk kerja sama ini juga merupakan upaya Indonesia untuk tidak terlalu bergantung pada teknologi militer barat

Perkembangan Militer Regional

Australia, Malaysia dan Singapura, tiga negara dengan probabilitas terbesar yang akan mengancam kedaulatan negara jika dilihat dari kacamata sejarah konflik internasional Indonesia. Yang paling dikhawatirkan oleh pemerintah RI sekarang adalah ancaman kekuatan FPDA (Five Power Defence Arrangement) yang dimiliki ketiga negara tersebut jika kita berperang melawan mereka. FPDA adalah kerjasama pertahanan melalui persetujuan multilateral antara Inggris Raya, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura ditandatangani tahun 1971. Perjanjian ini mengisyaratkan bahwa kelima negara ini akan saling membantu jika terdapat serangan luar terhadap Malaysia atau Singapura. FPDA dilakukan karena tanggung jawab pertahanan Inggris atas Malaysia dan Singapura. Dalam sejarahnya, FPDA ini pernah diaktifkan ketika konfrontasi Indonesia-Malaysia, Ganyang Malaysia, yang berlangsung pada akhir era-Sukarno (1961-1966). Pengaktifan FPDA pada masa itu merupakan pengalaman yang menyakitkan karena Indonesia harus berperang melawan 5 negara sekaligus pada konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Malaysia

Semenjak pulih dari krisis ekonomi di tahun 1997, Angkatan Darat Malaysia, Tentera Darat Malaysia (TDM), mulai bangkit dan memulai proses modernisasi alutsista. Diawali dengan pembentukan resimen Main Battle Tank melalui pembelian 48 unit PT-91M MBT buatan Polandia yang merupakan varian terbaru dari modifikasi tank T-72 Rusia. Mereka juga membeli 28 unit South African G5 Mk III 155 mm howitzers ditambah 36 unit Astros II MLRS dari Brazil (baru 50% yang tiba) dalam rangka modernisasi persenjataan resimen armed, Rejimen Artileri DiRaja. Dari data pembelian senjata, saat ini resimen armed Malaysia tercatat mempunyai 4 macam jenis senjata armed, termasuk diantaranya alutsista baru rudal Astros II dan Meriam 155 mm G5 Mk III. Selain itu persenjataan mereka merupakan jenis meriam lama yakni 200 unit OTO-Melara 105 mm Mod 56 (jenis pack howitzer) buatan Italia dan 75 unit VSEL FH-70 155 mm Howitzers buatan Inggris.

Singapura

Angkatan Darat Singapura yang lebih dikenal dengan nama Singapore Army saat ini sudah mentransformasi diri menuju 3rd generation fighting force, berfokus pada peningkatan teknologi dan sistem senjata sebagai kekuatan pengganda "force multiplier". Evolusi ini mengkombinasikan kemajuan teknologi dan latihan yang menggunakan jaringan "networking" untuk mengintegrasikan ketiga matra ke dalam suatu gugus komando gabungan yang terintegrasi.Singapura sendiri memiliki 6 Batalyon Armed yang tersebar di 3 Divisi aktif. Armed Singapura terdiri dari 2 jenis Multiple Rocket Launcher yakni 18 unit High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) buatan Amerika Serikatdan 32 unit XM31 Unitary HE GMLRS Pod. Selain itu Armed Singapura memiliki 3 jenis radar lawan baterai, AN/TPQ-36 Firefinder radar, AN/TPQ-37 Firefinder radar dan ARTHUR. Ini untuk melengkapi kemampuan 8 jenis meriam Armed yang dimiliki (3 yang aktif digunakan) yang terdiri dari 54 unit SLWH Pegasus 155mm/L39 Heli-portable Lightweight Howitzer, 54 unit SSPH Primus 155mm/L39 Self-Propelled Howitzer (SSPH-1), 72 unit FH-2000 155mm/L52 Towed Howitzer, 54 unit FH-88 155mm/L39 Towed Howitzer (cadangan), 37 unit GIAT LG1 105 mm Towed Howitzer (di gudangkan), 16 unit M-114A1 155 mm Towed Howitzer (digudangkan), 28 unit Soltam M-71S 155mm/L39 Towed Howitzer (digudangkan) dan38 unit Soltam M-68 155mm/L33 Towed Howitzer (digudangkan).

Australia

Angkatan Darat Australia dikenal dengan nama Australia Army, terbagi menjadi 2 Divisi. Divisi I berisi tentara aktif sedangkan Divisi II merupakan tentara cadangan. Divisi aktifnya sendiri mempunyai 3 Brigade yang mempunyai 1 resimen artileri di dalamnya. 1st Brigade Darwin memiliki 1 Resimen Artileri Sedang dengan meriam 155 mm M198 Howitzer buatan Amerika. Brigade kedua yakni 3rd Brigade Townsville memiliki 1 Resimen Artileri Ringan dengan meriam 105 mm L118 Howitzer buatan Inggris dan Brigade terakhir adalah 7th Brigade Brisbane memiliki 1 Resimen Artileri Ringan dengan meriam 105 mm L118 Howitzer buatan Inggris. Selain itu, meriam artileri mereka pergunakan bagi Australian Army Reserve seperti 105 mm M2A2 Howitzer (Varian terbaru dari 105 mm M101A2 buatan Amerika). Saat ini mereka melaksanakan transformasi diri dengan code name Land 17 Artillery Replacement. Dengan dana 1,5 Milyar Dollar Australia, program ini akan mengevaluasi sistem baru dengan tujuan mengganti seluruh meriam sedang 155 mm M198 Howitzer maupun meriam ringan 105 mm L118 Howitzer dan 105 mm M2A2 Howitzer dengan meriam jenis GS dan meriam jenis tarik agar dapat mengadopsi sistem Integrated Digital Fire Control Network Structure.2) Tender Meriam GS tersebut adalah PzH 2000 155 mm SP Gun buatan Jerman, K9 Thunder 155 mm SP Gun Buatan Korea Selatan, G6 155 mm SP Gun Buatan Afrika Selatan (Tidak Memenuhi Syarat), Bofors ARCHER 155 mm SP Gun buatan Swedia (Tidak Memenuhi Syarat). Sedangkan untuk jenis meriam tarik adalah M777 155 mm Lightweight Medium Howitzer buatan Amerika (telah menang kontrak pada Oktober 2009)3) dan Pegasus 155 mm Lightweight Medium Howitzer buatan Singapura.

Perubahan Doktrin Militer Dunia

Saat ini dunia sudah berubah, doktrin perang generasi pertama "people war" atau perang semesta sudah bertransformasi menjadi doktrin perang generasi ketiga "limited war under high-technology conditions".4)

Diharapkan kedepan Satuan Armed bisa bertransformasi menjadi 3rd generation artillery yang mampu melaksanakan operasi perang linear maupun non linear. Selain itu dengan alutsista yang modern diharapkan korps Armed mampu mentransformasikan taktik, tehnik dan prosedur menyesuaikan dengan doktrin perang generasi ketiga. Kemudian dengan terciptanya satuan Armed modern diharapkan kedepan kekuatan Armed bisa ikut andil menjaga stabilitas nasional dan integritas teritorial yang sekarang mulai tercabik cabik oleh gangguan negara sekitar.

Apa yang diharapkan dari proses modernisasi dan transformasi ini?

Terciptanya Satuan Armed Generasi Ketiga (3rd Generation Artillery).

