Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF
Beberapa pekan terakhir setelah pupus dari pemberitaan sejak 2005, Ambalat kembali hadir di layar-layar televisi, di halaman-halaman koran, dalam obrolan di warung-warung kopi, di kantor-kantor, di desa dan kota di seluruh penjuru tanah air. Perhatian publik kembali tertuju ke Ambalat, sebuah wilayah laut yang tak jauh dari Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Rasa kebangsaan kita bangkit setelah melihat bagaimana kedaulatan kita di sana dilecehkan oleh tentara negara sebelah. Dalam pekan lalu saja, tercatat terjadi beberapa kali pelanggaran. KD Baung milik Tentera Laut Diraja Malaysia terpaksa harus diusir KRI Hasanuddin pada tanggal 24 Mei, KD Yu dihalau KRI Untung Suropati pada tanggal 25 Mei, KD Baung memprovokasi KRI Untung Suropati dengan manuver zigzag kecepatan tinggi pada tanggal 30 Mei. Belum lagi, pelanggaran wilayah udara oleh pesawat-pesawat militer & polisi Malaysia.
Sebenarnya, mudah saja bagi kita untuk mengakhiri sengketa Ambalat ini dengan kemenangan di pihak kita, dan kemenangan ini sebenarnya dapat diraih tanpa perang, tanpa mengorbankan nyawa prajurit kita. Sudah pasti bahwa prajurit kita tentu akan dengan rela mengorbankan jiwa raga mereka untuk ibu pertiwi sekiranya diminta, tetapi apabila kemenangan itu dapat diraih tanpa perlu berperang, mengapa tidak? Sesuai filsafat Sun Tzu, menang sebelum berperang jauh lebih murah dan menguntungkan daripada menang setelah berperang, sebab dalam perang, pasti akan ada korban. Menang tanpa korban tentu jauh lebih baik daripada menang dengan korban.
Nah, bagaimanakah caranya memenangi sengketa Ambalat ini tanpa perang? Di sini penulis akan memperkenalkan dua kunci untuk itu.
Kunci Pertama: Okupasi Efektif atas Ambalat
Sebagaimana dahulu telah diterapkan Malaysia atas Pulau Sipadan dan Ligitan, dan ini kemudian diamini oleh Mahkamah Internasional / International Court of Justice (ICJ), maka diperlukan suatu okupasi efektif (effective occupation) Indonesia atas Ambalat. Ambalat perlu kita duduki. Minyaknya perlu kita eksplorasi kalau perlu mulai hari ini juga. Nelayan-nelayan kita harus dilindungi untuk mengeruk hasil laut di Ambalat sepuas-puasnya. Kawal mereka dengan kapal-kapal perang terbaik kita. Di Tarakan, standby-kan pesawat tempur Sukhoi Su-30. 1-2 biji pun cukup. Dan jangan risau. Malaysia tak akan berani menyerang kita lebih dulu hanya karena okupasi efektif ini. Sudah diamini oleh komunitas internasional, siapa yang menyerang lebih dulu, dia lah yang disalahkan. Jadi, dijamin mereka tidak akan berani menyerang.
Ingatlah kasus Pulau Sipadan dan Ligitan. Karena dasar hukum kedua belah pihak dianggap lemah, maka okupasi efektif lah yang kemudian menjadi pertimbangan akhir Mahkamah Internasional. Malaysia menang di Mahkamah Internasional semata-mata karena okupasi efektif mereka atas Pulau Sipadan dan Ligitan (dan sebelum itu juga ada bukti okupasi efektif Inggris terhadap Sipadan & Ligitan berupa penarikan pajak telur penyu di kedua pulau tsb, walaupun tak ada traktat formal antara Belanda-Inggris tentang kepemilikan kedua pulau ybs). Terlebih lagi, dalam beberapa dekade terakhir, Malaysia juga telah mendahului membangun cottage & resort di Pulau Sipadan dan Ligitan, seraya mempromosikan Pulau Sipadan dan Ligitan sebagai tempat tujuan wisatanya kepada berbagai negara, terlepas dari fakta bahwa pada saat itu kedua pulau ini masih dalam sengketa. Atas okupasi efektif mereka ini, pada waktu itu Indonesia sempat mengajukan protes, namun mereka cuek bebek saja, dan nyatanya, sebagai negara serumpun yang berjiran dan sekaligus juga terikat Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia, kita juga tidak akan mau menyerang mereka. Ujung-ujungnya, atas dasar pertimbangan okupasi efektif itu, ICJ memutuskan Sipadan dan Ligitan sebagai milik Malaysia.
