Menjelang 64 Tahun Indonesia Merdeka & 1 Tahun Berdirinya TANDEF

kazmi's picture

Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF

1. Latar Belakang Berdirinya TANDEF

Keprihatinan terhadap Minimnya Anggaran Pertahanan dalam Iklim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, secara ekonomi, Indonesia telah melakukan pencapaian-pencapaian yang luar biasa. Pada tahun 2008, terhitung sejak Indonesia merdeka, untuk pertama kalinya APBN mencapai angka lebih dari Rp 1.000 trilyun. Pertumbuhan ekonomi pun selama beberapa tahun terakhir menunjukkan percepatan. Setelah dihantam krisis ekonomi global akhir 2008 pun, pertumbuhan ekonomi kita masih dapat bertahan di angka lebih dari 4%, sementara Malaysia dan Singapura mengalami pertumbuhan minus.

Ironisnya, ini bertolak belakang dengan kondisi kekuatan pertahanan kita, dimana anggaran untuk sektor pertahanan masih jauh di bawah kebutuhan minimum sekalipun. Menurut perhitungan terakhir, anggaran untuk dapat memenuhi minimum essential requirement pada sektor pertahanan adalah sekitar Rp 127 trilyun, sementara pada pagu sementara belanja negara tahun 2010 sesuai Surat Edaran Menteri Keuangan No: SE-1927/MK.02/2009, anggaran pertahanan dipatok hanya sebesar Rp 40,6 trilyun. Ini hanya 31,9% dari kebutuhan pokok minimum.

Selanjutnya, dalam beberapa tahun terakhir, yakni 2005 s/d 2008, walaupun secara nominal mengalami sedikit peningkatan, namun secara prosentase terhadap PDB maupun APBN, anggaran pertahanan terus mengalami penurunan. Ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada lingkungan strategis regional, dimana negara-negara tetangga kita sedang giat-giatnya membangun kekuatan pertahanan mereka dengan meningkatkan anggaran pertahanan secara agresif.


Prosentase anggaran pertahanan terhadap PDB & APBN untuk tahun 2005-2008 terus mengalami penurunan. Sumber: Departemen Pertahanan, Buku Putih Pertahanan 2008

Dengan anggaran pertahanan sebesar Rp 40,6 trilyun untuk tahun 2010, terdapat peningkatan sekitar 20,4% terhadap anggaran pertahanan tahun sebelumnya. Namun, sekali lagi, ini tetap belum cukup, dan masih jauh dari cukup.

Si Vis Pacem Para Bellum

Untuk itu, diperlukan kesadaran segenap komponen bangsa terhadap arti penting anggaran pertahanan negara yang memadai. Seharusnya lah, besaran anggaran pertahanan jangan semata-mata dikaitkan dengan potensi ancaman perang saja. Salah besar kalau kita beranggapan bahwa postur TNI yang tangguh dan disegani itu hanya berguna di masa darurat perang. Harus kita pahami bahwa kekuatan pertahanan akan berimplikasi langsung kepada nilai tawar dan kedudukan diplomatik negara di percaturan politik global. Negara yang kuat pasti akan disegani. Negara yang lemah pasti dilecehkan. Mau tidak mau, “hukum rimba” di percaturan politik internasional ini harus kita antisipasi secara cerdas dan terus-menerus, terlepas dari apakah lingkungan strategis kita sedang bersuhu “dingin” maupun “panas”. Bahkan, dapat dikatakan sangat terlambat apabila kita baru memperkuat pertahanan setelah lingkungan strategis regional kita “panas”, karena dalam keadaan seperti itu, sebagaimana yang telah terjadi pada Irak misalnya, negara lawan akan memberlakukan berbagai macam embargo & blokade untuk semakin melemahkan kita sebelum invasi itu sendiri dibuka.

Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat, selagi lingkungan strategis regional masih kondusif, perkuatlah kekuatan pertahanan. Pendek kata, bila kita tetap ingin diperhitungkan sebagai sebuah bangsa yang besar, maka kita harus berperilaku sebagai bangsa yang besar.

Negara dengan kekuatan pertahanan yang mumpuni pasti akan didengar suaranya dan diperhitungkan kepentingannya. Tidak akan ada negara yang berani mengganggu gugat kedaulatan kita, tidak akan ada negara yang berani menerbangkan pesawat tempurnya dengan angkuh dan semena-mena di wilayah kedaulatan kita, tidak akan ada negara yang berani menggeser-geser patok batas wilayah kita, seandainya Indonesia memiliki kekuatan pertahanan yang tangguh. Negara yang kuat otomatis memiliki daya tangkal terhadap segala macam ancaman, tantangan, halangan maupun gangguan, baik dari dalam maupun luar negeri. Daya tangkal ini, secara sadar maupun tidak sadar, suka atau tidak suka, dibutuhkan secara mutlak dan tak tergantikan bagi terselenggaranya pembangunan yang benar-benar ditujukan bagi kepentingan nasional.