Menghadapi globalisasi dan tantangan tugas kedepan. Korps Armed harus dapat membenahi diri kedalam terutama pada sektor kemampuan Alutsistanya. Diharapkan dengan alutsista modern, satuan Armed dapat menembak lebih banyak dan lebih cepat (peningkatan rate of fire), dengan jarak yg lebih jauh (peningkatan range of fire), dan dengan ketepatan yang akurat (peningkatan hit precision) serta menggunakan logistik munisi yang lebih efisien (peningkatan logistic efficiency).

Peningkatan rate of fire membutuhkan jenis meriam jenis baru yang kemampuannya diatas meriam yang dimiliki saat ini yang rata-rata rate of fire-nya hanya 3 peluru per menit. Ini dilakukan agar kedepan satuan Armed dapat menembak lebih banyak dan lebih cepat. Selain itu dalam rangka peningkatan rate of fire,satuan Armed juga memerlukan teknologi autoloader and automatic recoil system agar meriam mampu melaksanakan pengisian meriam secara otomatis, tidak hanya mengandalkan sistem manual. Perlu diketahui teknologi ini sudah dimiliki oleh hampir semua meriam kaliber sedang dan merat diantaranya meriam M109A2 155 mm Howitzer buatan Amerika.

Peningkatan range of fire dilakukan dengan cara perubahan jenis meriam dari 76 mm ke 105 mm atau 105 mm ke 155 mm atau dengan cara memiliki rudal. Dengan ini satuan Armed kita akan mampu menghadapi operasi lawan artileri musuh. Selain itu untuk meningkatkan jarak capai Armed diperlukan penguasaan teknologi roket agar dapat menciptakan munisi berbasis roket yang akan menambah jarak capai meriam armed sepert halnya munisi Rocket Assisted Projectile (RAP) milik Amerika atau Base Bleed Projectile (BBP) dan V-LAP milik Afrika Selatan dan Inggris.

Peningkatan hit agar dapat menembak lebih tepat diperlukan untuk mendukung Close Quarter Battle (CQB) atau pertempuran jarak dekat seperti halnya Perang Kota atau Perang Lawan Insurjensi yang dimana kawan akan berada dekat dengan lawan. Memenuhi hal tersebut dibutuhkan suatu dukungan teknologi modern yang terintegrasi dalam suatu jaringan seperti halnya teknologi laser finder pada peninjau dikombinasikan dengan pibak komputer pada pibak yang dihubungkan dengan komunikasi digital antara kelompok depan dan belakang. Dengan penguasaan teknologi tersebut diharapkan ketepatan serta kecepatan dalam pengolahan data dapat terwujud sehingga satuan Armed dapat mendukung pertempuran Kota seperti yang sedang didengung dengungkan akhir akhir ini.

Peningkatan logistic efficiency dilakukan agar dapat melaksanakan pertempuran lawan artileri secara maksimal. Ini memerlukan jenis munisi baru yang ringan, tidak berat serta tidak memakan banyak tempat sehingga tidak membebani satuan Armed dari segi kebutuhan kendaraan angkut munisi maupun pengadaan logistik munisi ketika perang berlangsung.

Transformasi Taktik Armed

Mengingat keterbatasan anggaran pertahanan dan kondisi alutsista yang ketinggalan jaman, saat ini TNI masih tetap menganut doktrin perang generasi pertama yakni "people war" atau perang semesta. Mengingat perkembangan dunia semakin tidak bisa diprediksi dan ancaman bisa datang darimana saja, diharapkan kedepan TNI bisa mentransformasikan diri dengan doktrin perang generasi ketiga "limited war under high-technology conditions". Untuk itu mendukung semua itu dibutuhkan penguasaan teknologi modern bagi semua matra termasuk didalamnya kecabangan Armed.

Perlu diketahui bahwa modernisasi kapabilitas militer tidak bisa terlepas dari transformasi doktrin militer. Dengan penerapan teknologi modern, transformasi Taktik Armed bukan menjadi suatu hal yang tidak mungkin dilakukan kedepan. Transformasi taktik dilakukan agar nantinya satuan Armed dapat mendukung berbagai macam bentuk operasi baik itu bentuk perang linear maupun non linear. Pertempuran jarak dekat yang rata-rata merupakan operasi non linear seperti pertempuran kota misalnya, dapat didukung oleh satuan Armed dengan syarat dilengkapi teknologi modern, tanpa itu semuanya mustahil.

Pertempuran kota memerlukan taktik Armed dengan perlengkapan khusus sehingga satuan Armed yang terlibat didalamnya dapat melaksanakan tembakan setepat mungkin ke sasaran. Kesalahan penghitungan sedikit saja dari satuan Armed yang terlibat akan berakibat fatal bagi pasukan kawan maupun penduduk sipil maupun bangunanyang ada. Hal ini dapat dilakukan karena penggunaan teknologi modern akan otomatis meningkatkan ketepatan atau hit precision meriam Armed. Selain itu dengan peralatan peninjauan dan komunikasi yang modern, satuan Armed dapat lebih cepat mengolah data dan memberikan bantuan ke satuan kawan yang membutuhkan tanpa harus khawatir ada kesalahan penembakan (misfire).

Sedangkan dalam interdiction battle maupun deep battle yang kebanyakan menggunakan taktik perang linier, membutuhkan 3rd Generation Integrated Artilery Sistem dalam rangka menghadapi perang di era modern ini. Penggunaan korbantem armed yang sudah terintegrasi dalam gugus komando gabungan "Kogasgab", akan dirasakan lebih maksimal dikarenakan taktik yang digunakan dapat bervariatif. Ini disebabkan oleh kemampuan, jarak capai maupun mobilitas satuan armed modern melebihi dari yang dimiliki saat ini sehingga Dankogasgab dapat memiliki inisiatif lebih dan leluasa menggunakan sarana bantem Armed secara cepat dan tepat.

Perumusan Konsep Harus Selaras Dengan Arah Kebijakan Anggaran Pertahanan.

Kebijakan Anggaran Pertahanan

Melihat perkembangan pembangu-nan militer di kawasan maka siap atau tidak-siap pemerintah Indonesia harus segera menaikkan anggaran pertahanan negara guna men-transformasi Alutsista TNI yang out-of-date. Jika jangka waktu transformasi TNI adalah 30 tahun ke depan, maka dibutuhkan anggaran pertahanan yang mencapai persentase dua digit dari PDB yaitu rata rata sebesar 11,4 % PDB.5) Patut dicatat, anggaran sebesar inipun hanya akan mencakup penguatan personel serta alutsista semata dan belum dapat memenuhi faktor faktor lain termasuk infrastruktur, training pada sistem peralatan baru juga tidak termasuk pada pengembangan industri dan teknologi yang seyogyanya akan memerlukan anggaran besar mengikuti trend kemandirian alustsista yang akan ditetapkan. Namun untungnya Pemerintah tanggap akan hal ini terbukti pada pidato Presiden RI pada peringatan HUT TNI ke 65, Presiden SBY telah menginstruksikan para pimpinan di jajaran Kementerian Pertahanan dan jajaran TNI untuk menyusun rencana strategis pembangunan kekuatan pertahanan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan APBN sehingga beberapa dasawarsa kedepan TNI dapat memenuhi kebutuhan minimum essential force (MEF).

Kebijakan Transformasi Armed

Dalam rangka pemenuhan minimum essential force (MEF) seperti yang disampaikan Presiden RI pada peringatan HUT TNI ke 65, melihat dinamika ancaman kedepan serta keterbatasan anggaran yang ada maka ini adalah momen yang tepat jika wacana transformasi korps Armed matra darat digulirkan sekarang. Mengapa harus korps Armed? Karena perang kedepan merupakan 3rd generation war dalam artian membutuhkan kemampuan integrasi trimatra baik itu dalam pelaksanaan operasi perang linier maupun non linier. Tanpa penguasaan tersebut maka mustahil TNI dapat bertahan dari first strike yang akan dilancarkan pihak musuh. Apakah kita hanya mengandalkan perang berlarut seperti doktrin defensif aktif yang dimiliki sekarang? Jika nantinya TNI mempunyai satuan Armed yang kuat mengapa harus tetap mempertahankan opsi terakhir?

