Mewujudkan “Indonesian Army” Masa Depan, Perlukah TNI-AD Berubah? : Suatu Kajian Dalam Menghadapi Tantangan Jaman

Oke's picture

Oleh: Lettu Arm Oke Kistiyanto Kasi-2/Ops Yonarmed-7/105 GS 

“Sebagai bagian dari TNI, tugas pokok TNI AD adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan Negara” (UU no 34 Tahun 2004 tentang TNI)

Mengapa Harus Berubah?

Memenuhi apa yang telah diamanatkan dalam UU no 34 tahun 2004, merupakan tugas yang sangat berat yang harus diemban oleh organisasi TNI AD ke depan. Mengingat dinamika ancaman terhadap bangsa yang selalu berubah dari waktu ke waktu serta penugasan-penugasan baru yang membawa kepentingan Negara baik itu di dalam negeri maupun luar negeri, TNI AD harus dapat menjadi organisasi yang dinamis, siap berubah untuk beradaptasi dengan perubahan jaman.

Melihat tugas TNI AD sesuai UU no 34 tahun 2004 pasal 8, TNI AD harus mampu melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang pertahanan yakni mampu melakukan Operasi Militer Untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Selain itu TNI AD harus mampu melaksanakan tugas TNI dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara lain, mampu melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra darat serta mampu melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat. Ini semua menuntut modernisasi dan perkembangan secara terus menerus terhadap Doktrin TNI-AD, Organisasi, Sistem Latihan, Material (Persenjataan dan Perlengkapan), Kepemimpinan dan Pendidikan, Personel dan Fasilitas.     

Saat ini TNI AD berada pada momen yang bersejarah, negara kita saat ini sedang dalam keadaan damai. Ekonomi negara kita dalam keadaan makmur serta kita memiliki perspektif strategis dan potensi Sumber Daya Nasional serta teknologi. Ini adalah sebuah jendela yang sedang terbuka dari sejarah akan mencatat bahwa kesempatan akan bergerak menyempit di setiap hari yang kita lewati. Kita dapat berubah sekarang, di masa damai dan makmur ini. Atau kita dapat mencoba untuk berubah esok di malam ketika akan terjadi perang, dimana jendela telah tertutup, perspektif kita telah menyempit dan potensi kita telah dibatasi oleh tekanan waktu dan keterbatasan sumber daya.   

Jangan Menutup Mata, Pengalaman adalah Guru yang Terbaik Walaupun Itu dari Negara Lain.

Perlu diingat bahwa salah satu tugas TNI-AD ialah melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang pertahanan, diantaranya yakni melalui Operasi Militer Perang. Sedangkan jika kita berfikir tentang “perang”, yang terbersit dalam pemikiran kita adalah suatu keadaan yang ambigu, tidak menentu dan tidak adil. Ketika kita dalam perang, kita harus berfikir dan bertindak dengan cara yang berbeda. Kita harus lebih fleksibel dan lebih dapat beradaptasi dengan perubahan yanga ada. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri, berfikir kemungkinan terburuk dan siap mengantisipasi kenyataan terakhir “perang” sehingga kita dapat memetik kemenangan yang diharapkan.

Belajar dari pengalaman perang yang telah dilaksanakan oleh negara lain (Amerika), seperti perang di Irak maupun Afganistan. Rata-rata saat ini perang dilaksanakan pada medan perkotaan sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa yang akan datang TNI-AD akan terlibat dalam tipe perang serupa di berbagai perkotaan di Indonesia.

Mengapa demikian? Hal ini sebagian dikarenakan lawan mencari keuntungan asimetrik (kemenangan fisik dan moril) dan sebagian lagi karena pertumbuhan pesat wilayah perkotaan yang disebabkan oleh urbanisasi yang tidak mungkin dielakkan lagi, juga karena sifat strategis dan nilai operasional dari wilayah perkotaan. Disadari ataupun tidak, wilayah perkotaan merupakan objek vital nasional. Kesalahan di level taktis (Batalyon ke bawah) pada operasi militer yang dilakukan di wilayah perkotaan baik itu dalam menghadapi konflik horizontal maupun vertikal akan membawa dampak strategis yang sangat luas terhadap kelangsungan operasi secara keseluruhan. Hal ini bisa menjadi peluang maupun kendala kita dalam pelaksanaan operasi militer di masa datang tergantung di sisi mana kita berdiri dan sebagaimana bisa kita memanfaatkan kesempatan, waktu, tenaga dan pikiran yang ada sekarang sebelum jendela yang terbuka ini tertutup.

