Menyambut Lengsernya Mubarak dan Kemenangan Hamas

dea21's picture

Oleh: Dwi Eka A., Kontributor TANDEF

Memasuki hari ke-19 agresi Israel ke Jalur Gaza, Palestina sejak 27/12/2008, tak kurang 1.000 orang gugur di antaranya anak-anak dan wanita, sedangkan 4.300 lainnya luka-luka. Meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan Resolusi No.1860/2009, tetap saja Israel tak kunjung menghentikan serangannya. Bahkan cakupan penyerangan semakin gencar dan luas.

Resolusi No 1860 didukung 14 anggota Dewan Keamanan PBB (Austria, Burkina Faso, Kosta Rika, Kroasia, Jepang, Libya, Meksiko, Turki, Uganda, Vietnam, China, Prancis, Rusia, dan Inggris), sedangkan AS adalah satu-satunya anggota yang memilih abstain. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice—saat menyampaikan pertimbangan sebelum menyampaikan suara negerinya—mengatakan sepenuhnya mendukung resolusi tersebut, tetapi memilih abstain karena merasa sangat penting melihat hasil dari mediasi yang dilakukan Mesir terlebih dulu.

Israel sama sekali tak mengindahkan sejumlah aturan internasional mengenai tata cara berperang, seperti menyerang penduduk sipil, wartawan, pekerja sosial, medis, sarana ibadah, rumah sakit, kamp pengungsi, dan menggunakan senjata kimia yang dilarang.

Aksi solidaritas untuk warga Gaza dan kecaman terhadap Israel terus membahana tanpa henti di seluruh dunia, tak terkecuali di Inggris dan Amerika Serikat yang notabene pendukung Israel tanpa batas waktu. Mereka menuntut agar Israel segera menghentikan agresinya dan membawa Israel ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.

Agresi Israel memperlihatkan dunia yang sungguh-sungguh aneh, seluruh negara di dunia tak terkecuali PBB tak bisa menghentikan penyerangan. Tak terkecuali negara-negara Arab di sekelilingnya hanya bisa ternganga, tercengang, berpangku tangan, tak bisa berbuat banyak, padahal penduduk Gaza tak lain suku bangsanya sendiri yang dibantai oleh musuh sejati mereka.

Mesir Kunci Masalah

Blokade dan boikot tak hanya berlaku bagi warga Gaza oleh Israel, Mesir mempunyai peranan besar sebagai negara yang paling bertanggung jawab atas semakin meningkatnya korban perang.

Dalam peraturan internasional seharusnya Mesir membuka perbatasan seluas-luasanya kepada penduduk Gaza yang memerlukan bantuan medis dan kemanusiaan. Namun, apa yang dilakukan Mesir justru sebaliknya, bahkan mengancam siapapun yang melintasi perbatasan diperlakukan sebagai musuh atau teroris yang pantas ditembak.

Perlakuan yang sama dialami oleh warga negara lain yang ingin memasuki wilayah Mesir, tak terkecuali warga negara Indonesia yang bermaksud menyalurkan bantuan kemanusiaan dari tanah airnya. Pemerintah Mesir memperlakukan mereka bukan layaknya sebagai tamu negara yang seharusnya mendapat pelayanan dan penghormatan, melainkan sebaliknya yang justru dilecehkan.

Belum lagi aksi solidaritas untuk penduduk Gaza yang dilakukan oleh warga negara Mesir sendiri justru mendapat perlakuan represif dari aparatnya. Peristiwa demontrasi berdarah yang berujung pada penangkapan besar-besaran para aktivis di salah satu mesjid kampus Al-Azhar, Kairo pekan lalu memperlihatkan bukti arogansi pemerintah Mesir.

"Jika Palestina kalah, ini adalah kekalahan bangsa Arab dan Mesir penyebab utama kekalahan ini" ujar Kolonel, Bozini Daraji, veteran Aljazair.

Hosni Mubarak Lengser

Respon bertubi-tubi dari Turki, Iran, Sudan, Qatar, Venezeula, maupun Indonesia dan puncaknya desakan agar Organisasi Konferensi Islam (OKI) segera melakukan sidang darurat, membuat rakyat Mesir reaktif untuk bersama menggalang kekuatan menggulingkan rezim Hosni Mubarak yang senantiasa membungkam aspirasi rakyatnya.

Indikasi ketidak puasan terhadap pemerintah mulai menyebar luas di penjuru Mesir hingga menyisakan kota Kairo yang masih bungkam. Segenap ulama bahkan telah menyerukan penduduk Mesir untuk bangkit bersama membebaskan Gaza dari cengkraman Israel.

Kemenangan Hamas

Tanda-tanda kemenangan Hamas dan perlawanan Palestina sudah semakin jelas, meski telah memasuki pekan ke-3, mereka mampu bertahan bahkan semakin hebat membalas agresi barbar Israel melalui udara, laut dan darat. Kondisi ini menunjukkan kegagalan Israel mengambil langkah militer untuk menundukkan Hamas dan posisi Israel semakin terpojok.

Keputusan melakukan penyerangan sebagai opsi bodoh yang diyakini sebagai bentuk kampanye menaikan simpati dan popularitas salah satu partai berkuasa di Israel untuk memenangkan pemilihan umum Februari 2009 mendatang.

Kini 7 juta penduduk Israel berada dalam bayang-bayang ketakutan dan jauh dari rasa aman, karena tak satu pun wilayahnya tak lagi aman dari jangkauan roket perlawanan.

Menghapuskan Penjajahan

Teman saya sangat kesal saat mendengar komentar beberapa saudara kita yang masih mempertanyakan pentingnya memperhatikan nasib penduduk Palestina khususnya penduduk Gaza. “Apa sih yang dapat kita lakukan untuk mereka, sia-sia dan buang waktu saja, mending ngurusi persoalan yang lebih penting di dalam negeri,” ujar oknum.

Apa yang dialami rakyat Palestina sejatinya adalah bentuk penjajahan, sejak tahun 1948 rakyat Palestina tak dapat hidup merdeka dan selalu dalam cengkeraman kekejaman Israel.

Seorang Ali (9 tahun) dan adiknya Zakiah (4 tahun) yang kini tinggal di kamp pengungsian di perbatasan Libanon yang dalam pengawasan pasukan PBB tak punya masa depan, tak ada jaminan ketersediaan makanan, apalagi pendidikan. Identitas mereka tak jelas dan tidak ada negara yang dapat mengekstradisi nasib mereka.

Nasib yang sama bagi ribuan pengungsi Palestina di perbatasan Yordania, mereka berdiam di kamp dengan kondisi tenda maupun bangunan asal jadi yang sangat memprihatinkan sejak tahun 1967. Keberadaan pengungsi ini dirahasiakan dan dalam pengawasan pihak militer. Setiap pengunjung atau siapa saja yang berempati harus mendapat izin yang ketat dari militer setempat.

Sementara warga Palestina yang kini menjadi pekerja kasar di Yordania yang melakukan demontrasi solidaritas atas saudaranya di Gaza di depan Kedubes Israel di Amman mendapat aksi represif. Aksi mereka disambut dengan rentetan senjata api yang menimbulkan korban jiwa. Media setempat atau organisasi kemanusiaan bungkam atas kekejian Israel, seolah rakyat Palestina di manapun berada tidak diakui keberadaannya dan boleh dibunuh tanpa berujung pengadilan.

Hal yang sama ketika negeri kita dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, berbagai bentuk perlawanan dianggap sebagai aksi ekstrimis atau terorisme. Namun para pahlawan kita seperti Jenderal Soedirman, Bung Tomo, Cut Nyak Dhien, maupun Diponegoro tak kenal henti melakukan perlawanan, rakyat Indonesia bersatu mengusir penjajah dengan semboyan “merdeka atau mati”. Sejumlah pertempuran melawan penjajah berkobar di mana-mana, baik gerilya atau terbuka. Peristiwa Sepuluh November di Surabaya, Bandung Lautan Api atau Pertempuran 11 Maret menjadi bukti sejarah yang tak terlupakan.

Tapi apa reaksi negara-negara lain di penjuru dunia saat itu kepada pemerintah Belanda? Mereka menganggap pembunuhan, kerja paksa, penjara, dan pengasingan para pejuang dianggap legal dan tak ada satu negarapun yang menganggap Belanda bersalah dan layak disebut penjahat perang yang dapat dituntut dan dihukum dalam mahkamah internasional, sebelum Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.

Apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina tak jauh beda, mereka menyetir pers dunia dan melakukan kebohongan publik yang mengecam Hamas dan perlawanan Palestina sebagai aksi teroris yang harus dilenyapkan dari muka bumi karena telah meluncurkan roket ke wilayahnya. Road show Menteri Luar Negeri Israel Tzivi Livni, ke sejumlah negara Timur Tengah dan negara-negara di Afrika termasuk Mesir sebelum agresi ke Gaza menunjukkan politik diplomasi kotor berlangsung. Mereka menutupi realitas jikalau aksi perlawanan sebagai akibat isolasi berkepanjangan, blokade dan embargo ekonomi Israel, AS, Inggris dan sekutunya sejak Hamas menang dalam pemilu paling demokratis dalam sejarah Palestina.

Kampanye opini Livni pun merebak dan merasuk ke Indonesia, beberapa politikus tanpa dosa berkoar jika masalah sesungguhnya dari konflik ini adalah Hamas, opini yang sesat. Saat teman-teman melakukan aksi di berbagai daerah justru mendapat tekanan dari oknum saudara-saudara kita, aneh bangsa yang punya UUD 1945 yang dalam mukadimahnya mencantumkan, “… Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan…

Wajar ketika Hugo Chaves, Presiden Venezeula, sesaat setelah mengusir Dubes Israel, Shlomo Cohen dari Karakas, mengganggap sikap dunia yang aneh. "Betapa pengecutnya Tentara Israel. Mereka menyerang penduduk yang lemah , sedang tidur, tidak bersalah dan mereka berdalih bahwa mereka membela rakyat mereka," ujarnya.