Perlu diketahui bahwa satuan Armed modern dapat melaksanakan pertempuran jarak jauh "deep battle" yang biasanya didominasi oleh kekuatan udara. Dengan jarak capai yang jauh, satuan armed dapat mengimbangi kemampuan pesawat udara taktis dalam melumpuhkan pertahanan maupun menetralkan serangan musuh dengan biaya yang "lebih murah". Selain itu dalam perang non linier, dengan ketepatan yang akurat (high precision), satuan armed akan mampu memberikan bantuan tembakan kepada satuan kawan ketika pertempuran kota, melintasi bangunan-bangunan, tanpa harus khawatir terjadi kesalahan tembak (missfire). Oleh karena itu alutsista Armed yang sudah out of date haruslah segera dimodernisasi bukan hanya dengan memodernisasi alutsista yang sudah ketinggalan jaman, namun harus menggantinya dengan alutsista baru, lebih modern, sesuai dengan perkembangan zaman karena tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari alutsista tua. Ibarat mobil kuno, perbaikan dan perawatannya lebih mahal ketimbang pembelian mobil baru. Dikarenakan anggaran yang terbatas dan harus berimbang dengan program modernisasi alutsista matra lainnya maka untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan, pengoperasian, dan modernisasi alutsista Armed serta sarana pendukung lainnya bagi perwujudan MEF, Pussenarmed dan Mabes TNI AD harus merumuskan secara teknis dan memberikan masukan secara bottom up tentang proporsional besaran anggaran pertahanan yang perlu dialokasikan kepada Kementerian Pertahanan melalui Mabes TNI.

Merupakan Bagian Menuju Kemandirian Industri Pertahanan.

"Si vis pacem, para bellum."

Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang. Merefleksikan diri dengan pepatah diatas, maka kebijakan akan kemandirian industri pertahanan itu sangatlah penting apabila kedepan TNI akan mentransformasikan diri. Tidak ada sejarahnya negara yang belum mencapai kemandirian serta masih bergantung pada negara lain dalam industri pertahanan, bisa memenangi perang. Minimal negara tersebut mampu membuat munisi sendiri. Sehingga kedepan, konsep transformasi ini haruslah didukung oleh kebijakan yang mengarah kepada kemandirian Industri pertahanan baik itu dalam proses penelitian dan pengembangan maupun dalam proses kemampuan produksi perangkat alutsista (hardware dan software).

Kerjasama Militer-Sipil Dalam Litbang Teknologi Alutsista Armed.

Proses penelitian dan pengembangan teknologi alutsista haruslah merupakan sinergi dari kedua belah pihak, baik itu militer maupun sipil. Keberhasilan fusi dari sinergi militer-sipil ini akan menjadi ujung tombak dalam transformasi seluruh Alutsista TNI tidak hanya Armed semata. Keberhasilan ini juga akan menjadi awal kebangkitan industri pertahanan Indonesia.
Berikut ini ditampilkan usulan konsep chart hubungan militer-sipil dalam transformasi dan modernisasi Armed.

Terlihat dari chart diatas ada 3 komponen sipil yang terlibat dalam proses ini yang pertama adalah DPR selaku perwakilan rakyat, kedua adalah kalangan akademisi atau perguruan tinggi dan yang terakhir adalah kalangan industri pertahanan strategis yang memproduksi peralatan militer demi kepentingan transformasi dan modernisasi ini. Ketiga unsur tersebut memiliki pola hubungan yang unik dalam rangka mencapai kemandirian industri pertahanan. Kepentingan utama yang melatar belakangi perlunya industri pertahanan didorong dan ditingkatkan adalah kebutuhan akan kemandirian dan efek penggentar yang tinggi. Kemandirian dibutuhkan karena kita pernah merasakan dan sedang merasakan pengalaman pahitnya membeli alutsista dari luar. Selain harganya mahal, kita menjadi tidak sepenuhnya berdaulat. Sebagai contoh ketika kita diembargo oleh Amerika karena dianggap melanggar HAM maupun ketika panser scorpion kita ditarik dari Aceh karena protes dari Inggris. Sedangkan mengenai deterrence effect, suatu negara apabila memiliki kekuatan militer yang tidak bisa diketahui oleh negara lain, maka itu sudah cukup menjadi efek penggentar, meskipun skalanya tentu akan berbeda-beda. Apalagi kalau diketahui bahwa teknologi yang dipakai oleh negara itu sangat genuine, tidak bisa ditembus, dan tidak bisa ditandingi. Semua negara produsen alusista selalu menyimpan suatu teknologi yang hanya dikuasai oleh negaranya sendiri dan tidak dijual ke negara lain. Hal ini salah satunya untuk antisipasi supaya dalam gelar kekuatan total, alutsista tersebut tidak bisa ditangkal oleh negara manapun.

Konsep Transformasi Dan Modernisasi Kekuatan Armed

Transformasi sendiri dapat diartikan dengan berubah bentuk atau berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Apa yang harus diubah dari Satuan Armed? Dalam konteks ini, Satuan Armed harus memiliki kapasitas untuk melaksanakan pertempuran jarak dekat, menengah dan jauh. Sehingga dibutuhkan alutsista yang berkemampuan perang modern. Mengingat bahwa alutsista Armed sudah berumur tua, yang artinya juga ketinggalan teknologi, perlu dilakukan transformasi alutsista Armed. Satuan Armed harus berubah menjadi modern karena fungsi outward-looking menuntut kapasitas ini. Modern di sini bukan berarti memodernisasi teknologi alutsista TNI yang sudah tua, namun mengganti teknologi alutsista dengan generasi terbaru. Tidak ada yang dapat dimodernisasi dari teknologi yang sudah kedaluwarsa. Yang dapat dilakukan untuk mewujudkan Satuan Armed profesional hanyalah mentransformasi alutsista Armed.

Setiap bagian dalam proses transformasi dan modernisasi kekuatan Armed haruslah bergerak paralel secara bersama sama dalam setiap tahap evolusi regenerasi TNI.

Ada 5 pokok-pokok konsep transformasi dan modernisasi kekuatan Armed yang akan dibahas, yakni :