“Jangan takut pada perubahan dan jangan antipati pada perubahan karena tidak ada sesuatu yang pasti kecuali perubahan.”

Jaman semakin berkembang, teknologi akan semakin maju, militer negara lain akan semakin kuat serta doktrin mereka akan berubah adaptif menyesuaikan perubahan jaman. Sebagai contoh kecil, kita bisa belajar dari bagaimana Amerika mengembangkan Brigadenya semenjak perang dingin berkecamuk hingga saat ini serta  mengintip perencanaan dalam pengembangan Brigade ke depan setelah 2020.

Sedikit penjelasan, pada tabel paling kiri adalah kondisi sebelum dan semasa perang dingin berlangsung dimana Amerika menggunakan TOP (Tabel Organisasi dan Perlengkapan) Brigade yang merupakan bagian dari Divisi seperti yang kita gunakan sekarang. Setelah Perang Teluk II, Iraqi Freedom Ops, mereka melakukan desain ulang struktur organisasi AD dengan tujuan mengefektifkan joint capabilities atau kerjasama gabungan antar kecabangan, sehingga tercipta Brigade baru dengan ukuran lebih kecil namun memiliki kemampuan lebih dari Brigade konvensional. Ini terbukti pada saat Amerika terlibat dalam Perang Teluk II, keuntungan dalam kemampuan kerjasama gabungan antar kecabangan maupun antar matra dalam level Brigade terlihat jelas sangat mempengaruhi jalannya operasi secara keseluruhan.
Untuk itu setelah tahun 2005 dalam evaluasinya mereka mengembangkan apa yang disebut HBCT (Heavy Brigade Combat Team) untuk pelaksanaan perang di medan terbuka (wide and open area) yang terdiri dari batalyon berlapis baja (kavaleri dan infanteri mekanis). Kemudian mereka juga mengembangkan IBCT (Infantry Brigade Combat Team) untuk pelaksanaan tugas-tugas khusus infanteri (Infantry specialized task) yang terdiri dari batalyon infanteri khusus : Linud (Airborne dan Air Assault) dan Yonif biasa. Dan yang terakhir mereka mengembangkan SBCT (Stryker Brigade Combat Team) yakniBrigade Pemukul untuk pelaksanaan tugas perang pada medan campuran dan tertutup (mixed and closed terrain) salah satunya adalah perang kota yang terdiri batalyon kavaleri ringan (panser), infantry motorized (Infanteri yang dimotorisasi, berbeda dengan infanteri mekanis yang ranpurnya adalah panser, satuan ini menggunakan Humvee yang dimodifikasi serta SPM dalam pergerakannya).

Sehingga dalam direktifnya, USARPAC Chief of Staf  (KASAD AS) mengatakan bahwa ada 3 sasaran yang harus dipenuhi dalam BCT (Brigade Combat Team) agar dapat mencapai Future Combat System BCT setelah 2020 yakni : meningkatkan jumlah new BCT, sehingga kualitasnya seimbang atau lebih baik dari Brigade konvensional yang telah dimiliki sekarang untuk mencapai efektifitas (combat effectiveness), Membuat buku petunjuk baru sebagai cabang dari bujuk yang telah ada sebagai pedoman dalam pelaksanaan BCT. Melaksanakanredesain struktur BCT agar lebih dapat digunakan dalam pertempuran jarak dekat, di medan tertutup, maupun perkotaan mengingat hakekat ancaman kedepan.

Sedangkan dari segi komando dan pengendalian mereka saat ini menggunakan BCTC (Brigade Combat Team Command and Control), sebuah metode komando dan pengendalian modern yang sudah terkomputerisasi dan terintegrasi dalam suatu jaringan internet militer. Sistem ini sudah pernah dipamerkan dan digunakan pada saat Latma Command Post Exercise Garuda Shield 08 antara Brigif-1/PIK Kodam Jaya dengan 27th Brigade 9th Reserve Support Component.

