Oleh: Letkol Laut (E) Samuel Kowaas, MSc., Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Dalam lagu "Imagine", mendiang John Lennon merenungkan betapa indahnya dunia tanpa selisih paham, perseteruan apalagi peperangan. Memang damai itu indah dan sebenarnya sejak dahulu kala selalu menjadi obsesi dan tujuan utama kehidupan. Pendek kata, damai adalah sebuah keadaan yang layak untuk didambakan. Bila demikian, masih perlukah kita mempelajari segala sesuatu tentang perang atau polemologi? Apakah dunia dapat hidup dalam kedamaian yang sejati?
Perseteruan telah terjadi jauh sebelum manusia mampu untuk mencatat epik-epik itu atau menggambarnya di dinding gua. Rivalitas itu masih ada hingga kini, ketika e-mail maupun reportase visual dapat disampaikan secara langsung oleh para jurnalis yang embeded dengan satuan tempur di garis depan. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa manusia begitu lekat dan akrab dengan peperangan.
Apakah memang demikian? Begitu sukakah manusia pada peperangan? Sebenarnya tidak. Sebaliknya, manusia pada dasarnya senantiasa menginginkan perdamaian. Tetapi, perang masih tetap saja terulang karena kepentingan dan kebutuhan manusia. Manusia memang makhluk yang memiliki kebutuhan, Namun, karena kecerdasannya kebutuhan manusia menjadi sangat rumit.
Kompleksitas itu dapat dilihat dalam hierarchy of needs yang disampaikan Maslow dan teori motivasi lainnya. Kebutuhan manusia sebagai pribadi maupun dalam konteks bangsa memang berbeda. Tetapi di dalamnya terdapat kesamaan-kesamaan yang mencolok karena pada dasarnya manusia merupakan komponen utama pembentuk bangsa.
Perseteruan dapat terjadi di antara dua manusia apabila terdapat persilangan kepentingan untuk memenuhi kebutuhan. Begitu pula dengan negara. Bila terjadi tumpang-tindih kepentingan nasional di antara dua atau lebih negara, konflik akan mulai menampakkan wujudnya.
Sriwijaya dan Majapahit
Konflik terbuka dapat pecah oleh berbagai sebab, mulai dari sengketa perbatasan, persaingan dagang, perebutan sumber daya hingga perbedaan ideologi. Bahkan perang juga bisa timbul dari sikap apriori antaretnis yang dilandasi historical grievances –yang mana menurut Juanda Wijaya, masih tumbuh dalam pemikiran bangsa-bangsa di jaman yang modern sekalipun.
Hal itu terlihat pada konflik Arab dan Yahudi, pandangan orang Melayu terhadap etnis Tionghoa, perselisihan Jawa dengan Melayu dan lain-lain. Konflik Serbia dan Bosnia, Rwanda dengan Congo adalah contoh bagaimana dendam sejarah bisa menyulut peperangan.
Hal tersebut membawa kita kepada suatu kenyataan bahwa memang manusia dan bangsa akan senantiasa berhadapan dengan konflik. Dengan melankolis Plato berkata –only the dead have seen the end of war. Hanya orang mati yang melihat akhir dari perang.
Bagaimana dengan Indonesia? Sesungguhnya negara ini punya banyak tingkap yang bermuara pada konflik. Apa yang terjadi di sekitar kita? Di kawasan ini, kita bertetangga dengan bangsa-bangsa yang pernah bersilang pendapat dengan kita sejak masa Sriwijaya dan Majapahit lagi di mana hal tersebut masih dirasakan hingga kini.
Jauh di Utara, terdapat Cina yang ekspansif serta Jepang yang oportunis, sementara di Selatan terdapat Australia yang dianggap pernah mengkhianati RI di Timtim dan dicurigai memberi angin kepada kaum separatis lainnya. Dari aspek militer, negara-negara tersebut juga memiliki kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. AB khususnya AL Australia, memiliki kekuatan medium power dengan jangkauan regional serta tak segan menggunakan "pre-emptive strike".
Cina membangun kekuatannya untuk bisa menandingi kekuatan adidaya lainnya. Jepang memiliki arsenal yang terlalu kuat untuk dikategorikan sebagai sebuah Pasukan Bela Diri. Malaysia dan Singapura juga memiliki ke-kuatan militer high-tech. Dan keduanya memiliki kedekatan dengan Inggris Raya.
Tanpa Memangsa
Adalah naif bila kita mengira dunia ini sungguh damai dan boleh tidur mengaso. Dan, kita memang sempat tertidur terlalu lama. Kasus Ambalat sekonyong-konyong membangunkan bangsa ini. Namun, kini seolah kita ingin kembali ke peraduan untuk menyambung mimpi indah dan damai itu.
Walaupun tetap bisa dikatakan kuat, pertahanan RI memang masih belum proporsional dengan besarnya ancaman yang dihadapi. Dan kendala pembangunan kekuatan dan kemampuan angkatan bersenjata Indonesia bukan saja disebabkan oleh minimnya anggaran tetapi juga karena lemahnya pemahaman bangsa ini soal national security.
Apabila kesadaran untuk membangun kekuatan itu memang sudah muncul, kita patut menguji motivasinya dengan pertanyaan –apakah dengan mengasah dan meningkatkan kekuatan membuat kita tidak lagi layak menyebut diri sebagai bangsa yang cinta damai?
Flavius Vegetius Renatus dalam Epitoma Rei Militaris menyatakan siapapun yang menginginkan damai bersiaplah perang; tidak ada yang akan mengancam, atau mengganggu, siapapun yang mereka tahu lebih kuat dalam pertempuran (Qui desiderat pacem, bellum praeparat; nemo provocare ne offendere audet quem intelliget superiorem esse pugnaturem).
Kita memang harus menjadi bangsa Singa! Tetapi bagaimana dengan global setting dan nilai-nilai universal saat ini yang cenderung memojokkan sikap kontra damai? Dengan penuh kesadaran suatu bangsa dapat menjadi yang digdaya tanpa harus menjadi pemangsa.
Memang kita harus kuat dan siap berperang. Dengan kekuatan dan kewibawaan, kita baru dapat menciptakan damai di meja perundingan atau di medan pertempuran. Itu semua harus dilakukan justru karena kita adalah bangsa yang sangat cinta perdamaian. Perang hanya akan jadi upaya terakhir. Itulah sebabnya kita masih perlu belajar polemologi, ilmu tentang perang.
Tulisan ini pernah dimuat pada kolom Opini di Harian Sinar Harapan tanggal 4 Oktober 2005.
Recent comments
1 week 6 days ago
2 weeks 2 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 5 days ago