"Mereka menuduh (presiden Iran) Mahmoud Ahmadinejad bertanggungjawab atas genosida tetapi tidak ada sepotong bukti pun ia menginvasi siapapun. Venezuela tidak menduduki daerah manapun. Mereka menuduh (pemimpin Kuba) Fidel Castro seorang yang kejam dan seorang pembunuh," kata Chavez tentang beberapa sekutunya.

Tapi pendudukan Israel ke bumi Palestina dan rangkaian pembantaian nyata, tak ada yang berkoar jika Israel melakukan genosida dan penjahat perang. Benar-benar dunia yang aneh.

Peran Masing-Masing Pihak

Saat Resolusi PBB tidak mampu menghentikan agresi Israel, karenanya sidang darurat OKI menjadi alternatif yang memungkinkan bersatunya negara-negara Arab untuk membantu membebaskan Gaza.

Mestinya pemerintah Indonesia melakukan tak hanya lobi khusus agar sidang darurat OKI yang agendanya membahas kondisi Gaza segera terealisasi. Pemerintah juga hendaknya menggunakan multi diplomasi dengan melibatkan seluruh potensi yang ada di negeri ini, meliputi :

Pertama, diplomasi militer; persoalan Palestina kaitannya dengan pertemuan dua kekuatan militer yang tidak berimbang antara Pasukan Israel dan Perlawanan Palestina, dalam hal ini butuh dukungan moril maupun fisik dari militer Indonesia.

Kedua, diplomasi kemanusiaan; ribuan jumlah korban yang meninggal dan luka-luka diperlukan pengiriman relawan kemanusiaan dalam jumlah signifikan baik medis maupun bantuan pangan yang mewakili pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi masyarakat (ormas), dan pelibatan seluruh elemen masyarakat.

Ketiga, soft diplomasi; Palestina adalah negeri jajahan Israel, cara ini diperlukan untuk mendorong PBB mengeluarkan resolusi pembebasan Palestina dari jajahan Israel.

Pemerintah pun tak lantas berpangku tangan, dalam cengkraman ketakutan dan tidak membuka pintu bagi masyarakat yang ingin berperan secara langsung dengan kemudahan pengurusan visa. Jika selama ini pemerintah terhambat dengan soft diplomasi melalui jalur Departemen Luar Negerinya dalam melobi PBB, diharapkan pendekatan multi diplomasi dapat mengatasi krisis Gaza.

Sebaiknya, Deplu memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berkontribusi meski sangat besar risikonya. Toh... jika rakyat siap mengapa harus dihalangi?

Berikutnya mendorong negara-negara yang beririsan langsung dengan Gaza seperti Mesir agar lebih berperan aktif membuka perbatasan, apapun risikonya. Lebih lanjut Mesir menutup terusan Suez dan menghentikan suplay minyak ke Israel, sedangkan Turki menghentikan pengiriman air bersihnya. Langkah ini selain lobi dari para pimpinan negara maupun ulama, masyarakat di seluruh dunia pun diminta beraksi terus menerus hingga Hosni Mubarak lengser dari kursi Presiden Mesir. Karena Mubarak termasuk dalam bagian orang yang paling bertanggung jawab terhadap penderitaan warga Gaza.

Mesir diharapkan membuka seluas-luasnya dan mempermudah pengurusan visa terhadap setiap negara yang bermaksud menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui jalur Rafah.

Himbauan kepada Yordania agar memperlakukan pengungsi Palestina lebih manusiawi dan mengevaluasi militernya yang bertindak di luar peri kemanusiaan terhadap rakyat Palestina.

Selanjutnya melakukan aksi boikot secara sukarela terhadap produk-produk Israel dan sekutunya. Boikot adalah cara bijak untuk memutus mata rantai dan suplai pendanaan kepada Israel. Terbukti cara ini pernah sukses, ketika Denmark rugi jutaan USD akibat aksi boikot sehingga pengusaha di negaranya bersikap terhadap pemerintah.

Proses pendidikan dan pencerdasan politik oleh media masa Indonesia, maupun masyarakat terpelajar kepada setiap warga negara akan informasi yang akurat, benar, dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini pemerintah memberikan kebebasan seluas-luasnya dan pemilihan informasi yang tepat, sehingga tidak ada lagi pro dan kontra opini publik dalam menggalang dukungan pada pembebasan Palestina.

Jika MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan presidennya telah menginstuksikan membantu Palestina, mengapa perangkatnya tidak serta merta ikut mensukseskannya? (dea)

Pengungsi Palestina di Lebanon

Mbak, mau berbagi saja tentang mengapa pengungsi Palestina di Lebanon diawasi. Ada 2 alasan; pertama, tanggung jawab PBB salah satunya adalah untuk mengurusi pengungsi. kedua, dalam bidang keamanan, ancaman pengeboman dan penculikan di lebanon sering keluar dari kamp-kamp pengungsi tersebut. makanya, pengungsi2 itu selalu diawasi dan (juga) tidak boleh membangun bangunan permanen. hal ini sebagai langkah antisipatif dan preventif. silahkan cek berita2 tentang siapa sebenarnya yg meluncurkan roket dari lebanon selatan ke israel akhir2 ini. makasih.

Mas, sebab mereka di Lebanon

Mas, sebab mereka di Lebanon juga masih suffer, jobless, without future shg sikap ekstrem dan rasa diperlakukan tidak adil tidak akan pernah hilang.

Penanganan refugeepun perlu dibenahi meskipun untuk menangani warga Lebanon sendiri pemerintahnya masih belum optimal. Seyogyanya dengan dana yang ada, UN lebih memberikan kesempatan peningkatan SDM refugee terutama pada level anak2 shg kedepan mereka bisa independent.

silahkan anda belajar lagi

silahkan anda belajar lagi disana biar analisanya lebih tajam..

Man on War

Ada perubahan kosmik yang menyebabkan manusia sudah gamang menentukan pilihan... Terutama dalam hal baik dan buruk. Ketika kebutuhan menjadi keinginan lalu berubah menjadi nafsu maka manusia akan sama seperti hewan..Hanya berbeda bentuk dan kemampuan..Sungguh menjadi seram dunia ini....Dunia tinggal menunggu waktu menuju Perang Dunia III...semoga indonesia tidak terjebak di tengahnya

Great views

Mba, 4 thumbs up for the views. Sangat current dan sangat berani. Though akan lebih menarik kalo didukung dengan beberapa referensi yang menguatkan beberapa pernyataan mba.

Insya Allah secara individual muslim kita tidak akan pernah rela saudara kita dibantai dan ditindas. Meski kita tak sanggup mengangkat senjata, kita masih bisa memohon kepada Allah untuk menunjukkan Kuasa-Nya serta memberi bantuan moril dan materiil secara pribadi.

Perang tanpa ujung yang over exposed dan meng-Infeksi dunia

Sudah lama saya ingin berkomentar soal Perang Israel - Palestina (atau Hamas ??) yang sedang hangat dibicarakan ini. Bagi saya inilah salah satu contoh bagaimana perkembangan teknologi dan informasi bisa membuat sesuatu yg bersifat lokal mempengaruhi masyarakat sedunia dan bahkan mengubah wajah dunia.

Eksploitasi 'informasi' dalam maupun akibat perang ini nampaknya tidak saja sudah menciptakan opini, namun juga berbagai gerakan luas dalam segala bidang. Kemudahan informasi dimanfaatkan, bahkan kadang diputarbalikkan oleh berbagai pihak untuk mendukung opininya atau aksinya.

Inilah sebabnya menurut saya perang ini sudah semakin absurd! Terlepas dari alibi masing-masing pihak, kemudahan, kebebasan dan exploitasi informasi perang ini telah mengakibatkan banyak daerah atau bahkan negara lain berada ribuah kilometer dari lokasi perang namun terinfeksi oleh 'perang saudara' ini. Suatu hal yang mungkin tidak ditemukan saat kita sedang berjuang merebut kemerdekaan waktu itu.

Salah satu opini yang saya kutip dari tulisan diatas misalnya:
"Jika Palestina kalah, ini adalah kekalahan bangsa Arab dan Mesir penyebab utama kekalahan ini" ujar Kolonel, Bozini Daraji, veteran Aljazair.
Opini ini tidak mungkin kemudian berkembang menjadi 'Jika Palestina kalah, ini berarti kekalahan umat Islam' dan seterusnya dan seterusnya ...

Jika opini2 serupa ini yang dieksploitasi, maka tak diragukan bahwa perang ini telah menjadi sebuah 'virus' yang sedang ditularkan dengan sengaja ke seluruh dunia, dan menarik orang2 atau pihak yang tadinya tidak terlibat menjadi ikut perang atau bahkan ikut-ikutan jadi korban.

Bagi saya opini2 seperti itu hanya menggambarkan dengan jelas bahwa manusia itu bersedia melakukan apa saja demi mencapai kepentingannya, kadang tanpa berpikir panjang mengenai arti kemanusiaan yang sebenarnya itu sendiri secara luas.

Infeksi perang Israel - Palestina secara tidak sadar sudah mulai meluas ke berbagai negara. Salah satu contoh infeksi yang mulai terjadi adalah aksi vandalisme yg mewarnai demonstrasi. Dari sebuah media di Perancis misalnya, dimuat berita bahwa aksi solidaritas pro Palestina bbrp waktu yg lalu sempat memakan korban seorang gadis yahudi berumur 14 thn menjadi korban kekerasan oleh massa dalam aksi tersebut. Terlepas yg menjadi korban adalah bangsa yahudi atau palestina, rasanya hal-hal spt ini seharusnya tidak perlu terjadi.