BCTC sendiri terhubung dengan 5 kodal pertempuran utama yang terhubung dalam suatu jaringan internet khusus komando militer GCCS-A (Global Command and Control System-Army). Kelima komponen tersebut yakni : Manuver Control System (MCS) yang digunakan Staf Operasi dalam melaksanakan olah yudha (kalau kita masih menggunakan bak pasir dan peta situasi), Advanced Field Artillery Tactical Data System (AFATDA) yang digunakan oleh Perwira Koordinasi Bantuan Tembakan dalam melaksanakan Koordinasi Bantuan Tembakan (kalau kita masih menggunakan peta bantem), Air and Missile Defence Workstation (AMDWS) yang digunakan oleh Perwira Arhanud dan Perwira Pemberantasan Mortir/Artileri di Brigade (kita masih menggunakan oleat untuk taktik pemberantasan mortir/artileri), All Source Analysis System (ASAS) yang digunakan oleh Staf Intelijen dalam mengolah data intelijen (kita masih menggunakan peta musuh), Battle Command Sustaintment Support System (BCS3) yang biasanya digunakan oleh staf logistik dalam mengolah unsur bamin.

Bagaimana dengan kita? Dimana ancaman disekitar kita semakin nyata, apakah kita akan berubah? Ataukah kita akan masih tetap sama seperti yang dahulu? Belajar dari sejarah, tahukah darimana doktrin perang kita berasal? Sejak tahun berapa itu dibuat? Dan masih relevankah itu digunakan dikaitkan dengan tingkat ancaman yang akan datang? Anda sendiri yang dapat menjawabnya.
                       
Mobilisasi Komponen Cadangan? Belajar dari Bagaimana Amerika Mengolah Komponen Cadangan Mereka.
         
Kita menyadari bahwa kita berperang tidak sendiri. Sesuai doktrin, Sistem Pertahanan Indonesia menganut Sistem Pertahanan Semesta (Total War) yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, berkesinambungan dan berkelanjutan untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan melindungi keselamatan segenap bangsa dari setiap ancaman. (UU no 34 tahun 2004 pasal 6).
Kalau kita berbicara tentang Sistem Pertahanan Semesta, tentu tidak lepas dari pembahasan komponen cadangan. Saat ini Angkatan Darat, dalam hal ini Komando Kewilayahan masih mencari format yang tepat tentang bagaimana cara mengolah komponen cadangan agar dapat dimobilisasi secara efektif efisien serta diterima masyarakat luas. Sebagai referensi, tentu tidak ada salahnya kita mengintip negara lain, yakni AS dalam mengolah komponen cadangan mereka.
Sebelum menuju inti pembahasan, mari sejenak kita melihat struktur organisasi US ARMY. Angkatan Darat Amerika Serikat terdiri dari Active Component (tentara aktif) dan Reserve Component (tentara cadangan). Sedangkan Reserve Component (RC) sendiri terdiri dari Army National Guard (ARNG) dan The Army Reserve (AR). Perlu diketahui bahwa sejak 1990, US Army telah bersandar pada kemampuan komponen cadangan dalam pelaksanaan Operasi Militer Perang sehingga kekuatan dari komponen cadangan lebih besar dari kekuatan komponen aktif. Dan saat ini komposisi perbandingan antara Active Component : Army Reserve : Army National Guard adalah 47 : 33 : 30 sehingga apabila di total seluruhnya kekuatan komponen aktif lebih kecil daripada kekuatan komponen cadangan didalam tubuh AD AS (47 : 63). (Sumber : How Army Run Figure 7-1).

Perlu diketahui bahwa perbedaan antara Army National Guard (ARNG) dengan The Army Reserve (AR) terletak pada komando dan penggunaan kekuatannya. Terbentuk sejak tahun 1636, Army National Guard sejarahnya merupakan evolusi dari pasukan paramiliter yang ada di setiap negara bagian. Kemudian berdasarNational Defense Act of 1916 (NDA–1916) nama “National Guard” resmi dipakai sebagai organisasi militer yang berada dibawah komando gubernur negara bagian yang merupakan bagian dari kekuatan cadangan Amerika Serikat. Dasar hukum itulah yang memberi otorisasi kepada presiden untuk memobilisasi Army National Guard apabila terjadi perang atau keadaan darurat nasional.

