"Hendaknya perjuangan kita harus kita dasarkan pada kesucian. Dengan demikian, perjuangan lalu merupakan perjuangan antara jahat melawan suci. Kami percaya bahwa perjuangan yang suci itu senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan.
Apabila perjuangan kita sudah berdasarkan atas kesucian, maka perjuangan ini pun akan berwujud perjuangan antara kekuatan lahir melawan kekuatan bathin. Dan kita percaya kekuatan bathin inilah yang akan menang. Sebab, jikalau perjuangan kita tidak suci, perjuangan ini hanya akan berupa perjuangan jahat melawan tidak suci, dan perjuangan lahir melawan lahir juga, tentu akhirnya si kuat yang akan menang.
Telah diakui oleh beberapa pemimpin perjuangan di berbagai tempat, bahwa kemunduran dan kekalahan yang diderita oleh barisan yang berjuang itu adalah manakala anggota-anggota barisan tadi mulai tidak suci lagi dalam perjuangannya dan rusuh dalam tingkah laku dan perbuatannya."
(Pidato Pertama Panglima Besar Jenderal Soedirman setelah pelantikannya sebagai Panglima Besar TKR, 25 Mei 1946)

Rontokkan pelanggar wilayah
Sebagai warga negara, saya meminta kepada TNI agar menjaga kedaulatan wilayah Indonesia. Malaysia ini bukan sekali dua kali melanggar wilayah NKRI. Oleh karena itu, saya minta agar TNI tidak ragu untuk merontokkan apabila ada militer Malaysia yang melakukan pelanggaran wilayah kita. Saya tidak suka melihat TNI yang lemah. Apabila perontokan pelanggar wilayah itu berkembang menjadi perang, insya' Allah seluruh WNI akan mendukung.
Kalo Perang kita siap kok...
Wah kalo denger cerita itu kayaknya semangat perjuangan kita terbakar lg...tp btw ini jga buat gw sedih berarti diplomasi kita kurang greget gt...kalo emang alat2 kita ga bisa nandingin malaysia sih udah maklum tapi kok presiden kt yg juga anggota TNI tidak langsung bereaksi keras? asal tau aja org malay tuh penakut...mereka pikir dgn infiltrasi ke wil NKRI bisa nunjukkin mereka itu sakti kali yah...
Prajurit TNI tidak takut mati.
Saya rasa lebih baik semangat perjuangan yang sudah terbakar ini dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih positif dalam bidang kita masing-masing dalam kerangka pengabdian pada bangsa dan negara.
Perang secara militer/pertempuran hanya akan mengorbankan nyawa dan potensi negara yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Perilaku negara tetangga sedemikian belum membuat TNI harus digerakkan untuk bertempur. Masih ada jalan lain.
Pertahanan negara bukan hanya tanggung jawab TNI. Sedangkan dalam peperangan secara militer/pertempuran, resiko yang biasa dihadapi pelaku pertempuran adalah kematian. Dan dalam pertempuran, pihak yang mempunyai risiko kematian paling besar adalah prajurit TNI, bukan pedagang, bukan pegawai bank, bukan mahasiswa, bukan diplomat, bukan ekonom.
BUKANNYA PRAJURIT TNI TAKUT MATI, tetapi, saya rasa kurang bijaksana bila kita sebagai salah satu komponen bangsa menggalakkan suatu cara memenangkan bangsa ini yang akan memberikan resiko paling berat (kematian sebagai korban pertempuran) bagi salah satu komponen bangsa yang lain (prajurit TNI). Padahal masih ada cara lain yang juga akan memenangkan bangsa ini yang melibatkan keterlibatan aktif seluruh komponen bangsa Indonesia.
Walaupun dengan peralatan yang ada sekarang, TNI yang didukung rakyat tidak akan kalah bertempur dengan negara-negara manapun yang berbatasan dengan RI, asalkan pertempuran itu satu lawan satu. Peralatan perang dan personil perang kita secara utuh dalam kerangka negara sangat kuat. Kekuatan perang kita terbesar nomor 13 di dunia, masih diatas Thailand (23) dan Filipina (30)(http://www.globalfirepower.com/). Negara tetangga yang lain terlalu kecil sehingga tidak masuk hitungan.