Membentuk Postur Pertahanan yang Tangguh & Berdaya Tangkal (2)

kazmi's picture

Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF

II. "Benteng Laut yang Kokoh" Sebagai Kunci Kedua

Dapat dipastikan, bahwa setelah negara lawan melancarkan serangan udara sebagai serangan pembuka, maka serangan berikutnya / serangan sekunder adalah:

  1. Apabila negara lawan memiliki perbatasan darat dengan kita, maka negara lawan akan melancarkan serangan darat untuk memproyeksikan secara langsung kekuatan darat mereka ke wilayah kita, dengan ataupun tanpa dukungan udara.
  2. Apabila negara lawan tidak memiliki perbatasan darat dengan kita, maka negara lawan akan melancarkan serangan melalui laut dalam upaya untuk memproyeksikan kekuatan laut mereka ke daratan kita, dengan ataupun tanpa dukungan udara.

Saat ini hanya ada 3 negara yang memiliki perbatasan di darat dengan Indonesia, yakni Malaysia, Papua Nugini & Timor Leste. Kemungkinan serangan dari Papua Nugini & Timor Leste sangat kecil, mengingat secara komparasi force on force, mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan invasi.

Adapun mengenai kemungkinan serangan dari Malaysia, walaupun secara komparasi alutsista kita dapati bahwa mereka memiliki kemampuan militer yang kurang lebih berimbang dengan kita, namun kekuatan militer mereka itu belum dapat digolongkan sebagai kekuatan yang sanggup melakukan agresi, melainkan kekuatan yang lebih bersifat defensif.

Oleh karena itu, mengingat bahwa kemungkinan terbesar datangnya serangan sekunder ini adalah melalui laut, maka kekuatan pertahanan laut yang kokoh (benteng laut) merupakan kunci kedua yang mutlak harus kita miliki.

Pertahanan laut ini terkait erat dengan konstelasi geografi perairan Indonesia. Terlebih lagi bila kita mengacu kepada Pasal 3 ayat 2 Undang-Undang No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang menyebutkan bahwa “Pertahanan negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan”, maka jelas bahwa Indonesia secara yuridis mengakui dirinya sebagai negara maritim, dan dengan demikian diperlukan suatu postur pertahanan yang berwawasan maritim untuk mempertahankan perairan yang luas itu.

Secara garis besar, ruang laut perairan Indonesia dapat dibagi kepada 3 karakter:

  1. Laut Terbuka (Open Sea), yakni seluruh perairan terluar yang berhubungan langsung dengan Samudera Indonesia maupun Samudera Pasifik, yakni perairan di Barat Sumatera dan Selatan Jawa & Kepulauan Sunda Kecil, serta perairan di Utara Halmahera & Papua.
  2. Laut Semi Terbuka (Semi Open Sea), terbagi kepada 2 kategori berdasarkan kedalamannya:
    1. Dalam (Deep Semi Open Sea), yakni Laut Sulawesi.
    2. Dangkal (Shallow Semi Open Sea), yakni Selat Malaka, Laut Natuna (keduanya termasuk dalam Dangkalan Sunda) & Laut Arafuru (Dangkalan Sahul).
  3. Laut Tertutup / Perairan Kepulauan (Closed Water / Archipelagic Water), terbagi kepada 2 kategori berdasarkan kedalamannya:
    1. Dalam (Deep Closed Water) , yakni perairan pedalaman yang masuk ke dalam daerah Wallacea (sekitar Sulawesi & kepulauan Maluku).
    2. Dangkal (Shallow Closed Water) , yakni perairan pedalaman di Dangkalan Sunda & Dangkalan Sahul selain yang sudah disebutkan pada 2.b di atas.