Sedangkan The Army Reserve pada awalnya merupakan konsep dari Jenderal George Washington pada tahun 1783 untuk memenuhi kendala kekurangan tentara aktif ketika dalam kondisi perang atau keadaan darurat nasional dengan cara memobilisasi masyarakat sipil yang sudah dilatih dalam latihan militer. Fungsinya adalah untuk menambah kekuatan dan mendukung AD, to raise and support armies. Perbedaan yang mencolok dengan Army National Guard  yakni pada konsep mobilisasinya.

Pada masa damai, yang bertanggung jawab dalam persiapan Army National Guard untuk mobilisasi umum adalah Gubernur Negara Bagian, the State Governoor. Petunjuk perencanaan disampaikan kepada Gubernur Negara Bagian oleh Mabes AD AS, HQDA (Headquarters Defence Army) melalui Kepala Biro Nasional Guard, CNGB (Chief of National Guard Bureau); danKomando ADAS bagian Regional Pusat, FORSCOM (US Army Force Command) serta Komando AD AS bagian Regional Asia Pasifik, USARPAC (US Army Pacific) memberikan jukcan mobilisasi umum kepada para Kantor National Guard Negara bagian masing-masing, Adjutants General of the Respective State. Sembari menunggu federalisasi statusmaka ARNG berada dibawah komando Gubernur Negara Bagian, dan apabila proses federalisasi ARNG telah selesai maka personel ARNG merupakan personel tentara aktif bukan lagi tentara cadangan.
Sedangkan pada The Army Reserve, ketika masa damaiyang bertanggung jawab atas penyiapan kekuatan dalam rangka mobilisasi adalah Panglima Komando AD AS bagian Region Pusat, CG FORSCOM (Commanding General US Army Force Command). Petunjuk perencanaan diberikan kepada Komando Komponen Cadangan AD AS, USARC (United States Army Reserve Command); Panglima Komando AD AS begian Regional Pasifik, Commander of USARPAC dan Panglima Komando AD AS bagian Regional Eropa, Commander of USAREUR (United States Army Europa). Perubahan status personel dari tentara cadangan menjadi tentara aktif dilakukan oleh staf personel AD AS,  G-1, di setiap Regionalatas petunjuk Markas Kepala Tentara Cadangan AD, OCAR (Office of the Chief Army Reserve).

Untuk komponen cadangan sendiri, AD AS membagi menjadi 3 kategori besar yakni : The Ready Reserve,The Standby Reserve dan The Retired Reserve. Kategori pertama The Ready Reserve dibagi lagi menjadi tiga sub kategori antara lain : Selected Reserve, Individual Ready Reserve (IRR) yang hanya ada di Army Reserve dan Inactive National Guard (ING) yang hanya ada di ARNG.

