Oleh: Wicaksono Aji, ST., Direktur TANDEF
Pada tanggal 31 Agustus 2009 lalu saya dan beberapa orang rekan menghadiri undangan Modernisator (www.modernisator.org) untuk datang dalam acara ”Modernisator Speakers Forum” (MSF). Acara MSF ini merupakan acara yang digelar rutin oleh Modernisator, dan pada MSF ke-8 kali ini tema yang diambil adalah ”Asia in the 21st Century: Trends, Challenges, and Opportunities Post-Global Economic Crisis”.
Pembicara utama MSF ke-8 adalah Dominic Barton, Managing Director McKinsey & Company, sebuah perusahaan konsultan manajemen kelas dunia. Sementara itu, yang bertindak sebagai pembahas tamu adalah Dr. Raden Pardede, Penasihat Senior Menteri Keuangan RI, dan Gita Wirjawan, investor nasional, sekaligus pendiri dan pengelola Ancora Foundation yang bergerak di bidang pendidikan.
Acara didahului oleh presentasi Dominic Barton dengan judul “Challenges and Opportunities for Asia in the 21st Century”. Dalam presentasinya, peraih gelar MPhil dari Oxford University ini memulai dengan seputar Krisis Ekonomi 2008-2009, serta pengaruhnya terhadap kondisi ekonomi Asia. Menginjak pada inti presentasi, peraih Rhodes Scholar yang pernah memimpin kantor McKinsey di Seoul dan Shanghai ini berbicara panjang lebar tentang Key Growth Drivers yang menyimpan potensi ekonomi luar biasa di masa sekarang dan yang akan datang.
Mengurai 10 ”Key Growth Drivers”
Berdasarkan penelitian McKinsey, ada setidaknya 10 ”Key Growth Drivers” yang bisa menjadi potensi Kebangkitan Ekonomi negara-negara Asia, yaitu:
- Emergence of a new class of >900 million consumers
- Rapid urbanization (stepping into the 21st century)
- Infrastructure financing opportunity worth >US$ 4 trillion
- Opening up of new-trade routes, especially intra-Asia
- Healthcare reform
- Commodity challenges
- Hubs of ‘innovation and ideation’
- Rise of Asian global champions
- Islamic Finance
- Asia as the ‘global capital provider’
Kemunculan Kelas Menengah Baru
Secara detail Mr. Barton menjelaskan bahwa perekonomian Asia tumbuh secara pesat terhitung sejak dekade 1980-an. Sebagai gambaran, dominasi ekonomi negara-negara Eropa dan Amerika Utara muncul dengan ditandai Revolusi Industri pada abad XVIII, di mana dominasi ini telah memperkecil porsi pertumbuhan ekonomi Asia, khususnya Cina dan India yang begitu pesat semenjak abad I Masehi. McKinsey memprediksi bahwa apabila populasi kelas menengah yang berasal dari negara-negara berkembang pada tahun 2005 berjumlah 761 juta, maka pada tahun 2015 akan mencapai 1.736 juta jiwa, atau berkembang pesat lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu satu dasa warsa.
Adapun kriteria ”kelas menengah” yang dimaksud adalah penduduk yang berpenghasilan US$ 5.000 atau lebih per tahun. Angka ini disesuaikan dengan standar ekonomi Asia, yang tentu saja mempunyai perbedaan dengan standar ekonomi negara-negara Eropa dan Amerika. Masih berdasarkan penelitian McKinsey, pertumbuhan jumlah penduduk kelas menengah baru di negara-negara ASEAN untuk kurun waktu 2005-2015 akan mencapai 87 juta, sementara India mencapai angka 544 juta, dan Cina 268 juta.
Berdasarkan analisis McKinsey, lebih kurang 60% penduduk Indonesia akan mempunyai pendapatan lebih dari US$ 3.000 per tahun pada tahun 2012, naik dari sekitar 45% di tahun 2009. Hal ini akan mendorong peningkatan penyediaan barang dan jasa seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat. Tuntutan akan distribusi dan logistik juga semakin kritis mengingat penyebaran penduduk Indonesia yang sangat luas.
