Membentuk Postur Pertahanan yang Tangguh & Berdaya Tangkal (1)

kazmi's picture

Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF

Yang paling pertama harus kita lakukan sebelum merencanakan suatu postur pertahanan adalah menelaah bagaimana postur ancaman yang mungkin terjadi. Postur pertahanan yang tangguh tentunya haruslah postur pertahanan yang mempertimbangkan postur ancaman terhebat yang mungkin timbul, sehingga dengan demikian, seluruh postur ancaman yang secara spesifikasi berada di level lebih rendah dibanding ancaman terhebat itu pun diharapkan dapat diatasi. Namun tentunya, postur ancaman pun bukan sesuatu yang linear secara kuantitas maupun kualitas, melainkan bersifat multidimensional, kompleks & beragam. Prediksi ancaman yang tepat sangat diperlukan agar kita dapat mendefinisikan postur pertahanan dengan tepat pula.

Potensi ancaman yang pertama dan terbesar yang harus diperhitungkan -meskipun kemungkinannya kecil bila dilihat dari konstalasi perpolitikan kawasan dewasa ini- adalah potensi agresi dari negara luar, yang tentunya akan menggunakan doktrin peperangan modern. Peperangan modern merupakan peperangan yang mengandalkan serangan balistik jarak jauh serta superioritas udara sebagai bagian utama serangan pembuka, yang didukung secara simultan oleh kemampuan peperangan elektronik untuk mengacaukan kemampuan penginderaan jauh lawan (radar, dsb). Superioritas udara ini umumnya didukung pula oleh kekuatan armada laut yang memiliki kemampuan multimatra: kemampuan peperangan permukaan (laut ke laut maupun laut ke daratan), pertahanan udara (anti serangan udara) maupun peperangan udara (unsur udara kombatan berupa pesawat udara maupun helikopter), serta kemampuan peperangan bawah air (anti kapal selam), yang didukung dengan segenap unsur pendukungnya. Kekuatan udara & laut ini secara bersama-sama membentuk unsur serangan pembuka, yang kemudian dilanjutkan dengan pendaratan, baik melalui kekuatan amfibi (unsur pendarat) maupun kekuatan lintas udara (unsur para).

Terkait potensi ancaman dari luar ini, selama ini secara internal kita bersikukuh bahwa tidak akan ada kemungkinan perang terbuka antara Indonesia dengan negara lain minimal dalam 10 tahun ke depan. Ini didasarkan kepada analisa intelijen terhadap konstelasi politik kawasan (Asia Tenggara), dimana pada saat ini solusi berbagai masalah antara Indonesia dengan negara tetangga dapat dtempuh secara persuasif melalui jalur diplomasi, dan tidak terlihat adanya kebuntuan diplomasi yang membahayakan serta berpotensi perang. Akan tetapi, dinamika perpolitikan kawasan akan terus berkembang dan berubah dengan cepatnya, dan bukan tidak mungkin, kelemahan suatu sistem pertahanan bila dibiarkan seperti itu adanya, serta tiadanya kemampuan penggetar strategis (strategic deterrent force) justru dapat menjadi pendorong bagi negara lain untuk melakukan agresi kepada Indonesia.

Potensi ancaman kedua -yang memiliki probabilitas relatif tinggi untuk terjadi- adalah insurjensi di dalam negeri, baik dari gerakan separatis, dsb. Di atas kertas, skala ancaman yang seperti ini tentunya relatif kecil, namun memiliki mobilitas yang tinggi karena adanya pengetahuan medan, kemampuan untuk memperoleh dukungan sebagian masyarakat, kemampuan pembauran dengan masyarakat, kemampuan gerilya, pemanfaatan isu HAM sebagai tameng, dsb.

I. Pertahanan Udara yang Tangguh sebagai Kunci Pertama

Terhadap potensi agresi dari luar, maka untuk menetralisir suatu serangan udara maupun serangan balistik jarak jauh yang disertai dengan pengacauan kemampuan penginderaan sebagaimana disebutkan di atas, tentunya harus dilakukan operasi pertahanan udara secara cepat & tepat, yang melibatkan segenap unsur pertahanan udara, dimulai dari penginderaan jauh untuk deteksi posisi lawan, kekebalan terhadap pengacauan kemampuan penginderaan (untuk ini, diperlukan kemampuan peperangan elektronik), pengerahan pesawat tempur sergap (interceptor), penggelaran kekuatan anti serangan udara baik berupa rudal, meriam, dsb, untuk merontokkan pesawat tempur maupun rudal lawan.