Sub kategori Selected Reserve hanya terdiri dari anggota ARNG dan AR, Active Guard Reserve (AGR) (hanya ada di ARNG) dan Individuals Mobilization Augmentees (IMA) (hanya ada di AR). Normalnya personel Selected Reserve melaksanakan latihan regular 48 paid unit training assembly (UTA) selama dua minggu dalam setahun dengan durasi waktu minimum 4 jam sehari (untuk AR minimal 14 hari sedangkan ARNG minimal 15 hari), selain itu mereka juga melaksanakan latihan tambahan additional training assembly (ATA). Ketika mereka dalam periode UTA atau ATA, berarti mereka dalam status Inactive Duty Training (IDT), yakni latihan regular dibawah bimbingan personel RC dan bukan merupakan bagian dari kursus atau dinas harian. Sedangkan status Active Duty Training (ADT) hanya diberikan kepada RC apabila mereka dilatih oleh personel Active Component dalam suatu latihan khusus dalam rangka memenuhi kebutuhan militer akan satuan terlatih atau personel berkualifikasi khusus ketika perang atau masa darurat nasional. Latihan yang dilakukan oleh Selected Reserve termasuk ke dalam program latihan yang dinamakan TPU (Troop Program Unit). Selected Reserve juga berhak mengikuti program Active Duty for Special Work (ADSW), yakni program tour of duty bagi personel AD, baik itu yang berada di Active Duty maupun di RC selama + 180 hari Sebagai contoh latihan bersama antara Komando AD AS bagian Regional Pasifik, United States Army Pacific (USARPAC) dengan TNI AD, Exercise Garuda Shield yang telah diadakan 3 kali (2007,2008 dan 2009*) (*khusus untuk 2009 merupakan event capstone sehingga merupakan kerjasama TNI dengan USPACOM bukan merupakan kerjasama AD).Sub-sub komponen terakhir dari Selected Reserve adalah Individuals Mobilization Augmentees (IMA) (hanya ada di AR) yakni pengisian jabatan pada struktur jabatan Active Component yang diisi oleh AR ketika masa perang dan tidak boleh diisi pada masa damai. Program latihan IMA berlangsung selama 12 hari sebelum personel yang bersangkutan menduduki jabatan yang telah ditetapkan.

Sub kategori yang kedua adalah Individual Ready Reserve (IRR) (hanya ada di AR). Tujuan utamanya adalah pengisian kekuatan, digunakan dalam rangka mobilisasi ketika perang atau darurat nasional yang dideklarasikan oleh Kongres atau Presiden US. IRR terdiri dari prajurit yang belum terlatih yang bergabung di berbagai bagian khusus untuk kontrol dan adminisrasi. Sistem penyiapan IRR dibagi menjadi dua : Group kontrol “Active Training” terdiri dari non-unit Ready Reserve dengan status wajib latihan. Group kontrol “Reinforcement” terdiri dari personel wajib militer yakni anggota AR, ARNG dan pecatan dari Active Component yang belum memenuhi 8 tahun masa dinas wajib. Singkatnya IRR terdiri dari kelompok besar individu prajurit yang belum terlatih yang berfungsi sebagai tenaga pengganti prajurit AC dan Selected Reserve yang gugur atau terluka dalam pelaksanaan operasi.  

Sub kategori ketiga adalah Inactive National Guard (ING) yang hanya ada di ARNG. Tujuan dibentuknya ING adalah menyalurkan individu yang ingin melanjutkan status militernya dalam National Guard namun tidak dapat aktif berpartisipasi. Sehingga apabila terjadi keadaan darurat nasional, mobilisasi personel ING dikembalikan kepada satuan ARNG asalnya sebelum dia keluar, apabila yang bersangkutan termasuk anggota National Guard. Sedangkan untuk mantan anggota AC yang bergabung di ING akan dikembalikan ke satuan AC sebelum dia keluar.

Kategori kedua dari komponen cadangan US ARMY adalah Standby Reserve. Terdiri dari mantan prajurit yang telah selesai melaksanakan masa latihan baik itu dalam active duty maupun reserve duty namun tidak bisa melanjutkan berdinas karena berbagai hal namun masih ingin tetap menjaga afiliasi dengan militer. Alasan lainnya adalah temporary medical disqualification dan extreme hardship yang menimpa prajurit setelah prajurit selesai melaksanakan masa latihan militer.Standby Reserve tidak boleh berubah status menjadi Active Component kecuali ada deklarasi perang dari Kongres atau Presiden US.
Kategori terakhir adalah Retired Reserve (khusus untuk AR), terdiri dari personel yang telah pensiun setelah 20 tahun pengabdian atau bagi personel yang sedang dalam masa MPP. Anggota dari RR tidak boleh ikut dalam latihan militer kecuali dalam masa darurat perang.
Perlu diketahui bahwa umumnya, Amerika Serikat mengenal 5 macam tingkatan mobilisasi yakni : Selective mobilization, Presidential reserve call-up (PRC), Partial Mobilization, Full Mobilization, Total mobilization.