Oleh sebab itu, berhasil dibangunnya Menara Suar berbendera Merah Putih di Karang Unarang, Ambalat, beberapa waktu lalu, merupakan langkah maju dalam penentuan garis pangkal sekaligus upaya okupasi efektif yang harus terus didukung & ditingkatkan. Menara Suar ini harus terus diawasi dan dijaga agar jangan sampai sengaja dihancurkan oleh pihak yang tidak ingin Ambalat tetap milik Indonesia. Bahkan kalau perlu, dilakukan reklamasi atas Karang Unarang sehingga terbentuklah pulau kecil di situ, sehingga keabsahan Karang Unarang sebagai titik pangkal akan mendapatkan legitimasi yang lebih kokoh.
Kunci Kedua: Kekuatan Pertahanan yang Berdaya Getar Strategis
Negara yang kuat pasti disegani. Negara yang lemah pasti dilecehkan. Mau tidak mau, “hukum rimba” di percaturan politik internasional ini harus kita antisipasi secara cerdas dan terus-menerus. Oleh karena itu, tingkatkan kekuatan pertahanan sampai kepada taraf yang layak sebagai sebuah bangsa yang besar. Intinya, bila kita tetap ingin diperhitungkan sebagai bangsa yang besar, maka kita harus berperilaku sebagai bangsa yang besar.
Ingatlah masa Trikora dulu, dimana dengan kekuatan pertahanan sebesar & sehebat itu, kita menjadi sangat ditakuti, sampai-sampai Amerika Serikat pun kemudian membujuk Belanda agar menghindari konflik terbuka dengan kita. Irian Barat pun akhirnya kembali ke pangkuan pertiwi melalui “diplomasi senjata” ini.
Demikianlah, harus disadari bahwa suatu kekuatan pertahanan yang berdaya getar strategis ini mutlak diperlukan agar setiap kandidat lawan membatalkan setiap niatnya untuk mengancam dan mengganggu kedaulatan kita. Tanpa adanya daya getar strategis ini, kita akan dipandang sebelah mata oleh bangsa asing.
Dalam kasus Ambalat, dengan memperkuat pertahanan kita sampai kepada taraf mengungguli Malaysia, niscaya Malaysia akan tahu bahwa ia berhadapan dengan kekuatan yang lebih kuat darinya. Inilah yang dinamakan penangkalan. Inilah yang dinamakan menang sebelum perang. Bila efek ini dapat kita ciptakan sehingga kandidat lawan takut dan surut semangatnya sebelum berperang lalu urung berkonflik dengan kita, maka dengan itulah kita memenangkan sengketa ini tanpa pertumpahan darah. Mengingat tujuan perang itu sendiri -sebagaimana dikatakan oleh Carl von Clausewitz sebagai “War is thus an act of force to compel our enemy to do our will”- maka, dengan efek penangkalan inilah, perang itu dapat kita menangkan sebelum perang itu sendiri berlangsung. Tidak lain tidak bukan, efek penangkalan ini dapat terwujud hanya dengan kekuatan pertahanan yang berdaya getar strategis. Masalahnya, adakah political will dari para pemegang kebijakan di negeri kita untuk mewujudkan suatu postur pertahanan seperti itu? Mudah-mudahan saja dengan berbagai kejadian akhir-akhir ini, kemauan politik itu akan terlahir. Sengketa Ambalat ini semoga dapat membuka mata kita semua, bahwa kekuatan pertahanan itu perlu dan tidak pernah sama sekali bisa diabaikan bila kita tetap ingin menjadi bangsa yang berdaulat dan merdeka.
