Malaysia Masih Langgar Kedaulatan RI di Ambalat

Jakarta - Pihak Malaysia masih melanggar wilayah teritorial Indonesia di Ambalat. TNI beberapa kali memergoki angkatan perang Malaysia mengusik wilayah Indonesia.

"Unsur-unsur gelar TNI di blok Ambalat beberapa kali menemukan pelanggaran wilayah laut oleh kekuatan bersenjata," ujar Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso saat rapat kerja antara Komisi I DPR dengan Dephan dan Mabes TNI di ruang rapat DPR, Senayan, Jakarta (21/10/2008).)

TNI mencurigai Malaysia mengincar blok Ambalat. Diperkirakan kandungan minyak dan gas bumi masih cukup hingga 30 tahun lagi di area seluas 15.235 kilometer persegi ini.

"Kalau tidak ada minyaknya tidak mungkin seperti ini," ungkap Djoko.

Djoko menambahkan telah ada rapat di Menkopolhukam secara khusus untuk membahas masalah ini.

"TNI telah diperingatkan untuk menggelar kekuatan di Ambalat," jelas Djoko.

Selain masalah perbatasan di blok Ambalat, TNI mencatat beberapa kawasan di perbatasan juga rawan terhadap masalah. Ada 10 titik sepanjang garis perbatasan di Kalimantan antara Malaysia dan RI.

Sementara itu di perbatasan RI-Timor Leste yang masih bermasalah adalah Noelbesi (Kupang), Bijaelsunan Oben, Desa Tububanat, Nefonunpo, Imbate Nainanban, Sungkain Ninulat (TTU), Memo Dilomli, Desa Foho Aikakar, Fohotakis dan Kalanfehan (Kabupaten Belu).

TNI juga mencatat beberapa daerah di Papua yang berbatasan dengan Papua New Guinea masih rawan.
(rdf/irw)

Sumber: detik.com
http://www.detiknews.com/read/2008/10/22/064740/1023779/10/malaysia-masi...

Rontokkan pelanggar wilayah

Sebagai warga negara, saya meminta kepada TNI agar menjaga kedaulatan wilayah Indonesia. Malaysia ini bukan sekali dua kali melanggar wilayah NKRI. Oleh karena itu, saya minta agar TNI tidak ragu untuk merontokkan apabila ada militer Malaysia yang melakukan pelanggaran wilayah kita. Saya tidak suka melihat TNI yang lemah. Apabila perontokan pelanggar wilayah itu berkembang menjadi perang, insya' Allah seluruh WNI akan mendukung.

Kalo Perang kita siap kok...

Wah kalo denger cerita itu kayaknya semangat perjuangan kita terbakar lg...tp btw ini jga buat gw sedih berarti diplomasi kita kurang greget gt...kalo emang alat2 kita ga bisa nandingin malaysia sih udah maklum tapi kok presiden kt yg juga anggota TNI tidak langsung bereaksi keras? asal tau aja org malay tuh penakut...mereka pikir dgn infiltrasi ke wil NKRI bisa nunjukkin mereka itu sakti kali yah...

Prajurit TNI tidak takut mati.

Saya rasa lebih baik semangat perjuangan yang sudah terbakar ini dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih positif dalam bidang kita masing-masing dalam kerangka pengabdian pada bangsa dan negara.

Perang secara militer/pertempuran hanya akan mengorbankan nyawa dan potensi negara yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Perilaku negara tetangga sedemikian belum membuat TNI harus digerakkan untuk bertempur. Masih ada jalan lain.

Pertahanan negara bukan hanya tanggung jawab TNI. Sedangkan dalam peperangan secara militer/pertempuran, resiko yang biasa dihadapi pelaku pertempuran adalah kematian. Dan dalam pertempuran, pihak yang mempunyai risiko kematian paling besar adalah prajurit TNI, bukan pedagang, bukan pegawai bank, bukan mahasiswa, bukan diplomat, bukan ekonom.

BUKANNYA PRAJURIT TNI TAKUT MATI, tetapi, saya rasa kurang bijaksana bila kita sebagai salah satu komponen bangsa menggalakkan suatu cara memenangkan bangsa ini yang akan memberikan resiko paling berat (kematian sebagai korban pertempuran) bagi salah satu komponen bangsa yang lain (prajurit TNI). Padahal masih ada cara lain yang juga akan memenangkan bangsa ini yang melibatkan keterlibatan aktif seluruh komponen bangsa Indonesia.

Walaupun dengan peralatan yang ada sekarang, TNI yang didukung rakyat tidak akan kalah bertempur dengan negara-negara manapun yang berbatasan dengan RI, asalkan pertempuran itu satu lawan satu. Peralatan perang dan personil perang kita secara utuh dalam kerangka negara sangat kuat. Kekuatan perang kita terbesar nomor 13 di dunia, masih diatas Thailand (23) dan Filipina (30)(http://www.globalfirepower.com/). Negara tetangga yang lain terlalu kecil sehingga tidak masuk hitungan.