Urbanisasi
Berbicara tentang urbanisasi, maka kita ibaratnya akan berhadapan dengan pedang bermata dua. Di satu sisi urbanisasi menyimpan peluang (opportunity), sementara itu di sisi lain juga membawa tantangan (challenge). Beberapa peluang di balik urbanisasi adalah efisiensi ekonomi (kemudahan dalam berbisnis, biaya logistik yang murah), terciptanya ”talent hubs” yang ditandai dengan kemunculan generasi wirausahawan (entrepreneurs) dan generasi terdidik, dan efisiensi energi (jarak transportasi yang pendek, gaya hidup yang praktis, transportasi massal). Sementara itu, tantangan urbanisasi ditandai dengan kemunculan fenomena degradasi lahan (sentralisasi polusi, berkurangnya lahan hijau), penyempitan (congestion), khususnya di bidang transportasi barang dan orang, konsumsi sumber daya alam, dan ketersediaan jasa akibat jenis permintaan yang makin kompleks dan intensif.
Di masa mendatang akan semakin banyak penduduk yang bermukim di daerah perkotaan. Pada tahun 2010 sendiri diperkirakan sebesar 55% penduduk Indonesia akan tinggal di kota, dan di tahun 2025 jumlah tersebut akan meningkat menjadi 70%. Beban Pulau Jawa –yang hanya seluas 7% dari luas daratan Indonesia—akan semakin berat karena harus menyangga 60% jumlah penduduk Indonesia.
Infrastruktur dan Peluang Pembiayaannya
Infrastruktur adalah salah satu faktor penting untuk mencapai pertumbuhan sekaligus pemerataan ekonomi. Menilik rencana pembangunan nasional Cina, hingga tahun 2010 nanti akan dibangun 180.000 km jaringan jalan baru, ditambah 20.000 km jalan tol yang ditargetkan selesai tahun 2015. Target pembangunan bandara sendiri adalah 24 buah bandara baru hingga 2010, dan 97 buah lagi yang harus selesai hingga 2010. Pemenuhan pasokan energi listrik akan dipacu hingga 400 GW dalam waktu lima tahun, atau sekitar 30 kali kapasitas energi listrik kota New York. Kebutuhan air bersih diperkirakan mencapai 6 milyar ton pada 2010, dan membutuhkan investasi senilai US$ 65 milyar.
Untuk agenda kegiatan berkelas internasional, jika pada penyelenggaraan Olympiade 2008 Cina menganggarkan dana senilai US$ 40 milyar, maka penyelenggaraan Shanghai Expo di tahun 2010 akan menelan biaya US $41 milyar, dan Guangzhou Asian Games 2010 sebesar US$ 27 milyar. Yang menarik, dalam kurun waktu 20 tahun ke depan Cina harus membangun 50.000 gedung untuk memenuhi kebutuhan akan ruang kantor dan tempat tinggal (apartemen)!
Menyorot pembangunan infrastruktur Indonesia, maka tentu saja sangatlah jauh tertinggal bila dibandingkan dengan pembangunan serupa di Cina dan India. Meski demikian, apabila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya di Asia Tenggara, Global Competitiveness Report 2008, CIA World Factbook, dan Morgan Stanley Research mencatat bahwa secara relatif pembangunan infrastruktur di Indonesia adalah 52% di bidang energi (dihitung menurut produksi energi dalam kWh per kapita), 61% di bidang jalan dan jalan tol (dalam panjang jalan per kapita), 77% di bidang pelabuhan (mempertimbangkan kualitas pelabuhan), 54% di bidang perkeretapian (dalam panjang rel per kapita), 107% di bidang bandar udara (dalam jumlah bandara per kapita), dan 80% di bidang telekomunikasi (dalam jumlah telepon seluler per kapita).
Berbicara mengenai anggaran biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembangunan infrastruktur nasional dalam kurun waktu 2010-2020, maka berdasarkan data yang dikompilasi oleh World Bank dan World Economic Forum, Indonesia membutuhkan dana sebesar US$ 363 milyar, meliputi pembangunan infrastruktur perkotaan, pembangunan bandara, pembangunan pelabuhan, pembangunan sarana air bersih, pembangunan jalan dan jalan tol, pembangunan perkeretapian, dan pembangunan telekomunikasi. Sebagai perbandingan, India membutuhkan dana sekitar US$ 468 milyar, Filipina US$ 62 milyar, Vietnam US$ 33 milyar, dan Thailand US$ 109 milyar.