1. "Benteng Laut" di Laut Terbuka (Open Sea)

Laut Terbuka memiliki karakter sbb:

  • Sebagai wilayah laut terluar, maka jarak dengan pangkalan terdekat relatif jauh. Kebutuhan atas alutsista (kesenjataan, sensor, dsb) yang mencukupi secara kualitas & kuantitas agar Gugus Tugas dapat berperan secara mandiri & memiliki endurance yang lama menjadi mutlak adanya, karena Gugus Tugas di wilayah laut terluar ini tidak dapat mengandalkan bantuan dari pangkalan terdekat. Otomatis, perimbangan kekuatan secara force on force antara gugus tugas kita dengan gugus tugas lawan lah yang menjadi penentu.
  • Tantangan alam besar. Kondisi laut dapat mencapai sea state-5 atau lebih. Tinggi gelombang dapat mencapai 2,5m atau lebih. Pada kondisi normal, tinggi alun gelombang tanpa memecah dapat mencapai 2m.

Atas karakter seperti ini, maka unsur Gugus Tugas yang diperlukan di laut terbuka ini berupa:

  • Kapal Selam (Submarine) dengan persenjataan anti kapal permukaan (menggunakan torpedo maupun rudal) & bawah air (menggunakan torpedo).
  • Kapal Perusak (Destroyer) dengan:
    • Penitikberatan kepada kemampuan anti serangan udara jarak jauh-menengah (long-middle range air defense) yang responsif & ekstensif sekaligus menjadi payung pertahanan udara bagi unsur-unsur lainnya di dalam Gugus Tugas tsb. Kemampuan pertahanan udara yang tangguh ini penting mengingat serangan melalui media udara dalam pertempuran laut merupakan suatu keniscayaan sebagaimana sudah dibahas pada bagian I.
      Untuk pertahanan udara di Destroyer ini, persenjataannya seyogyanya mengandalkan Long-Middle Range SAM (Surface-to-Air Missile) untuk merontokkan rudal maupun pesawat udara lawan, didukung dengan meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) ber-RPM (rounds per minute) tinggi untuk engagement terhadap rudal lawan pada jarak dekat / sangat dekat.
    • Kemampuan anti kapal permukaan jarak menengah-jauh. SSM (Surface-to-Surface Missile) sekelas RGM-84 Harpoon, MM-40 Exocet, Otomat maupun C-802 dapat menjadi andalan.
    • Kemampuan anti kapal selam jarak menengah-dekat berupa torpedo. SUT (Surface & Underwater Torpedo) yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri oleh PT.DI dapat menjadi senjata yang ampuh untuk keperluan ini.
    • Helikopter on board untuk tugas over horizon targetting (OHT) maupun tugas anti kapal selam (AKS).
    • Segala jenis sensor yang diperlukan (long range air search radar, long range surface search radar, high-middle frequency sonar, ESM/ECM, dll).
  • Kapal Perusak Kawal (Frigate) dengan kemampuan anti serangan udara jarak dekat-menengah (short-middle range), kemampuan anti kapal permukaan jarak menengah-jauh, kemampuan anti kapal selam, diperlengkapi dengan helikopter untuk tugas OHT maupun AKS.
  • Korvet (Corvette) dengan penitikberatan pada spesialisasi kemampuan anti kapal permukaan dan atau anti kapal selam, ditambah dengan kemampuan pertahanan udara middle-short range atau point air defense dengan menggunakan rudal dan meriam PSU.

2. "Benteng Laut" di Laut Semi Terbuka (Semi Open Sea)

Laut Semi Terbuka memiliki karakter sbb:

  • Jarak ke pulau-pulau terdekat relatif dekat, sehingga memungkinkan pemanfaatan pulau-pulau tersebut untuk penerapan Archipelagic Warfare. Misalnya, dengan memasang SSM jarak menengah-jauh di pantai-pantai terdekat guna merontokkan kapal lawan dari daratan.
  • Tantangan alam cukup besar. Kondisi laut dapat mencapai sea state-5 atau lebih. Tinggi gelombang dapat mencapai 2,5m atau lebih.
  • Jarak ke pangkalan terdekat relatif dekat, sehingga dukungan logistik dapat lebih mudah dilaksanakan. Gugus Tugas pun tidak memiliki keharusan untuk memiliki endurance yang panjang.
  • Pada laut semi terbuka yang dangkal (Selat Malaka, Laut Natuna & Laut Arafuru), ancaman kapal selam musuh relatif kecil. Bilapun ada, selain pendeteksiannya relatif mudah, penangkalannya pun dapat dilakukan dengan menggunakan strategi peranjauan (mining strategy).

