Memodifikasi Jane’s Fleet Command (JFC) untuk Mengukur Perimbangan Kekuatan Angkatan Laut Negara-Negara Asia Tenggara

kazmi's picture
Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF

1.      Pendahuluan

Indonesia sebagai sebuah negara maritim, sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang dua pertiga luas wilayahnya adalah laut, sungguh butuh akan kekuatan armada laut yang memadai. Pasal 3 ayat 2 Undang-Undang No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara secara tegas menyatakan bahwa “Pertahanan negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan”. Dengan demikian, jelas bahwa Indonesia secara yuridis mengakui dirinya sebagai negara maritim, dan dengan demikian diperlukan suatu postur pertahanan yang berwawasan maritim.

Dalam pembangunan kekuatan pertahanan, telaah komparatif terhadap konstelasi kekuatan pertahanan dalam ruang lingkup lingkungan strategis regional maupun global sama sekali tidak bisa diabaikan. Sesuai filsafat perang Sun Tzu, “ Bila kamu tahu musuhmu dan tahu dirimu, maka kamu tidak perlu takut akan hasil seratus kali pertempuran. Bila kamu tahu dirimu tapi tidak tahu musuhmu, maka untuk tiap satu kemenangan, kamu akan mengalami satu kekalahan. Bila kamu tidak tahu musuhmu maupun dirimu, maka kamu akan takluk dalam setiap pertempuran .”, maka mengetahui kekuatan lawan maupun kandidat lawan itu merupakan salah satu faktor penting penentu hasil pertempuran.

Dengan berdasarkan pengetahuan tentang kekuatan lawan maupun kandidat lawan itulah, kekuatan pertahanan kita harus terus disempurnakan. Prediksi ancaman yang presisi, lengkap dengan informasi yang komprehensif tentang postur dan skalanya, harus terus dipantau dan diantisipasi secara cermat dan terus-menerus. Dalam Doktrin Pertahanan Negara yang disahkan oleh Peraturan Menteri Pertahanan No.Per/23/M/XII/2007, dalam Bab Hakikat Ancaman (hal.19) jelas-jelas disebutkan bahwa identifikasi tentang ancaman merupakan faktor utama yang menjadi dasar dalam penyusunan desain Sistem Pertahanan Negara. Lalu, dalam Sub-Bab Penilaian Ancaman, disebutkan pula bahwa dalam penyelenggaraan pertahanan negara, hal yang mendasar adalah penilaian tentang ancaman yang didasari oleh kemampuan untuk memahami, mengidentifikasi, dan menganalisa ancaman.

Dalam era global ini, data teknis mengenai kekuatan alutsista lawan maupun kandidat lawan sampai pada taraf tertentu dapat diperoleh secara relatif lebih mudah, terutama melalui berbagai open-sources yang tersedia. Dalam hal kekuatan alutsista seluruh negara di dunia, kita mengenal Military Balance yang diterbitkan oleh the International Institute for Strategic Studies setiap tahun. Lalu, dalam kaitannya dengan matra laut, untuk data teknis kapal perang seluruh dunia, antara lain kita mengenal Jane’s Fighting Ships yang diterbitkan oleh lembaga kajian internasional ternama, Jane’s Information Group dari Inggris.

Yang menjadi masalah adalah, terkadang data-data ini tidak dapat dipahami atau “dirasakan” apabila hanya berupa huruf dan angka saja, terutama bagi para pemula, baik pemula dari kalangan praktisi (TNI) maupun masyarakat. Diperlukan suatu inovasi agar data-data perimbangan kekuatan tersebut dapat dipahami secara keinderaan. Pentingnya memahami data-data ini secara komprehensif bagi kalangan praktisi tentu sudah jelas dan tidak perlu diuraikan lagi. Di sisi lain, secara politik, praktisi tentu tidak dapat berbuat apa-apa bila tidak mendapat dukungan masyarakat. Sehingga, untuk mewujudkan kekuatan pertahanan yang kuat, diperlukan suatu tatanan masyarakat yang mengetahui, mengerti dan memahami pentingnya kekuatan pertahanan itu sendiri. Demi terwujudnya masyarakat yang memiliki defense awareness (melek pertahanan), mereka harus mendapatkan sosialisasi dalam kadar tertentu agar mereka dapat memahami permasalahan yang ada, sehingga dengan pemahaman itulah, mereka dapat memberikan dukungan yang kita perlukan untuk peningkatan kekuatan pertahanan negara, khususnya dalam hal ini, kekuatan pertahanan maritim.

2.      Latar Belakang

Penulis, sebagai salah seorang anak bangsa yang pernah berutang budi kepada Negara dengan pendidikan gratis selama 3 tahun di SMA Taruna Nusantara - Magelang, merasa memiliki tanggung jawab moral untuk turut memberikan kontribusi pemikiran bagi peningkatan kekuatan pertahanan negara.

Selama masa pendidikan 3 tahun di Magelang tersebut, penulis hanya sempat sesekali saja memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan unsur kekuatan pertahanan laut, antara lain melalui kunjungan ke AAL, Kodikal serta Koarmatim pada tahun ajaran terakhir. Pada kesempatan kunjungan itulah, penulis merasakan ketertarikan yang luar biasa terhadap matra laut, sekaligus prihatin terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan pertahanan TNI AL yang masih jauh di bawah ideal. Ini sangat ironis dengan kenyataan dimana negara kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Penulis juga prihatin terhadap rendahnya perhatian masyarakat –termasuk penulis sendiri yang masih siswa SMA pada waktu itu- terhadap pentingnya kekuatan perrtahanan matra laut dalam kaitannya dengan kedudukan Indonesia sebagai negara maritim yang besar.