Tantangan Indonesia di bidang energi listrik akan semakin terasa di tahun 2016 ketika kebutuhan energi listrik mencapai 260.000 GWh, atau hampir dua kali lipat pasokan energi listrik yang tersedia sekarang. Di bidang pembangunan jalan, Indonesia perlu mempercepat kemampuan pembangunan yang ada pada saat ini, mengingat 85% transportasi orang dan 90% transportasi barang berlangsung di darat. Jika Cina membangun lebih dari 5.000 km jalan tol per tahun, maka Indonesia baru mampu membangun 700 km per tahun.
Jalur Perdagangan Baru Intra-Asia
Di bidang perniagaan, International Trade Statistics 2007 yang dirilis oleh World Trade Organization (WTO) mencatat bahwa jika pada tahun 1999 nilai perdagangan Intra-Asia mencapai US$ 1.185 milyar, maka pada tahun 2006 meningkat menjadi US 3.276 milyar. Peningkatan ini sangatlah signifikan apabila dibandingkan dengan nilai perdagangan antara negara-negara Asia dengan Amerika Utara yang pada tahun 1999 dan 2006 adalah US$ 573 milyar dan US$ 1.022 milyar, Asia dengan Eropa US$ 537 milyar dan US$ 970 milyar.
Meninjau catatan Departemen Perdagangan RI, maka nilai ekspor non-migas ke lima besar negara target ekspor Indonesia mengalami peningkatan cukup pesat selama periode 2003-2008, yakni ke Amerika Serikat 77%, Singapura 118%, Jepang 81%, Cina 137%, dan India 327%. Adapun nilai transaksinya pada tahun 2008 mencapai US$ 11.398 juta dengan Amerika Serikat, US$ 9.696 juta dengan Singapura, US$ 9.352 juta dengan Jepang, US$ 6.244 dengan Cina, dan US$ 5.437 juta dengan India.
Terlepas dari peningkatan volume ekspor non-migas Indonesia, maka yang perlu menjadi catatan bagi para pelaku usaha dan regulator adalah bagaimana caranya Indonesia mampu bergeser dari eksportir barang-barang komoditas menjadi eksportir barang dan jasa yang bernilai tambah tinggi (higher value added product and services). Indonesia perlu mencontoh strategi Cina dan Indonesia yang telah mampu memposisikan diri dari eksportir komoditas menjadi eksportir barang dan jasa yang bernilai tinggi.
Reformasi Layanan Kesehatan
Beberapa hal yang perlu dicatat di bidang reformasi layanan kesehatan adalah peningkatan usia harapan hidup yang akan menjadi tantangan dalam hal asuransi, pengelolaan dana pensiun, dan pengelolaan aset kekayaan. Sebagai tambahan, dengan meningkatnya defisit anggaran pemerintah di bidang layanan kesehatan akan menuntut modifikasi layanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu (miskin).
Berdasarkan data yang ada, anggaran layanan kesehatan per kapita rata-rata penduduk Indonesia baru mencapai US$ 8 per tahun di tahun 2008. Ke depan diperlukan terobosan di bidang reformasi layanan kesehatan, khususnya dalam hal aksesibilitas, tanpa memandang tingkat pendapatan penduduk dan kondisi geografis yang ada.
Tantangan Komoditas
Peluang dan tantangan Indonesia di bidang komoditas sangat dipengaruhi oleh faktor energi, khususnya energi yang ramah lingkungan. Dengan memberikan perhatian ekstra pada komoditas-komoditas yang berpotensi menjadi sumber-sumber energi alternatif, maka Indonesia sangat dimungkinkan akan memiliki peranan penting secara regional dan internasional. Hal ini sudah dibuktikan oleh negara-negara eksportir minyak yang mempunyai nilai strategis secara internasional, dan telah berhasil mencapai program pembangunan ekonominya.