Atas karakter seperti ini, maka unsur Gugus Tugas yang diperlukan di laut semi terbuka ini berupa:

a. Laut Semi Terbuka Dalam:

  • Kapal Selam (Submarine) dengan persenjataan anti kapal permukaan (menggunakan torpedo maupun rudal) & bawah air (menggunakan torpedo).
  • Kapal Perusak Kawal (Frigate) dengan:
    • Penitikberatan kepada kemampuan anti serangan udara jarak jauh-menengah (long-middle range air defense) sebagaimana dipaparkan di atas pada bagian Destroyer, yang sekaligus menjadi payung pertahanan udara bagi unsur-unsur lainnya di dalam Gugus Tugas tsb.
    • Kemampuan anti kapal permukaan jarak dekat-menengah.
    • Kemampuan anti kapal selam jarak menengah-dekat berupa torpedo.
    • Helikopter on board untuk tugas over horizon targetting (OHT) maupun tugas anti kapal selam (AKS).
    • Segala jenis sensor yang diperlukan (long range air search radar, long range surface search radar, high-middle frequency sonar, ESM/ECM, dll).
  • Korvet (Corvette) dengan penitikberatan pada spesialisasi kemampuan anti kapal permukaan dan atau anti kapal selam, ditambah dengan kemampuan pertahanan udara middle-short range atau point air defense dengan menggunakan rudal dan meriam PSU.
  • Kapal Patroli Cepat yang dilengkapi dengan SSM, SAM & meriam PSU.

b. Laut Semi Terbuka Dangkal:

  • Kapal Patroli Cepat dengan ekstensifikasi kemampuan pertahanan udara (middle-range air defense), serta dilengkapi dengan SSM berjangkauan dekat-menengah.
  • Kapal Patroli Cepat dengan ekstensifikasi kemampuan deteksi bawah air & kemampuan anti kapal selam.
  • Bila diperlukan, kapal dengan dimensi lebih besar (Destroyer, Frigate, Korvet) dapat didatangkan dari pangkalan terdekat.

(bersambung)

Bob McNamara versi Indonesia...

Two thumbs up!
Bravo - Zulu!

Teruskan, Mi...

You're going to be like Bob McNamara someday, soon ;)

Terimakasih Bang

Wah, masih jauh lah kalo dibandingkan dengan Bob McNamara itu Bang...heheheh

Dalam tahap ini, saya hanya bisa menulis, belum bisa berbuat banyak seperti Abang maupun beliau. Mohon dukungannya Bang.

Buat Azmi: berbuat banyak vs berbuat sedikit

Apa yang kita lakukan, "sekecil" apapun bila dilakukan demi bangsa dan negara adalah hal yang "besar"...

Apa yang kita lakukan, "sebesar" apapun bila dilakukan demi bangsa dan negara adalah hal yang "kecil"...

The uncommon valor is a common virtue, Dear Azmi... Coba search di Google pidato inagurasi pertama Ronald Reagan (first inaugural address). Khan, Beliau 2 kali terpilih jadi Presiden, ya? Di dalam pidato itu Reagan bicara tentang "pahlawan". Dia tidak bicara mereka yang mati tertembus peluru saja tapi siapapun yang telah melakukan tugasnya sebagai anggota masyarakat. Petani menghasilkan tanaman untuk kita makan. Nelayan menangkap ikan yang jadi sumber protein. Pemadam kebakaran yang menyabung nyawa... dll... dst...

Di akhir pidato itu, memang Reagan mencontohkan khusus pengorbanan luar biasa seorang prajurit di medan tempur... Namanya Martin Treptow. Apa pangkat prajurit ini? Dan, yang lebih penting lagi, apa yang dilakukan Martin Treptow ini hingga "layak" disebutkan dalam pidato Sang Presiden?