Terutama setelah penulis melanjutkan studi S1 dan S2 ke Jepang, penulis mau tidak mau harus kagum dengan komitmen Jepang terhadap pertahanan negaranya, yang walaupun tidak memiliki sebuah Angkatan Laut (Navy) namun malah memiliki kekuatan pertahanan maritim yang luar biasa, yang melebihi mayoritas angkatan laut negara-negara lain. Jepang sebagai sebuah negara kepulauan sangat sadar akan kemaritimannya. Dengan striking force yang antara lain terdiri atas 16 kapal selam berkemampuan rudal anti kapal permukaan plus torpedo berat (heavyweight torpedo), serta 44 kapal perusak yang kesemuanya berkemampuan rudal, baik rudal anti kapal permukaan maupun rudal pertahanan udara, Japan Maritime Self Defense Force (JMSDF) diyakini sebagai salah satu kekuatan laut terkuat di dunia, bersanding dengan US Navy & Russian Navy, Royal Navy maupun PLA Navy.

Belajar dari kekuatan pertahanan laut Jepang yang sedemikian itulah, kemudian timbul keinginan kuat di hati penulis untuk mengukur kekuatan pertahanan laut negeri sendiri, dengan mengkomparasikannya kepada kekuatan AL negara lain, khususnya dalam ruang lingkup lingkungan strategis regional Asia Tenggara. Ini penting untuk melihat sejauh mana posisi kita dalam perimbangan kekuatan militer, khususnya matra laut. Dengan mengetahui kedudukan kita, maka kemudian akan dapat kita pantau apa saja yang selama ini masih kurang untuk lebih ditingkatkan lagi, apa saja yang sudah cukup dan harus dipertahankan, dan apa saja inefisiensi serta berbagai permasalahan strategis dan taktis lainnya yang harus ditanggulangi.

Untuk merancang sebuah sistem analisa komparasi yang baru dengan memulainya dari nol sama sekali tentunya akan sangat memakan waktu, biaya dan tenaga, sedangkan penulis sendiri pada waktu itu memiliki kesibukan utama sebagai mahasiswa. Kebetulan penulis sendiri saat itu sudah mengenal gameJane’s Fleet Command (JFC), sebuah game simulasi pertempuran laut yang dirilis oleh Sonalyst bekerjasama dengan Jane’s Information Group. Penulis melihat banyak kekurangan dalam JFC ini, terutama terkait akurasi data spesifikasi teknis kapal perang dan pesawat udara yang disimulasikan dalam game ini. Terlebih lagi, negara yang dapat disimulasikan juga sangat terbatas, dan sudah jelas, Indonesia tidak termasuk dalam databasenya.

Namun, banyak pula sisi positif yang penulis amati dari JFC sehingga penulis pada akhirnya berkeyakinan bahwa JFC bila dimodifikasi sedemikian rupa maka akan dapat memenuhi tujuan penulis untuk mewujudkan sebuah sistem komparasi pertahanan maritim yang akurat, low-cost serta mudah untuk dikembangkan lebih lanjut (expandable), dimana mengenai upaya modifikasi ini akan dipaparkan pada bab-bab berikutnya.

3.      Sekilas tentang Jane’s Fleet Command

Kembali mengenai Jane’s Fleet Command, di Indonesia tidaklah banyak yang mengenal keberadaan game ini sebagai sebuah game simulasi pertempuran laut yang real-time serta mudah dioperasikan dan gampang modifikasi, sehingga memiliki komunitas penggemar fanatiknya tersendiri di berbagai belahan dunia. Game ini dikembangkan pertama kali oleh Sonalysts Combat Simulations Inc. bekerjasama denganElectronic Arts (EA), dan dalam pengolahan database informasi militernya, mengacu kepada data-data yang dimiliki oleh Jane’s Information Group yang tersohor itu.

Gambar 1: Gambar Pembuka Jane’s Fleet Command

Game ini pertama kali dirilis pada tahun 1999 dan mendapat sambutan yang sangat baik dari berbagai pihak, baik para gamers maupun institusi yang terlibat dalam ke-angkatanlaut-an itu sendiri. US Naval Academy pun menggunakan game ini untuk memperkenalkan kepada kadet-kadetnya tentang konsep dasar pertempuran laut modern guna menumbuhkembangkan instink pertempuran laut dan melatih kemampuan pengambilan keputusan. Sejumlah akademi angkatan laut di berbagai negara pun meniru langkah yang sama.

Walaupun game ini sejatinya mengusung kategori game simulasi pertempuran laut, akan tetapi, di dalamnya kita bisa mengendalikan unsur kekuatan udara pula secara penuh. Pesona game ini terutamanya terletak pada kemudahan pengoperasiannya, aspek real-time, serta opsi untuk menampilkan berbagai macam tampilan data, termasuk tampilan yang menggunakan simbologi NTDS (Naval Tactical Data System) yang menjadi standar simbologi yang digunakan di ruang komando kapal-kapal perang sungguhan (lihat Gambar 2), serta kemampuan untuk mengubah tampilan menjadi 2-Dimensi (2D) maupun 3-Dimensi (3D), dan pengubahan tampilan ini dapat dilakukan secara seketika &  “ringan” (tanpa memperberat kerja CPU maupun beban memori). Game ini juga bisa dioperasikan secara online, baik melalui LAN maupun jaringan internet.

Gambar 2: Tampilan NTDS yang 2 Dimensi

(terlihat serangan rudal lawan terhadap armada kawan (warna merah mengindikasikan lawan, dan simbol segitiga dengan huruf “m” mengindikasikan bahwa obyek tsb adalah rudal yang diluncurkan dari pesawat udara, sedangkan warna biru/cyan mengindikasikan kawan, dan simbol lingkaran penuh mengindikasikan bahwa obyek tsb adalah kapal permukaan)

Selain fasilitas Single Mission, Campaign dsb yang menyediakan skenario pertempuran yang sudah disediakan oleh pihak pabrikan, fasilitas Mission Editor juga memungkinkan kita untuk menciptakan skenario kita sendiri, tentu saja dengan kebebasan untuk memilih lokasi pertempuran (kita bisa memilih setiap sudut di planet bumi ini sebagai lokasi pertempuran) serta unsur-unsur tempur yang dilibatkan (termasuk negara mana saja, arsenal yang mana saja, kuantitasnya, dsb), lengkap pula dengan waktu lokal, kondisi cuaca, unsur-unsur sipil / netral, dsb.