Tanpa perang: Usik lagi aja!
Kalau Malaysia mengusik kedaulatan Indonesia, Indonesia bisa mengalahkannya tanpa perang. Pertama, ungkit lagi masalah Sipadan dan Ligitan walaupun sudah dimenangkan Malaysia. Kedua, bantu Pilipina untuk mengambil balik Sabah dan Serawak yang sebenarnya disewa oleh Malaysia dari Sultan Sulu dengan harga sangat murah. Buat perjanjian dengan Pilipina bahwa nanti Sabah dan Sarawak dibagi dua antara Pilipina dan Indonesia!
jangan perang la, malaysia dah tunjuk baik
TLDM Bantu Kapal Perang Indonesia
KLS, Jun 17: Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) telah mengambil tindakan pantas bagi menawarkan bantuan kepada kapal perang TNI-AL, KRI TELUK MANADO yang mengalami masalah mekanikal di Perairan Pulau Perak semasa kapal perang TNI-AL itu dalam pelayaran menuju ke Pangkalan Angkatan Laut (LANAL) di Belawan.
TLDM menghantar kapalnya, KD LAKSAMANA TUN ABDUL JAMIL serta Helikopter SUPER LYNX dari Skuadron 501 yang berpangkalan di sini untuk memantau serta sedia memberikan bantuan kepada kapal tersebut setelah mendapat maklumat dari pasukan ATM yang bertugas di Pulau Perak dan ianya disahkan oleh Penasihat Pertahanan di Jakarta yang memaklumkan KRI TELUK MANADO menghadapi masalah enjin di perairan Pulau Perak yang terletak 60 batu nautika dari Pulau Langkawi.
http://www.klsreview.com/HTML/2009Jan_Jun/20090617_04.html
Pendekatan Lain
Pengambil keputusan di negeri ini dari dulu penganut aliran soft power. Pemaduan dengan hard power tidak ada dalam agendanya...Gimana mau menang???
Rudal jarak menengah sebagai solusi konflik
Kalau menurut saya (pendapat pribadi) dari perspektif "artilleri"
Pengembangan kekuatan yg mungkin saat ini (tiga tahun kedepan) hendaknya lebih difokuskan pada peningkatan detterence efek kepada negara2 tetangga. Maksudnya apa, dalam tiga tahun ini, TNI tidaklah mungkin dapat meningkatkan kekuatan pertahanannya dalam waktu yg sesingkat ini. Karena hal tersebut membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Bayangkan pembelian satu pesawat tempur atau satu kapal perang yg mutakhir saja memakan biaya yg lumayan besar sehingga minimum essential force bagi AU dan AL akan sulit tercapai dalam tiga tahun ini.
Untuk itu, dalam mengatasi konflik perbatasan yg sedang berkembang akhir2 ini, terlepas dari entah itu dimunculkan dengan sengaja oleh pihak2 tertentu untuk mencapai tujuan tertentu, ataupun tidak, ancaman dari luar mungkin saja terjadi entah beberapa tahun kedepan. Bangsa kita membutuhkan suatu bentuk konsep pertahanan yang efektif dan efisien serta mempunyai efek strategis terhadap negara-negara tetangga maupun dunia pada umumnya sehingga mereka tahu bahwa kita memang bukan bangsa yang dapat diremehkan.
Selama ini doktrin pertahanan kita hanya terfokus pada "sektor pertahanan" dan tidak pernah menyentuh konsep "menyerang adalah pertahanan terbaik". Dapat dilihat dari pembelian alutsista 20 tahun terakhir ini kalau kita melihat secara umum, kita hanya mempersiapkan bangsa kita untuk bertahan, mempertahankan ibukota Jakarta dan pulau jawa dari segala ancaman. Padahal ancaman bisa datang dari pulau mana saja, tidak hanya pulau Jawa. Kalau saya sebagai negara agresor, saya akan mulai serangan dengan menduduki salah satu pulau yg paling lemah kekuatan bersenjatanya. Bisa pulau Kalimantan, Sulawesi, Irian, Sumatra atau pulau Flores. Dengan didudukinya pulau-pulau tersebut maka otomatis pasukan akan bergeser dari pulau jawa untuk merebut kembali pulau tersebut sehingga kekuatan pasukan di pulau jawa akan berkurang setengahnya. Setelah itu sebagai negara agresor maka saya akan mulai melaksanakan serangan pokok ke pulau jawa untuk merebut ibukota dengan penuh kekuatan.