  1. Transformasi I : Meningkatkan Kualitas Kekuatan Armed. Menggunakan metoda pembelian senjata (procurement) dan dilakukan dengan dua cara yakni :
    1. Peremajaan Alutsista Armed dan Pembentukan Satuan Baru. Dalam Buku Putih Pertahanan 2008 dan Perpres RI no 41 tahun 2010 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2010-2014 menyatakan bahwa penggantian meriam jajaran Kostrad sudah menjadi bagian dalam agenda modernisasi alutsista TNI kedepan. Selanjutnya kriteria meriam jenis apa saja yang dibutuhkan oleh Armed kedepan serta cocok untuk medan tugas mana dislokasi satuan armed diletakkan?
      1. Armed membutuhkan meriam untuk pertempuran jarak dekat (close quarter battle) seperti perang kota. Meriam yang dibutuhkan adalah meriam yang dapat digunakan di medan perkotaan yang padat penduduk sehingga meriam ini cocok digunakan oleh satuan Armed yang berdislokasi di kota besar (Pulau Jawa). Spesifikasi meriam ini tidak harus mempunyai jarak capai yang jauh, namun harus memiliki ketepatan tembak "hit precision" yang baik.Untuk itu selain peninjau harus dilengkapi dengan Laser Range Finder, meriam harus didukung oleh sistem pibak komputer yang terintegrasi agar kecepatan dan ketepatan tembak dapat dijaga. Selain itu meriam ini harus dapat berpindah tempat dengan cepat dan mempunyai kemampuan lintas lengkung yang tinggi. Meriam jenis towed tidak cocok untuk medan seperti ini karena mobilitasnya yang kurang sedangkan meriam jenis self propelled beroda ban merupakan meriam yang paling cocok dalam medan perkotaan. Bagi korps Armed sendiri ditilik dari persyaratan mobilitas, ketepatan dan kecepatan tembak maka meriam GS 105 mm Mk61 SP How yang dimiliki sekarang sudah tidak memenuhi semua persyaratan tersebut sehingga lebih baik diganti dengan yang baru.
      2. Armed masih membutuhkan meriam untuk perang hutan. Meriam ini dibutuhkan untuk satuan Armed diluar pulau Jawa yang kondisi penduduknyajarang, memiliki daerah hutan yang bergunung-gunung, wilayah Kodamnya tidak begitu luas dan masih banyak ancaman separatis bersenjata. Kriteria meriam yang mudah dibongkar pasang dan ringan dibawa dalam operasi mobud dominan dalam perang hutan. Meriam jenis 105 mm pack howitzer adalah meriam yang paling cocok untuk kondisi alam seperti ini dan dialokasikan untuk menggantikan kegunaan jenis meriam 76 mm mountain gun yang saat ini sudah langka dan mempunyai jarak capai tidak begitu jauh.
      3. Armed membutuhkan meriam untuk perang jarak menengah (interdiction battle), kriteria yang dibutuhkan adalah meriam yang dapat melakukan operasi lawan artileri. Jarak capai diatas 30 km merupakan persyaratan utama meriam jenis ini. Meriam berkaliber 155 mm merupakan jenis meriam yang cocok untuk kriteria ini. Selanjutnya dilihat dari luas wilayah, meriam ini lebih cocok digunakan oleh satuan Armed yang berdislokasi di luar pulau jawa dan satuan Armed dengan kekuatan terpusat seperti Kostrad agar dapat digunakan sebagai BU atau Bantuan Umum dalam operasi.
      4. Armed membutuhkan alutsista yang dapat melaksanakan perang jarak jauh dan mendalam (deep battle), alutsista berjenis peluru kendali dan roket yang diletakkan diatas kendaraan agar mudah bermobilisasi adalah jenis alutsista yang memenuhi kriteria ini. Alutsista ini cocok diletakkkan di satuan Armed yang berada pada perbatasan negara Indonesia dengan Malaysia, Singapura dan Australia. Alutsista ini digunakan untuk menimbulkan efek getar strategis "detterence effect" kepada negara-negara di kawasan sehingga merupakan daya tangkal terhadap ancaman dari luar, serta dapat mendukung upaya diplomasi agar memperoleh bargaining position yang memadai setiap dalam setiap penyelesaian suatu konflik antarnegara.
    2. Modernisasi Alat Pendukung Penembakan
      1. Penggantian alat pibak manual. Seyogyanya teknik pibak manual diganti dengan pibak komputer diselaraskan dengan pembelian alutsista yang baru. Diharapkan kedepan waktu yang digunakan dalam mengolah data penembakan akan semakin singkat.
      2. Modernisasi alat peninjauan. Sudah selayaknya penggantian meriam harus disertai dengan perbaharuan alat peninjauan. Para peninjau yang saat ini hanya berbekal teropong gunting, AC, kipas peninjauan, dll diharapkan dengan modernisasi ini para peninjau di jajaran Armed akan menggunakan LRF dan GPS sehingga dapat mempersingkat waktu dalam hal pelaporan dan koreksi tembakan.
      3. Melengkapi satuan Armed dengan radar lawan artileri. Radar lawan artileri sangatlah penting dalam operasi lawan baterai sehingga dengan pembelian radar tersebut kemampuan satuan Armed dalam melaksanakan counter fire dapat meningkat signifikan.
      4. Modernisasi Alkom Armed. Dengan kemampuan radio PRC yang dimiliki saat ini, gangguan EMP maupun penyadapan musush akan mengganggu komando dan pengendalian antara Jaupan-Pibak-Meriam. Sehingga Armed membutuhkan enscripted radio communication dan networking communication agar dapat bertahan dari perang elektronika yang dilancarkan musuh.
      5. Perubahan organisasi. Dikarenakan sudah adanya GPS maka keberadaan regu Kurmed harus di evaluasi lagi menimbang efektifitas kinerja organisasi Armed kedepan.
  2. Transformasi II : Meningkatkan Integrasi Antara Tembakan Dan Manuver. Metoda yang digunakan adalah litbang dan evaluasi terhadap piranti keras (hardware) alutsista Armed tujuannya adalah meningkatkan mobilitas dan jarak capai Armed.
    1. Penguasaan Teknologi Alutsista Armed. Semua negara produsen alusista selalu menyimpan suatu teknologi yang hanya dikuasai oleh negaranya sendiri dan tidak dijual ke negara lain. Hal ini salah satunya untuk antisipasi supaya dalam gelar kekuatan total, alutsista tersebut tidak bisa ditangkal oleh negara manapun. Berdasar prinsip ini secanggih apapun meriam yang kita beli tidak akan sanggup menandingi kecanggihan meriam yang dimiliki oleh negara aslinya. Sehingga apabila kedepan kita masih ingin berkompetisi dengan negara lain, Indonesia harus mengarah menuju kemandirian Industri pertahanan. Ada beberapa teknologi yang harus dijadikan objek litbang agar TNI mampunyai satuan Armed yang memiliki mobilitas dan jarak capai yang disegani.
      1. Teknologi meriam Armed GS (Self Propelled Artillery). Ini mengaca pada kelemahan satuan Artileri tarik yang lambat dalam perpindahan dan lambat melayani permintaan tembakan ketika bergerak. Mobilitas tinggi telah melahirkan meriam Armed GS beroda ban yang cocok untuk perang jarak dekat seperti perang lawan insurjensi maupun perang kota Selain itu interaksi meriam Armed GS dengan pasukan mekanis melahirkan perubahan doktrin Armed dikaitkan dengan organisasi Brigade Mekanis "Stryker Brigade Combat Team (SBCT)" yang digunakan untuk peperangan kota. Dengan mempunyai teknologi ini, satuan Armed dapat melaksanakan taktik operasi lawan baterai "shoot and scoot". Yakni taktik dimana baterai GS melaksanakan penembakan terhadap target kemudian secepat mungkin bergerak pindah stelling untuk menghindari operasi lawan baterai musuh, baik itu yang dilancarkan oleh sesama Artileri maupun yang dilakukan oleh pesawat tempur ataupun heli serbu musuh. Taktik ini telah digunakan oleh satuan Armed Rusia Katyusha, Satuan Armed Jerman Phz 2000, maupun satuan Armed Amerika MLRS, M109A6 Paladin dan M110 SP How.