Dari pengamatan penulis, justru pada kemampuan pertahanan udara inilah kita saat ini sangat lemah. Unsur-unsur pertahanan udara kita: radar, rudal, meriam penangkis serangan udara & pesawat tempur, walaupun menunjukkan peningkatan kekuatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, tetap sangat tidak memadai.

Pertama, untuk rudal / meriam penangkis serangan udara, kita masih terpaku pada sistem pertahanan udara titik (point air defense), di mana rudal / meriam yang digelar memiliki jangkauan tembak yang sangat terbatas (Short Range Air Defense / SHORAD), walaupun mobilitasnya sangat baik karena banyak yang bisa dipanggul (Man-Portable Air Defense / MANPAD) dan sebagiannya lagi memiliki wahana penggerak (mobile).

Selain kendala jarak jangkauan yang terbatas, konsekuensi lainnya dari pertahanan udara titik / jarak pendek ini adalah waktu yang tersedia untuk engagement-nya pun sangat terbatas, artinya, dalam halnya rudal, maka bila 1 rudal telah ditembakkan ke target namun tidak mengenai sasaran, maka waktu yang tersisa untuk menembakkan 1 rudal lagi sangat singkat karena jarak target sudah semakin dekat sehingga target dapat melakukan serangan balik, ataupun target sudah terlanjur melarikan diri keluar dari jangkauan tembak. Atau bahkan bila target diperlengkapi dengan persenjataan yang jangkauan tembaknya lebih jauh daripada jangkauan tembak rudal / meriam penangkis serangan udara kita, bisa jadi mereka dapat melumpuhkan rudal / meriam penangkis serangan udara kita tersebut lebih dulu sebelum kita sempat melakukan deteksi posisi lawan sekalipun.

Untuk mengatasi permasalahan ini, langkah-langkah yang semestinya diambil adalah:

  1. Disamping mempertahankan alutsista pertahanan udara titik yang sudah ada sebagaimana telah disebutkan di atas, TNI perlu mengadopsi pula sistem pertahanan udara jarak menengah-jauh yang bertumpu pada rudal darat-ke-udara jarak menengah-jauh sekelas dengan rudal Patriot buatan AS. Selama ini, untuk middle-long range air defense, TNI bertumpu semata-mata kepada pesawat tempur, namun sayangnya, pesawat tempur kita sendiri pun jumlahnya terbatas, dan tidak semua pangkalan udara TNI AU memiliki skadron pesawat tempur.
  2. Rudal darat-ke-udara jarak menengah-jauh ini harus terpasang minimal di 10 kota besar di Indonesia dan jumlah baterenya disesuaikan dengan luas kota tersebut. Jadi, berbeda dengan pertahanan udara titik yang memfokuskan dirinya pada pertahanan obyek vital tertentu, maka pertahanan udara jarak menengah-jauh ini berfungsi untuk melindungi area serta penduduk yang mendiaminya.
  3. Karena rudal darat-ke-udara jarak menengah-jauh biasanya memiliki wahana peluncur yang berdimensi relatif besar sehingga mobilitasnya rendah (konsekuensinya, dia juga mudah menjadi target serangan udara lawan), maka wahana peluncurnya mesti diperlengkapi juga dengan meriam penangkis serangan udara yang memiliki RPM (rounds per minute) tinggi, semacam CIWS pada kapal perang, guna menangkis serangan rudal lawan. Sistem seperti ini bukan merupakan hal yang baru, dan justru merupakan sesuatu yang jamak dalam sistem peperangan modern.
  4. Kesemuanya ini harus didukung pula oleh radar dengan coverage yang memadai serta kemampuan perlawanan elektronik guna mengantisipasi upaya jamming dari pihak lawan.

(bersambung ke "Membentuk Postur Pertahanan yang Tangguh dan Berdaya Tangkal (2))

TANDEF, National Defense in Wider Area..?

Very Impressive, Saluuute, Bro... !!

Just an opinion, National Defense utk lingkup yg lebih luas dan gak cuma sisi military (menurut saya yg sipil, hehe) juga termasuk Defense of National Resource (pertahanan Sumber Daya Nasional) yang terdiri dari Natural Resource, Human Resource, dan gabungan pertahanan Sumber Daya Alam dan Buatan (Defense of resources/natural and menmade resources).
Defense of Human Resource termasuk di dalamnya area of knowledge and skill (bidang pengetahuan dan keahlian) yang merupakan brain power, asset yg selama ini mungkin tidak begitu terdengar dimiliki Negara kita.
Harus dipikirkan bagaimana upaya utk mengembangkan ini dalam lingkup yg lebih detail lagi yaitu Defense of Scientific Technology (pertahanan teknologi dan ilmu pengetahuan), Defense of Competitiveness (pertahanan dalam era persaingan bebas), dan sebagainya sehingga menjadikan kita lebih tangguh di segala aspek kehidupan..