Selective mobilization adalah tingkat pertama mobilisasi untuk keadaan darurat domestik, pada tahap ini Presiden AS akan mengembangkan jumlah pasukan aktif dengan cara mengaktifkan RC untuk mengatasi situasi darurat dalam rangka melindungi keselamatan masyarakat.
Dalam Presidential reserve call-up (PRC), Presiden AS akan menambah jumlah pasukan aktif dengan cara melaksanakan pemanggilan terhadap Selected Reserve dan IRR dalam waktu tidak lebih dari 270 harihingga mencapai jumlah total 200.000 personel dari semua angkatan, dari 200.000 personel ini, 30.000 berasal dari anggota IRR. Namun dalam menggunakan hak otoritas ini Presiden harus memberitahu Kongres ketika RC dilatihkan.
Tingkat ketiga mobilisasi adalah Partial Mobilization. Ini dilaksanakan ketika Presiden menyatakan keadaan darurat nasional, sehingga sekitar 1.000.000 personel Ready Reserve berubah status menjadi Active Duty.Durasi waktunya adalah 24 bulan untuk memenuhi kebutuhan yang ada.
Full Mobilization, tingkat keempat mobilisasi dilakukan apabila keadaan perang atau darurat nasional dinyatakan oleh Kongres. Ini melibatkan seluruh komponen Reserve Component untuk diaktifkan menjadi Active Duty dengan durasi 6 bulan.

Tingkat terakhir mobilisasi adalah Total Mobilization, ini dilakukan apabila tingkat keempat mobilisasi tidak mampu mengatasi keadaan darurat atau perang yang ada sehingga seluruh masyarakat wajib melaksanakan wajib militer. Ini dilakukan apabila terjadi perang dunia.

Akhir kata, masa depan TNI AD ke depan merupakan tanggung jawab kita bersama. Apakah kita akan berdiam diri menunggu “jendela” tertutup? Dimana perspektif kita telah menyempit dan potensi kita telah dibatasi oleh tekanan waktu dan keterbatasan sumber daya ataukah kita memanfaatkan “jendela” yang sedang terbuka saat ini? Dimana negara kita saat ini sedang dalam keadaan damai. Ekonomi negara kita dalam keadaan makmur serta kita masih memiliki perspektif strategis dan potensi Sumber Daya Nasional serta dukungan teknologi? Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita mau berubah atau tidak.
             

FBI-detik's picture

membaca artikel dari Mas Oke

membaca artikel dari Mas Oke Kistiyanto menambah wawasan saya tentang bagaimana doktrin dan konsep US Army.
Saya juga sangat setuju apabila ada pemikiran tentang perubahan di Tubuh TNI-AD khususnya tugas-tugas TNI-AD dihadapkan dengan perkembangan situasi dunia saat ini dan trend yang sedang berkembang. Dan dengan adanya perubahan adalah sangat baik sehingga TNI-AD dapat lebih dinamis dan fleksibel dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dan juga mengambil referensi atau mengadopsi dari negara maju seperti US saya pikir bukan hanya negara kita saja yang ingin atau berangan-angan untuk memiliki kekuatan militer yang didukung dengan kecanggihan teknologi seperti yang dimiliki oleh US, tetapi perlu kita sadari bahwa kemampuan negara kita jauh berbeda dengan US, sebagai contoh kita lihat dari segi anggaran untuk pertahanan dimana anggaran US jauh lebih besar.
Dan saya yakin para pimpinan TNI-AD telah memikirkan tentang perkembangan TNI-AD dihadapkan dengan dinamisnya situasi dunia saat ini.

Oke's picture

Terima kasih atas komentarnya

Kalau tidak salah nanti tahun 2010 kita akan membahas tentang UU Komponen cadangan, semoga ini bisa menjadi bahan referensi bagi para pembuat kebijakan tentang Bagaimana bentuk komponen cadangan kita; Bagaimana pengelolaan anggaran Komponen cadangan yang diberikan kepada TNI; Bagaimana pelatihan komponen cadangan yang akan dilakukan TNI.

Perlu diketahui bahwa saat ini TNI sudah mempunyai alat untuk mengelola komponen cadangan yakni unsur Satuan Kewilayahan seperti Kodam, Korem, Kodim dan Koramil dengan sarana pelatihannya yakni Resimen Induk Kodam (Rindam) yang ada di tiap-tiap Kodam.

