Panser Pribumi Penjaga Negeri

Tulang punggung keutuhan negeri ini walau bagaimanapun tetap berada di tangan Tentara Nasional Indonesia (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara). Pertanyaannya adalah, bagaimanakah nasib negara dan bangsa ini apabila tulang punggung keamanan nasional itu menjadi rapuh?

Kerapuhan angkatan bersenjata Indonesia, mirip kakek atau nenek yang menderita penyakit osteoporosis. Punggungnya bengkok, gerakannya tidak lincah, loyo serta tidak mampu memberikan respon secara baik terhadap kemungkinan serangan dan gangguan keamanan wilayah yang maha luas ini.

Jangan terlalu pesimistis menghadapi kenyataan itu. Sekarang, perlahan tetapi pasti Indonesia sudah berusaha keras agar kekuatan TNI bisa bangkit dan mendapatkan perlengkapan secara memadai. Satu di antaranya adalah upaya PT Pindad (Perusahaan Industri Angkatan Darat) memproduksi karya sendiri berupa Panser Angkut Personel Sedang (APS) 6 X 6, yang juga akan dikembangkan sebagai Panser Canon versi tactical Armor. Harga panser jenis itu di dalam negeri mencapai tiga juta dolar AS per unit pada 2008 lalu.

Jumat (27/2) kemarin, PT Pindad menyerahkan 20 Panser APS-2 6x6 kepada Departemen Pertahan (Dephan) dan diberikan kepada TNI AD sudah melalui uji kelaikan dan memenuhi persyaratan.

Kendaraan tempur itu sudah lolos uji verifikasi dokumen, uji kesesuaian dan uji kelaikan. Untuk uji kelaikan ada tiga langkah tes yakni pengujian kondisi fisik, dinamis dan uji kelaikan statis. Panser itu mempunyai keunggulan kecepatan 90 kilometer per jam dan enam gigi atau speed, serta bisa melewati parit selebar satu meter dan rintangan tebing setinggi 60 sentimeter.

Selain itu, pada saat ban atau roda panser kena tembak masih bisa melaju sejauh 60 kilometer sejak ditembak. Panser tersebut memiliki berat kendaraan maksimal 12 ton. Badan terbuat dari monocoque, plat tahan peluru setebal delapan sampai 10 milimeter.

Panser itu mempunyai kapasitas angkut 15 orang, dilengkapi delapan kaca intai, delapan lubang tembak serta dua set tabung pelontar granat asap. PT Pindad baru menyelesaikan 20 unit dari keseluruhan panser pesanan Dephan sebanyak 154 unit.

Panglima TNI, Djoko Santoso, mengatakan bagi TNI penggunaan produk dalam negeri berbanding lurus dengan nasionalisme suatu bangsa. TNI dengan semangat tinggi menyambut baik program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) untuk pakaian dan sepatu di lingkungan pemerintah dan BUMN/D, meskipun agak sedikit sulit bagi TNI.

Penggunaan produk dalam negeri merupakan contoh nyata tindakan yang berpotensi memperkuat pertahanan bangsa. Dia mengaku, seluruh perlengkapan TNI dari sepatu hingga seragam merupakan produksi lokal. Bahkan tidak hanya itu, untuk alutsista pun sepanjang masih dapat diproduksi di dalam negeri pihaknya akan dengan senang hati menggunakannya.

Idealnya, TNI mendapat anggaran 5,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) agar terhindar dari berbagai ancaman seperti kehilangan wilayah hingga separatisme. Tetapi menurut pengamat politik dari FISIP UI, Connie Rahakundini Bakrie, anggaran TNI tidak pernah lebih dari satu persen atau rata-rata hanya 0,98 persen dari PDB, bahkan tahun ini malah turun menjadi 0,6 persen karena ada poemilu.

Direktur Eksekutif Institute of Defense Security Study (IODAS) itu mengatakan, dengan anggaran yang minim, alat utama sistem pertahanan (Alutsista) Indonesia juga akan lemah dan dampaknya pertahanan Indonesia kurang memadai. Termasuk menjaga kekayaan laut Indonesia yang menjadi sasaran pencuri ikan nelayan asing, pelanggaran wilayah udara tanpa bisa dicegah, lebih dari kredibelitas dan komptensi menjaga keamanan nasional.

Menurut Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono, penurunan alokasi anggaran pertahanan pada TA 2009 menjadi Rp 35 triliun dari sebelumnya Rp36,39 triliun atau hanya dapat mendukung sekitar 36 persen kebutuhan minimal. Kebutuhan minimal Dephan dan TNI sekitar Rp 100,53 triliun. Dalam daftar Pagu DIPA TA 2008 TNI AD secara nominal mendapat porsi anggaran terbesar Rp 16,1 triliun.

Kondisi akan berdampak pada tingkat kesiapan operasional TNI, baik sumber daya manusia dan Alutsista. Di sisi lain, kemampuan pertahanan negara harus terus ditingkatkan antara lain dengan pemeliharaan kekuatan pokok minimum, kesiapan alutsista dan terselenggaranya latihan secara teratur.


Ilustrasi Panser buatan PT. Pindad

Sumber: Banjarmasin POst