Please welcome expert opinion as an open discussion.. :-D

*Just a common think from common people..
@Zulfan

Tanggapan utk bung Zulfan

Pendapat anda sangat benar. Ancaman terhadap keselamatan bangsa dan negara bukan hanya dalam bentuk ancaman militer. Untuk menghadapi ancaman yang bersifat militer penanggulangannya sebagian besar juga dengan cara-cara militer. Tetapi untuk menghadapi ancaman ekonomi atau budaya harus dihadapi dengan cara-cara ekonomi atau juga budaya. Pemikiran seperti yang anda tawarkan itu sangat benar, saya mendukung anda.
Pemikiran seorang sipil juga

EFEKTIF DAN EFISIEN SAJA TIDAK CUKUP.....

Kalau boleh saya menanggapi bahwa Pemahaman tentang postur pertahanan efektif dan efisien sangat tepat saat ini. Namun perlu kiranya kita sadari bersama bahwa perkembangan tehnologi,peradaban dan sosial kultural tidak mengalami stagnasi atau terus berkembang. Sehingga konsep pertahanan pun bergerak linear dengan kondisi tersebut. Ironisnya negara kita saat ini belum bisa mengikuti percepatan perkembangan tersebut. Atau dalam arti tehnologi perang kita jauh ketinggalan jaman. So konsep yg pernah saya denger dr penentu kebijakan di dephan "Defend depend on capability" adalah kurang tepat. Karena konsep yang kita perlukan dg wil Kepulaun ini harus kita sesuaikan dengan kebutuhan nya...Atau "depend on necessity". Sehingga dg dasar pemikiran tersbut Efektif dan efisien perlu ditambahkan dengan :

1. Modern.
Karena kita tidak akan bertahan dengan bambu runcing terus...
2. Rasional.
Berpikir rasional dengan kondisi perekonomian bangsa...Karena membeli alutsista tidak bisa dengan daun kelorr..Namun kebijakan Grand Strategy tetap dengan kaidah skala prioritas..

Bravo TANDEF....!!!

Istilah Efektif dan Efisien

Saya ingin menanggapi penggunaan kata "efektif" dan "efisien". Orang sering latah menggunakan kedua kata itu sebagai satu rangkaian utuh dan tunggal. Kalau ada kata efektif pasti dibarengi dengan kata efisien. Padahal itu adalah dua kata yang pemahamannya berbeda.
Kata "efektif" mengandung pemahaman "mencapai efek" atau dengan kata lain "mencapai sasaran yang diinginkan". Dalam penggunaan kata "efektif" ini tidak dipersoalkan berapa besar sumberdaya yang digunakan untuk mencapai sasaran itu.
Sedangkan kata "efisien" mengandung pemahaman bahwa untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan digunakan sumberdaya yang sekecil-kecilnya. Kata lain yang dapat digunakan adalah kata "ekonomik" sebagai pengganti kata "efisien". Dengan pemahaman seperti itu dalam kata "efisien" sudah terkadung kata "efektif", karena sasaran yang ditetapkan dapat dicapai, meski dengan menggunakan sumberdaya yang seekonomik mungkin.
Dengan demikian, kalau menggunakan kata "efisien" kita tidak perlu lagi menggunakan kata "efektif". Penggunaan kata efisen juga tidak harus diartikan sebagai menggunakan sarana yang tidak 'state of the art'.
Sebagai urun bicara saja

Hanud Pasif...

sebenernya udah ada konsep hanud pasif...pertahanan udara pasif yaitu yang taktik pertahanan udara dengan mengoptimalkan peran masyarakat yang dikelola oleh komando kewilayahan, tapi kayaknya jaman skarang ini udah gak populer. Dulu, Masyarakat dibekali "kentongan" untuk early warning, dulu, masyarakat dikasi pelajaran MPU (mengenal pesawat udara), dulu, masyarakat digalakkan interkom, tapi skarang boro-boro mau..

dulu masih banyak menwa ato hansip ato linmas ato wanra yang aktif dilatih, tapi skarang jauh dari populer.

betul kata zulpan..SDA penting..tapi gmana wong SDA skarang kayaknya kurang peduli sama negara sendiri, ato kurang promosi ya..