Gambar 3: Tampilan CG (Computer Graphics) 3 Dimensi

(memperlihatkan sebuah Sukhoi Su-27 menembus kawasan berawan di atas sebuah teluk)

Yang disayangkan, adalah tidak adanya Indonesia di dalam daftar negara yang dapat disimulasikan dalam game ini. Hanya ada 16 negara yang dapat disimulasikan, yakni AS, Rusia, RRC, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, India, Pakistan, Iran, Brazil, Argentina, Taiwan, Libya, Australia, dan Malaysia.

Di sisi lain, bila kita dalami secara lebih mendetail, banyak spesifikasi arsenal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, di dalam game ini, rudal anti-kapal permukaan MM-38 Exocet dan MM-40 Exocet serta AM-39 Exocet dipukul rata sebagai “Exocet” saja, dengan jangkauan tembak mengikuti spesifikasi MM-40 Exocet. Ini tentunya tidak realistis, karena jangkauan tembak MM-38 Exocet (sekitar 42 km) adalah di bawah MM-40 Exocet (sekitar 70 km). 

4.      Proses Modifikasi

a. Berawal dari Koreksi Jangkauan Tembak Rudal

Penulis yang ketika itu masih berkuliah di Tokyo Institute of Technology kemudian tertarik untuk melakukan perombakan besar-besaran terhadap game ini, terutama databasenya. Dengan menggunakan berbagai referensi, didukung fasilitas perpustakaan kampus, penulis memperbaiki banyak ketidakakuratan dalam database game ini. Perombakan dimulai dari akurasi jangkauan tembak rudal, baik rudal permukaan-ke-permukaan, rudal udara-ke-udara, rudal udara-ke-darat, dsb, karena pada awalnya masalah ketidaktepatan jarak jangkauan rudal inilah yang pertama kali mengganggu penulis. Termasuk yang pertama-tama penulis koreksi adalah jangkauan rudal Exocet, yang kemudian penulis pecah menjadi 4 kategorisasi yang paling umum (walaupun masih ada sub-kategorisasi / klasifikasi yang lebih detail lagi), yakni menjadi MM-38, MM-40, AM-39 dan SM-39 (lihat gambar 4). Dalam hal ini, penulis diantaranya mengacu kepada buku “Misairu Jiten” (Ensiklopedia Rudal) yang tersedia di perpustakaan kampus, ditambah dengan puluhan referensi lainnya yang tersebar di dunia maya, sebelum akhirnya kemudian dapat membujuk pihak perpustakaan untuk membelikan “ Jane’s Fighting Ships 2002-2003”, yang memuat secara detail data spesifikasi kapal perang angkatan laut seluruh dunia beserta seluruh arsenalnya.

Perombakan jangkauan tembak rudal saja tidak cukup. Penulis kemudian tergoda untuk melakukan perombakan lainnya agar apa yang ada dalam simulasi bisa semakin mendekati kenyataan. Semakin mendalami Ensiklopedi Rudal, maka semakin banyak pula data-data dalam JFC yang harus diperbaiki, misalnya kecepatan jelajah, sistem pemandu, bahkan dimensi rudal (panjang, diameter, dll). Inilah yang menyebabkan proses modifikasi berjalan sangat alot, dan untuk melakukan modifikasi terhadap segala jenis rudal ini saja, penulis menghabiskan waktu lebih dari 1 tahun, tentunya dengan mengabaikan banyak tugas kuliah. 1 jenis rudal saja bisa memakan waktu beberapa hari, karena terkadang harus mencari referensinya ke sana kemari, karena adakalanya penulis pun tidak percaya sepenuhnya apa yang tertulis dalam Ensiklopedi Rudal, sehingga penulis kemudian mencoba mencari second-opinion dari sumber-sumber tertulis lainnya.

Gambar 4: Interface Pengeditan Database

(terlihat data MM-38 Exocet yang sudah penulis edit, dengan kolom-kolom parameter teknis yang sudah dikoreksi atau diedit dari versi asal JFC)

b. Modifikasi yang Serba Rumit

Puas melakukan perombakan jangkauan tembak rudal, penulis beralih ke jangkauan tembak meriam. Pada versi asal, JFC memukul rata spesifikasi meriam kapal perang hanya menjadi 3 kategori berdasarkan jarak jangkauan tembakannya, yakni LR (long range), MR (medium range) dan SR ( short range). Misalnya, biarpun jenis meriam utama yang dipasang di kapal perusak (destroyer) kelas Arleigh Burke milik AS -yakni meriam Mk 45 kaliber 127 mm- jelas-jelas berbeda dengan meriam utama yang dipasang di destroyer Rusia kelas Udaloy (meriam AK-100 kaliber 100 mm), terkait jarak jangkauannya, meriam utama pada kedua kelas ini disamakan sebagai MR saja, dan parahnya, jarak jangkauan untuk sasaran di permukaan dan di udara disamaratakan saja, padahal sewajarnya berbeda.

Pada JFC hasil perombakan penulis, semua ini diperbaiki. Dari segi penamaan pun, meriam utama kedua kelas ini dibedakan sesuai aslinya. Nama meriam MR untuk destroyer kelas Arleigh Burke diubah menjadi Mk 45 2x127mm, sedangkan meriam MR untuk destroyer kelas Udaloy diubah menjadi AK-100 100mm. Seluruh spesifikasinya pun disesuaikan dengan spesifikasi sebenarnya dari masing-masing meriam.