Membalas kekerasan dengan kekerasan rasanya bukanlah sebuah prinsip kemanusian yang sejati maupun dapat menghasilkan sesuatu!

Aksi boikot produk dari negara tertentu, misalnya. Aksi ini menurut saya juga merupakan bentuk infeksi dari perang tersebut, yang mengatasnamakan solidaritas dan kemanusian namun melupakan sisi kemanusian lainnya akibat dari terancam runtuhnya roda perekonomian negara tersebut.

Harusnya kita mencari solusi atau bentuk aksi kemanusian dan solidaritas yang lebih baik, tepat sasaran dan terfokus tanpa menjebak diri baik secara individu, kelompok maupun sebagai bangsa ke dalam konflik yang tidak jelas dan merugikan bangsa kita sendiri.

Tokh seharusnya juga kita ingat bahwa kita masih punya 'Seorang Hakim Agung yang Maha Tahu dan Maha Adil' diatas sana. Daripada saling menghujat dan melempar atau bahkan saling bunuh, kenapa tidak kita serahkan saja persoalan 'antar saudara' ini ke hadapan-Nya (dalam berbagai media ibadah atau doa) misalnya?

Ataukah kita sudah mulai tak percaya dan lupa dengan keberadaan-Nya atau kemampuan-Nya atau kedasyatan-Nya dalam menyelesaikan atau mengambil tindakan sehingga kita berusaha jadi Hakim di dunia ini dengan mengatasnamakan kemanusiaan?

Semoga saja tidak!

Terlepas dari itu, hal ini menggambarkan dengan gamblang bahwa negara harus memiliki suatu sistem pertahanan informasi/media yang baik, sistematis dan kuat agar mampu mengantisipasi akibat dari infeksi 'virus' dari luar, karena jika tidak, kita harus bersiap2 runtuh secara tak terduga hanya akibat 'terinfeksi' oleh eksploitasi media.
Terutama terhadap 'virus-virus' seputar ras atau agama, karena selain kedua jenis virus tersebut adalah yg paling mudah diangkat dan menarik banyak solidaritas karena sampai sekarang nampaknya masyarakat secara umum masih sensitif terhadap dua isu tersebut.

--------------------- steve jm / arsitek

Solidaritas Manusia terhadap Manusia

Bang Steve,

Izin komentar Bang...

  1. Frekuensi ekspos & tayang media terhadap serangan Israel ke Gaza memang besar, tapi saya rasa itu tidak bisa dikatakan over-exposed. Justru itulah peran media yang seharusnya, menyampaikan berita tentang apa yang terjadi se-real time mungkin, secara hari per hari, jam per jam, menit per menit, atau bahkan detik per detik. Adalah fakta bahwa serangan Israel itu berlangsung lebih dari 20 hari x 24 jam tanpa henti (dikurang 3 jam untuk truce harian bila itu memang benar2 dilaksanakan oleh Israel). Sesuatu kejadian besar yang oleh Sekjen PBB dan banyak pemimpin negara dunia pun dinyatakan sebagai sebuah tragedi kemanusiaan luar biasa (selengkapnya saya kutipkan di bawah nanti) dan ini terjadi lebih dari 20 hari x 24 jam tanpa henti, tentunya wajar bila diliput dan dilaporkan selama hampir 24 jam tanpa henti pula. Ini juga terjadi pada Perang Teluk I & II, dsb. Justru aneh kalau laporannya hanya 1 hari sekali, karena laporan yg demikian tidak akan bisa responsif terhadap perkembangan terkini di lapangan.

  2. Berikut ini adalah sikap beberapa pemimpin dunia terhadap serangan Israel ke Gaza:
    (Sengaja, tanggapan dari para pemimpin negara Arab tidak saya masukkan di sini karena pasti akan ada yang bilang mereka tentunya berpihak kepada pihak Palestina. Sengaja saya kutip hanya sikap dari pihak yang selama ini dianggap oleh sebagian besar kalangan sebagai pihak yang netral bahkan bersahabat dekat dengan Israel.)

    1) INDIA (selama ini sahabat dekat Israel di bidang perdagangan, teknologi, pengembangan berbagai macam alutsista, dll)

    "The retaliation by Israel (to what was called Hamas rocket attacks) was not only disproportionate, but totally unacceptable," Indian Foreign Minister Pranab Mukherjee told reporters in Kolkata.

    2) PBB

    On Monday, Ban again condemned "the excessive use of force by Israel," expressing profound sadness at the suffering to civilians, especially children, and demanding that both side "halt their acts of violence and take all necessary measures to avoid civilian casualties."

    3) Perancis

    French President Nicolas Sarkozy "strongly condemned the provocation that led to this situation and the disproportionate use of force," according to a statement Sunday from the Elysee Palace.

    The French government late Saturday sharply criticized Israel's military operation in the Gaza Strip, saying it complicated peace efforts.
    "France condemns Israel's ground offensive against Gaza just as it condemns the continued rocket attacks" by Hamas against Israel, the French Foreign Ministry said in a statement.

    4) RRC

    Chinese Foreign Minister Yang Jiechi on Monday condemned Israel for massive air strikes on Gaza Strip and said China is shocked by the human tragedy.

    Vehemently condemning the massive air strikes on Gaza by Israel, the Chinese foreign minister said that his country is concerned about the humanitarian crisis in Gaza and called for halt to Israeli raids.

    5) Cuba

    The Cuban government said in a statement on Sunday, published by the Cuban media, that it was an act of genocide on the part of the Israeli government, and it violates most principles of International Law and the Charter of the United Nations.

    6) Venezuela

    The Venezuelan government expressed its "solidarity with the Palestine people" and accused the government of U.S. President George W. Bush of being the "only accomplice" of the Israelis.
    Venezuela also expressed its "deep indignation" and described the attacks as "criminal." It urged the United Nations to "use its authority, and to enforce resolutions in favor of the Palestinian people and against the Israeli government's violence."

    7) Argentina

    Argentina's Foreign Ministry, in a statement, called for more talks, and expressed "its deepest sorrow against the violent acts, which once again had plunged the Middle East and Gaza Strip into mourning."

    Argentina demanded Israel "stop the bombing" and "permanently preserve and allow the normal flow of supplies and other services to meet the urgent needs of the people in Gaza."

    8) Nicaragua

    Nicaraguan President Daniel Ortega demanded on Sunday the Israeli government stop its "criminal acts" in Gaza.

    "I want... to ask the international community to make all necessary efforts to stop the criminal acts of the Israeli government against the suffering Palestinian people," Ortega said in a statement.

    9) Chili

    On Saturday, Chile's President Michelle Bachelet strongly" condemned the attacks expressed her deep concern about the violence in the region, while the Brazilian government urged Israel and Palestine's Hamas to stop the hostilities and start a dialogue.

    Masih banyak yg lain, dan tentunya tidak akan mungkin kalau kita kutipkan semua di sini.


  3. Solidaritas banyak penduduk dunia terhadap penduduk Gaza adalah solidaritas manusia terhadap manusia.
    Kebrutalan, keganasan dan kekejaman serangan Israel ke Gaza ini tidak hanya sekedar klaim sepihak kelompok muslim/Arab semata, namun sebagaimana dikutip di atas, diakui oleh komunitas dunia. Sehingga, wajar apabila hampir tiap hari terjadi demonstrasi menentang agresi Israel ke Gaza di berbagai belahan bumi, entah itu di Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, Asia, dan bahkan di Amerika Serikat sendiri. Yang terlibat dalam demonstrasi pun sudah beragam, ada yang muslim, ada yang nasrani, buddha, atheis, dan bahkan dari kalangan yahudi sendiri pun.
    Jadi, aneh kalau kita malah bersikap cuek bebek saja. Kita ini adalah bagian dari komunitas masyarakat dunia. Kita punya hak untuk menyatakan protes & ketidaksetujuan kita terhadap terjadinya tragedi kemanusiaan yang terjadi di belahan bumi manapun.

    Lha wong Green Peace saja rajin menyuarakan protesnya terhadap pemburuan Ikan Paus yang entah di ujung samudera mana, mosok kita cuek bebek saja terhadap “pemburuan” manusia di Gaza sana?


  4. Ekses dari demonstrasi itu tentu ada. Namanya juga manusia. Ini dapat terjadi dalam demonstrasi di negara manapun, tentang topik permasalahan apapun, dan oleh siapapun. Contohnya, demo menentang kenaikan BBM beberapa waktu lalu di Jakarta. Tapi, secara umum, demo menentang agresi Israel ke Gaza kali ini relatif tertib, bahkan bila dibandingkan dengan demo menentang kenaikan BBM di Jakarta beberapa waktu lalu sekalipun. Kita tidak bisa menjadikan berita tentang adanya seorang gadis Yahudi yang menjadi korban dalam demo di Perancis sebagai alasan penafian atau bahkan kondemnisasi terhadap demo menentang Israel di seluruh dunia ini. Oknum yang berbuat itu yang harus ditindak, bukan pelaku demo secara keseluruhan di berbagai belahan dunia.

  5. Abang mengatakan: “Inilah sebabnya menurut saya perang ini sudah semakin absurd! Terlepas dari alibi masing-masing pihak, kemudahan, kebebasan dan exploitasi informasi perang ini telah mengakibatkan banyak daerah atau bahkan negara lain berada ribuah kilometer dari lokasi perang namun terinfeksi oleh 'perang saudara' ini. Suatu hal yang mungkin tidak ditemukan saat kita sedang berjuang merebut kemerdekaan waktu itu.”

    Tapi, perlu diketahui bahwa gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. M. Zein Hassan Lc.Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

    Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini –mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia: ".., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan 'ucapan selamat' mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan 'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut kami sebar-luaskan, bahkan harian "Al-Ahram" yang terkenal telitinya juga menyiarkan."

    Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat di negeri ini. Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia .."

    Dukungan mengalir setelah itu. Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi sebagai pernyataan dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah.

    Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu. Yang mencolok dari gerakan internasional itu adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 Juli 1947, yakni pada tanggal 9 Agustus nya. Saat kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah tiba di Port Said, Mesir, ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih –tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Bagaimanakah rasanya saat melihat bendera kita dikibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh sebagai tanda solidaritasnya?

    Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan: "Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. Mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu ke jurusan lain."

    Itulah bentuk solidaritas manusia terhadap manusia lainnya. Kita ini bagian dari masyarakat dunia. Kita ini bukan negara yang hidup sendirian, terpencil di kepulauan Nusantara ini saja. Kesusahan yang menimpa tetangga kita di luar sana, baik di tetangga dekat maupun tetangga jauh kita, adalah kesusahan kita juga. Itulah persaudaraan manusia.

Demikian dari saya Bang. Mohon maaf bila ada salah kata. Terimakasih atas perhatian & tanggapan Abang.

Solidaritas yang Proporsional

Saya menilai over exposed lebih kepada bagaimana berbagai pihak 'mengelola' informasi yang ada, bukan kepada substansi atau kegiatan perangnya sendiri.

Jujur saja berdasarkan pengalaman pribadi, saya termasuk orang yg tidak begitu percaya dengan media, apa pun bentuknya!

Banjir musiman yang sering terjadi di Jakarta mungkin bisa jadi contoh yg sepadan, mengingat waktu terjadinya pun selama berhari hari dan 24 jam sehari.
Bagi saya kadang banjir ini pun jadi exploitasi berlebihan media informasi, yang membawa dampak sangat luas dan besar tanpa diduga-duga. Saat banjir bbrp waktu lalu misalnya, seorang rekan bisnis saya sempat membatalkan rencana perjalanannya ke Jakarta hanya karena ia melihat liputan sebuah TV internasional ttg banjir tsb. Rekan saya pikir seluruh Jakarta kondisinya ya seperti itu. Dampaknya, seluruh rencana bisnis yang diatur jadi bubar dan banyak kerugian yang harus ditanggung.

Banyak contoh lain bagaimana sebuah kejadian baik perang maupun bencana yg kadang mengalami bias yang sedemikian rupa karena over exposed.
Contoh kasus lain adalah Rekonstruksi Aceh Pasca Tsunami. Informasi yang diexposed oleh media tak jarang sangat berbeda dengan Fakta di lapangan.

Dalam setiap kejadian ada Fakta dan Informasi, dimana ini adalah dua hal yang berbeda. Dengan perkembangan teknologi yg sedemikian rupa, yang sering terjadi Informasi yg disampaikan tiba-tiba bisa berubah seakan-akan menjadi Fakta. Transformasi inilah yang harus diwaspadai dan saya kategorikan sebagai virus.

Kembali ke persoalan Palestina - Israel, bagi saya persoalan 'antar saudara' ini seharusnya bisa diselesaikan sedari dulu, namun sampai detik ini persoalan ini malah meluas dan melebar kemana-mana karena berbagai sebab dan tujuan.
Masing-masing pihak sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berdamai dan mencari solusi, tapi kenapa masih perang terus ya?

Kecurigaan saya, jangan-jangan keduanya memang tidak ingin berdamai dan hidup tentram!
Aneh? Masa sih ada orang atau bangsa yang tidak ingin damai dan hidup berperang terus?
Menurut saya mungkin saja. Karena perang menciptakan berbagai kondisi yang 'menguntungkan' bagi berbagai pihak. Tidak cuma produsen senjata yang diuntungkan bahkan tak ayal ada pihak-pihak yang memanfaatkan label 'korban' agar bisa hidup enak dan mudah dari berbagai bantuan yang datang.

Solidaritas rakyat Mesir tahun 1945 yang dicontohkan diatas menurut saya merupakan suatu bentuk solidaritas yang nyata dan tepat sasaran, karena yang dijadikan target dan sasaran merupakan sarana militer yg digunakan untuk mendukung agresi tersebut.

Singkatnya, saya tidak mempersoalkan soal solidaritasnya. Namun sangat disayangkan jika solidaritas tsb dilaksanakan dgn mata tertutup dan memakan korban lain yang tidak ada hubungannya bahkan tidak perlu sama sekali.

Kemudian jika kita mau mengatasnamakan persaudaraan maupun kemanusiaan, kita pun harus bisa bersikap adil dan netral karena membunuh 1 orang atau 100 orang pun adalah sama kejinya! Apa pun alasan dan caranya!

Jadi, Bagaimana?

Mungkin Bang Steve punya saran apa yg seharusnya Indonesia lakukan?

Yang jelas, opsi "berpangku tangan" ataupun "cuek bebek" ataupun "diam saja" bukan sama sekali opsi yg diharapkan.

Biarlah media melakukan tugasnya, demonstrasi semarak, pemboikotan terhadap Israel berjalan, karena itulah bentuk protes masyarakat dunia terhadap kekejaman Israel dan ketimpangan tatanan dunia saat ini. Apakah kita hendak melarang orang menyatakan ketidaksetujuannya? Tentunya tidak.

Saya rasa, pemboikotan produk dari beberapa perusahaan tertentu itu berbeda sekali dengan blokade.

Blokade (seperti yg dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Gaza hingga saat ini) benar2 menutup segala kran penghidupan bagi aktivitas masyarakat secara menyeluruh.

Sedangkan pemboikotan produk dari beberapa perusahaan tertentu yg ditengarai ikut mendonasi Pemerintah Israel (dan otomatis dana ini sebagiannya digunakan untuk membeli alat2 perang yg kini digunakan untuk membantai masyarakat di Gaza) adalah bertujuan untuk membatasi aliran dana bagi pengadaan senjata / alat2 perang tsb. Dimensinya sama sekali berbeda, dan tujuannya jelas. Berbeda dengan blokade Israel yg membabibuta dan tidak jelas tujuannya.

Kalau memang blokade oleh Israel itu untuk mencegah masuknya senjata & bahan2 roket ke Gaza, kenapa bantuan medis, pangan, dll, juga diblokade juga? Kalau memang khawatir bantuan medis itu bercampur dengan senjata, kenapa tidak dilakukan penggeledahan saja? Kenapa harus memblokade secara total asupan penghidupan masyarakat sana? Itu adalah jelas2 salah satu contoh kebrutalan Israel sekaligus pelanggaran hukum internasional.

Terakhir, semua ini dilakukan oleh masyarakat dunia bukan karena masyarakat dunia sudah tidak percaya kepada kekuatan Tuhan sehingga berhak merasa menghakimi, tidak.
(Justru malah aneh kalau kata "menghakimi" itu ditujukan kepada mereka yang melakukan demonstrasi menentang agresi Israel ke Gaza. Kok yg korban dijadikan tersangka? :D )

Masyarakat dunia melakukan itu semua justru karena percaya kepada Tuhan, dan Tuhan tidak akan menurunkan keajaiban sedangkan manusia tidak mau berusaha. Keajaiban itu tidak datang dengan berpangku tangan.

Unjuk rasa, approach2 diplomatik, boikot, dsb itu adalah upaya manusia, dan Tuhan jua lah yg akan menentukan hasilnya. Yang jelas, Tuhan tidak akan mengubah kondisi manusia tanpa manusia sendiri berusaha melakukan perubahan.

Solusinya ???

Saya setuju jika apa yg terjadi saat ini disebut kebrutalan, makanya harus segera dihentikan. Saya juga tidak menyarankan agar kita berpangku tangan atau cuek bebek dgn kondisi ini.

Yang saya sarankan adalah kita bersikap arif, adil dan bijak dalam menyikapi 'informasi' yang kita terima. Inilah yang saya kritik: bagaimana kita bersikap dan mewujudkan sikap kita!

Dan bagi saya 'mengeksploitasi' informasi bukanlah bagian atau wujud dari sikap yang benar-benar perduli yang positif/konstruktif !
Mungkin untuk kasus lain bisa saja positif tapi untuk kasus ini agak berbeda. Kenapa? Karena konflik ini cukup kompleks sementara eksploitasi informasi-nya cenderung parsial dan tak jarang bias.

Contohnya, banyak yang mengangkat konflik ini sebagai konflik ideologi atau religi. Apa dampaknya? konflik pun berkembang dan menular ke daerah bahkan negara lain. Tak ayal konflik antar religi pun menyeruak di daerah2 lain.

Padahal apakah benar konflik ini murni konflik yang berdasarkan religi?!?

Bentuk kritik ini mungkin sering kita dengar dalam bentuk lelucon2 seperti ada seorang yang membela diri dari sebuah usaha perampokan dan mengakibatkan sang perampok cidera berat karena org tsb ternyata jago beladiri dan kebetulan teman-temannya sedang tak jauh berada di situ.
Selidik punya selidik ternyata org tsb dan kawan2nya adalah keturunan pemuda Yahudi dan perampoknya adalah keturunan Palestina. Headline koran esoknya adalah di sebuah media massa di negeri antah berantah: 'Seorang Palestina dipukuli hingga babak belur oleh orang-orang Yahudi' dst dst dst

Sementara fakta2 lain seperti di Palestina juga ada warga kristen, katolik atau agama lain, demikian juga di israel ada yg beragama muslim, kristen dll, tidak pernah diungkapkan atau dieksploitasi. Kenapa?
Apakah seakan-akan korban agama lain itu tidak berarti atau tidak perlu diperhitungkan?

Sejarah sebenarnya sudah memberikan pelajaran dan contoh yang berharga, di Perang Dunia ke 2, yang gila Hitler dgn antek2nya atau bangsa German?
Di G 30 S, yang gila DN Aidit dgn antek2nya atau Komunisme sebagai sebuah faham politik ?

Mudah-mudahan mengerti apa yg saya coba sampaikan.

nah, kalo ditanya solusi, ada beberapa ide, namun rada bingung apakah benar-benar bisa dilaksanakan dan berhasil mengingat konteks permasalahannya cukup (dibuat) rumit dan kompleks.

