Mendobrak Kendala Alutsista

dea21's picture

Oleh: Dwi Eka A., Kontributor TANDEF

Akhir-akhir ini, pembicaraan terkait alat utama sistem senjata (Alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI) khususnya Angkatan Udara (AU) menjadi semakin marak di tanah air. Sebagian masyarakat yang paham persoalan ini pun gusar, ada apa gerangan di balik sistem kendali alutsista negara kita? Puncaknya saat pesawat Hercules C-130 milik TNI AU jatuh di Magetan, Jawa Timur beberapa waktu lalu (20/5/09) yang menyebabkan 101 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka.

Dalam kurun waktu lima bulan terakhir setidaknya 5 pesawat milik TNI mengalami nahas. Hal ini mengindikasikan bahwa kecelakaan tersebut bukan semata-mata karena kelalaian manusia (human error) melainkan ada faktor lain yang harus pula dianalisa, seperti usia pesawat yang tergolong tua, kurangnya suku cadang, ataupun kendala-kendala dalam pemeliharaan.

Persoalan alutsista bahkan menjadi pembahasan serius dalam pemerintahan, karena memang dalam APBN (Anggaran Pendapatan & Belanja Negara) sendiri ada penurunan alokasi anggaran sejak tahun 2007 sehingga TNI harus berjuang mati-matian dalam mengadakan maupun memelihara alutsista. Di sisi lain, isu alutsista menjadi modal kampanye yang empuk bagi segenap kandidat Calon Presiden (Capres). Mereka pun berjanji sekiranya terpilih menjadi Presiden bakal menaikkan anggaran pertahanan secara signifikan.

Tak Sekedar Martabat Negara

Informasi mengenai besaran jumlah maupun kualias alutsista terus diburu publik. Mereka terus mencari data tentang jumlah pesawat tempur, jumlah kapal perang, peralatan logistik, jenis senjata, hingga jumlah personil yang cakap. Lalu membandingkan dengan kekuatan alutsista negara tetangga yang ternyata cukup mencengangkan. Negara lain yang lebih kecil teritorialnya, alutsistanya lebih lengkap dan lebih canggih.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa tindakan dan peran serta semua pihak tentunya akan memperburuk citra negara. Cukuplah penduduk negeri ini dipandang sebelah mata oleh negara lain, dengan upah rendah TKI (tenaga kerja Indonesia)-nya, selalu dirampas sumber alamnya, tapi kita buktikan bahwa kita mampu merubah segalanya. Jangan sampai TNI dipandang sebelah mata oleh negara manapun. TNI adalah ujung tombak pertahanan negara, dan pertahanan negara adalah penentu kedaulatan dan kelangsungan negara.

Meningkatkan Serapan Anggaran

Boleh jadi, permasalahan alutsista bukan hanya karena terbatasnya anggaran melainkan serapannya yang juga rendah. Anggaran yang telah ditetapkan dalam APBN ketika dicairkan tidak tepat sasaran, atau mengalami kebocoran. Adanya sistem fee yang telah membudaya sangat mempengaruhi kualitas proyek. Sehingga tidak heran jika ada yang menginginkan audit ditubuh TNI. Ini tentunya didasari atas niat yang baik, bukan sama sekali untuk menggembosi TNI itu sendiri, melainkan sebaliknya, dengan sistem pengadaan & perawatan alutsista yang transparan & terukur, kita ingin agar TNI dapat menyerap anggarannya sebesar-besarnya untuk peningkatan kekuatan pertahanan. Audit dimaksudkan untuk melihat sejauh mana serapan anggaran itu berlangsung dan jika ada indikasi penyimpangan maka dapat segera dicari solusinya.

Selain itu, untuk meningkatkan serapan anggaran, masing-masing pihak secara jujur dan ikhlas harus menjunjung profesionalisme dengan mengedepankan aspek moralitas bahwa semata-mata kita berjuang untuk mempertahankan harkat dan martabat negara.

Berikutnya perlu dikaji ulang secara mendalam pula tentang bagaimana menata kembali sistem perekrutan, meningkatkan standar pendidikan prajurit dengan mengutamakan profesionalisme bukan pengharapan materi semata, dan mengisi kembali pos-pos yang selama ini terabaikan seperti memperkuat kembali wilayah perbatasan dan pemeliharaan aset negara serta kemampuan tempur personil TNI.

Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan serapan anggaran yang terukur kinerjanya. Dengan demikian publik pun akan paham dan merelakan sebagian anggarannya dialihkan untuk sektor pertahanan.