Penulis juga mendapati bahwa spesifikasi meriam itu ternyata sangat kompleks, dimana jangkauan tembak meriam untuk sasaran di udara umumnya berbeda dengan sasaran di darat. Ini pun kemudian berkembang lagi kepada jumlah amunisi yang bisa ditembakkan per menit (RPM = rounds per minute), adanya pemandu tembakan (fire control) atau tidak, besaran sudut putaran senjata vertikal / horisontal, waktu yang diperlukan untuk reloading, jumlah amunisi terpasang & amunisi cadangan, posisi instalasi senjata, jumlah laras (single, multiple, triple, dsb). Perombakan semacam ini di satu sisi memang sangat menambah pengetahuan penulis, tapi di sisi lain juga sangat menguras waktu, karena butuh pemahaman yang mendalam serta ketelitian dan kesungguhan. Terlebih lagi, semua proses perombakan (dari tahap pencarian & pengumpulan data, lalu input & edit data, sampai ke tahap uji coba, dsb) dilakukan sendirian oleh penulis.

c. Turn Radius

Proses perombakan terus berlanjut ke dimensi kapal perang, pesawat tempur, helikopter, dst. Yang paling menyulitkan penulis adalah upaya pencarian data untuk turn radius (radius putar), baik turn radius untuk kapal permukaan, kapal selam, pesawat udara, bahkan rudal. Data turn radius ini hampir tidak dapat ditemukan dalam referensi manapun. Untuk itu, mau tidak mau penulis harus menetapkan besaran asumtif, lalu melakukan beberapa kali pengujian untuk mengetes asumsi tersebut. Asumsi untuk turn radius ini dibuat penulis berdasarkan kategorisasi, dengan mempertimbangkan pula pendapat yang berlaku umum tentang manuverabilitas kapal/pesawat tsb, serta dengan mempertimbangkan pula dimensinya. Misalnya, untuk pesawat udara, untuk pesawat tempur sekelas Sukhoi Su-27 tentunya pada kecepatan jelajahnya memiliki turn radius yang lebih besar dibanding pesawat latih tempur BAe Hawk Mk.109 karena dimensi Su-27 lebih besar daripada Hawk Mk.109, baik dari aspek panjang, lebar/rentang sayap maupun tingginya (lihat gambar 5).

Gambar 5: Interface Pengeditan Database

(angka asumtif untuk turn radius Su-27SK pada kecepatan jelajahnya ditetapkan sebesar 75m)

d. Penambahan Negara

Penulis secara paralel juga melakukan penambahan database negara, termasuk memasukkan Indonesia ke dalam database, lengkap dengan segenap arsenalnya, yang tentunya harus penulis kumpulkan datanya satu per satu dari berbagai sumber, terutama Jane’s Fighting Ships, ditambah sumber-sumber lain yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Setelah berhasil memasukkan Indonesia (lihat gambar 6), penulis tidak lantas puas begitu saja. Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand, Kamboja hingga Vietnam pun satu per satu penulis perlengkapi juga, karena bukankah potensi konflik terbesar itu justru paling besar kemungkinannya terjadi adalah dengan negara-negara terdekat. Bahkan, kemudian, penulis masih belum merasa puas juga, sehingga penambahan negara ini juga berlanjut meliputi negara-negara Asia lainnya (Korea Utara, Korea Selatan), hingga negara-negara Timur Tengah dan beberapa negara Eropa. Untuk negara yang sudah ada, penulis juga meneliti satu per satu database arsenal mereka agar dapat dilakukan koreksi apabila ada inakurasi data.

Penulis juga merasa berkewajiban untuk memantau terus perkembangan pengadaan maupun kondisi alutsista negara-negara yang sudah ditambahkan tersebut, agar apabila ada perubahan/penambahan maupun pengurangan, dapat langsung diproyeksikan ke dalam database simulasi.

Gambar 6: Penambahan Database Negara Obyek Simulasi

(untuk Indonesia, dimulai dari penambahan database kapal selam (kelas Cakra, yang terdiri atas 2 platforms, yakni KRI Cakra & Nanggala), dst hingga seluruh kapal perang, pesawat udara dan alutsista lain yang terlibat dimasukkan.)

5.      Simulasi Pertempuran Laut Indonesia

Alhasil, penulis pun kemudian dapat dengan leluasa mensimulasikan beragam skenario pertempuran laut / udara Indonesia vs berbagai opsi lawan, misalnya Indonesia vs Malaysia, Indonesia vs Singapura, Indonesia vs Thailand, dsb, dimana simulasi peperangan laut / udara yang melingkupi negara ASEAN semacam ini sebelumnya tidak pernah dapat disimulasikan di JFC maupun game serupa.

Yang jelas, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Republik ini apabila memang ingin membangun kekuatan pertahanan yang memadai. Sejauh dari apa yang dapat disimulasikan, penulis melihat bahwa masalah dalam kekuatan pertahanan kita antara lain yang paling krusial adalah kemampuan pertahanan udara, baik itu pertahanan udara pada kapal perang, pangkalan, obyek vital, dsb.

Terutama pada kapal perang, kita harus mengakui bahwa persenjataan pertahanan udara pada kapal perang kita masih sangat terbatas. Dalam pertempuran laut modern, mengingat hampir semua kapal perang modern negara tetangga maupun negara kandidat lawan lainnya diperlengkapi dengan rudal permukaan-ke-permukaan, maka hampir pasti bahwa ancaman pertama dalam setiap pertempuran laut adalah ancaman rudal, dan ancaman rudal ini harus ditangkis secara efektif dengan persenjataan pertahanan udara baik berupa rudal pula maupun meriam pertahanan udara, didukung dengan kemampuan peperangan elektronika.