Bayangkan bagaimana jika itu terjadi suatu ketika di negara kita?apakah kekuatan bersenjata kita sudah siap menghadapi hal tersebut?Saran saya dalam waktu tiga tahun ini kita harus memiliki detterence effect kepada negara2 tetangga. Yang kita ambil yakni aspek strategisnya bukan aspek taktis maupun pertahanan secara total, kalau menurut saya yg paling tepat saat ini kita harus mempunya minimal batalyon rudal jarak menengah (300-500km).
Ada beberapa alasan kenapa saya memilih rudal jarak menengah dibandingkan dengan pembelian pesawat tempur, kapal perang, rudal anti pertahanan udara maupun gelar pasukan disepanjang perbatasan.
1. Rudal mempunyai efek strategis yg luar biasa (coba lihat Korea Utara yg sangat ditakuti disebabkan oleh rudalnya, atau Rusia yg kebakaran jenggot gara2 rencana Amrik ingin memasang rudalnya di kawasan Eropa)
2. Sepuluh Batalyon Rudal jarak menengah memiliki cost yang lebih murah dibandingkan dengan pembelian satu squadron pesawat tempur (jenis apa saja),ataupun satu armada kapal perang
3. Satu Batalyon Rudal Jarak menengah lebih efektif dibandingkan dengan sepuluh batalyon infanteri yang digelar sepanjang perbatasan indonesia malaysia. Karena rudal jarak menengah mampu mencakup dan melindungi kawasan yang besar dan luas seperti halnya garis batas perbatasan kita dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit.(kecil dan menggigit namun efisien)
4. Satuan Rudal dapat memberikan pertahanan yang lebih baik terhadap Indonesia, karena "menyerang adalah pertahanan terbaik" dengan rudal kita dapat menyerang balik apabila diserang oleh Australia, Singapura ataupun Malaysia karena prinsip kita bukan lagi "bagaimana mempertahankan Jakarta" namun "bagaimana menekan Negara agresor dengan melakukan counter attack kepada kota-kota besar di negara mereka melalui serangan rudal jarak menengah sehingga memberikan kesempatan bagi para diplomat kita untuk menang di forum diplomasi karena kita punya detterence efek.
Ada beberapa solusi untuk pembelian rudal jarak menengah saat ini,dapat dilakukan dengan legal dan dapat dilakukan secara ilegal. tentu saja ada baik buruknya.(pertimbangkan baik2 karena taruhannya adalah masa depan bangsa)
Apabila secara ilegal ada 3 negara yg sangat mungkin didekati pada saat ini :
1. Korea Utara. Negara ini butuh uang untuk menghidupi rakyatnya dan persiapan perang dengan Korea Selatan/AS.
2. China. Hubungan keturunan Cina di Indonesia sangat baik terhadap tanah leluhurnya di Cina sana, selain itu Cina ada sentimen ketidak sukaan dengan Amerika.
3. Iran. Negara ini punya teknologi maju, hub dengan Indonesia juga baik selain itu kita punya kesamaan agama.
Tentu saja langkah ini (legal maupun ilegal) tidak mudah dan berdampak pada hubungan Indonesia dengan negara sekitar, baik itu dari segi politik maupun dari segi ekonomi. Pertimbangkan masak-masak para defenders, kedepan tantangan generasi kita akan lebih sulit
Bravo, Indonesia
saran
saran buat pak admin/dir tandef, tulisan ini (Rudal jarak menengah sebagai solusi konflik, Submitted by Oke) sebaiknya diposting dengan title sendiri, karena menurut saya terlalu berbobot untuk hanya menjadi sekedar sebuah comment..
thx...