Tatanan Internasional yang Tak Mendukung

Tercatat dalam tahun 2009 ini sudah lebih dari sepuluh kali kapal perang Malaysia melanggar perairan Indonesia di Ambalat, terakhir pada 30 Mei 2009. Namun bagi TNI, permasalahan ini sangat dilematis karena toh untuk melakukan tindakan tegas dengan menggunakan kekuatan senjata terganjal oleh hukum internasional. Langkah dialogis dan diplomatis merupakan strategi yang tepat mengatasinya, selain mengoptimalkan keseragaman informasi antara kedua negara sehingga tidak muncul multitafsir dalam menentukan wilayah perbatasan.

Tapi dalam hal bela negara, jika mereka tetap melakukan pelanggaran jelas perlu langkah yang lebih tegas. Peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk memberikan pressure. Kita tidak ingin kedaulatan dilanggar, kita masih punya harga diri.

Kendala

Kendala utama soal alutsista adalah tidak ada kemauan dari pemerintah untuk modernisasi. Kalau ada kemauan, anggaran bisa dicarikan. Alusista yang ada sekarang mayoritas masa pakai ekonomisnya sudah habis, karena dirancang untuk dipakai dalam 25 tahun. Tapi masih disuruh pakai juga...Itulah Indonesia...

SEBENARNYA INDONESIA KAYA

ALUT SISTA... JANGAN PERNAH ANGGAP REMEH.
Barang yg namanya alut sista itu sangat berpengaruh terhadap SEGALANYA.
Contohnya sajalah Kalau kita lihat orang Bawa pisau dapur dengan kita lihat orang bawa pistol, mana yg lebih ditakuti???apalagi kalau kita cuma bawa pentungan. Orang yg bawa pisau saja takut apalagi orang yg cuma bawa pentungan. Bukan berarti kita ingin ditakuti. Gampang2an anak kecillah mungkin kah orang mau mengganggu??? Jawab sendiri. Contoh Besarnya AMRIK.
Kalau kita hanya bandingkan2 saja... PERCUMA. Kalau kita hanya menulis2 saja... PERCUMA... Kita Butuh Gebrakan usulan ke PEMERINTAH dan GEBRAKAN PEMERINTAH.
Sebenarnya Indonesia Raya ini Kaya... Hanya saja Kekayaan Bangsa ini banyak yg hilang tidak Jelas, semua tergantung Pemerintah. Kita Tunggu Kemauan PEMERINTAH, semuannya harus berimbang, BIDANG LAIN DIBANGUN YA MILITER DI BANGUN JUGA DONG... KHUSUSNYA YG JELAS2 KONTAK DAN TERLIHAT LANGSUNG.
LEBIH GAMPANG LAGI TIAP2 MATRA DI PISAHKAN MENJADI DEPARTEMEN SENDIRI2, SEPERTI HALNYA POLISI. MABES TNI HANYA SBG BADAN KOORDINASI SAJA.
JAYALAH INDONESIA RAYA.

KASIHAN AURI DAN ALRI

Alut sista memang dibutuhkan oleh negara manapun termasuk Indonesia, jangan kita merasa jumlah kapal dan pesawat tempur yang kita miliki sudah cukup meskipun jumlahnya lebih banyak, ingat bangsa ini tidak punya sekutu beda dengan malaysia dia punya sekutu, itu karena politik kita. Katanya "KITA SIAP PERANG UNTUK DAMAI". Beberapa Program pemerintah yang berhasil salah satunya adalah menurunkan harga minyak sebanyak 3 kali, dan ternyata di ikuti juga dengan program menurunkan anggaran militer juga sebanyak 2 kali dalam 1 periode. Kebijakan main sapu rata, anggaran militer diturunkan begitu saja, tanpa membedakan peruntukan matra yang sarat teknologi, Padahal Presiden tahu tapi tidak berkutik. Mengapa begitu???
padahal Presiden adalah Panglima Tertinggi.
INGAT... Sistem pengaturan anggaran militer saat ini juga aneh, kok pembagiaan anggaran Matra di dasarkan pada personal oriented alias jumlah orang, berarti kalau anggaran Pesawat tempur dapatnya cuma untuk 2 orang saja dong artinya lebih kecil dari yang diterima 1 pleton. Emangnya Pesawat mau dipanggul??? Dipanggul 2 orang Lagi.
KASIHAN AURI DAN ALRI.