Berikut adalah beberapa contoh skenario yang telah penulis simulasikan dalam JFC hasil modifikasi ini:

Contoh Skenario: Pertempuran Ambalat (Indonesia vs Malaysia)

Asumsi Dasar :

a.      Asumsi waktu adalah near future, sehingga diasumsikan TNI AL sudah memiliki kapal selam kelas Kilo. Diasumsikan pula bahwa seluruh korvet kelas SIGMA sudah diperlengkapi dengan rudal anti kapal permukaan MM-40 Exocet SSM, rudal pertahanan udara Mistral SAM ( Tetral), A244 Torpedo, dll. Fregat kelas Van Speijk juga diasumsikan sudah dipersenjatai dengan rudal anti kapal permukaan Yakhont sebagai ganti terhadap RGM-84 Harpoon yang sudah kadaluarsa. Beberapa FPB-57 juga diasumsikan sudah dilengkapi dengan rudal anti kapal permukaan C-802. Lalu, diasumsikan pula Su-27SK TNI AU mengusung rudal udara-ke-udara R-27 (AA-10) Alamo & R-73 (AA-12) Archer, serta Su-30MK mengusung R-27 (AA-10) Alamo, R-73 (AA-12) Archer, dan rudal anti kapal/anti radar Kh-31A/P (AS-17) Krypton. Di sisi lain, diasumsikan pula seluruh Su-30MKM, seluruh pesanan kapal selam kelas Scorpene dan OPV kelas Kedah sudah diterima oleh Malaysia. Kapal selam kelas Scorpene juga diasumsikan sudah menerima persenjataan berupa torpedo Black Shark dan rudal bawah air-ke-permukaan SM-39 Exocet.

b.      Asumsi gelar kekuatan: gelar kekuatan terbatas, dalam artian tidak seluruh kekuatan yang ada dikerahkan.

c.      Kekuatan digelar di wilayah sendiri, dalam kondisi siaga level tertinggi (diasumsikan sudah ada laporan intelijen tentang akan adanya serangan laut / udara Malaysia).

Gelar Kekuatan Laut :

Pihak TLDM diasumsikan mendatangkan gugus tugas sbb [1][2]:

  • 1 Kapal Selam kelas Scorpene
  • o       14 x torpedo Black Shark.

    o       2 x rudal anti kapal permukaan SM-39 Exocet.

  • 1 Fregat kelas Lekiu
  • o       1 x meriam Bofors 57mm/70.

    o       8 x rudal permukaan-ke-permukaan MM-40 Blok II Exocet.

    o       16 x rudal permukaan-ke-udara Sea Wolf VLS.

    o       6 torpedo Stingray.

    o       2 x meriam DS30 30mm.

  • 2 Korvet kelas Laksamana
  • o       1 x meriam OTO Melara 76mm/62 Super Rapid.

    o       6 x rudal permukaan-ke-permukaan Otomat Teseo Mk.2.

    o       12 rudal permukaan-ke-udara Aspide.

    o       6 x torpedo A244S.

    o       2 x meriam laras kembar Breda 40mm/70.

  • 1 Korvet kelas Kasturi
  • o       1 x meriam Creusot-Loire 3,9 inci (100mm)/55.

    o       1 x meriam Bofors 57mm/70.

    o       4 rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet.

    o       1 peluncur laras ganda mortir anti kapal selam Bofors 375mm.

    o       2 x meriam laras ganda Emerson Electric 30mm.

  • 2 OPV kelas Kedah
  • o       1 x meriam OTO Melara 76mm/62 Super Rapid.

    o       1 x meriam Oto Melara / Mauser 30mm.

  • 2 Kapal Cepat Rudal kelas Handalan
  • o       1 x meriam Bofors 57mm/70 Mk.1.

    o       4 x rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet.

    o       1 x meriam Bofors 40mm/70.

  • 2 Kapal Cepat Rudal kelas Perdana
  • o       1 x meriam Bofors 57mm/70.

    o       2 x rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet.

    o       1 x meriam Bofors 40mm/70.

TNI AL diasumsikan mengirimkan gugus tugas sbb [1][2]:

  • 1 Kapal Selam kelas Kilo
  • o       18 x torpedo 53cm.

  • 1 Kapal Selam kelas Cakra
  • o       14 x torpedo SUT.

  • 3 Fregat kelas Ahmad Yani (Van Speijk)
  • o       1 x meriam OTO Melara 76mm/62 Compact.

    o       4 x rudal permukaan-ke-permukaan P-800/SS-NX-26 Oniks (Yakhont).

    o       4 x rudal permukaan-ke-udara Mistral.

    o       6 x torpedo Mk.46.

  • 2 Korvet kelas Fatahillah
  • o       1 x Bofors 4,7 inci (120 mm).

    o       4 x rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet.

    o       12 x torpedo Mk.46.

    o       1 x meriam Bofors 40mm/70.

    o       2 x kanon Rheinmetall 20mm.

  • 2 Korvet kelas SIGMA
  • o       1 x meriam OTO Melara 76mm/62 Super Rapid.

    o       4 x rudal permukaan-ke-permukaan MM-40 Blok II Exocet.

    o       8 x rudal permukaan-ke-udara Mistral.

    o       6 x torpedo 3A 244S.

    o       2 x meriam Denel Vektor G12 20mm.

  • 6 Korvet kelas Kapitan Pattimura (Parchim)
  • o       1 x meriam laras ganda AK-725 57mm.

    o       2 x rudal permukaan-ke-udara SA-N-5 Grail (AL-1M).

    o       2 x 12 roket anti kapal selam RBU-6000.

    o       4 x torpedo Mk.46.

    o       1 x meriam AK-630 30mm.

  • 2 Kapal Cepat Rudal kelas Mandau
  • o       1 x meriam Bofors 57mm/70 Mk.1.

    o       4 x rudal permukaan-ke-permukaan MM-38 Exocet.

    o       1 x meriam Bofors 40mm/70.

    o       2 x kanon Rheinmetall 20mm.

  • 2 Kapal Cepat Rudal kelas Layang (FPB-57 Nav V)
  • o       1 x meriam Bofors SAK 57mm/70 Mk.2.

    o       2 x rudal permukaan-ke-permukaan C-802.

    o       1 x meriam Bofors SAK 40mm/70.

    o       2 x kanon Rheinmetall 20mm.