Pertama, tentu saja menghukum, atau jika bahkan memungkinkan mencopot/mengganti pemerintahan garis keras kedua belah pihak, baik Israel maupun Palestina. Serahkan pemerintahan kepada pihak2 yg memang mau atau lebih memilih hidup damai berdampingan.
Bukti nyata adalah German pasca Nazi dgn Hitler-nya. Ini sekaligus membuktikan bahwa 'kegilaan hitler' bukanlah kegilaan German sebagai bangsa.
Palestina rasanya membutuhkan suatu pemerintahan/kelompok berkuasa yang memiliki agenda meningkatkan kesejahteraan penduduknya dengan membangun Palestina atau Gaza ketimbang selalu memikirkan bagaimana mengusik tetangganya itu.

Kedua, Kalo negara2 lainnya memang benar2 solider dan perduli dengan kondisi rakyat Palestina, maka seharusnya bantuan kemanusiaan dan bantuan keamanan harus diganti menjadi bantuan yg lebih riil seperti bantuan infrastruktur atau investasi, agar roda perekonomian bergulir. Jika Dubai aja dalam 5 tahun bisa berubah drastis, masak Gaza yang memiliki potensi cukup besar secara geografis itu tidak bisa melakukan hal yg sama jika didukung oleh investasi dari Timur Tengah dgn alasan 'eksploitasi' yang sama yaitu solidaritas religi misalnya.
Contoh Investasi atau pembangunan infrastruktur di jalur Gaza yang bisa membalikkan posisi Palestina sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap Israel adalah pembangunan sarana desalinisasi (pengolahan air laut menjadi air tawar) karena kalo tidak salah inilah salah satu alasan kenapa Israel 'ngotot' menguasai Gaza.
Jadi jika ada gencatan senjata, mari kita kirimkan semen, pasir dan kerikil serta insiyur untuk bangun sarana desalinasi ketimbang mengirimkan tentara dan indomie.

Jadi singkat cerita, menurut saya kunci dari konflik ini adalah kesejahteraan. Selama kesejahteraan di Palestina/Gaza tidak ditingkatkan agar setara dengan tetangganya, maka niscaya konflik tidak akan pernah berakhir.

Ibaratnya, kalo sudah tahu hidup bertetangga dengan Macan ganas yang siap menyerang jika diganggu tidur siangnya, bukankah lebih baik menggunakan waktu untuk membangun hidup yang lebih baik ketimbang menghabiskan waktu melempari macan tsb agar bangun dari tidurnya dan berharap mau pindah dari hutan itu?

Sikap Bangsa Indonesia terhadap Krisis Gaza

Thanks Bang Steve atas tanggapan baliknya...

Saya rasa, tidak ada seorangpun di sini yang mengatakan bahwa konflik Gaza adalah konflik agama. Mengatakan bahwa itu adalah konflik antara bangsa Palestina melawan Zionist Israel tidak sama dengan mengatakan itu sebagai konflik Islam melawan Yahudi. Kita semua tidak terlalu bodoh untuk menafikan fakta bahwa tidak semua warga Palestina itu muslim, dan tidak semua orang Yahudi itu mendukung Zionisme.
Jadi, Abang jangan salah persepsi & terlalu berburuk sangka terhadap umat Islam Indonesia.

Apalagi sampai menyangka ada yg membawa konflik ini ke perseteruan Islam – Kristen. Saya rasa itu terlalu jauh, dan secara fakta, tidak ada yg beranggapan seperti itu. Saya sudah banyak menyaksikan banyak aksi demo menentang serangan Israel ke Gaza ini, namun tidak ada seorang pun dari pendemo yg mengatakan itu sebagai konflik Islam vs Kristen. Saya malah heran darimana Abang bisa berprasangka sejauh itu.

Adapun mengenai sikap umat Islam yg menentang serangan Israel ke Gaza, itu adalah sikap yg wajar, dan tidak dapat ditafsirkan sebagai upaya menggiring ini ke konflik agama. Selain sebagai sebuah ungkapan solidaritas yg wajar dari manusia terhadap manusia lainnya, apabila saya boleh menjelaskan sedikit, Islam itu adalah agama ukhuwah, agama persaudaraan. Umat Islam yg di ujung bumi sana adalah merupakan saudara dari umat Islam Indonesia juga, maupun umat Islam di seluruh pelosok bumi lainnya.

Bila satu bagian dari umat Islam ini mendapat kesusahan, maka umat Islam di Indonesia pun pasti akan merasakan sakitnya, karena kami ini memang satu tubuh. Itu prinsip kami.

Kami berduka atas kedukaan saudara kami di Gaza bukan berarti kami menganggap itu sebagai sebuah konflik agama. Kami terpanggil oleh jiwa persaudaraan kami. Itu wajar & tak perlu dipermasalahkan. Lha wong saudara di luar agama kami (umat Nasrani di Amerika Selatan dan berbagai bumi lainnya) saja sangat menentang serangan Israel ke Gaza ini (sehingga Bolivia sampai2 mengusir Dubes Israel dari negerinya), maka sangat wajar bila kami memiliki perasaan yg lebih dari itu.

Sikap solidaritas kami sebagai saudara terhadap saudara lainnya ini jangan diburuksangkai sebagai upaya untuk menyeret kepada “konflik agama”. Itu sangat keliru.

Saya juga mengharap Abang bersikap adil dalam menyikapi permasalahan di Palestina ini. Contoh yg Abang bawakan, jujur saja, terkesan bias, dan sedikit menunjukkan keberpihakan, walaupun mungkin tidak Abang sadari. Misalnya, contoh tentang orang Palestina merampok rumah orang Yahudi. Saya tahu bahwa itu mungkin hanya contoh fiktif, tapi kenapa orang Palestina nya yg diposisikan sebagai pihak antagonis dalam contoh itu? Sebelumnya, Abang juga hanya mengangkat ekses negatif dari demo anti Israel ini (berupa korban dari pihak Yahudi di Jerman).

Saya harap kita mau melihat lebih jernih kepada akar permasalahan Palestina – Israel ini. Tulisan berjudul “How to Explain the War in Gaza to Small Children” merupakan awalan yg bagus bagi kita untuk melihat lebih jelas secara makro apa yg telah & sedang terjadi di sana.

Misalnya, mengenai serangan Israel ke Gaza yg dikatakan oleh sebagian pihak sebagai dipicu oleh tindakan Hamas sendiri yg rajin menembaki wilayah Israel dengan roket, maka kita perlu telusuri, kenapa Hamas sampai berbuat seperti itu.
Ternyata penyebabnya adalah blokade Israel sendiri terhadap Gaza, dan blokade ini tidak hanya berupa blokade senjata, melainkan blokade seluruh kebutuhan hidup, bahkan pangan & obat2an sekalipun.

Semut saja melawan bila diinjak, apalagi manusia. Wajar bila Hamas melawan, dan meluncurkan roket itu lah hampir satu2nya kemampuan mereka untk melawan, dibanding Israel yg mempunyai kekuatan militer yg demikian hebat (tentunya dengan sokongan penuh sebuah negara yg sebelumnya dipimpin oleh seorang gila perang yg dilempar sepatu tempo hari di sebuah "negara jajahannya").

Sikap Pemerintah RI sendiri pun jelas, dan sikap saya di TANDEF ini adalah sejalan dengan sikap Pemerintah, bahwa Israel merupakan agresor, penjajah terhadap bangsa Palestina. Sikap bangsa kita ini didasari oleh nilai luhur anti penjajahan yang terkandung dalam Preambule/Pembukaan/Mukaddimah konstitusi negara ini.

Sebagai bangsa yg pernah terjajah, kita tahu benar bagaimana sakitnya dijajah. Bangsa yg tidak jelas juntrungannya yg datang dari ujung bumi sana tiba2 datang ke tanah air kita ini, mendatangkan penduduknya beramai2 ke sini, merampas hak hidup kita, merampas kedaulatan kita. Dan itu dikatakan berlangsung selama 350 tahun. Tidak cukupkah bagi kita untuk mengambil pelajaran dari itu?

Membunuh 1 orang & 100 orang

Oiya, izin menambahkan lagi Bang...

Saya tertarik dengan alinea terakhir Abang:
"Kemudian jika kita mau mengatasnamakan persaudaraan maupun kemanusiaan, kita pun harus bisa bersikap adil dan netral karena membunuh 1 orang atau 100 orang pun adalah sama kejinya! Apa pun alasan dan caranya!"

Saya rasa bukan seperti itu filosofinya Bang.
Yang saya tahu adalah:

"Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena orang itu membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya."

Jadi, membunuh 1 orang tanpa alasan yang dibenarkan itu sudah sangat keji, apalagi membunuh 10 orang, 100 orang, 1000 orang. Membunuh 1 orang saja sudah sangat keji, apalagi membunuh banyak orang. Sangat luar biasa kekejiannya.

Dengan demikian, membunuh 1 orang dengan membunuh 100 orang jelas TIDAK SAMA dan tidak bisa disamakan. Membunuh 100 orang adalah jauh lebih keji daripada membunuh 1 orang. (Oleh karena pertimbangan inilah, dalam hukum pun, tindakan pidana pembunuhan terhadap beberapa orang hukumannya lebih berat dibanding pembunuhan terhadap 1 orang, dan adakalanya bisa berimplikasi kepada hukuman mati. Ini secara hukum duniawi.)

Jadi, sekali lagi, membunuh 1 orang dengan membunuh 100 orang itu tidak pernah sama dan tidak bisa disamakan, karena bila kita berpikiran demikian, maka sama saja artinya kita mengecilkan arti nyawa 100 orang itu, dan ini dapat dijadikan sebagai justifikasi terhadap pembunuhan 100 orang, 1000 orang, 10.000 orang, dst, dengan alasan bahwa membunuh sebanyak itu juga sama dengan membunuh 1 orang? Prinsip yang seperti ini jelas salah & tidak bisa diikuti.