Salah satu komoditas penting Indonesia yang terkait dengan bidang energi ini adalah kelapa sawit. Selain itu, Indonesia sangat berpotensi untuk memainkan peranan dalam Carbon Trading, mengingat potensi lahan hutan Indonesia masih cukup luas dan memenuhi persyaratan untuk dikerjasamakan dalam Carbon Trading ini. Satu lagi poin penting yang harus menjadi perhatian Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi adalah teknologi nuklir, karena teknologi inilah yang dipandang mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan energi listrik secara cepat, relatif aman, dan murah secara jangka panjang.
Urgensitas lain dalam tantangan komoditas ini adalah kenyataan bahwa Indonesia termasuk sebagai salah satu negara pengemisi karbon dunia. Jika tidak ada perubahan dalam penanganan emisi karbon di Indonesia, maka pada tahun 2030 tingkat emisi karbon di Indonesia diperkirakan akan mencapai 3.500 juta ton. Untuk mencegah hal ini, perlu penanganan kebijakan pada sektor kehutanan, tenaga listrik, transportasi, dan agrikultur.
Inovasi dan Penciptaan Ide
Inovasi menjadi faktor penting untuk mengejar pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu dibutuhkan kesinambungan antara sisi permintaan atau dalam hal ini bidang dan talenta yang dibutuhkan oleh Indonesia, dengan sisi penyediaan pendidikan dan pelatihan yang sesuai. Terobosan yang intensif untuk menghubungkan kebutuhan sektor riil dengan instansi pendidikan adalah suatu keharusan, ditambah dengan insentif khusus untuk menarik tenaga-tenaga pengajar yang berkeahlian tertentu.
Industri kreatif mempunyai potensi amat besar di Indonesia. Apabila dikelola dengan baik, setidaknya akan mampu mencapai porsi 4,7% dari Gross Domestic Products (GDP), membuka 4,5 juta lapangan pekerjaan, dan 1,5 juta perusahaan baru, sebagaimana pengalaman yang telah ditunjukkan di Cina dan India.
Kemunculan Korporasi-korporasi Asia dalam Ekonomi Global
Munculnya korporasi-korporasi Asia dalam percaturan ekonomi global menandai bangkitnya kekuatan ekonomi Asia. McKinsey memperkirakan bahwa pada tahun 2015, dalam daftar peringkat 1.000 perusahaan yang berpengaruh secara global, lebih dari 40%-nya adalah perusahaan-perusahaan Asia. Hal yang memperkuat perkiraan ini adalah catatan perkembangan dari waktu ke waktu yang menunjukkan bahwa pada pada tahun 2004 hanya terdapat 18%, lalu meningkat menjadi 21% di tahun 2006, dan 25% di tahun 2008. Beberapa faktor yang menjadi penunjang utama dari peningkatan ini adalah biaya yang rendah, skala yang besar, dan inovasi.
Sesuai catatan majalah bisnis Forbes tahun 2009, dalam daftar 2.000 perusahaan teratas dunia terdapat enam perusahaan Indonesia, yakni Telkom (675), BCA (930), BRI (988), Bank Mandiri (1.014), Bumi Resources (1.809), dan BNI (1.960). Meskipun berita ini menggembirakan, perlu diketahui pula bahwa beberapa negara Asia lainnya mempunyai prestasi lebih baik, misalnya Malaysia dengan 19 perusahaan, Singapura 17, India 44, dan Cina 91.
Keuangan Islami
Sistem Keuangan Islami mempunyai potensi sangat besar di Asia, mengingat mayoritas penduduk yang memeluk agama Islam di dunia berada di wilayah ini, dan penelitian menunjukkan bahwa sistem keuangan Islami ini relatif lebih tahan terhadap Krisis Ekonomi 2008-2009. Meski demikian, perlu respons dan pembenahan yang cepat di sisi regulasi agar pertumbuhan sektor finansial Islami ini dapat berkembang pesat. Dalam catatan McKinsey, selama beberapa tahun terakhir tingkat pertumbuhan sektor finansia Islami ini mencapai 20% per tahun, dengan Indonesia, Malaysia, Pakistan, India, dan Cina penggerak pertumbuhan utama, sekaligus memiliki peluang besar di masa yang akan datang karena penetrasi di negara-negara ini masih sangat rendah.