Tanpa adanya daya tangkal ini, penyelenggaraan negara sangat rentan terhadap infiltrasi kepentingan asing. Lihatlah Timtim yang sudah lepas, lihatlah Sipadan & Ligitan yang sudah jatuh ke tangan Malaysia, semua itu terjadi karena kita tidak “bertaring” di meja perundingan internasional. Tidak ada yang takut dengan kita. Lalu lihatlah sekarang Ambalat yang terancam, lihat pula wilayah udara kita di Kepulauan Riau dan sekitarnya yang tetap di bawah kontrol FIR (Flight Information Region) Singapura betapapun kerasnya usaha & keinginan kita agar wilayah udara itu diserahkan kembali ke dalam FIR kita, lihat pula ancaman separatisme yang kerap ditunggangi kepentingan asing di Aceh, Papua maupun daerah lainnya. Kesemua ini adalah karena absennya national pride & dignity, harga diri & kewibawaan suatu bangsa, yang seharusnya ditopang dengan kekuatan pertahanan yang memadai. Si vis pacem para bellum, siapa yang ingin damai, harus memiliki kesiapan berperang.

“Kesiapan berperang” ini jangan dimaknai secara sempit sebagai keinginan untuk berperang. Justru kesiapan berperang inilah yang menjadi daya tangkal bagi setiap pihak di dalam maupun luar negeri yang berniat menggoyang kedaulatan bangsa agar mengurungkan niatnya. Sudah merupakan suatu keniscayaan bahwa apabila kita memiliki kesiapan perang yang tangguh, maka sudah pasti kandidat lawan akan membatalkan setiap niatnya untuk mengancam dan mengganggu kedaulatan kita.

2. Sejarah Berdirinya TANDEF

Atas dasar niat dan tekad untuk membangkitkan kepedulian setiap komponen bangsa terhadap pertahanan negara itulah, alumni SMA Taruna Nusantara yang tergabung dalam Ikastara (Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara) sebagai salah satu komponen bangsa yang merasa berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara mendirikan TANDEF (Think & Act for National Defense) pada tanggal 20 Agustus 2008.

Sebagai kilas balik, ide-ide mengenai perlu didirikannya suatu badan kajian pertahanan dalam Ikastara sudah bergulir sejak lama. Terlebih lagi, adalah fakta bahwa hampir sepertiga alumni SMA Taruna Nusantara adalah anggota TNI/Polri, dan adalah fakta juga bahwa seluruh alumni SMA Taruna Nusantara pernah menempuh Pendidikan Bela Negara semasa masih menjadi siswa/i SMA Taruna Nusantara di Lembah Tidar, Magelang. Wajar apabila alumni SMA Taruna Nusantara merasa terpanggil untuk turut berperan serta secara nyata dalam peningkatan kepedulian masyarakat terhadap pertahanan negara.

Dalam Musyawarah Nasional Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara tanggal 3 Agustus 2008 bertempat di Badiklat Dephan - Jakarta, saya selaku caretaker pembentukan Badan Semi Otonom (BSO) Kajian Pertahanan Ikastara menyampaikan rencana konkrit mengenai pembentukan suatu BSO Kajian Pertahanan yang diberi nama “Think & Act for National Defense”, atau pada waktu itu masih disingkat sebagai TANDES.

Pilihan untuk menggunakan nama berbahasa Inggris adalah untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa Indonesia juga memiliki anak-anak muda yang peduli terhadap pertahanan negara, dimana di tengah kesibukan dalam profesi mereka masing-masing, mereka mau dan mampu berpikir dan berbuat untuk pertahanan negara. Diharapkan, dengan demikian, timbul deterrence effect dalam kadar tertentu terhadap setiap kekuatan luar yang menganggap remeh kepedulian bangsa Indonesia terhadap pertahanan negaranya.

Sengaja pula digunakan kata perintah (think & act) dan bukan dalam bentuk thinking & acting. Ini dimaksudkan untuk mengajak segenap komponen bangsa yang membaca nama ini untuk turut tergerak berpikir dan berbuat demi pertahanan negara.

Dalam beberapa hari sejak awal hingga medio Agustus 2008, dilakukan pematangan pembentukan TANDES, pembentukan pengurus, pendaftaran anggota, serta pemantapan tujuan jangka pendek, menengah & panjang organisasi. Dalam upaya pematangan itulah, terdapat masukan dari pengurus TANDES agar singkatan TANDES diubah menjadi TANDEF, mengingat terdapat kesamaan nama TANDES dengan sebuah nama daerah di Surabaya, sehingga dikhawatirkan akan timbul kerancuan di kemudian hari.

Pada tanggal 20 Agustus 2008, situs TANDEF resmi diluncurkan, menandai resmi pula berdirinya TANDEF. Pada hari yang sama, Ikastara sedang memberikan pelatihan komputer gratis di Departemen Pertahanan, sekaligus memperkenalkan secara sekilas tentang TANDEF kepada Menteri Pertahanan, Dr.Juwono Sudarsono.