Sehingga apabila UU Komponen Cadangan sudah disahkan, maka TNI dapat semaksimal mungkin memberikan pelatihan kepada masyarakat melalui Rindam di tiap tiap Kodam sedangkan mengenai sistem perekrutan serta komando kepemimpinan unsur komponen cadangan berada pada Satuan Kewilayahan yang berada di seluruh tanah air.

Dan harapan saya pribadi, apabila terjadi mobilisasi yang melibatkan komponen cadangan seperti halnya yang dilakukan US, misalnya apabila terjadi bencana alam di suatu daerah, maka Kodam akan bekerja sama dengan BPBD (yang saat inipun baru dibentuk di 3 provinsi, sisanya masih berupa Satkorlak yang sifatnya koordinasi) mengerahkan unsur komponen cadangan bersama TNI aktif dalam rangka tanggap bencana.

Selain itu TNI dengan Komando Kewilayahannya akan lebih berperan serta tidak hanya dalam saat tanggap bencana, namun juga dalam masa Pra-Bencana melalui Geladi Posko Daerah (Level Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kodya, Kecamatan) yang materi pelatihannya diatur oleh Rindam.

Sedangkan pada masa Pasca Bencana, TNI dengan TMMD nya akan membantu masyarakat memulihkan kondisi fisik maupun moril masyarakat yang menjadi korban bencana dengan bantuan komponen cadangan yang ada.

Sehingga tidak ada lagi berita di TV nasional tentang bantuan terhadap masyarakat yang menumpuk di posko karena kurangnya koordinasi aparat, tidak ada lagi berita tentang masyarakat yang menunggu bantuan pasca bencana yang tak kunjung tiba, dan masyarakat serta unsur pimpinan masyarakat mulai level Kecamatan, Kodya/Kab,Provinsi hingga Nasional tahu bahwa saya siapa, berbuat apa dan apa yang harus saya kerjakan sebelum, selama dan setelah terjadinya bencana.

Namun ini semua baru angan-angan dan harapan saya demi kemajuan bangsa Indonesia yang kita cintai, mari kita bangun bangsa ini,ayo kita sama-sama benahi negara ini sesuai dengan kemampuan dan wewenang kita masing-masing.

gs_bhakti's picture

Baik IBCT, SBCT dan

Baik IBCT, SBCT dan HBCT...keunggulan ketiganya adalah penggunaan konsep "combined arms" yang komposit dimana unsur manuver sudah didukung unsur bantem, pengintai dan pelayanan yang bersifat organik.
Yang berbeda adalah, IBCT titik berat kepada infanteri jalan kaki (dismounted) sehingga lebih dikerahkan pada medan yang tertutup seperti hutan atau medan pepohonan yang sulit dilalui ranpur/rantis.
Sedangkan SBCT memiliki mobilitas yang lebih tinggi (mounted) dengan armoured vehicle jenis Stryker yang sudah cukup memberikan survivability kepada pasukan walaupun belum "fully armed" seperti HBCT. Stryker ini masih roda bundar dengan senjata 40 mm / 7.62 mm / .50 cal, mampu menampung 9 orang personel dan untuk menutupi kekurangan bantemnya...tiap kompi memiliki 1 Ton MGS, roda bundar dengan kanon 105 mm, 7.62mm dan .50 cal mm.
HBCT, dalam satu Yon memiliki 2 Kompi Bradley (armoured vehicle yang sudah roda rantai) dan 1 Kompi Tank M1...kalau yang ini jelas sudah fully armed sekaligus masih bisa mengangkut personel infanteri.