Salah satu instrumen keuangan Islami potensial dan populer secara internasional adalah Sukuk. Jika emisi Sukuk di Malaysia, Saudi Arabia, dan Pakistan mengalami penurunan 70-80% selama periode 2007-2008, maka Indonesia justru mengalami kenaikan sebesar hampir 260%, dengan nilai kapitalisasi mencapai US$ 700 juta. Meski demikian nilai kapitalisasi ini sangatlah kecil apabila dibandingkan dengan nilai kapitalisasi Suku di Malaysia yang mencapai US$ 20,3 milyar di tahun 2007.
Asia Sebagai Sumber Dana Global
Pada dasa warsa mendatang Asia diperkirakan akan menjadi sumber kapital global. Hal ini ditandai oleh agresivitas investasi yang dilakukan oleh para investor Asia maupun para pengelola sovereign wealth funds (SWFs) semacam Temasek dan Khazanah selama krisis finansial terhadap perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Fenomena ini perlu menjadi pemicu bagi Indonesia untuk menata kembali kinerja perusahaan-perusahaan BUMN sehingga pada akhirnya mampu eksis secara regional dan internasional. Di samping itu, mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk membiayai pembangunan, khususnya di bidang infrastruktur, Indonesia perlu segera membenahi sisi regulasi untuk memikat dan memfasilitasi masuknya investasi asing ke Indonesia.
Energi, Infrastruktur, Agrobisnis, dan Edukasi
Gita Wirjawan selaku pembahas tamu dalam MSF ke-8 ini menyampaikan bahwa ada empat sektor strategis yang akan menjadi ujung tombak kebangkitan Indonesia yaitu Energi, Infrastruktur, Agrobisnis, dan Edukasi.
Peraih gelar Master of Public Administration dari Harvard University ini berpendapat, bahwa energi begitu penting untuk mendukung kegiatan pembangunan, sehingga setiap kendala yang terjadi dalam hal pemasokan energi akan berimbas langsung kepada terganggunya pembangunan itu sendiri. Di bidang infrastruktur, Indonesia perlu memahami kondisi geografis yang ada. Dengan kata lain, meskipun pembangunan jalan, bandara, dan jaringan telekomunikasi penting dilakukan, perlu perhatian khusus terhadap pembangunan pelabuhan dan moda transportasi laut mengingat kondisi Indonesia yang terdiri atas banyak pulau.
Seperti diketahui bahwa letak geografis Indonesia di wilayah beriklim tropis membawa berkah kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati. Untuk itu Pemerintah perlu melakukan penataan di bidang agrobisnis, khususnya yang terkait dengan komoditas-komoditas unggulan dunia seperti kelapa sawit, karet, dan kakao. Sementara itu, yang dimaksud dengan edukasi di sini adalah pentingnya menyiapkan kader-kader generasi muda Indonesia yang lebih terdidik, mampu bersaing secara global, dan mempunyai jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) yang tinggi.
Infrastruktur, Infrastrukur, Infrastruktur
Dr. Raden Pardede dalam MSF ke-8 mengutarakan bahwa target utama jangka pendek yang harus menjadi perhatian Pemerintah adalah Infrastruktur. Begitu pentingnya sektor infrastruktur, Dr. Pardede sampai menyebutkannya tiga kali.
Infrastruktur yang dimaksud oleh peraih gelar Doktor di bidang Ekonomi dari Boston University ini ada dua: Soft Infrastructure dan Hard Infrastructure. Pengertian Soft Infrastucture di sini berhubungan dengan masalah regulasi dan birokrasi, sementara Hard Infrastructure adalah fasilitas fisik infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, bandara, saluran irigasi, bendungan, dan jaringan telekomunikasi.
Penutup
Usai acara, saya dan rekan-rekan meluangkan waktu untuk berdiskusi sejenak sembari membuat rangkuman acara. Dalam diskusi singkat ini, kami sepakat bahwa di antara semua potensi pertumbuhan yang dimiliki oleh Indonesia, faktor pendidikan atau edukasi adalah hal penting yang harus segera dipecahkan dalam jangka pendek, khususnya jika Indonesia ingin mempersiapkan generasi mudanya untuk menyongsong persaingan global.