Hanud pasif g cukup

Dunia semakin mengalir dan berkembang. jika kita belajar akan sejarah peperangan dunia, qt akan tau bahwa kekalahan Jerman adalah perubahan strategi dari pertahanan menyerang (termasuk Udaranya) ke pertahanan Pasif. dalam peperangan tersebut, hanud jerman tidak dapat membendung laju Bomber2 sekutu yang menyerang kota2nya baik dengan batere Hanud maupun dengan kekuatan Pesawat tempur. lalu diambillah keputusan untuk membalas dengan melakukan serangan terlebih dahulu.tetapi serangan ini hanya cb2 n g serius. wal hasil gagal n g dilanjutkan lg. saat armada2 pesawat jerman ba2k belur pun bpsk darat mereka, mereka menoleh kembali ke doktrin hancurkan dulu. tetapi semua terlambat, armada bomber dan buru sergap sdh ompong shngga mdh dihancurkan.meski hasl yang dcapai ckp menggembrakan. ketrlmbatan bukan skdr pswat udh berkurang dan moral turun, tetapi lokasi industri militer khususnya pesawat sdh hncur dihajr bomber2 sekutu.
Kl udh bomber2 yang bcr,biasanya g knl sipil o militer.liat ja perang israel ma libanon ato lawan palestina. mnrtq qt msti bljr perang israel Vs negara2 Arab. kita jg bs mncntoh korsel, israel, US, australia, Rusia dsb. (sebagai conth yang menggunakan hanud aktif denngan memasang radar yang sanggup deteksi jarak sanngat jauh dan merespon cepat dengan penangkisan dan peluncuran balasan saat itu juga)

Joiness Capability

saat saya singgah di blog Tandef, beberapa saat saya membaca tulisan-tulisan yang hampir semuanya bertopik pertahanan dihadapkan dengan alutsista dan sepertinya pertahanan negara kita dipersiapkan untuk berperang antar negara (rasanya tidak mungkin dipersiapkan untuk berperang saudara) Jika kita memahami pidato pembukaan Presiden RI SBY pada seminar Pertahanan dan keamanan yang diselenggarakan diBandung, kita dapat menangkap isinya bahwa negara kita masih sangat jauh berbicara pertahanan dan keamanan dalam konteks berperang antar negara..menurut beliau ada banyak hal yang masih perlu kita pertimbangkan antara lain yaitu biaya perang yang sangat tinggi (amerika harus mengalami global krisis krn anggaran negaranya utk perang),anggaran kita masih harus utk subsidi pendidikan,BBM dll he he he alasan kedua; negara kepulauan sangat riskan utk berperang..apalagi kondisi physicologis tiap2 daerah tdk sama pemahamannya ttg pertahanan dan keamanan NKRI, jika dikaitkan dgn "rasa tdk percaya dan tdk setianya" pada NKRI..kita bisa lihat gejala fenomena tersebut pada saat ini dimana para pemuda tdk tahu apa itu pancasila beserta isi dan pendalamannya serta bla..bla..bla alasan ketiga; (alasan Pribadi)ketika berperang itu dimulai apakah para pengamat pertahanan dan keamanan sdh siap utk berdiri didepan medan pertempuran utk memberikan support..??karena pertahanan dan keamanan dalam konsep alutsista bukan simulator tempur yang biasa kita gunakan.
saya mencoba untuk memahami sistem pertahanan dan keamanan yang pernah diterapkan oleh alm. Soeharto ketika menjadi Presiden RI (mohon dikesampingkan hal-hal yang tdk berkaitan dgn pertahanan dan keamanan)beliau membuat konsep pertahanan dan keamanan dgn sistem menyeluruh atau bahasa gaulnya saat ini "joiness capability" atau mensinergiskan segala komponen yang ada baik sipil dan militer yang ada dalam satu kesatuan kendali, dari mulai jakarta sampai daerah yang terisolasi akan kita dapatkan informasi aktual, minimal sampai ke pimpinan daerah tingkat II (kodya/kabupaten) dgn mengoptimalkan peran teritorial (dalam perkembangan waktunya, fungsi teritorial disalah gunakan oleh oknum) karena negara kita negara kepulauan yang sangat rentan perpecahan..
apalah gunanya persenjataan tiap-tiap angkatan yang kuat dan besar tetapi kita bekerja masing-masing tanpa ada "joiness capability"..
saya sdh membuat tulisan ttg hal ini dlm facebook saya jika ingin mendapatkan hal2 yang lebih detail..tidak lah sempurna, namun saya berusaha realistis pada ukuran kemampuan anggaran NKRI pada 5-10 tahun mendatang..
mohon maaf jika saya berlebihan dan jika ada kesalahan, mungkin karena keterbatasan saya mendalami hal ini..
terima kasih atas kesempatannya.