  • 1 Kapal Cepat Torpedo kelas Singa
  • o       1 x meriam Bofors SAK 57mm/70 Mk.2.

    o       2 x torpedo SUT.

    o       1 x meriam Bofors SAK 40mm/70.

    o       2 x kanon Rheinmetall 20mm.

Dukungan Udara:

TUDM:

  • 3 unit F/A-18: 2 x AGM-84D Harpoon, 4 x AIM-9 Sidewinder.
  • 6 unit F-5E/F: 4 x AIM-9 Sidewinder.
  • 6 unit Su-30MKM:
  • Ø        2 unit (dipersenjatai 6 x R-27 & 4 x R-73) untuk peran payung pertahanan udara.

    Ø        2 unit (dipersenjatai 2 x Kh-31A, 2 x R-27 & 2 x R-73) untuk peran anti kapal permukaan.

    Ø        2 unit (dipersenjatai 2 x Kh-31P, 2 x R-27 & 2 x R-73) untuk peran anti radar.

  • 6 unit Hawk-108/208: 2 x AIM-9 Sidewinder, 2 x AGM-65 Maverick.

(kesemuanya berangkat dari Labuan AFB, Sabah)

TNI AU:

  • 4 unit F-16A/B: 4 x AIM-9P Sidewinder, 2 x AGM-65G Maverick.
  • 4 unit F-5E/F: 4 x AIM-9P Sidewinder.
  • 2 unit Su-27SK: 6 x R-27 & 4 x R-73 untuk payung pertahanan udara.
  • 4 unit Su-30MK/MK2:
  • Ø        2 unit (dipersenjatai 2 x Kh-31A, 2 x R-27 & 2 x R-73) untuk anti kapal permukaan.

    Ø        2 unit (dipersenjatai 2 x Kh-31P, 2 x R-27 & 2 x R-73) untuk anti radar.

  • 6 unit Hawk 109/209: 2 x AIM-9P Sidewinder, 2 x AGM-65G Maverick.

(kesemuanya berangkat dari Lanud Tarakan, Kaltim)

Jalannya Simulasi:

08:00WIB: Gugus tugas TNI AL (20 KRI berbagai jenis/kelas sebagaimana disebutkan di atas) sudah mencapai Ambalat (gambar 7). 2 Su-27SK dan 2 Su-30MK melakukan combat air patrol (CAP) dari Tarakan, didukung dengan Boeing 737-2X9 untuk membantu surveillance. (gambar 8)

        Gambar 7: Gugus tugas TNI AL mencapai Ambalat (08:00).

            Gambar 8: Combat Air Patrol (CAP) oleh unsur TNI AU.

Gambar 9: Unsur intai TNI AU mendeteksi keberadaan sejumlah kapal perang di utara.

08:11WIB: Boeing 737-2X9 dan Su-27SK/Su-30MK berhasil mendeteksi keberadaan sejumlah kapal perang di utara Ambalat, yang identitasnya masih belum teridentifikasi (dalam simulasi terlihat sebagai obyek berwarna kuning, artinya unknown). (gambar 9)

08:14WIB: Atas pertimbangan terhadap data intelijen sebelumnya, serta hasil pemindaian dari gugus tugas TNI AU, teridentifikasi bahwa rombongan kapal perang TLDM itu adalah hostile / musuh. Karena sudah dipastikan hostile, maka KRI mempersiapkan serangan lebih dulu. KRI Ahmad Yani menembakkan rudal P-800 Yakhont ke salah satu target. (gambar 10)

       Gambar 10: KRI Ahmad Yani bersiap menembakkan rudal SS-N-26 Yakhont ke salah satu target.

08:18WIB: Rudal Yakhont berhasil ditangkis lawan dengan rudal permukaan-ke-udara Aspide, dan setelah proses pengamatan lebih lanjut, diketahui secara pasti bahwa gugus kapal yang tadinya unknown adalah memang kapal-kapal perang TLDM. Posisi masing-masing kapal TLDM sudah berhasil terpetakan, walaupun tidak menutup kemungkinan ada beberapa kapal perang TLDM yang masih belum berhasil terdeteksi.

08:20-08:30WIB: Berlangsung salvo rudal permukaan-ke-permukaan antara gugus tugas TNI AL dan TLDM. Jarak antara kedua gugus ini sendiri masih jauh, sehingga dari gugus tugas TNI AL, hanya fregat kelas Van Speijk (KRI Ahmad Yani, KRI Yos Sudarso & KRI Karel Satsuit Tubun) yang mampu menembakkan rudal permukaan-ke-permukaannya (rudal Yakhont). Di pihak TLDM, semestinya hanya korvet kelas Laksamana (KD Laksamana Hang Nadim, KD Laksamana Muhammad Amin) yang dapat  menembakkan rudal permukaan-ke-permukaannya, yakni rudal Otomat Mk.2, namun didapati pula adanya serangan rudal Exocet terhadap KRI, dan ini menimbulkan kecurigaan terkait 2 kemungkinan: terdapat kapal permukaan TLDM yang belum terdeteksi posisinya padahal sudah berada pada jarak yang relatif dekat sehingga bisa menembakkan rudal Exocet, atau, kemungkinan lainnya adalah penembakan rudal Exocet ini dilakukan dari bawah air oleh kapal selam. Masing-masing pihak masih mampu menangkis serangan rudal, baik dengan rudal permukaan-ke-udara maupun dengan meriam/kanon penangkis serangan udara. Dalam suasana salvo rudal tersebut, sonar KRI Hasanuddin dan KRI Nagabanda (kelas Kilo) berhasil mendeteksi posisi kapal selam TLDM kelas Scorpene (KD Tunku Abdul Rahman) dengan merunut arah datangnya rudal Exocet tadi (SM-39 Exocet). Dengan dipandu KRI Hasanuddin, helikopter AKS yang tidak memiliki radar namun telah dipersenjatai torpedo Mk.46 diterbangkan untuk mengintersepsi KD Tunku Abdul Rahman.