Ini link-nya, Mi...
http://www.bartleby.com/124/pres61.html

kebetulan kita masih suasana Hari Pahlawan ya... Setelah baca itu, mungkin kita perlu renungkan bagaimana cara kita menghargai para pahlawan kita... (sorry jadi OOT)

Tks.

Dalam Sekali

Wah, dalam sekali nasehatnya Bang :)
Terutama ini:

Apa yang kita lakukan, "sekecil" apapun bila dilakukan demi bangsa dan negara adalah hal yang "besar"...

Apa yang kita lakukan, "sebesar" apapun bila dilakukan demi bangsa dan negara adalah hal yang "kecil"...

Perlu Uang Berapa?

Klo pengen punya itu semua, kira-kira klo ditotal RI perlu menggelontorkan berapa ya?

Estimasi Anggarannya Bisa Variatif

Tentunya tidak semua dari yg sudah saya sebutkan di atas harus diadakan dari nol, karena kita sudah punya beberapa.

Misalnya, untuk kapal perusak kawal (frigate), kita punya beberapa, misalnya kelas Van Speijk, kelas Fatahillah & kelas Ki Hajar Dewantara (sebagian orang menggolongkan 2 yg terakhir ini sebagai korvet, tapi secara internasional, ini sudah digolongkan sebagai frigate). Tinggal kita memperbaiki sistem persenjataan & sensornya saja, serta melakukan perbaikan/upgrade lainnya bila diperlukan.

Untuk korvet, kita punya banyak. Dari yang kelas Parchim (ex-Jerman Timur) sampai yang terbaru, yakni kelas SIGMA yang semi-stealth itu. Untuk Parchim, repoweringnya telah dilakukan lagi sejak beberapa tahun lalu, jadi sebenarnya cukup fit & bisa diandalkan untuk beberapa tahun ke depan, tentunya dengan syarat bahwa maintenancenya harus optimal. Jadi, kita dapat memberdayakan apa yang sudah ada, dan tinggal memperbaharui persenjataan & sensornya saja.

Untuk SIGMA, persenjataan & sensornya sudah yang terbaik di TNI AL. Kemampuan pertahanan udaranya juga yang terbaik di TNI AL, namun sebagaimana sudah saya tuliskan di atas & juga pada tulisan sebelumnya, sebenarnya sangat diperlukan kemampuan long-middle range air defense, jadi tidak cukup hanya point air defense saja. SIGMA masih menggunakan konsep point air defense, dengan mengandalkan rudal jarak pendek Mistral sebagai tulang punggung pertahanan udaranya, dengan diassist juga oleh meriam OTO Melara 76 mm yang berpemandu & meriam 20 mm yang tidak berpemandu. Untuk kapal sekelas SIGMA, kita sebenarnya minimal memerlukan pertahanan udara setaraf rudal Aspide yang digunakan di korvet kelas Laksamana di negara tetangga kita.

Yang harus kita beli baru tentunya Destroyer (Kapal Perusak), karena sejak beberapa dekade terakhir armada laut kita memang tidak memiliki Destroyer. Destroyer -dikarenakan dimensinya yang besar itu- memilik endurance yang panjang, sehingga sanggup ditugaskan ke tempat-tempat jauh tanpa harus mengisi ulang bahan bakar. Karena dimensinya yang besar itu pula, berbagai persenjataan yang lebih berat dapat diusungnya.

Bila pada kapal sekelas Korvet, kita kadang harus mengorbankan satu fungsi untuk memprioritaskan fungsi yang lain (misalnya, kita bisa mengutamakan kemampuan anti kapal selamnya dengan berbagai persenjataan / sensor kelas berat, namun seabgai konsekuensinya, kemampuan anti kapal permukaan / anti serangan udaranya mesti dipangkas).