Kendalanya Juga ada Pada Rakyat

Maaf sebelumnya dalam comment saya kali ini saya tidak berpihak pada siapapun juga akan tetapi demi bangsa ini.
Kalau kita kaji lebih dalam lagi, kita tidak bisa hanya menyalahkan seratus persen karena anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah.
memang pada dasarnya masalah kecanggihan dan modernisasi alutsista tidak bisa di anggap remeh.
sekarang anda pikirkan, bagaimana mungkin pemerintah memberikan anggaran yang lebih untuk alutsista sedangkan rakyat dalam keadaan kesulitan ekonomi, yang menyebabkan banyak sekali pos anggaran apbn yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat seperti blt, bantuan usaha, kesehatan, pendidikan dll. yang menurut saya kebijakan itu ada benarnya juga, karena apabila rakyat dalam keadaan sulit ekonomi itu bisa menimbulkan gejolak di dalam negeri, dan gejolak di dalam negeri inilah yang lebih membahayakan bangsa karena bisa menurunkan tingkat loyalitas rakyat, menghilangkan jiwa nasionalis rakyat, bahkan bisa saja rakyat akan berpikiran buat apa menjadi bangsa indonesia kalau makan aja susah. kalau kita ingin berkaca dari negara kecil yang alutsistanya lebih canggih, coba kita kaji lagi dari sudut pandang yang lain, contohnya dari segi ekonomi, mereka bisa seperti itu dikarenakan rakyatnya sudah mandiri dan tidak terlalu menggantungkan kehidupan dasar mereka pada negara. Mugkin anda akan bertanya, kok india negara miskin bisa punya alutsista yang lebih baik dari kita? tapi anda juga harus tahu berapa kali negara india di hantam dengan gejolak dari dalam dalam negerinya.
Kesimpulannya !!!!
Jika Kita ingin negara kita kuat dari segi persenjataan dan militernya, maka Kita sebagai rakyat harus lebih bisa mandiri secara ekonomi dahulu, sehingga pos anggaran untuk militer kita bisa kuat!!! bisa jadi dengan adanya perekonomian rakyat yang kuat, negara kita bisa membangun sendiri pabrik persenjataan yang tentunya di gawangi oleh putra dan putri terbaik bangsa kita. so MARI KITA PERCEPAT PERTUMBUHAN EKONOMI BANGSA INI, SEHINGGA PERTAHANAN BANGSA INI SEMAKIN KOKOH.

kazmi's picture

Anggaran Selain Pertahanan itu Sudah 99% APBN

Anggaran Pertahanan RI dalam beberapa tahun terakhir ini berkisar antara 0,7-0,9% APBN. Jadi, anggaran untuk bidang-bidang selain pertahanan (pendidikan, dll) itu sudah mencapai 99% APBN. Menurut Anda, masih kurangkah itu? Apakah perlu kita potong lagi anggaran pertahanan kita yg kini tinggal 0,7-0,9% itu demi apa yg dikatakan sebagai kesejahteraan rakyat itu?

APBN kita -sebagaimana dikatakan Presiden dalam Pidato Kenegaraan tahun lalu- pertama kalinya sejak Indonesia merdeka mencapai lebih dari 1.000 trilyun. PDB (Pendapatan Domestik Bruto) kita juga peringkat 20 terbesar di dunia. Bahkan di era krisis ekonomi global 2008-2009 ini, pertumbuhan ekonomi kita juga relatif baik (kisaran angka 4-5%), ketimbang Singapura & Malaysia yg mengalami pertumbuhan minus.

Jadi, secara ekonomi makro, kita sudah baik, dan inilah saatnya memperkuat pertahanan, secara paralel pula tentunya dengan pembangunan ekonomi, pendidikan, dll. Semua ini bisa dilakukan secara paralel dengan strategi yang tepat. Jangan sampai anggaran pertahanan itu diabaikan semata-mata hanya karena kita merasa dalam lingkungan strategis yg damai. Padahal, pertahanan yang kuat itu tidak semata-mata diperlukan di masa damai. Pertahanan itu erat kaitannya dengan wibawa & harga diri bangsa.

Sebagaimana hukum rimba berlaku secara mikro dalam kehidupan manusia, maka secara makro, secara global, hukum rimba ini pun berlaku pula. Negara yang kuat pasti disegani & dihormati, kepentingannya didengarkan, sedangkan negara yang lemah pasti diabaikan & dilecehkan.

Kita ini bangsa yang besar. Kalau ingin jadi bangsa yang besar, berlakulah sebagai bangsa yang besar.