      2. Teknologi Multiple Launcher Rocket System (MLRS). Merupakan tipe peluncur rudal/roket yang berbentuk ranpur beroda rantai sehingga mudah melaksanakan mobilisasi. Berbeda dengan peluncur roket tetap (silo) yang tidak dapat berpindah tempat. Kelebihannya yakni merupakan senjata armed yang sangat mematikan, dapat menembak secara independen (tidak tergantung sistem armed peninjau-pibak-pucuk) serta mampu bergerak dan menentukan posisi secara independen pula tidak tergantung pada tim kurmed. Cocok untuk operasi lawan baterai dan perang jarak jauh dan mendalam (deep battle). Ketika kita bisa mendapatkan teknologi ini, dengan kendaraan MLRS, satuan Armed dapat melayani bantuan tembakan lebih mudah dan lebih cepat karena dapat menentukan arah dan posisi secara elektronik. Melalui teknologi ini Satuan Armed MLRS dapat melaksanakan orientasi sendiri tanpa bantuan dari luar, mengolah data penembakan sendiri kemudian menembakkannya. Satu unit MLRS dapat menggantikan fungsi Pibak baterai. MLRS biasanya membawa dua belas roket siap tembak dan dapat menembakkan kedua belas roketnya bersamaan dalam hitungan detik. Jarak capai jauh ditambah dengan daya hancurnya yang begitu dahsyat membuat MLRS begitu spesial dikarenakan disetiap roketnya terisi improved submunition yang mampu menghancurkan daerah luas (1 km2) dalam waktu yang singkat.
      3. Teknologi High-Mobility Artillery Rocket System (HIMARS). Merupakan varian teknologi terbaru MLRS. Merupakan kendaraan pengangkut rudal beroda ban yang dimiliki oleh Amerika. Kelebihannya selain ringan, memiliki daya angkut yang lebih banyak, karena beroda ban membuat mobilitasnya lebih cepat dibandingkan dengan MLRS. Kendaraan pengangkut ini sudah dibeli 14 unit oleh Singapore Army (SA) dan dijadikan kendaraan utama pengangkut rudal artileri mereka.
    2. Penguasaan Teknologi Roket Dan Rudal. Penggunaan armed kedepan, dikaitkan dengan kondisi global, lebih banyak terfokus pada pemberian bantuan tembakan jarak dekat serta bantuan tembakan secara mendalam (close and deep fires). Agarbisa mengimbangi kekuatan negara sekitar, maka penguasaan teknologi roket dan rudal adalah utama. Selain karena daya hancurnya yang luas, rudal memiliki ketepatan sangat baik dibandingkan meriam artileri manapun (probability error hanya 10 meter).
      1. Teknologi Roket. Walaupun keberadaan teknologi ini sudah lahir sejak dahulu, namun sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk membuatnya. Sudah ada beberapa percobaan dan uji coba lapangan pembuatan roket di Indonesia, salah satu diantaranya diujicobakan pada tahun 2009 yakni peluncuran prototye roket berjenis RX-420 oleh LAPAN 6.
        Dibandingkan rudal, kelemahan terbesar roket adalah ketepatannya yang jauh dari akurat. Itulah mengapa roket saat ini jarang digunakan dalam pertempuran nodern didaerah pemukiman karena dikhawatirkan akan banyak jatuh korban dari pihak non combatan.
      2. Teknologi Rudal. Ada berbagai macam jenis rudal tergantung dari jaraknya : pendek (dibawah 300 km), menengah (antara 300 km s.d 1000 km) dan jauh (diatas 1000 km, dikenal dengan nama intercontinental balistic missille). Kelebihannya adalah hit precision yang tinggi dibandingkan dengan roket sehingga penggunaan rudal sangat cocok untuk close maupun deep battle.
      3. Terminal Guidance Warhead (TGW). Merupakan improvisasi dari teknologi rudal sehingga bisa dikendalikan oleh unsur jaupan. Teknologi ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1991 di Persian Gulf War dan di demonstrasikan oleh US ARMY untuk menghancurkan bunker-bunker milik Irak. Teknologi ini mengawinkan kemampuan GPS dan kemampuan jelajah rudal, hasilnya jarak capai peluru MLRS yang dipasang TGW dapat meningkat pesat dan dapat dikendalikan oleh operator MLRS. Jarak capai yang tadinya hanya mencapai 45 km dapat ditingkatkan hingga 70, 120 bahkan 150 km tergantung dari jenis roket yang digunakan. Selain itu kemampuannya tidak hanya akan mencari dan menghancurkan pertahanan lapis baja, namun juga akan mengkoordinasikan serangan sehingga 1 sasaran hanya akan diserang oleh 1 submunition. Dengan jarak capai yang jauh dan pengendalian rudal yang maksimal maka Panglima Darat dapat mempunyai banyak inisiatif untuk mempertajam pertempuran.
      4. Army Tactical Missile System (ATACMS). Merupakan improvisasi teknologi rudal MLRS. Jika jarak capai rudal tadinya hanya sanggup mencapai jarak 30-40 km, maka dengan ATACMS sebuah MLRS atau HIMARS dapat menembakkan peluru sejauh 186 km. Cukup signifikan. Sehingga dengan dikuasainya teknologi ini, maka Armed siap memasuki pertempuran jarak jauh dan mendalam (deep battle) yang selama ini merupakan domain dari Angkatan Udara.
    3. Penguasaaan Teknologi Munisi Improvisasi. Perkembangan munisi artileri kedepan akan lebih dahsyat ketimbang munisi artileri sekarang. Daya hancur yang lebih luas, jarak capai yang lebih jauh serta ketepatan yang akurat akan menjadi karakteristik munisi artileri modern. Sehingga mau tidak mau TNI beserta industri pertahanan kita harus berusaha untuk menguasainya dan tidak boleh ketinggalan jaman. Ada beberapa teknologi munisi yang patut disimak dalam perkembangannya di beberapa dekade yang lalu.
        1. Rocket Assisted Projectile (RAP). Teknologi ini cukup mencengangkan begitu pertama kali dikenalkan karena munisi konvensional di modifikasi dengan tambahan roket sehingga apabila ditembakkan dengan meriam yang sama dapat mencapai jarak yang lebih jauh (30% dari munisi konvensional). Sebagai contoh meriam 105 mm M102 yang dengan munisi konvensional biasa hanya bisa mencapai jarak 11.500 m namun dengan munisi RAP jarak capainya bisa meningkat hingga 15.000 m. Bahkan pabrikan Denel dari Afrika Selatan mengembangkan munisi V-LAP (Velocity-enhanced Long-range Artillery Projectile) atau yang biasa dikenal dengan Base Bleed Projectile. Dengan sistem dan cara kerja yang hampir sama dengan munisi RAP, sebuah meriam (105 mm G7 Howitzer) dapat menembakkan V-LAP mencapai jarak sejauh 30 km. Cara kerja munisi jenis ini ialah dengan mereduksi hambatan udara yang ditemui ketika proyektil ditembakkan. Biasanya laju kepala proyektil akan menemui hambatan udara, dengan teknologi ini maka dibuatlah suatu cincin hidung (lihat gambar atas) sehingga udara akan masuk melalui hidung tersebut dan dihembuskan melalui ekor proyektil (gambar bawah). Hembusan gas tersebut akan menambah daya laju proyektil sehingga jarak capai meriam akan secara otomatis bertambah jauh.7)
        2. Improved Conventional Munition (ICM) dan Dual Purpose Improved Conventional Munition (DPICM). Jenis munisi ini sudah dikembangkan sejak lama namun tidak pernah dilatihkan di Indonesia karena sesuatu hal. Penggunaan munisi ICM akan menghasilkan efek ledakan yang lebih luas dari munisi konvensional. Sedangkan penggunaan DPCIM lebih difokuskan pada penghancuran lapis baja musuh. ICM dan DPCIM dalam dunia militer lebih dikenal dengan nama cluster bomb, atau lebih dikenal dengan istilah munisi "popcorn" atau "firecrackers" bagi militer Amerika. Cara kerja munisi ini adalah dengan menggunakan letus atas selanjutnya bom tersebut akan menyebarkan submunisi yang akan menghancurkan sasaran dibawahnya.
          Saat ini didunia ada beberapa jenis submunisi cluster bomb, ICM membawa submunisi anti personil, sedangkan DPICM membawa submunisi anti tank serta anti personil. Lain lagi dengan British JP233 yang membawa munisi anti melarikan diri alias "runaway submunition" yang cara kerjanya merupakan perkawinan dari submunisi antipersonil dan delay bobbytrap sehingga bertindak sebagai ranjau antipersonil. Sedangkan submunisi yang membawa api dinamakan incendinary, mempunyai cara kerja seperti bom molotov dan sangat efektif untuk membakar personel yang bertahan dalam gedung . Ada juga yang diisi dengan bom kimia maupun biologi (saat ini sudah dilarang oleh konvensi The Chemical Weapons Convention of 1993). Sedangkan untuk submunisi yang berisi ranjau seperti ADAM (Area Denial Artillery Munition) saat ini sudah tergolong aman karena dapat meledak sendiri jika tidak mengenai sasaran dalam 48 jam.
          Dampak penggunaan munisi ini ialah berkurangnya jumlah proyektil yang digunakan dalam pertempuran. Sebagai contoh dengan munisi konvensional HE (High Explosive) dibutuhkan 3000 butir untuk menghancurkan 1 Baterai, namun dengan munisi DPICM (Dual Purpose Improved Conventional Munition) hanya dibutuhkan 300 butir untuk menghancurkan sasaran baterai yang sama
          .