Nah, hal semacam ini tidak perlu terjadi pada kapal sekelas Destroyer. Jadi, sebuah Destroyer bisa benar-benar multifungsi, dengan kemampuan terbaik pada fungsi masing-masing. Dengan kata lain, ia dapat memiliki kemampuan anti kapal permukaan yang tangguh, sekaligus pula kemampuan anti kapal selam yang handal, dan juga kemampuan anti serangan udara yang dapat menjadi payung pertahanan udara bagi unsur-unsur di sekelilingnya.

Jadi, sebenarnya biaya yang diperlukan tidak terlalu besar, karena banyak alutsista yang sudah ada yang dapat diberdayakan. Dana sebenarnya dapat diupayakan, dan sebenarnya, peningkatan kekuatan pertahanan itu jangan hanya menunggu ketika ancaman perang terbuka menjadi nyata. Sebab kenapa? Sebab awak alutsista hendaknya perlu terbiasa / mahir dalam mengawaki alutsista tsb, dan keterbiasaan / kemahiran mengawaki ini hanya dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan & pengalaman pengoperasian yang tidak sebentar.

Mari kita ingat ketika RI membeli Kapal Penjelajah (Cruiser) KRI Irian (kelas Sverdlov) dari Uni Soviet pada dekade 60-an sebagai persiapan menghadapi konflik terbuka dengan Belanda untuk memperebutkan Irian Barat. Betapa tergesa-gesanya pengadaan itu dilakukan, tanpa modifikasi yang cukup terhadap kapal tsb agar kiranya dapat mampu berlayar & beroperasi di lautan tropis. Belum lagi pelatihan terhadap awaknya yang masih terlalu singkat sehingga awaknya sendiri pun sering melakukan kesalahan dalam perawatan kapal tsb (terbukti dengan terjadinya kerusakan di sana sini, kecelakaan dalam perawatan yg menewaskan & melukai beberapa awak kapal, dsb).

Mr. KAZ

Salut buat tulisanya, yang mana mungkin akan sangat berguna bila didengar sukur ditindaklanjuti oleh pihak yang berkepentingan dan punya visi dan misi yang mengacu pada kemajuan pertahanan negara. Kita sangat perlu menyuarakan gerakan seperti ini agar dapat menampung aspirasi / masukan / pandangan / pertimbangan, dari berbagai kalangan dan mejadikan wawasan bagi segenap lapisan masyarakat. Semoga situs ini bisa dijadikan tempat untuk berdiskusi yang menarik minat banyak kalangan. Semoga sukses ya boss!!!

Excellent Article!

Pak Azmi, ngga nyangka anda punya knowledge yang sangat lengkap tentang kemiliteran. Article anda tersebut adalah buktinya.

Saya hanya mau usul untuk menambahkan tentang kemungkinan serangan militer dari negara tetangga kita di selatan, yaitu Australia, yang menurut saya punya peluang lebih besar untuk berkonfrontasi dengan Indonesia di masa sekarang ini.

Alasan lainnya, karena sudah banyak disinyalir terdapat operasi2 intelijen mereka yg mencoba merusak kedaulatan negara kita, seperti Timor Timur dan Papua, sehingga pertahanan intelijen saya rasa juga sangat perlu untuk menangkal operasi2 intelijen negara asing.

Keep up the good work, Pak!

Regards,
Danis

Indo Gak Punya Battleship dan Cruiser?

Jadi inget dulu waktu main game Pacific General by SSI. Ceritanya PD II di Pasifik. Unsur kekuatan laut sangat kental di sana, selain kekuatan darat dan udara tentunya.

Di game itu, gw sangat mengandalkan kekuatan kapal sekelas Battleship dan Cruiser untuk merontokkan kapal-kapal dan pesawat musuh. Daya jelajah, Daya hancur dan jarak jangkau tembakannya sangat mumpuni. Namun kapal2 ini diberi keterbatasan dalam menghadapi kapal selam. Kapal selam hanya dapat dilawan dengan kapal selam lagi atau destroyer. Paling sebel ketemu pesawat zero-nya Jepang. Langsung abis kapal gw. Ada satu jenis kapal lagi yakni kapal induk yg gak bisa nembak tapi bisa buat landasan pesawat.