Sekedar tambahan...

kujangeers's picture

add

Sekedar tambahan,............Perubahan konsep US Army/Transformasi dari Divisi Centric Designed warisan PD II/Perang Dingin yg sanggup digerakkan ke 1 atau 2 Mayor Theatre menjadi Brigade Centric Designed yg 'Ready to deploy in full spectrum of conflict all over the world 'secara signifikan dimulai setelah peristiwa 9/11 dan dipresentasikan di depan Konggres oleh Jendral Peter Schoomaker (KASAD US) Desember 2006. Sehingga satuan tempur dasar US Army saat ini beralih dari satuan Setingkat Divisi menjadi Satuan Brigade Modular (HBCT,IBCT&SBCT)dan fungsi Divisi dalam Trouble Spot (Afghan/Iraq) hanya mengkordinir Brigade2 tempur yg berada dibawahnya, kita masih ingat bagaimana peran Divisi2 tempur mereka di Mandala Eropa Barat (101st,3rd,82nd..dll) atau ketika mereka menyerbu Grenada dan Panama .
Modular cobat Brigade merupakan satuan tempur gabungan yg mampu melaksanakan operasi secara berdiri sendiri, mekanis (Stryker,Bradley),terlatih,memiliki unit2 Recon (Rec Coy) dan memiliki satuan bantem yg besar (Field Arty Bn.Dgn jumlah yg relatif kecil 3000-4000 pers, Brigade ini memiliki mobilitas yg tinggi & sangat Lethal.

Sebenarnya TNI AD sudah mulai berbenah & beradaptasi dgn pola Brigade Sentris ini,..terbukti saat ini Mabesad sudah membentuk & mengaktifkan kembali Brigade2 yg dulu telah dilikuidasi pd jaman Jendral Rudini.
Dari 8 Brigade (6 Kostrad dan 2 Kodam )menjadi 16 Brigade ( 7 Kostrad dan 9 Kodam )dan akan bertambah bila renc pembentukan Brigif di Kodam IM,SWJ,PTM & WRB direalisasikan. Selain itu pembentukan prototipe Yon Mekanis untuk Brigif 1/PIK nampaknya agak2 mirip Design Modular Combat Brigadenya US (IBCT) walaupun masih jauh sekalee untuk senjata & perlengkapannya....
Paling tidak kita masih bisa berharap dari Reformasi dan Transformasi di tubuh TNI AD yg sedang berjalan saat ini walaupun dgn keterbatasan Anggaran yg diberikan oleh negara....Bravo Army..!!

Mewujudkan TNI AD masa depan

Mas Oke,
Kajian yang bagus. Seingat saya doktrin kita (kalau blm berubah) adalah Pertahanan Rakyat Semesta. Dalam konteks ini, ada baiknya kita menengok juga pengalamam Vietnam melawan AS dalam perang Vietnam. Selain perang gerilya, Vietnam juga melakukan perang konvensionil dengan mengandalkan batalyon light infantry, yang pada masanya diakui sebagai light infantry terbaik di dunia.
Sampai sekarang tampaknya organisasi dan latihan TNI AD cenderung ke light infantry (apa karena kondisi duit cekak?) seperti KOSTRAD dan PPRC. Dari konsep/doktrin, kondisi geografis dll menurut saya batalyon light infantry seharusnya adalah dasar dari kekuatan TNI AD. Yang lain seperti C3I, armed/roket, tank, arhanud, transport, logistik adalah bersifat bantuan/ komplemen yang disesuaikan dengan tugasnya baik operasi perang maupun bukan perang.
Karena itu saya termasuk yang tidak setuju dengan pembelian Leopard karena alasan tersebut di atas. Batalyon mekanis OK tapi sifatnya tetap bantuan (B3M IFV lebih cocok untuk Indonesia).
Semboyan Infantry is the Queen of Battle sangat cocok untuk Indonesia. Dana Leopard lebih baik untuk perbaikan perlengkapan dan latihan light infantry seperti anti tank (ToT RPG, karena Carl Gustaf mahal), ToT MANPAD, ToT/modernisasi sistem mortir 82 mm, organik kompi GPMG dan HMG, organik peleton sniper anti personil dan anti materiel, organik regu RPG, SAW, komunikasi radio personil dan rompi anti peluru, NVD/G.
Tujuannya adalah agar batalyon light infantry menjadi unsur dasar pemukul cepat yang self sufficient operasi tempur siang malam urban atau lahan/ hutan.
Kekuatan pemukul adalah brigade (bukan divisi) terdiri dari 2 - 3 batalyon light infantry, ditambah bantuan tempur kalau perlu.
Terima kasih atas dimuatnya komentar ini.