Jawaban Mantap

Bravo buat KAZ. Jawaban anda mengena. Pikiran orang-orang yang sudah termakan propaganda Yahudi Zionis (atau memang agen Yahudi Zionis) ini memang harus diluruskan. Mudah-mudahan mereka mau berpikir kembali dan bisa memahami.

Maksudnya saya ya?

Sorry, ini maksudnya buat saya ya?!?

Hmm, menarik juga ya kalo ternyata pendapat saya terkesan bahwa saya pro sama Israel bahkan jadi Agen Yahudi Zionis!! Hehehehehe

Kalau benar ini ditujukan ke saya, mungkin anda harus baca baik-baik mengenai pendapat saya, terutama dengan hati dan kepala yg dingin tanpa embel2 atau label2 tertentu.

Yang saya komentari adalah bagaimana 'exploitasi' fakta oleh media demi kepentingan tertentu bisa memberi dampak kepada negara atau daerah lain.

Bagi saya perang, pemboman merupakan bentuk kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan, apa pun alasannya. Oleh karena itu saya sama sekali tidak setuju bahkan merasa sangat tidak perlu terjadinya Perang tsb.

Yang saya sayangkan efek samping dari perang ini adalah penggunaan 'label' atau 'embel2' tertentu dalam mengecam perang ini.
Penggunaan label atau embel2 inilah menurut saya termasuk yg membuat bias itu tadi.
Apakah Israel harus selalu disamakan dengan Yahudi ?
Apakah Palestina identik dengan Islam?
Apakah Amerika identik orang Bule/Barat atau Kristen/Katholik?
dan seterusnya dan seterusnya ...

Generalisasi dan Labelisasi ini yg rasanya perlu disikapi dengan bijak.
Apakah kita perlu ikut membenci Ben Stiller yg keturunan Yahudi?
Atau berhenti menggunakan USB yang notabene-nya ditemukan oleh seorang Yahudi?
Apakah kita perlu melarang pendirian Sinagoga di Indonesia?
Atau ketika saya yang beragama Kristen ikut aksi solidaritas bagi Palestina dinilai membela Islam?
Atau kenapa perang ini tidak diklaim juga sebagai penindasan kaum yahudi kepada orang-orang Kristen meski hanya ada 10 orang Palestina yg beragama kristen misalnya? Apakah karena jumlah 10 orang tidak dianggap signifikan?

dan masih banyak atau-atau lainnya yang bisa muncul kemudian akibat bias-bias sebelumnya.

Tidak cukupkah jika kita melihat perang ini sebagai sebuah kekejian terhadap kemanusiaan yang menimbulkan kesengsaraan manusia dari sudut pandang sebagai manusia yang memiliki nilai kemanusiaan dan sama-sama tinggal di bumi terncita ini tanpa label atau embel2 tertentu?

mudah-mudahan penjelasan ini bisa dicerna dengan lapang dada, dan bukannya malah menambah sesaknya dada anda.

Propaganda

Banyak orang Indonesia yang sudah termakan propaganda Yahudi Zionis. Comments berita2 di Kompas.com tentang Gaza malah lebih parah daripada komentar pro Yahudi Zionis di sini, sudah 80% lebih.

Dengan kepandaian orang Yahudi yang sudah dinaskan dalam Alkitab, Yahudi Zionis melakukan psywar untuk mengambil hati orang2 di seluruh dunia agar mendukung pembantaian yang mereka lakukan thd orang Palestina.

Orang2 yang termakan psywar ini terbagi dalam beberapa kelompok sesuai kadar dukungan mereka terhadap Zionis. Kelompok pertama adalah mereka yang menyetujui pembantaian oleh Zionis dan mencela Hamas. Selanjutnya bertingkat2 sampai tingkat terakhir adalah orang-orang yang menyamakan kesalahan Zionis, yang membantai manusia sampai ribuan itu, dengan Hamas yang dianggap salah karena membuat Zionis membantai orang Palestina.

Bangsa Indonesia memang banyak yang sudah rusaknya moral. Kerusakan moral ini bahkan tidak disadari oleh penderitanya. Dengan ilmu hasil pendidikan tinggi yang rata2 dikecap oleh orang-orang rusak moral ini, alih2 mereka sadar dirinya sakit dan berobat, malah menutupi kesakitannya dan menuduh orang lain sakit.

Beberapa tahun lalu ada yang mengatakan 90% anggota DPR itu PKI, kontan anggota DPR meradang, tidak mau disebut PKI. Kenyataannya keputusan DPR selanjutnya banyak yang justru merugikan bangsa dan negara seperti privatisasi BUMN dan kebijaksanaan lain yang justru membuat harga2 barang naik dan rakyat menderita. DPR berpikir dan bertindak dengan cara PKI tapi tidak merasa. Inilah yang dinamakan bahaya laten, ada tapi tidak nampak, sakit tapi tidak merasa.

Cara-cara PKI identik dengan cara-cara Mossad. Cara-cara ini juga digunakan dalam propaganda Yahudi Zionis. Hasilnya juga identik. Korbannya tidak merasa bahwa dirinya sudah menjadi korban propaganda dan tidak merasa bahwa dirinya sudah mendukung Yahudi Zionis.

koreksi kecil

Sekedar koreksi kecil, jika berbicara dalam konteks religi dan kitab suci, maka Kristen dan Yahudi itu memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Pertama, Yahudi sebagai agama, tidaklah menerima Yesus sebagai Mesias. Sehingga Yahudi sebagai agama, tidak mengakui keberadaan Kitab Perjanjian Baru dan beberapa kitab lain dimana menyebutkan bahwa Yesus adalah Mesias yang datang ke dunia sebagaimana diceritakan dalam Kitab Perjanjian Lama.
Bagi Agama Yahudi, Mesias itu belum datang dan inilah perbedaan yg sangat mendasar antara agama Kristen dan Yahudi. Ini sebabnya juga orang yg beragama Yahudi tidak merayakan Natal.

Kedua, Yahudi sebagai agama mengacu kepada Kitab atau Hukum Taurat bukan kepada Alkitab. Jadi agak kurang tepat jika Yahudi secara Agama mencoba membenarkan perilakunya berdasarkan Alkitab, karena Alkitab itu juga memuat Kitab Perjanjian baru dimana terdapat pengakuan Yesus Kristus sebagai Mesias.

Jadi perlu diperjelas, kerangka Yahudi disini sebagai Bangsa, Faham (Politik) atau Agama karena Agama Yahudi berbeda dengan Bangsa Yahudi ataupun Faham Yahudi/Zionist. Ada orang berbangsa Indonesia, Amerika atau lainnya yang beragama Yahudi dan Ada bangsa Yahudi yang beragama Islam, Kristen atau agama lainnya.

Nah, jadi yang benar seharusnya yang bagaimana?

Membaca komentar di atas mengenai "Propaganda" jadi yang benar itu seharusnya bagaimana? Melihatnya harus dari sisi mana ? Mohon pencerahannya..

Kalau diinget2, mungkin konflik ini mirip2 dengan konflik Indonesia vs Malaysia dalam memperebutkan Kalimantan Utara. Indonesia yang merasa memiliki kalimantan utara berdasarkan sejarah dan Malaysia yang merasa memiliki karena Kalimantan Utara itu adalah bagian dari negara Malaysia yang diakui dunia. Dan sebagai bangsa Indonesia, banyak yg mendukung aksi memperebutkan Kalimantan Utara ini. Atau pada saat Indonesia "merebut" Tim-Tim, atau konflik Aceh. Ada persamaanya dengan konflik sekarang, satu pihak mengaku itu daerahnya berdasarkan sejarah dan pihak lain (penduduk setempat) beranggapan berbeda.

Untuk melihat kasus Israel vs Palestina ini menurut saya pribadi kita harus betul2 netral terlebih dahulu baru kita bisa menilai benar/salahnya dan saya rasa susah memang, sama susahnya apabila kita sebagai rakyat Indonesia diminta untuk menanggapi kasus Aceh, Papua, Tim-Tim (Timor Leste), Kalimantan Utara, dll. secara adil dan tidak berat sebelah. Menurut saya loh.. :-)

Memahami Masalah Palestina-Israel

Octo, untuk memahami masalah Palestina-Israel, di bawah ini ada pemaparan menarik dari seorang Srilangka (mudahan netral :D). Monggo disimak saja bro:

Once upon a time, there was a family called Pal. They lived in a property which was hot and dusty, but they liked it, and had lived there for more than 2,000 years. Then one day, they had some visitors. "We are the Izzy family," said the head of the new arrivals. "And we're moving in."

"What?" said the Pal family. "You can't do that." "Yes, we can," said Izzy. "They said we could." The newcomers pointed to some heavily armed "minders" who were accompanying them. Their names were Usa and Uk. "Hi," said the biggest one. "I am here to tell you that Izzy and his family have suffered terrible trauma. They need a new home."

"I sympathize," said Pal. "But this is our home, and it's very small. Why don't you give them space in your homes?"

"They want to live here, because their ancestors lived here," said Usa.

"But that's not fair," the Pal family objected.

There was an impasse. The wider community was called to adjudicate. The Izzy family said the issue could be boiled down to one simple question: "The Izzy family has a right to exist, yes or no?" The giant Usa agreed enthusiastically: "Yes, we declare that the Izzy family definitely has the right to exist."

"Hang on," said a member of the Pal family. "The issue is not whether the Izzy family has a right to exist. It's whether they have the right to exist on our property."

Usa looked deeply shocked. "Outrageous! You're saying the Izzy family do not have the right to exist, so that automatically makes you a group of genocidal terrorists. Now you're in trouble."