Dari uraian Azmi dan pengalaman gw bermain game jadul itu, sepertinya ada kemiripan antara Destroyer paparan Azmi dengan Battleship dan Cruiser di game tsb. Juga Kapal Perusak Kawal (Frigate) paparan Azmi dengan Destroyer di game. Sementara Korvet paparan Azmi mungkin sejenis dengan Destroyer tipe ringan. Untuk kapal selam gw rasa sama. Kalo kapal induk menurut gw kurang penting kecuali memang untuk negara agressor. Lagipula tidak dibahas oleh Azmi.

Gw agak kaget juga, apa iya kita gak punya kapal sekelas battleship dan cruiser? Padahal zaman PD II aja udah ada. Biasanya komandan-komandan angkatan laut dunia pake kapal ini (battleship) buat mimpin perang laut. Apa masih mengandalkan kapal perang sekelas KRI Macan Tutul, Macan Kumbang, Harimau untuk melawan musuh?
Waktu acara Metro Files kalo gak salah, Sudomo bilang kl kapal2 itu gak bawa misil. So? Itu udah 40 tahun lebih lewat. Masa mau begini-begini aja.

Kl nggak, ya bikin aja senjata ditaro di satelit. ada yg macem-macem tinggal tembak aja dari atas. Kayak di film James Bond kl gak salah. Hehehe....

Memang Tidak Punya

Wah Ril, kemana aja ente selama ini? :D
Katanya ente besanan sama si Adong ya?
Gabung ke milis juga dong.

Iya, Indonesia saat ini memang gak punya Battleship maupun Cruiser. Lagipula, zaman sekarang, konsep Battleship sudah ditinggalkan, karena terlalu heavyweight, gak lincah, boros, dsb. Di zaman PD I & PD II dimana senjata andalan kapal adalah meriam2 berkaliber gede, tentunya Battleship sangat diperlukan. Tapi, kini, korvet pun dapat jadi senjata yg mematikan asalkan memiliki persenjataan yg ampuh.

Kapal Penjelajah/Cruiser -karena endurancenya yg panjang- untuk sementara masih dipakai di beberapa negara yg berkonsep ofensif aktif yg mengandalkan preemptive strike, khususnya di negara2 yg menghendaki armadanya berkeliaran jauh di luar teritorinya sendiri (misalnya, AS yg memiliki armada di seluruh belahan dunia). Tapi Cruiser di masa kini juga sudah tidak dijejali meriam2 kaliber gede seperti zaman dulu. Paling banter pun meriam 120mm. Selebihnya, rudal balisitik, rudal permukaan-ke-permukaan, rudal permukaan-ke-udara, dsb. Tapi justru rudal2 ini memiliki daya jangkau yg lebih jauh dibanding meriam2 kaliber gede zaman dulu.

Nah, sebagai negara yg defensif aktif, kita tidak perlu Cruiser apalah lagi Battleship :D
Tapi, minimal, kita harus punya Kapal Perusak/Destroyer untuk menghadang musuh di batas2 terluar wilayah RI yg mana merupakan laut terbuka (Open Sea) sebagaimana sudah dibahas di atas. Destroyer ini diharapkan memiliki kemampuan area air defense sehingga bisa menjadi payung pertahanan udara bagi unsur2 di sekelilingnya, sebab adalah kenyataan yg sangat pahit bahwa pertahanan udara kapal perang kita saat ini terlalu lemah. Padahal, dari hasil simulasi, serangan pertama dari lawan justru adalah serangan rudal permukaan-ke-permukaan (baik berupa rudal RGM-84 Harpoon, MM-38/40 Exocet, Otomat, dll) yg harus ditangkis dengan kemampuan pertahanan udara yg kuat.

Jadi Gak Perlu Ya..

Ada aja si. Besanan dari mana? Berkeluarga aja belum. Tapi iya istrinya Adong saudara gw.