Jajaran Pengurus Pusat Ikastara berfoto bersama Menteri Pertahanan, Dr.Juwono Sudarsono, dalam kesempatan pelatihan komputer gratis oleh PP Ikastara di Departemen Pertahanan, 20 Agustus 2008, sekaligus memperkenalkan TANDEF kepada Menteri Pertahanan.

Menteri Pertahanan berkesempatan berkunjung ke situs TANDEF dalam acara yang sama, 20 Agustus 2008.

3. Visi & Misi TANDEF

Visi:

Mencita-citakan terwujudnya kesadaran moral akan pentingnya bargaining power yang kuat dalam lingkungan strategis regional maupun internasional, didukung oleh kekuatan pertahanan yang tangguh demi terjaminnya keberlangsungan negara dari setiap ancaman, tantangan, halangan maupun gangguan, dari dalam maupun luar negeri.

Misi:

  1. Mewujudkan kondisi "melek pertahanan" (defense awareness), dimana segenap komponen masyarakat Indonesia memiliki pemahaman yang memadai terhadap permasalahan pertahanan negara serta meyakini bahwa kekuatan pertahanan yang tangguh dan berdaya tangkal merupakan suatu kebutuhan mutlak demi terjaganya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. Mendorong terciptanya kebijakan yang berpihak kepada peningkatan kemampuan pertahanan negara sehingga mencapai taraf yang memiliki daya getar strategis (strategic deterrent force) sehingga Indonesia dihormati dan disegani dalam lingkungan strategis regional maupun global.
  3. Menstimulir setiap warga negara untuk turut berperan serta secara proaktif dalam setiap usaha pembelaan negara dalam kerangka Sistem Pertahanan Semesta yang terencana secara konsisten, sistematis dan terukur.

4. Kegiatan TANDEF

  • Diskusi berkala dengan menghadirkan narasumber dari berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan masalah pertahanan, guna mewujudkan kondisi “melek pertahanan” di antara anggota TANDEF.
  • Diskusi online di forum maupun mailing list secara kontinyu & progresif guna mengasah kemampuan berpikir demi pertahanan negara.
  • Mendorong para anggotanya -yang dengan latar belakang disiplin ilmu dan keahliannya masing-masing- untuk aktif menulis serta melakukan kegiatan publikasi opini di situs TANDEF serta media massa.
  • Menjalin sinergi dengan berbagai institusi pemerintah dan organisasi masyarakat guna memperluas jaringan & wawasan.
  • Melakukan sosialisasi TANDEF agar ide-ide TANDEF dapat sampai kepada masyarakat luas.

5. Serba-Serbi Pencapaian TANDEF 2008-2009

  1. Terhitung sejak 20 Agustus 2008 hingga 31 Juli 2009, situs TANDEF telah memuat sebanyak 167 tulisan (55 tulisan (33%) di antaranya ditulis oleh anggota TNI/Polri, dan sisanya oleh sipil dengan berbagai latar belakang profesi dan keahlian).
  2. Dengan 167 tulisan antara 20 Agustus 2008 s/d 31 Juli 2009 (346 hari), maka situs TANDEF rata-rata memperoleh 1 tulisan setiap 2,07 hari.
  3. Menurut statistik statbrain.com per 31 Juli 2009, situs TANDEF mendapat rata-rata 1.521 kunjungan setiap harinya.
  4. Menurut statistik alexa.com per 31 Juli 2009, situs TANDEF berada pada peringkat ke-756.126 dari ratusan juta situs di dunia.
  5. Tulisan-tulisan yang paling banyak dibaca di situs TANDEF adalah sbb:



  6. Per 31 Juli 2009, situs TANDEF beranggotakan 531 users dari kalangan TNI/Polri & sipil.
  7. Mailing list TANDEF beranggotakan 275 users dari kalangan TNI/Polri & sipil (untuk anggota sipil, demi kemudahan identifikasi, dibatasi hanya kepada alumni SMA Taruna Nusantara).
  8. Jumlah posting anggota di mailing list TANDEF mengalami fluktuasi sesuai perkembangan diskusi berbagai topik aktual di masyarakat.



    6. Penutup

    Menjelang 64 tahun Indonesia merdeka dan 1 tahun berdirinya TANDEF ini, besar harapan kami agar ke depannya TANDEF dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam upaya peningkatan kekuatan pertahanan negara.

    TANDEF memerlukan banyak masukan, arahan dan petunjuk dari senior-senior di TNI/Polri maupun sipil guna mengoptimalkan upaya berpikir dan berbuat demi pertahanan negara kita tercinta ini.

    Akhir kata, izinkan kami mengutip ucapan Panglima Besar Jenderal Soedirman di Yogyakarta, 12 Nopember 1945: “Bahwa negara Indonesia tida’ tjoekoep dipertahankan oleh tentara sadja, maka perloe sekali mengadakan kerdjasama jang seerat-eratnja dengan golongan serta badan-badan di loear tentara.” serta Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 30 (otentik) yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.

Gutlak...

Mantab...bole donk minta game fleet command?aku dah cari kemana2 ga dapet ni!!plizzz..