The Pal family members were at a loss about what to do. They realized that they needed a powerful friend, too. They took the matter to court. The chief judge was a man named Yuen, sometimes spelt UN. Yuen talked to many members of the community, including Ms Asia, France and so on. They all agreed the situation was fundamentally unfair. Judge Yuen passed several edicts to make the situation fairer. But the Izzy family ignored these edicts, and were fully supported by Usa.

The Izzy family got bigger and stronger and tougher and richer. The Pal family got poorer and poorer. Years of unfairness and abuse resulted in the inevitable. One desperate, tormented member of the Pal family, a man named Hamas, couldn't take it any more. He went off the rails and started to fight back. In retaliation, the Izzy family unleashed a massive wave of violence. "Please stop," said the Pal family, after 900 members of their family had been killed.

Judge Yuen and most members of the international community called for the invasion to stop.

But the most powerful member, Usa, told the Izzy family to continue the slaughter, explaining that the horrible injuries to the Pal family were all their own fault. "The Izzy family has a right to exist," Usa said. "And it has the right to defend itself." And they all lived miserably ever after.

It's a sad story, isn't it? There's just one way this tale can have a different ending.

The new US administration needs to remember the words of Abraham Lincoln, forgotten by the old US administration: "There's only way to destroy your enemy: Make him your friend."

Prinsip Dasar

Seharusnya jangan dibalik jadi kalo membunuh 100 orang ya tidak apa-apa karena sama dengan membunuh 1 orang.

Kan prinsip yg saya coba utarakan bahwa membunuh itu - berapa pun jumlahnya, alasannya, caranya dllnya - adalah keji.

Belum lagi konteks yg saya ambil itu adalah pembunuhan di tempat lain sebagai akibat sampingan aksi demonstrasi solidaritas misalnya, bukan korban perangnya langsung.

Kemudian mengenai alasan pembenaran membunuh itukan secara hukum, sedangkan secara sosial, moral atau bahkan religi (Hukum Tuhan) apakah memang benar? Bisa ya bisa tidak.
(catatan: saya tidak ingin memperlebar diskusi dalam interpretasi religi atau hukum Tuhan ! ini hanya sebagai sebuah catatan kecil retorik saja)

Sepaham

Kalau begitu penjelasannya, saya sepaham dengan Abang. Yang jelas, pembunuhan terhadap pihak yg tidak berdosa itu sangat keji. Dan membunuh 1 orang tak akan pernah sama dengan membunuh 2, 3, 4 apalagi 100 orang. Nyawa orang per orang itu sangat berharga, sama seperti kita menghargai nyawa kita sendiri.

Mengenai gadis Yahudi di Jerman yg jadi korban itu, apakah Abang ada link beritanya? Apakah memang terbunuh, atau luka2? Darimanakah sumber beritanya Bang? Kita akan tertolong bila ada referensi yg jelas untuk itu.

Pelajaran berharga

Saya coba ingat2 kemabli saya baca info tsb dimana, yang pasti sih di Internet. Oya Kejadiannya bukan di Jerman, melainkan di Perancis (saya tulis jerman ya?!)
Coba tanya ama om google deh, kalo gak salah disitu diberitakan juga ada tempat peribadatan tertentu yg dibom molotov namun tidak ada korban.

Dari diskusi panjang ini, saya jadi belajar 1 hal lagi, bahwa untuk meluruskan sebuah bias pun kadang malah bisa terjebak membuat bias tersendiri.
Saya mohon maaf kalo ternyata dalam penjelasan atau diskusi ini nampak menyudutkan atau membela pihak tertentu. Namun dari sisi lain, ini menunjukan bahwa penggunaan 'label' memang bisa memberikan dampak samping yang sangat besar ketimbang isi yang ingin disampaikan.

Seseorang atau sesuatu itu bisa memiliki sejuta label, penggunaan label tertentu yang melekat pada subyek yang terlibat dalam sebuah kejadian (kejadian/event sebagai fakta) oleh pihak ketiga bisa mengakibatkan berbagai dampak bagi pihak keempat yang mendapat informasi.
Salah satu kemungkinan biasnya adalah ternyata pihak keempat lebih melihat label-nya terlebih dahulu baru kepada kejadian-nya sehingga kemudian analisis lanjutnya bergantung pada keberpihakan atau minat pihak tsb thdp label selaku penerima informasi untuk bereaksi.
Akibatnya jika label-nya tidak menarik atau si penerima informasi tidak berpihak pada label tsb, maka kejadian tersebut menjadi tidak penting atau biasa. Demikian pula sebaliknya.
Inilah yg saya kategorikan dimana media/pihak tertentu mengolah sebuah kejadian/fakta menjadi sebuah 'virus' hanya karena mereka mengeksploitasi label-nya ketimbang kejadiaan-nya

...so, Lesson taken!

Singkat cerita, sekali lagi saya pada dasarnya tidak setuju dengan berbagai kekerasan dalam bentuk apa pun, oleh siapa pun, dan karena alasan apa pun.
Keberpihakan saya ada pada rasa kemanusiaan-nya, bukan pada label-nya.

---- memang benar diam itu emas ----

Pada dasarnya kita sepaham

Terimakasih banyak Bang Steve.

Di titik ketidaksetujuan kita terhadap kekerasan, kita sepaham. Namun, dalam melihat suatu konflik, kemauan tulus untuk mempelajari suatu permasalahan secara empiris & historis itu sangat penting, agar korban tidak diperlakukan sebagai tersangka, dan sebaliknya.

Liputan Utama Gatra Januari 2009

Akhirnya saya menemukan kembali sumber berita soal korban aksi demonstrasi dari salah satu simpatisan korban/pihak yg terlibat perang di jalur Gaza, berita tsb menjadi bagian dari sebuah artikel "Horor Yahudi di Mancanegara" sebagai bagian dari Liputan Utama majalah Gatra edisi Januari tsb.

Ekses Negatif dalam Sebuah Konflik

Memprihatinkan memang. Ekses negatif dalam sebuah konflik itu dapat terjadi dalam bentuk apapun.

Berbeda dengan serangan oleh Israel ke Gaza, maka ini sudah bukan ekses negatif lagi, tapi merupakan the main body of the conflict. Tidak apple to apple kalau kita membandingkan sebuah ekses negatif dengan the main body of the conflict itu sendiri.

Tentu secara manusiawi, saya prihatin dengan kedukaan yang menimpa korban tak bersalah itu, siapapun ianya. Untuk di Perancis itu, itu duka saya untuk satu orang. Dan saya sangat-sangat berduka dengan apa yang terjadi di Gaza. Duka saya untuk ribuan penduduk Gaza yang sudah kehilangan nyawanya, dan untuk jutaan penduduk Gaza yang masih hidup dalam blokade, tekanan dan terorisme negara.

Mudahan Bang Steve yang tentunya anti-kekerasan juga bisa memberikan saran yang baik bagaimana agar terorisme negara oleh Israel ini dapat kita hentikan bersama.

How to Explain the War in Gaza to Small Children

Sekedar tambahan, ini ada artikel menarik ditulis oleh seorang Srilangka di Jakarta Post:

------------

http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/18/how-explain-war-gaza-small...

How to Explain the War in Gaza to Small Children

Nury Vittachi , Bangkok | Sun, 01/18/2009 12:44 PM | Opinion

Once upon a time, there was a family called Pal. They lived in a property which was hot and dusty, but they liked it, and had lived there for more than 2,000 years. Then one day, they had some visitors. "We are the Izzy family," said the head of the new arrivals. "And we're moving in."

"What?" said the Pal family. "You can't do that." "Yes, we can," said Izzy. "They said we could." The newcomers pointed to some heavily armed "minders" who were accompanying them. Their names were Usa and Uk. "Hi," said the biggest one. "I am here to tell you that Izzy and his family have suffered terrible trauma. They need a new home."

"I sympathize," said Pal. "But this is our home, and it's very small. Why don't you give them space in your homes?"

"They want to live here, because their ancestors lived here," said Usa.

"But that's not fair," the Pal family objected.

There was an impasse. The wider community was called to adjudicate. The Izzy family said the issue could be boiled down to one simple question: "The Izzy family has a right to exist, yes or no?" The giant Usa agreed enthusiastically: "Yes, we declare that the Izzy family definitely has the right to exist."

"Hang on," said a member of the Pal family. "The issue is not whether the Izzy family has a right to exist. It's whether they have the right to exist on our property."

Usa looked deeply shocked. "Outrageous! You're saying the Izzy family do not have the right to exist, so that automatically makes you a group of genocidal terrorists. Now you're in trouble."

The Pal family members were at a loss about what to do. They realized that they needed a powerful friend, too. They took the matter to court. The chief judge was a man named Yuen, sometimes spelt UN. Yuen talked to many members of the community, including Ms Asia, France and so on. They all agreed the situation was fundamentally unfair. Judge Yuen passed several edicts to make the situation fairer. But the Izzy family ignored these edicts, and were fully supported by Usa.

The Izzy family got bigger and stronger and tougher and richer. The Pal family got poorer and poorer. Years of unfairness and abuse resulted in the inevitable. One desperate, tormented member of the Pal family, a man named Hamas, couldn't take it any more. He went off the rails and started to fight back. In retaliation, the Izzy family unleashed a massive wave of violence. "Please stop," said the Pal family, after 900 members of their family had been killed.

Judge Yuen and most members of the international community called for the invasion to stop.

But the most powerful member, Usa, told the Izzy family to continue the slaughter, explaining that the horrible injuries to the Pal family were all their own fault. "The Izzy family has a right to exist," Usa said. "And it has the right to defend itself." And they all lived miserably ever after.

It's a sad story, isn't it? There's just one way this tale can have a different ending.

The new US administration needs to remember the words of Abraham Lincoln, forgotten by the old US administration: "There's only way to destroy your enemy: Make him your friend."