ketahanan logistik perlu diperhatikan juga

seperti kita ketahui, bahwa sebenarnya ketahanan kita secara minimal dengan jumlah alusista seperti itu sudah dapat dikatakan minimal untuk pertempuran, bukan perang sesungguhnya, skill personil TNI dalam opini saya sangatlah bagus secara mental dan fisik. tapi di masalah utama yg saya garis bawahi, ketahanan energi dan logistik bagi penunjang utama pertahanan masih sangat jauh dari kata memadai. bisa anda bayangkan, energi kita hanya bisa bertahan kurang dari hitungan 1 bulan, sama persis dengan ketahanan pangan negeri ini.

semoga menjadi masukan bagi Tandef untuk kajian ketahanan nasionalnya...

salam

Pembangunan Postur Hankam Perlu Kajian Lingstra

Bung Khairil, salut atas tulisan anda yang sampai secara mendetail mengungkapkan sebagian kekuatan pertahanan kita. Tetapi, apa-apa yang sudah anda tulis itu sangat ideal untuk dapat diwujudkan. Itu semua karena penggambaran postur kekuatan hankam yang anda impikan itu tidak didahului oleh suatu kajian lingkungan strategik.
Dengan adanya kajian lingkungan strategik kita kemudian baru dapat melakukan perhitungan-perhitungan strategik, di mana kita dapat memilih salah satu strategi terbaik dan bisa kita terima kan bisa diandalkan untuk menghadapi kemungkinan ancaman yang paling mungkin. Pengutamaan pembangunan postur kekuatan pertahanan negara pada postur 'pertahanan udara' dan 'pertahanan laut' terasa berlebihan, karena anggaran belanja yang dapat disediakan negara tidak akan mencukupi untuk mewujudkannya. Itu semua adalah teknologi canggih yang sangat mahal harganya.
Kalau kita lakukan kajian lingkungan strategik, maka dapat dirasakan bahwa kemungkinan munculnya agresi dari luar sangat kecil, apakah itu melalui media udara ataupun media laut. Paling-paling yang ada dalam masa 10-15 tahun mendatang adalah penyelundupan senjata untuk membantu gerakan pemberontakan dalam negeri. Keinginan memisahkan diri dari NKRI oleh daerah-daerah akan lebih mencuat. Disusul oleh adanya ancaman teror oleh kekuatan-kekuatan radikal, pemnyelundupan barang dan manusia, dan pelanggaran kedaulatan dan hukum saja. Yang juga kita perlu hadapi adalah tugas-tugas non-perang, seperti SAR, pemberian bantuan penanggulangan bila terjadi bencana, bantuan untuk masyarakat daerah terpencil, dsb. Dengan demikian, pembangunan kekuatan anti serangan udara dan kekuatan laut yang ocean-going secara maksimal kurang tepat. Yang perlu dibangun pun hanya sekadar untuk menghadapi tugas-tugas tersebut di atas.
Itu pun, kita masih dapat mengurangi belanja alut sista dan belanja pegawai, kalau kita mau memanfaatkan potensi rakyat untuk membantu upaya pertahanan, sebagaimana dulu prnah diperkenalkan sebagai konsep sishankamrata. Mengapa konsep yang bagus itu kita telantarkan. Ajaklah rakyat untuk itu, dengan menyadarkan manfaat bagi mereka bila keamanan negara itu tercipta. Rakyat dapat diajak berpartisipasi dalam pendeteksian kejadian pelanggaran kedaulatan dan hukum, pengenalan atas obyek sasaran, penerusan informasi. Dengan begitu para aparat keamanan dan pertahanan negara dapat memfokuskan diri pada tugas penindakan dan pengendalian operasinya. Jadi lebih enteng dan efisien tugas TNI.
Postur kekuatan yang harus dibangun pun bukan sekadar tersedianya alut sista saja, tetapi harus meliputi:
1. Kekuatan (alut sista dan pengawakannya: kekuatan inti dan kekuatan cadangan, termasuk logistik)
2. Kesiapsiagaan alat dan manusia, secara perorangan dan secara kesatuan
3. Kemampuannya dalam intelijen strategik, peperangan darat, peperangan laut, dan peperangan udara, yang kemudian dirinci lagi ke dalam berbagai jenis peperangan kesenjataan dalam setiap peperangan di atas
4. Pendisposisian kekuatan
5. Kemampuan industri perang

Dengan demikian postur kekuatan pertahanan sangat luas rentangnya. Semoga bermanfaat