08:39WIB: Salvo rudal masih terus berlangsung. KRI Lambung Mangkurat mendapatkan serangan dari 2 rudal Otomat secara bersamaan, sehingga kewalahan untuk melakukan penangkisan. 2 rudal Otomat ini pun hit terhadap KRI Lambung Mangkurat. (gambar 11 & gambar 12).

08:39WIB: Pada saat yang bersamaan, Su-27SK TNI AU dengan dibantu oleh Boeing 737-2X9 Surveiller TNI AU mendeteksi kedatangan Su-30MKM TUDM dari arah barat laut. Su-27SK TNI AU pun bergerak ke arah barat daya untuk melakukan intersepsi. Sementara Su-30MK tetap melakukan CAP di sekitar posisi gugus tugas TNI AL sambil terus melakukan pengawalan terhadap Boeing 737-2X9 Surveiller. (gambar 13)

Gambar 11: KRI Lambung Mangkurat berupaya keras untuk melakukan penangkisan terhadap serangan 2 rudal Otomat Mk.2 dengan mengandalkan meriam laras ganda AK-630.

Gambar 12: KRI Lambung Mangkurat hit dan gagal melakukan penangkisan karena keterbatasan kemampuan pertahanan udara.

Gambar 13: Su-27SK TNI AU yang sedang melakukan CAP mendeteksi kedatangan Su-30MKM.

Gambar 14: Su-27SK TNI AU berhasil menjatuhkan Su-30MKM TUDM.

08:44WIB: 2 Su-27SK TNI AU terlibat dalam pertempuran BVR (Beyond VisualRange) dengan 2 Su-30MKM TUDM, masing-masing mengandalkan rudal udara-ke-udara jarak sedang R-27. Su-27SK TNI AU unggul lebih dulu dengan berhasil menembak jatuh 1 Su-30MKM TUDM (gambar 14). Namun, kemudian, 1 Su-27SK TNI AU juga berhasil ditembak jatuh oleh Su-30MKM TUDM. Sesudah itu, terjadi beberapa kali gelombang serangan dari TUDM, baik dengan menggunakan Su-30MKM maupun F/A-18, sehingga timbul korban dari kedua belah pihak, sebagaimana dipaparkan kemudian.

08:58WIB: Helikopter AKS TNI AL berhasil mendekati posisi KD Tunku Abdul Rahman, lalu menembakkan 1 torpedo Mk.46. (gambar 15)

Gambar 15: Helikopter AKS TNI AL melakukan approach terhadap KD Tunku Abdul Rahman, lalu menembakkan torpedo Mk.46.

09:05WIB: Torpedo Mk.46 berhasil merontokkan KD Tunku Abdul Rahman. Sebelumnya, KD Tunku Abdul Rahman sempat menembakkan sejumlah torpedo Black Shark dengan sejumlah KRI sebagai target (gambar 16 & 17). Terhadap serangan torpedo Black Shark ini, sejumlah KRI yang menjadi target melakukan manuver menghindar (gambar 18).

Gambar 16: KD Tunku Abdul Rahman hit oleh torpedo Mk.46 yang ditembakkan dari helikopter AKS TNI AL.

Gambar 17: Tampilan 3-dimensi sesaat sebelum torpedo Mk.46 berhasil melakukan hit terhadap kapal selam TLDM kelas Scorpene, KD Tunku Abdul Rahman.

Gambar 18: Sejumlah KRI bermanuver untuk menghindari torpedo Black Shark yang ditembakkan oleh KD Tunku Abdul Rahman.

Hasil Sementara (untuk 65 menit pertama):

Kerugian TNI AL/AU:

  • KRI Lambung Mangkurat – tenggelam karena hit oleh 2 rudal Otomat Mk.2 yang ditembakkan KD Laksamana Muhammad Amin (gambar 19).

·         1 x Su-27SK – ditembak jatuh dengan rudal R-27 oleh Su-30MKM TUDM.

·         1 x Su-30MK – ditembak jatuh dengan rudal R-27 oleh Su-30MKM TUDM.

Kerugian TLDM/TUDM:

·         KD Tunku Abdul Rahman – hit oleh torpedo Mk.46 yang ditembakkan dari heli AKS TNI AL (gambar 20).

·         3 x F/A-18 – ditembak jatuh dengan rudal R-27 oleh Su-27SK TNI AU & Su-30MK TNI AU.

·         4 x Su-30MKM – ditembak jatuh dengan rudal R-27 oleh Su-27SK TNI AU & Su-30MK TNI AU.

Gambar 19: Sebagian dari rekapitulasi hasil simulasi.

Gambar 20: Sebagian dari rekapitulasi hasil simulasi.

6.      Saran untuk Pembangunan Kekuatan TNI AL

a.      Belajar dari ratusan skenario simulasi yang telah penulis analisa, salah satu kekurangan yang paling mendasar dalam kekuatan laut kita adalah kemampuan untuk bertahan ataupun melakukan penangkisan terhadap serangan udara, khususnya serangan rudal, baik rudal yang diluncurkan lawan dari kapal permukaannya, dari kapal bawah airnya, maupun dari pesawat udaranya.

b.      Penulis menyarankan agar setiap KRI yang terkategori ke dalam unsur pemukul (striking force), baik itu fregat maupun korvet serta kapal patroli cepat berpeluru kendali, harus mengusung SAM (surface to air missile / rudal permukaan-ke-udara) dengan jumlah minimal 8 pucuk rudal terpasang / siap luncur.