Kontroversi Undang-undang Badan Hukum Pendidikan belumlah usai. Di satu sisi Pemerintah menghendaki pendidikan yang berkualitas, di mana penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas ini berkorelasi dengan peningkatan biaya pendidikan. Sementara itu di sisi lain, masyarakat menghendaki pendidikan yang murah dan terjangkau, serta merata di seluruh pelosok negeri.
Dengan terdidiknya generasi penerus Indonesia, maka setidaknya separuh langkah menuju persaingan global sudah tercapai. Namun, jika hanya sebagian kecil saja masyarakat yang mampu menikmati pendidikan berkualitas, dikhawatirkan akan muncul kesenjangan sosial dan ekonomi, yang secara jangka panjang justru akan membahayakan kedaulatan bangsa dan negara.
Dengan adanya generasi penerus yang terdidik dan mempunyai jiwa kewirausahaan, setidaknya kita sudah punya modal sumber daya manusia yang cukup untuk menggerakkan roda perekonomian nasional. Kita boleh jadi memiliki sedikit atau bahkan tidak sama sekali modal finansial. Tetapi jika kita mempunyai modal sumber daya manusia yang terdidik dan bermental wirausaha, maka modal finansial bisa dicari.
Meninjau pengalaman Cina, Mantan Wakil Perdana Menteri Cina Li Lan Qing dalam bukunya ”Education for 1.3 Billion: Former Chinese Vice Premier Li Lan Qing on 10 Years of Education Reform and Development” (Hong Kong: Pearson Education Asia, 2005) menuliskan bahwa ”The cultivation of able people is an enduring and fundamental cause that is far more important and difficult than growing trees. As long as we think along similar lines and never slacken, we will see initial suceess in our efforts to bring forth a large contingent of competent people in eight years of ten years’ time, intermediary success in 15 years, and great success in 20 years. Developing education, especially basic education, for a populous country like ours is the fundamental way to enhance the economic strength.”
N.R. Narayana Murty, pendiri Infosys yang berbasis di India, dalam bukunya ”A Better India, A Better World” (New Delhi: Penguin Group, 2009) berpendapat bahwa ”The higher the quality of university education is in a country, the more prosperous and competitive the people. As countries move up the ladder of development, the contributions of hi-tech manufacturing and high value-added services to the GDP become higher and higher. Consequently, today, the comparative advantage of a country is increasingly determined by how well it uses knowledge and innovation. Success in leveraging knowledge and innovation is only possible with a sound infrastructure of higher education.”
Profesor T.W. Schultz, seorang peneliti sumber daya manusia internasional, mempunyai kesimpulan bahwa seorang lulusan sekolah dasar akan mampu menambah nilai produktivitas tenaga kerja sebesar 43%, sementara itu lulusan sekolah menengah sebesar 108%, dan lulusan perguruan tinggi hingga 300%. Sementara itu, ditinjau dari rasio kapabilitas intelektual, seorang lulusan perguruan tinggi, sekolah menengah, dan sekolah dasar secara berturut-turut mempunyai rasio 25 : 7 : 1. Sebagai catatan tambahan, studi World Bank menunjukkan bahwa setiap tahun yang dihabiskan oleh seseorang di dalam kelas mempunyai arti peningkatan sebesar 9% dalam produktivitasnya.
Kesimpulan dari studi-studi ini adalah bahwa peningkatan pendidikan rakyat sangatlah fundamental untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dengan kata lain upaya untuk menghapuskan kemiskinan, meningkatkan standar hidup, dan menggerakkan roda perekonomian tidaklah akan terjadi secara langgeng apabila tidak disertai dengan sistem pendidikan yang layak dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Recent comments
2 weeks 2 days ago
2 weeks 6 days ago
2 weeks 6 days ago
2 weeks 6 days ago
3 weeks 22 hours ago
3 weeks 1 day ago
3 weeks 1 day ago
3 weeks 1 day ago
3 weeks 1 day ago
3 weeks 1 day ago