        3. Sense and Destroy ARMor (SADARM). Merupakan submunisi modern dengan sensor panas serta visual yang dibawa oleh munisi CBU-97 sensor-fuzed weapon. Ini adalah varian terbaru dari bom cluster yang ditembakkan dari meriam 155 mm M898 dan MLRS, diujicobakan pada perang di Irak di tahun 2003 Iraqi Freedom oleh Amerikauntuk menghancurkan bunker-bunker Irak. Cara kerjanya begitu dua buah submunisi SADARM keluar dari induknya maka dari setiap munisi tersebut akan mengeluarkan parasut kecil yang dinamakan ram-air parachute (lihat gambar) yang akan memutar submunisi secara perlahan, selanjutnya cincin vortex yang kedua akan terbuka dan memutar submunisi kearah yang berlawanan. Dalam perputaran itulah sensor akan mendeteksi area dibawahnya. Jarak pendeteksian sensor dimulai dari ketinggian 150 m diatas tanah. Ketika mendeteksi sasaran maka 1.5 kg LX-14 akan meledak dan mengeluarkan explosively formed penetrator (lihat gambar bawah) yang mempunyai cukup energi untuk menghancurkan bagian atas pertahanan maupun kendaraan lapis baja.8).Dengan teknologi SADARM, maka untuk menghancurkan sasaran 1 Baterai dibutuhkan hanya 30 butir munisi.
        4. Nuklir. Walaupun menguasai teknologi nuklir dapat meningkatkan efek getar strategis suatu negara. Teknologi nuklir tidak bisa dikembangkan di Indonesia. Secara hukum, ada dua aspek dimana Indonesia tidak mungkin mengembangkan nuklir untuk tujuan militer. Pertama, Konstitusi kita mempunyai semangat damai. Kedua, karena negeri kita termasuk salah satu dari sekian ratus negara yang menandatangani traktat anti nuklir (NPT: Non-Proliferation Nuclear Treaty). India, Pakistan dan Korea Utara tidak termasuk dalam negara-negara yang meratifikasi perjanjian ini. Sedangkan Israel tidak pernah mengaku secara terang-terangan memiliki nuklir walaupun banyak negara meyakini bahwa Israel memilikinya. Namun, banyak pula yang memaklumi kalau Israel memiliki senjata nuklir, terutama Amerika Serikat, karena Israel memang dikelilingi negara-negara yang tidak pernah bersahabat dengannya sampai kiamat nanti. Dalam NPT kita kenal lima negara yang juga jadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Mereka adalah Amerika Serikat, RRC, Rusia, Perancis dan Inggris. Klub elit nuklir ini mempunyai kesepakatan untuk tidak menyebarkan teknologi persenjataan nuklir kepada negara lain. Sedangkan bagi negara yang menandatangani perjanjian seperti negara kita, berjanji untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun berupaya memperoleh bantuan dari negara lain untuk melakukan itu. Negara-negara ini juga sepakat untuk diperiksa oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), sehingga setiap saat bisa diketahui reaktor nuklir yang dikembangkan itu bertujuan damai atau tidak.
  3. Transformasi III : Penyederhanaan Rantai Komando : Meningkatkan Kemampuan Komando dan Pengendalian. Penyederhanaan rantai komando? Apa maksudnya dan apa hubungannya dengan meningkatkan kemampuan Kodal? Mengaca pada bukunya Thomas Friedman, "The World is Flat", kemajuan teknologi telah membuat dunia ini sederhana. Hal ini dapat diilustrasikan jika saya seorang Kapten bertempur dalam suatu daerah operasi, membutuhkan sesuatu / informasi yang dibutuhkan tentang daerah operasi, maka saya akan dengan mudah mencari dan mendapatkan hal tersebut tanpa harus terhambat dengan prosedur yang berbelit-belit. Ini merupakan ide yang hebat namun bukanlah sesuatu yang mudah untuk di implementasikan, ini membutuhkan dukungan kemampuan teknologi. Sistem yang "kompleks" haruslah di-sederhana-kan dalam rangka memastikan konektivitas operasional dan teknis ketika perang berlangsung. Kegagalan dalam hubungan Kodal akan berdampak pada kelangsungan operasi selanjutnya.
    1. Optimalisasi PenggunaanKarvak Bersama "Joint common grid". Saat ini dunia telah menemukan teknologi GPS, networking dan komunikasi satelit. Jika ketiga teknologi ini digabungkan menjadi satu maka akan tercipta suatu "joint common grid". Sehingga cukup letakkan meriam dan sasaran dalam "karvak yang sama" melalui ketiga teknologi tersebut, maka segala jenis meriam akan dapat melayani permintaan tembakan yang diminta. Disamping itu unsur komandan baik dari level Panglima maupun level kapten seperti saya dapat mengakses informasi daerah operasi yang dibutuhkan dengan cepat. Untuk itu industri pertahanan perlu mengembangkan software bagi ketiga bagian tersebut.
      1. Teknologi GPS. GPS yang dimiliki sekarang ini masih merupakan teknologi negara lain. Apabila berpandangan kedepan maka Indonesia harus mempunyai satelit GPS sendiri. Karena jika kita masih tetap berpegang teguh pada teknologi GPS yang ada maka suatu ketika jika perang terjadi, Indonesia akan mengalami kerugian yang signifikan diakibatkan tidak berfungsinya GPS yang kita miliki.
      2. Teknologi Networking Dalam bukunya Thomas Friedman, "The World Is Flat", menceritakan tentang dampak internet dalam bisnis, dimana informasi dunia bergerak cepat bagaikan kilat dalam setiap transaksi bisnis multinasional. Sukses penggunaan dalam dunia bisnis telah menginspirasi penggunaan networking dalam dunia militer, apabila dunia bisnis multinasional telah sukses memanfaatkannya mengapa dunia militer tidak? Dengan menguasai teknologi jaringan atau networking maka cita-cita pembuatan Kogasgab dapat terwujud. Selain itu rantai komando akan menjadi pendek karena seperti kata buku tadi The World is Flat, komunikasi menjadi "flat" karena dukungan networking yang baik.
      3. Komunikasi Satelit. Dapat dibayangkan apabila TNI memiliki satelit sendiri, bebas berkomunikasi tanpa harus takut disadap. Bebas menggunakan telepon, military network maupun komunikasi armed tanpa takut bocor ke tangan musuh. Apa yang di idam-idamkan menjadi kenyataan. Saya seorang kapten dapat dengan mudah mencari informasi tentang lokasi musuh dan melaporkannya ke komando atas kemudian ditanggapi hingga turun menjadi perintah pelayanan tembakan tanpa harus berurusan dengan rumitnya rantai komando dan khawatir akan penyadapan musuh.
    2. Transformasi Taktik, Tehnik Dan Prosedur Pemberian Bantem Armed. Dengan adanya penyederhanaan rantai komando, maka secara logis akan berdampak pada transformasi tehnik peninjauan gabungan (Joint Fires Observer) dan tehnik korbantem gabungan (Joint Operational Fires and Effects)
      1. Tehnik Peninjauan Gabungan (Joint Fires Observer).Dibutuhkan kursus khusus tentang tehnik peninjauan gabungan (Joint Fires Observer Course) sehingga para peninjau (Jaupan armed, marinir, penerbad, maupun jaupan udara dari AU) dapat mengaplikasikan bagaimana melayani dan meminta tembakan dari berbagai macam variasi aset bantuan tembakan.
      2. Tehnik Korbantem Gabungan (Joint Operational Fires and Effects). Dibutuhkan kursus khusus tentang tehnik korbantem gabungan (Joint Operational Fires and Effects Course) sehingga para calon Danyonarmed, Danmen, Danbrig, maupun Pangdiv serta Perwira Penghubung dari semua unsur bantuan tembakan (AD,AL,AU) dapat memiliki pemahaman yang sama dan memiliki kemampuan tentang taktik, tehnik dan prosedur dalam perencanaan dan aplikasi dari korbantem gabungan.
  4. Transformasi IV : Transformasi Konsep Bantuan Tembakan. Konsep bantuan tembakan kedepan harus lebih fokus pada efisiensi logistik, pembentukan Brigade gabungan "Brigade Combat Team" dan kemampuan mendukung bantem dekat maupun mendalam "Close and Deep Fires".
    1. Fokus Pada Peningkatan Efisiensi Logistik Armed (Logistic Minded). Diharapkan pengembangan kedepan lebih difokuskan pada logistic minded mengingat pengalaman seluruh artileri dunia selalu bermasalah dengan "logistik" terutama bekal munisi. Ada beberapa teknologi yang bisa meng-efisiensi-kan penggunaan munisi Armed.