c.      Untuk penghematan ruang & efisiensi peluncuran, untuk fregat dan korvet, SAM dengan metoda peluncuran VLS (vertical launching system ) sangat direkomendasikan. SAM yang diluncurkan dengan VLS mempunyai nilai lebih karena bersifat all-round defense (pertahanan segala arah). Bandingkan dengan SAM konvensional yang terpasang dengan arah tertentu (heading) yang biasanya ke sisi kiri atau kanan lambung kapal dengan besaran sudut tertentu terhadap cakrawala (pitch) sehingga misalnya apabila SAM yang terpasang pada heading kiri lambung kanan kapal sudah habis, sedangkan target datang dari arah kiri lambung kanan kapal, maka SAM yang tersisa pada heading kanan lambung kapal harus diputar arahnya, dan adakalanya badan atau struktur kapal sendiri yang jadi penghalang sehingga tidak memungkinkan bagi SAM yang terpasang pada sisi lain kapal untuk menghadang target yang datang dari sisi lainnya. Pada VLS, problema semacam ini tidak terjadi karena SAM terpasang pada posisi vertikal sehingga darimanapun datangnya target, SAM dapat melakukan engagement.

d.      Adapun untuk kapal patroli cepat, karena terbatasnya ruang yang tersedia, tentunya sulit untuk memasang SAM berpeluncur VLS, sehingga sistem peluncur konvensional lah yang dapat dipasang. Yang jelas, sangat riskan membiarkan unsur pemukul kita maju ke medan pertempuran laut moderen tanpa mengusung SAM sama sekali.

e.      Sangat direkomendasikan juga agar jarak jangkauan (range) SAM yang diusung baik oleh fregat, korvet maupun kapal patroli cepat itu harus cukup jauh (area air defense), karena dengan tersedianya rentang jarak antara titik terdeteksinya rudal lawan hingga ke titik dimana gugus tugas kita berada, maka waktu yang tersedia untuk engagement-nya juga semakin banyak, sehingga kegagalan perkenaan pada upaya penangkisan pertama masih menyisakan kesempatan bagi upaya penangkisan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

f.        Sebagai salah satu kandidat terbaik yang dapat penulis sarankan adalah SAM jenis Umkhonto buatan Afrika Selatan dan SAM jenis SA-N-9 Gauntlet buatan Rusia. Kedua-duanya berpeluncur VLS sehingga dapat terpasang dalam jumlah besar, bebas embargo serta relatif murah karena belum tergolong ke dalam SAM jarak menengah melainkan masih SAM jarak pendek. Namun, sudah pasti bahwa SAM berjarak jangkauan 12 km ini bagi KRI merupakan peningkatan yang sudah sangat signifikan (bandingkan dengan Mistral maupun Strella yang jarak jangkauannya kurang dari 6 km). Idealnya, kita benar-benar menginginkan long-medium range SAM, namun apabila anggaran negara tidak memungkinkan, Umkhonto maupun SA-N-9 Gauntlet ini merupakan alternatif yang masuk akal dan patut dipertimbangkan pengadaannya secara serius dalam waktu dekat.

g.      Tidak ayal lagi bahwa SAM jarak menengah-jauh sangat diperlukan untuk menjamin suatu sistem pertahanan udara kapal perang yang masif dan kokoh, dan pada gilirannya, memberi efek daya gentar strategis dan taktis bagi lawan, baik di masa damai maupun perang. Khususnya keberadaan SAM jarak jauh benar-benar akan memaksa lawan untuk harus selalu terbang lebih jauh lagi dari gugus tugas kita. Sebagai contoh, SA-N-6C Grumble buatan Rusia memiliki jangkauan mencapai 186 km ! Untuk ukuran SAM, ini luar biasa dan setara dengan RIM-67C SM-2ER yang terpasang di kapal-kapal penjelajah AS. Jangkauan SAM sejauh itu benar-benar mampu memaksa unsur-unsur udara lawan untuk menjauh dan bahkan tidak dapat meluncurkan rudal-rudal udara-ke-permukaan (ASM) sekelas Harpoon (jarak jangkauan 130-160 km) sekalipun. [3]

7.      Penutup

Jane’s Fleet Command hasil modifikasi ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Aspek Akademis : Simulasi ini dapat digunakan sepenuhnya sebagai alat bantu bagi Kadet AAL/Siswa Kodikal/Seskoal dan lainnya untuk memahami dasar-dasar taktik peperangan laut modern (modern naval warfare) yang terintegrasi dengan matra lainnya (khususnya matra udara yang ditugasi melakukan support dalam peperangan laut), sekaligus menumbuhkembangkan instink peperangan laut yang mutlak dibutuhkan dalam pengambilan keputusan secara cepat dan tepat di lapangan.
  2. Aspek Politis : Simulasi ini sangat mudah dipahami secara keinderaan, sehingga dapat diberdayagunakan dalam upaya sosialisasi maupun dalam upaya permohonan untuk pemenuhan kebutuhan alutsista TNI (khususnya TNI AL) kepada para pengambil kebijakan, baik dalam lingkungan TNI/TNI AL sendiri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, Bappenas, DPR dan institusi terkait lainnya.
  3. Aspek Sosial : Apabila simulasi ini dapat diperkenalkan kepada pelajar SD/SMP/SMA, maka apa yang dinamakan “kesadaran sebagai bangsa maritim” itu akan terpupuk dan dapat tumbuh subur sejak dini, sehingga pada gilirannya akan terlahir generasi yang memiliki kesadaran maritim yang tinggi, dimana apabila mereka kelak akan menjadi pemegang kebijakan, mereka telah memahami betul akan pentingnya pemenuhan kebutuhan kekuatan pertahanan maritim.

8.      Sumber Pustaka

[1] Jane’s Information Groups, Jane’s Fighting Ships 2002-2003, 2002.

[2] The International Institute for Strategic Studies, Military Balance 2009, 2008.

[3] Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT.; Pendekatan Matematis untuk Determinasi Spesifikasi & Kuantitas Sistem Pertahanan Udara Kapal Perang; TANDEF, 30 Desember 2008.

[4] Hajime Ozu, Encyclopedia of Missile (Misairu Jiten), Shinkigensha, 1996.