Looking through the same glasses
KAZ , masalah Ambalat ini sudah kita bahas sangat lama dan panjang. Gw pikir mungkin ini dah jadi Top Hits di milis TANDEF. Berbagai macam argumen dan teori yg sangat berbobot sdh kita lontarkan.
Pemerintah dan DPR sudah "bereaksi", tapi gw pikir reaksinya hanya sekedar memberi tanggapan dan aksi/tindakannya masih kurang banget. Yang sangat penting sekarang adalah gimana caranya pemerintah mau melihat masalah Ambalat ini sebagaimana kita memandang pentingnya Ambalat dari sudut pandang kita, " we have to see this from the same glasses"
Dengan demikian maka pemerintah juag bisa merasakan kekhawatiran yang sama, keresahan yang sama,dengan apa yang kita rasakan,atau cara lain ialah dengan mencari suatu jalan agar kita bisa menyampaikan problem ini sama babe babe yang berkepentingan.
Tanahku yang kucintai.....engkau kuhargai
tulisan yang menarik dengan
tulisan yang menarik dengan berbagai tanggapan yang menarik pula kok masih terasa kurang jika saya tidak ikut nimbrung perbincangan bapak2. sya pernah mendengar dalam acara TV kita bahwa kawsan ambalat (secara luas) telah di ocupasi indonesia sejak lama (katanya ada bukti-buktinya) sehingga upaya yang dilakukan pemerintah dengan pembangunan menara suar menurut saya merupakan langkah strategis untuk menegaskan kembali bukti accupasi kita.
yang menjadi masalah pertahanan kita saat ini menurut saya bukan sekedar political will pemerintah, melainkan kinerja dari dephan, dan mabes TNI. dalam pandangan saya, menyoal dana pertahanan terjadi pertentangan yang non-ideologis. maksd saya adalah tejadi ketidak efektifan dan kekurang percayaan atau mungkin kurang koordinasi antar bagian dalam dephan dan mabes tni maupun angkatan. dana pertahanan cukup besar dihabiskan oleh dephan dan mabes tni. keputusan untuk membeli persenjataan jg ditentukan dephan (ini baik) tetapi yang menjadi permasalahan yakni spesifikasi yang berubah-ubah dan kerap dituding sebagai pangkal kenapa anggaran dephan tak terserap secara sempurna. sering saya mendengar baik dari mabes maupun dephan yang menyatakan tidak ada masalah dengan anggaran saat ditanya seputar kecelakaan alutsista kita(seolah-olah ingin menutupi apa yang sebenarnya terjadi).
dari situs alutsista, terdapat uraian yg menarik bahwa suku cadang yang dipakai adalah suku cadang asli tapi palsu.
mengenai usulan pembuatan batalion rudal menengah usul yang sangat menarik, jika boleh menambahkan, tidak hanya rudal jarak menengah untuk offence tetapi untuk hanudnya jg shingga pesawat atau rudal yang mengarah kekita dapat dihancurkan sebelum terlihat (visual).konon diarab saudi, rudal diurusi oleh angkatan tersendiri (benar atau tidak tidak tahu).
Untuk efek penggentar, selain unsur alutsista (diplomasi rudal) kita dapat jg mengambil sikap dengan menjalin hubungan yang sangat dekat dengan negara yang kuat secara militer, yang memungkinkan kita untuk mendapatkan dukungan atau bantuan jika menghadapi ancaman serangan militr. contoh adalah kasus korsel dan korut yang didukung rusia dan amerika, kasus israel yang didukung amerika dan negara barat, untuk lingkup asean yakni thailand yang waktu itu terancam oleh rezim komunis di vietnam (indonesia menyiagakan hingga 60 batalion untuk membantu jika benar terjadi, itu belum bantuan dari negara superpower lainnya). hal ini perlu diperhatikan karena, inti kenapa butuh efek penangkal adalah memberikan sinyal pada agresor bahwa anda jangan main2 dengan saya atau anda akan menyesal. disini seolah-olah kita adalah binatang yang berbahaya dan berbisa.nah jika kita diibaratkan sebagai binatang macam itu, bentuk atau ukuran bisa besar dan kecil.
salam