      1. Teknologi Liquid Propelant dan Unicharge Gun. Liquid propelant merupakan propelant cair untuk munisi armed akan memberikan satuan armed fleksibilitas, sehingga dapat melaksanakan penembakan dengan cepat dan jarak yang lebih jauh dari munisi dengan propelant biasa. Sedangkan Unicharge Gun (isian universal), setiap isian dapat langsung ditembakkan tanpa perlu disesuaikan lagi (dibuang isiannya jika tidak sesuai dengan jarak yang dikehendaki) seperti halnya munisi konvensional. Dengan kedua teknologi tersebut maka dengan kata lain dalam pertempuran, 1 truk yang bisanya membawa munisi untuk 1 Baterai dapat membawa munisi untuk satu Batalyon, karena munisi dengan propelan cair maupun isian universal lebih kecil bentuknya dan lebih ringan beratnya dibandingkan munisi konvensional sehingga sangat efektif dan efisien bagi mobilitas satuan Armed itu sendiri.
      2. Teknologi Rail Gun. Teknologi ini baru dikembangkan dan masih menjadi prototype di Navy Research Center milik US Navy Center. Teknologi ini menggunakan prinsip elektromagnetik untuk melontarkan sebuah proyekti ke sasaran. Dengan elektromagnetik, tidak diperlukan lagi propelan sebagai pendorong dalam sebuah munisi. Dengan kata lain dengan teknologi railgun, Armed dapat menembak lebih jauh dan lebih tinggi dari munisi konvensional biasa dengan biaya yang lebih murah.
    2. Fokus pada pembentukan Brigade Tim Pertempuran (BTP) Brigade Combat Team. Dengan konsep model Brigade Combat Team atau yang dikenal dengan brigade tim pertempuran, maka tugas taktis Batalyon Armed bantuan langsung yang selama ini terpisah dari induk Brigade akan berubah menjadi organik langsung BTP tersebut selanjutnya menjadi Batalyon Bantuan Tembakan (BBT) atau Fires Batallion. Namun transformasi ini masih tetap menjaga prinsip dasar bantuan tembakan bahwa agar dapat melaksanakan tembakan secara efektif dan efisien satuan bantem harus tetap bersama satuan manuvernya, terlebih lagi penyatuan satuan manuver dengan sarana bantemnya akan mempererat integrasi antara satuan manuver dengan sarana bantem yang merupakan hal krusial bagi keberhasilan tugas pertempuran.
    3. Fokus Pada Kemampuannya Mendukung Perang Modern : Close And Deep Fires. Pertempuran modern mengandalkan 2 jenis bantuan tembakan. Pertama, bantem dekat (close support fires) yang digunakan dalam rangka perang lawan insurjensi maupun perang kota. Kedua, bantuan tembakan jauh dan mendalam (fires at depth) dalam rangka menangkal agresi dari negara tetangga.
      1. Bantem Dekat (Close Fires). Permasalahan yang menonjol pada pemberian bantem dekat adalah faktor ketepatan. Pengalaman di Battle of Falujah, Invasi AS ke Irak tahun 2003, colateral damage akibat pemberian bantem dekat dapat direduksi cukup signifikan melalui penggunaan teknologi modern yang tepat serta efisien. Sehingga apabila Armed nantinya diarahkan untuk terlibat dalam peperangan kota atau operasi lawan insurjensi di pemukiman yang diperlukan precision atau ketepatan dalam rangka pemberian bantem dekat. Armedperlu menerapkan integrasi teknologi modern seperti peninjauan dengan sensor (LRF dan UAV), komunikasi networking , dan penggunaan common grid dari GPS seperti yang dilakukan AS dalam Battle of Falujah.
      2. Bantem Jauh (Deep Fires). Kendala utama yang dihadapi oleh bantem jauh adalah permasalahan ketepatan peluru akibat gangguan cuaca, waktu sortie danwaktu terbang proyektil atau rudal. Dengan penerapan teknologi TWG maupun SADARM maka permasalahan yang berkaitan dengan "ketepatan" bisa diatasi.Permasalahan kedua yakni mengenai "peninjauan". Dahulu peninjauan udara memakan biaya yang sangat mahal, karena menggunakan pesawat udara maupun helikopter. Namun sekarang biaya tersebut bisa diperkecil dengan menggunakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle).
      3. Counter Rocket, Artillery and Mortars (C-RAM) Dalam rangka menghadapi operasi deep battle musuh, trend militer sekarang, operasi lawan artileri telah berevolusi menjadi C-RAM (Counter Rocket, Artillery and Mortars). Kebutuhan akan radar adalah utama. Disamping itu untuk menghadapi deep battle muncul gagasan tentang penggabungan sekolah Armed dan Arhanud dalam rangka kursus operasi lawan roket, artileri dan mortir (C-RAM Course). Ini didasari pemikiran bahwa arhanud merupakan bagian integral dari artileri karena akan melindungi armed ketika melaksanakan tembakan dan akan menjadi sensor bagi armed apabila ada serangan lawan artileri musuh.
  5. Transformasi V : Transformasi Taktik Armed. Dengan dilengkapi teknologi modern banyak taktik artileri modern yang dapat dilakukan oleh Satuan Armed kita.
    1. Taktik Tembak dan Lari (Shoot and Scoot). Dilakukan apabila kemampuan operasi lawan artileri musuh lebih kuat dari kekuatan kita.Setelah melaksanakan penembakan maka baterai akan secepat mungkin melaksanakan pindah stelling supaya lokasinya tidak diketahui oleh musuh. Ini dilakukan untuk menghindari operasi lawan artileri dari pihak artileri atau helikopter serbu maupun pesawat tempur musuh. Dalam perkembangannya taktik ini berevolusi menjadi :
      1. Serangan Sniper Artileri (Artilleri Sniper Attacks). Serangan ini dilakukan dengan menembak musuh secara mendadak. Biasanya dilakukan oleh satuan Armed GS baik itu satuan Armed beroda ban maupun yang beroda rantai. Permasalahan utamanya ada pada integrasi antara ketepatan waktu dan ketepatan tembak. Peninjau modern akan menggunakan LRF sebagai penjejak pada sasaran, kemudian satbak akan mengeksekusinya. Di perang Afganistan, militer AS menggunakan UAV untuk menjejak lokasi target kemudian mengeksekusinya. Setelah melaksanakan penembakan maka satbak akan secepat mungkin berpindah tempat untuk menghindari operasi lawan artileri musuh.
        1. Tembakan Otomatis (Autonomus Weapon). Ini berarti satuan armed yang sedang bergerak dapat dengan cepat memberikan tembakannya jika ada permintaan tembakan. Selama ini kita mengenal adanya stelling cepat, namun waktu yang dibutuhkan mulai dari mengorientir-mengarahkan satbak, mengolah data sampai menembak meriam terbilang cukup lama (paling cepat 13 menit). Dengan autonomus weapon ini diharapkan waktu yang digunakan dalam mengorientir kemudian mengarahkan pucuk dan menghitung data penembakan bisa dipersingkat dengan waktu kurang dari 1 menit. Teknologi ini dimiliki oleh MLRS dan sebagian meriam 155 mm GS seperti meriam 105 mm M109 Howitzer yang sudah dilengkapi dengan teknologi Human Factors Howitzer Test Bed (HFHTB).
        2. Menembak dari Stelling Tetap (Fire From Fixed Location). Dilakukan apabila musuh tidak mempunyai kemampuan lawan baterai atau tidak mempunyai radar lawan baterai. Dalam perkembangannya taktik ini terbagi menjadi dua yakni :
          1. Stelling Tersamar (Concealed Location). Dilakukan dengan penyamaran meriam sehingga tidak tampak dari peninjauan udara.
          2. Stelling Tersembunyi (Hardened Location). Melaksanakan penembakan dari tempat-tempat yang bisa menjadi perlindungan meriam-meriam Armed seperti halnya dekat bangunan-bangunan ketika pertempuran kota berlangsung. Taktik ini digunakan pada saat pertahanan kota, cocok untuk satuan Armed yang berada di ibukota.
        3. Menembak dari Stelling Terpisah (Fire From Dispersed Location). Menembak dari beberapa lokasi yang berbeda untuk mendukung jalannya pertempuran.
          1. Baterai terpisah (Split battery). Taktik ini biasanya dilakukan dengan cara baterai terpisah untuk menghindari penghancuran massal dari satuan roket maupun MLRS musuh.
        4. Menembak dan Pengecohan (Fire And Decoy). Biasanya dilaksanakan apabila musuh memiliki kemampuan pengintaian udara namun tidak memliki radar lawan baterai.
          1. Meriam penjelajah (Roving Gun/Unit). Biasanya dilakukan oleh penembakan satu pucuk di steling aju untuk mengecoh kedudukan baterai terhadap operasi lawan baterai musuh.
          2. Baterai Tipuan (Deception Battery). Membuat baterai tipuan untuk mengecoh peninjauan udara musuh. Ini dilakukan Irak ketika perang di tahun 1991, Persian gulf War. Ketika itu Armed Irak membuat steling baterai tipuan dari kayu untuk mengecoh UAV dan pengindraan satelit milik AS. 