Mengenai masih banyaknya rakyat yg hidup di bawah garis kemiskinan, itu sama sekali bukan sebagai akibat dari anggaran pertahanan. Anggaran pertahanan kita itu sudah terlalu kecil, bahkan di bawah kebutuhan minimumnya. Sebagaimana disebut di atas, anggaran untuk bidang-bidang selain pertahanan itu sudah 99% APBN. Jadi, strategi ekonomi itulah yg harus diperbaiki. Anggarannya sudah besar secara komparatif. SDM & SDA ada. Tinggal bagaimana memanfaatkan anggaran, SDM & SDA ini dengan strategi yg tepat.

muhamadyusuf's picture

sa persen...

bro Kazmi, itu se persen anggaran untuk alutsista atau keseluruah kebutuhan dephan dan TNI ternasuk gaji pegawai?
gaji pegawai TNI yang ratusan ribu pasti banyak tuh ...

kazmi's picture

Betul

Betul Bang, itu sudah termasuk pengeluaran rutin (gaji, dll). Makanya, sudah kita katakan, ini jauh di bawah ambang cukup. Harus ada political will dari Pemerintah untuk merubah kondisi ini.

Anggaran Militer dan Alutsista

Benar secara % anggaran militer dari APBN sangat kecil, terus dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia atau Singapore. Tapi kalo angka realnya dengan APBN 1.000 Triliun, 3 triliun besar.

Dengan dana 3 Triliun, dana tersebut cukup untuk menghadapi negara tetangga. Dana tersebut akan cukup dan dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan 2 syarat :

1. Digunakan menggunakan produksi dalam negeri selain lebih murah akan mengurangi ketergantungan. Tidak ada istilah, jatuh karena di embargo spare-partnya. Perlu di ingat Indonesia sangat besar, kalo menggunakan alat dari luar negeri, berapa-pun anggaran militer akan kurang.

2. Dimanfaatkan tidak hanya pada kondisi sulit. Sudah lazim alat militer digunakan untuk membantu saat terjadi bencana, termasuk digunakan nanti saat mudik :) Militer dijadikan mitra strategis bagi instansi pemerintah lainnya misalnya Departemen Kelautan atau Bea Cukai, untuk operasi penyergapan penyelundup, perompak, dsb, sesuai perannya, secara resmi dan terpublikasi luas.

membahas alut sista TNI spt

membahas alut sista TNI spt kita mengejar bayangan....semakin dikejar semakin jauh...dihadapkan pada situasi yg ada, pengadaan dan pemeliharaan alut sista sgt berhubungan erat dgn ketersediaan dana dari negara, baik secara formal maupun informal, secara formal melalui APBN, secara informal merupakan kesepakatan bersama di carikan jalan keluar utk memenuhi kekurangan, tdk bs hanya berharap dr APBN namun harus ada terobosan 2x yg cerdas utk mengatasinya spt, pemisahan anggaran utk gaji diluar anggaran pertahanan, atau proses pegadaan seluruh keperluan yg menggunakan APBN di buat lgs kpd produsen shg memotong jalur distribusi bisnis yg akhirnya brg smp ketangan mjd lebih murah...dll

Adalah kewajiban tentara untuk melakukan tugas, apapun keadaanya

Memang alutsista kita menyerap anggaran dengan porsi yang minimum. Dibandingkan tanggung jawab yang harus diemban oleh prajurit untuk menjaga batas teritorial, Anggaran tersebut mau tidak mau harus segera ditingkatkan. Kendalanya adalah kebocoran, benar sekali. Sehingga kita harapkan, semua komponen yang terlibat dalam proyek peningkatan alutsista berjiwa prajurit yang berani menaruhkan jiwanya untuk kebenaran.

Banyak dari kita, terutama kalangan sipil yang merasa pesimis, melihat realita bahwa sangat sulit sekali membersihkan penyakit AMPLOP di segala sektor pemerintahan. Maka kembali lagi saya yakinkan, bahwa dunia ini dikendalikan oleh orang2 yang bercita2 besar. Dan yang pasti berbenturan dengan cita2 besar orang lain. Di sinilah ketahanan mental dan fisik dalam mempertahankan cita2 itu diuji.

Apakah kita siap memfasilitasi jalur yang bersih untuk peningkatan alutsista pagar nagari, tergantung dari kualitas wakil rakyat yang dipilih nanti. Semoga kita bisa memiliki pemimpin yang tegas dan adil. Amin