O jadi gak perlu ya.. Kirain masih perlu buat nembak dari berapa kilo gitu. Terus kapal eks Jerman Timur yang ada 39 itu tipe apa aja ya? Kita kan baru cobain jenis kapal angkut (LST).

Kl di angkatan udara kita punya skuadron F16 di Madiun dan Sukhoi di Makassar, pangkalan kapal perang kita selain di Jakarta dan Surabaya ada di mana lagi? Terus gw pernah dengar kl PT DI udah bisa bikin roket anti pesawat udara (Ground To Air Missile). Apa kemampuannya belum bisa long range ya?

Kapal selam yg kabarnya mau dibeli kira-kira tipe apa ya? Trus, kabarnya kan singapura punya pesawat siluman, gimana tuh cara deteksi yg efektif? Tanpa harus dengerin suaranya pake kuping :P

Re: Jadi Gak Perlu Ya..

Kalo buat nembak dari berapa kilo, itu kan fungsinya sekarang sudah digantikan oleh rudal permukaan-ke-permukaan Ril. Misalnya, di KRI, kita punya RGM-84 Harpoon (130km), MM-38 Exocet (42km), MM-40 Exocet (70km), dan yang terbaru C-802 (120km).

Mengenai kapal eks-Jertim, 16 di antaranya adalah korvet kelas Parchim, 14 LST kelas Frosch, 9 kapal penyapu ranjau kelas Kondor. Total 39. Tapi tidak semuanya operasional. Ada yg sudah rusak / tenggelam karena kebakaran / kecelakaan.

Untuk pangkalan TNI AL, ada banyak, tersebar di seluruh Nusantara. Mungkin bisa dicek di situs TNI AL saja :D

Mengenai rudal SAM (Surface to Air Missile), sepertinya kita belum bisa bikin. Kita cuman sekedar bisa memodifikasi rudal Strella menjadi AL-1M. Kemampuannya jelas sangat2 short range. Mungkin ke depannya bisa kita harapkan LAPAN dengan PT.DI dan instranas lainnya bisa bersinergi untuk bisa mengembangkan & memproduksi rudal SAM untuk area air defense / long range air defense (LORAD).

Mengenai kapal selam, katanya sih kita mau beli KS kelas Kilo dari Russia, tapi sepertinya belum jadi2 juga.

Mengenai pesawat siluman (F-22 Raptor? Rasanya Singapura belum punya itu deh bro :D), sebenarnya bisa dideteksi dengan radar pasif.

battleship dan cruiser...

Indonesia pernah punya Cruiser (Penjelajah) waktu jaman Soekarno dan diberi nama RI Irian. Kita juga punya beberapa Destroyer (Perusak) waktu itu dari kelas Skory. Tapi, kita tidak pernah punya Battleship... Itu tipe kapal perang terbesar. Antara Penjelajah dan Battleship masih ada Heavy Cruiser (Penjelajah Berat) dan ada Battlecruiser...

Era battleship sudah tamat... Mungkin aksi battleship terakhir yang kita lihat ketika USS New Jersey (Kelas Iowa) melakukan Naval Gun Support (NGS) atau BTK (bantuan tembakan kapal) serta meluncurkan Tomahawk di Perang Teluk I (kalau ngga salah ya atau ke Libanon?!?). Setelah itu, mereka dinon-aktifkan (jadi cadangan).

Cruiser di masa kini tinggal AS yang masih aktif menggunakan yaitu Ticonderoga Class (Tico Class), Rusia mengoperasikan Kelas Kirov dan Peru menggunakan cruiser ex Perang Dunia II kelas de Zeven Provincen.

Tico Class sendiri hull-nya (badannya) sebenarnya kalau dibawa ke era terdahulu akan lebih layak disebut Destroyer.... Karena ga sebesar Cruiser jaman PD II... Tapi, emang fire powernya yang mengerikan...

Perlukah kita capital ship seperti itu? Ngga usah besar-besar, cukup destroyer misalnya...