Penutup

Berdasarkan berbagai hal di atas, mau tidak mau pemerintah harus tetap konsekuen dalam membangun profesionalisme yaitu dengan transformasi TNI. Kedaulatan suatu negara akan terancam jika tidak memiliki militer yang kuat. Jika pemerintah Indonesia tidak segera melakukan transformasi TNI menjadi TNI yang profesional dalam artian yang sebenarnya, maka taruhannya adalah kedaulatan negara. Satu hal yang harus dipahami oleh elite politik dan pemimpin bangsa adalah prinsip para Jenderal hebat di dunia, bahwa kita harus membiarkan para negara tetangga membangun kekuatan pertahanannya, tetapi jangan sampai membiarkan mereka lebih kuat dari kita sehingga mereka berpotensi menjadi our next enemy.

Dalam rangka membangun profesionalisme TNI, suka atau tidak suka transformasi dan modernisasi kekuatan Armed merupakan bagian terpenting yang tidak dapat terpisahkan dalam proses ini. Saat ini transformasi dan modernisasi kekuatan Armed tampak masih jauh dari kata mulai. Faktor penghambat hal itu merentang dari konteks lingkungan strategis dan kepentingan nasional Indonesia, hingga perkembangan doktrin militer serta konsistensi antusiasme para petinggi negeri ini (political will), termasuk didalamnya perhatian dari para petinggi TNI AD itu sendiri. Konsepsi transformasi dan modernisasi kekuatan Armed ini tidak akan ada artinya apabila tidak dimulai dari sekarang. Karena keberhasilan Armed dalam proses ini akan berdampak langsung pada transformasi yang dilakukan oleh TNI.

Demikian tulisan ini disusun, penulis menyadari bahwa Konsep ini masih belum sempurna dan masih banyak hal yang memerlukan perbaikan untuk penyempurnaannya, oleh karena itu koreksi dan saran-saran dari pembaca dan semua pihak yang konstruktif akan selalu penulis terima dengan senang hati. Menyadari kekurangan-kekurangan tersebut, penulis berharap Konsep ini dapat digunakan sebagai bahan acuan tambahan dalam mengatasi berbagai permasalahan dan semoga bermanfaat bagi pengembangan TNI terutama korps Armed kedepannya.


DIRGAHAYU ARTILERI MEDAN ANGKATAN DARAT
4 DESEMBER 2010




Referensi

1 Alexandra Retno Wulan, Tiga opsi pola hubungan militer Indonesia-AS, CSIS situs web : http://www.csis.or.id /scholars_opinion_view.asp?op_id=770&id=67&tab=3

2) "Australia’s A$ 450M-600M LAND 17 Artillery Replacement". Defense Industry Daily. 21 October 2009. Alamat situs: http://www.defenseindustrydaily.com/australias-a-450m600m-land-17-artill... goahead-01928/.Terbit tanggal 13 April 2010

3) DMO. "LAND 17 Artillery Replacement". Alamat situs : http://www.defence.gov.au/dmo/lsd/land17/index.cfm. Terbit tanggal 28 Oktober 2009

4) David Shambaug, China’s Communist Party: Atrophy and Adaptation, 2004

5) Connie Rahkundini Bakrie, TNI : Reformasi atau Transformasi, alamat web : http://rahakundini.multiply.com /journal/item/95/TNI_Reformasi_atau_Transformasi

6) Tandef, LAPAN sukses luncurkan roket RX 420, 7 Sept 2009 alamat situs : http://www.tandef.net/r-han-122-roket-buatan-indonesia

7) Wikipedia, Base Bleed, alamat situs : http://en.wikipedia.org/wiki/Base_bleed

8) Wikipedia, Sense and Destroy ARMor (SADARM), alamat situs : http://en.wikipedia.org/wiki/ Sense and Destroy ARMor