Kazmi's statements

BRAVO!!!!

Salut 4 Kazmi

Salut untuk Kazmi.

Good quote!

"There's only way to destroy your enemy: Make him your friend."

Statement yang bagus dan layak untuk diterapkan!

Cuma nampaknya harus adu otot ama statement: "Jika anda ingin hidup damai, maka siaplah berperang" (saya lupa siapa yg pernah menyebutkan semboyan ini ...)

Si Vis Pacem, Para Bellum

"There's only way to destroy your enemy: Make him your friend." tidak bertentangan dengan "Jika anda ingin hidup damai, maka siaplah berperang" (Si vis pacem para bellum; ini diyakini secara luas sebagai kutipan dari ucapan Publius Flavius Vegetius Renatus, sastrawan militer Romawi).
"Bersiap perang" bukan berarti "ingin melakukan perang", melainkan melakukan persiapan yg diperlukan seandainya perang itu terjadi, atau dalam bahasa TANDEF, "membentuk postur pertahanan yg tangguh dan berdaya tangkal". Titik beratnya ada di "daya tangkal" ini, karena apabila kita memiliki kesiapan perang dan kekuatan pertahanan yg tangguh, otomatis kandidat lawan akan membatalkan setiap niatnya untuk mengganggu negara kita. Ini yg dinamakan daya tangkal itu. Ini pula hakikat dari daya getar strategis yg dicita2kan TANDEF.

Dengan urungnya kandidat lawan mengganggu kita, tentunya kita dapat berdampingan secara damai dengan mereka, menjadi teman bahkan sahabat sekalipun. Jadi, benar2 tidak ada yg bertentangan di antara dua prinsip di atas tadi.

Mengapa reaksinya berbeda?

Banyak kejahatan kemanusiaan yang terjadi sampai saat ini, salah satunya adalah pada konflik Israel vs Hamas ini. Karena alasan kemanusiaan maka dunia, termasuk Indonesia dan banyak warganya, berduyun2 untuk memberikan bantuan kepada rakyat Palestina.

Yang jadi pertanyaannya adalah, kejahatan kemanusiaan tidak hanya terjadi pada konflik Israel vs Hamas, tetapi juga misalnya terjadi di Chechnya, Rwanda (konflik Tutsi dan Hutu), Georgia, dll., tetapi mengapa perlakuan masyarakat Indonesia contohnya, berbeda antara konflik Palestina ini dengan konflik2 yang lain? Kalau mendasarkan pada jumlah korban meninggal jelas konflik Tutsi dan Hutu jauh lebih besar dari konflik Palestina ini (konflik ini tergolong genosida, mirip dengan Chechnya kalau tidak salah).

Apakah ada yang bisa menjelaskan mengapa perlakuan negara dan masyarakat Indonesia berbeda antara konflik2 tersebut dengan konflik Palestina ini? Kadar exploitasi medianya kah atau yg lain penyebabnya? Ada muatan lainnya kah yang membuat reponse-nya berbeda? Terus terang saya pribadi tidak pernah menemukan aksi pengumpulan dana untuk konflik Rwanda, Georgia, dll., berbeda dengan konflik Palestina ini.

Kalau alasannya semata2 karena kemanusiaan dan seperti kata KAZ kalau membunuh 100 orang itu lebih kejam dari 1 orang, logikanya kualitas reaksi/responnya seharusnya lebih besar pada konflik2 yang memakan korban jiwa jauh lebih besar (atau bolehlah, minimal sama). Tetapi mengapa berbeda?

Sampai2, disaat ada bangsa kita sendiri yang terkena banjir, gempa, musibah kapal tenggelam, banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih menyumbangkan duit dan tenaganya untuk korban Palestina ketimbang membantu saudara2nya sendiri yg ada di pulau/kota lain.

Reaksinya Memang Berbeda

Ulasan yg tajam & menarik dari Octo.

Memang, reaksinya berbeda dibanding beberapa contoh yg diajukan Octo di atas, kecuali Chechnya. Dalam menyikapi konflik Chechnya, Indonesia (khususnya masyarakatnya) menunjukkan reaksi yg mirip dengan reaksi terhadap serangan Israel ke Gaza kali ini. Mungkin ada baiknya kita googling arsip2 berita lama tentang reaksi Indonesia terhadap konflik Chechnya.

Ekspos media mungkin salah satu faktor yg menyebabkan terjadinya perbedaan reaksi ini. Okay, that's one thing, selain faktor2 lainnya lagi, misalnya solidaritas muslim (ini tidak bisa dinafikan karena ini memang ada & saya pun memilikinya :D).

Namun, ada yg lebih menarik lagi bila kita kaji lebih jauh sebagai berikut (mengingat solidaritas terhadap Gaza ini tidak ditunjukkan oleh masyarakat muslim semata, melainkan masyarakat lintas agama lintas negara):

Mari kita bandingkan dengan serangan Israel sebelum2nya (serangan ke Tepi Barat, pengepungan Yaser Arafat, serangan ke Lebanon Selatan). Reaksi masyarakat Indonesia maupun dunia waktu itu juga tidak seheboh sekarang. Ini bisa dijelaskan sbb:

a) Adanya Blokade yg Masif

Konflik Gaza kali ini melibatkan suatu upaya blokade yg masif yg luar biasa oleh Israel terhadap Gaza. Ingat, Gaza itu hanya sebuah wilayah yg sangat sempit. Siege warfare terhadapnya dengan mudah dilakukan. Blokade yg dilakukan Israel kali ini bukan saja berupa embargo senjata, tapi blokade total terhadap seluruh asupan kehidupan penduduk Gaza (bahkan obat2an & makanan sekalipun tidak bisa masuk sana dalam lebih 20 hari serangan Israel itu).

Jadi, Gaza itu seperti sebuah ladang kecil yg dikepung, ditutup agar yg di dalamnya tidak bisa keluar dan yg di luar tidak bisa masuk ke dalam, lalu siapa yg ada dalam ladang kecil itu dihabisi. Ini tidak pernah terjadi dalam konflik lainnya di belahan dunia ini, setidaknya dalam beberapa dekade terakhir. Inilah yg mendorong masyarakat dunia untuk bereaksi keras.

Hal ini berbeda dengan konflik di Rwanda misalnya, atau konflik di belahan bumi lainnya, dimana konflik terjadi di ruang terbuka, dimana retreat oleh pihak yg terdesak masih dapat dilakukan. Berbeda dengan Gaza. Penduduk sipil yg tidak ingin terlibat dan ingin menghindar pun tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.

b) Kontinuitas & Simultansi Serangan

Serangan Israel ke Gaza dilakukan secara terus menerus tanpa henti hampir selama 24 jam per hari (kecuali 3 jam yg dijanjikan Israel namun ternyata sering dilanggar pula). Sebuah serangan yg dilakukan selama 24 jam terus menerus tanpa henti berdampak pada peliputan oleh media secara terus menerus selama 24 jam tanpa henti pula. Ini di satu sisi berdampak pada apa yg dianggap sebagai ekspos berlebihan itu (padahal saya lihat itu masih dalam taraf kewajaran).

Di satu sisi, kontinuitas & simultansi serangan yg seperti ini berdampak pada daya destruktif yg sangat besar, apalagi terhadap kawasan padat penduduk seperti Gaza. Daya rusak sebuah serangan tidak bisa dilihat secara akumulatifnya saja, melainkan dari jumlah korban hari per hari. Inilah yg lebih menunjukkan tingkat perusakan itu. Ini bisa dibandingkan dengan konflik lainnya di dunia. Dan perlu dicatat, sampai saat ini pun, penggalian jasad banyak korban di Gaza ini masih terus dilakukan.

c) Besarnya Korban Sipil, terutama Anak2

Ini mungkin terjadi juga pada konflik2 lainnya di dunia, namun dalam konflik Gaza ini, yg menjadi pembeda adalah, aktor dari serangan ini adalah sebuah negara yg parahnya mengaku sebagai negara paling demokratis di Timteng :D. Kontradiksi ini, serta daya destruktif yg ditimbulkan dari konflik ini, berpadu menjadi suatu bahan yg sangat menjadi sorotan dunia.

Sebuah negara yg mengaku paling demokratis di Timteng, sekaligus mengaku memiliki kemampuan serangan yg sangat presisi, ternyata telah dengan sukses membantai ratusan anak2 tak berdosa.

Laporan terakhir dari PRESS TV yg terakhir terpantau oleh saya satu pekan yg lalu, sejauh yg dapat terdata, diketahui bahwa korban jiwa dari pihak militan Hamas sekitar 110 orang, dari pihak Polisi sekitar 150an orang.
Anak2 410an orang. Sipil dewasa (pria & wanita) mencapai 700an orang lebih.

Patut menjadi tanda tanya, apakah tujuan Israel kali ini semata2 untuk menghentikan serangan roket Hamas, atau memang ada maksud genosida di dalamnya (karena anak2 adalah masa depan sebuah negara). Atau memang tujuannya untuk menekan Hamas agar tidak meluncurkan roketnya dengan cara membunuh anak2 & rakyat sipil sebanyak2nya?

Kesemua faktor pembeda di atas telah menjadi karakteristik tersendiri dalam serangan Israel ke Gaza kali ini, dan itulah yg menjadi sorotan dunia, secara lintas agama lintas negara.

Ekspos media yg terus menerus terhadap serangan Israel ke Gaza ini tidak terjadi di media2 Indonesia atau negara2 muslim saja, tapi juga di negara2 seperti Jepang, RRC, India, negara2 Eropa, Amerika Latin, dsb (saya punya parabola 6 feet dan rajin memantau berita berbagai negara, sehingga berani mengatakan ini).
Jadi, sebenarnya kita tidak perlu heran, karena memang sudah seharusnya tragedi kemanusiaan seburuk itu harus diekspos dan dihentikan secepat2nya.