Pelajar Sebagai Komponen Pertahanan Bangsa Masa Depan

ptriwidodo's picture

Oleh: Puji Triwidodo, ST., Akademisi & Praktisi Pendidikan, Kontributor TANDEF

Working Together For Freedom

East Timor takes up half of a small island several hundred miles from the capital of Indonesia, Jakarta. A former Portuguese colony, East Timor was invaded by Indonesia in 1975 and ruled harshly. Some people, however, fought back. Carlos Filipe Ximenes Belo, a Roman Catholic bishop, and Jose Ramos Horta, a politician, worked peacefully on behalf of the Timorese people. They were awarded the 1996 Nobel Peace Prize for their efforts. In 1999, East Timor voted to become an independent nation, and in 2002 it was internationally recognized as the world’s newest independent democracy.

Ini dikutip dari sebuah buku referensi untuk Middle School (SLTP), World Explorer – People, Places, and Cultures, terbitan Prentice Hall.

Dalam promosi katalognya jelas-jelas si distributor mengelompokkan buku ini sebagai bahan pelajaran Social Studies dengan target siswa Middle School. Ini merupakan buku yang dijual dan dikonsumsi oleh pelajar-pelajar internasional baik sekolah-sekolah luar negeri maupun di negeri tercinta Indonesia. Dan kini sekolah berbasis National Plus dan International di Indonesia sudah banyak dan banyak diminati oleh mereka yang berkocek tebal. Bahasa pengantar pembelajaran di sekolah adalah Bahasa Inggris, yang otomatis buku-buku konsumsi siswa dan acuan handout guru adalah buku berbahasa Inggris.

Ketika saya mendapat kiriman buku ini yang langsung dibawa dari Amerika, saya langsung membaca, dan kaget setelah membaca satu paragraf mengenai East Timor. Isinya sangat bertentangan dengan hati saya. Isinya terkesan membela pemberontakan separatis dan tentunya menilai Indonesia sebagai negara penjajah dan tidak berperikemanusiaan.

“…., East Timor was invaded by Indonesia in 1975 and ruled harshly….”
“…Carlos Filipe Ximenes Belo, a Roman Catholic bishop, and Jose Ramos Horta, a politician, worked peacefully on behalf of the Timorese people. They were awarded the 1996 Nobel Peace Prize for their efforts…”

Uh… miris ini hati jadinya. Kita tahu bahwa sudah banyak TNI yang gugur dalam menjalankan tugasnya di East Timor. East Timor menjadi cerita sendiri bagi TNI yang selamat pulang kembali ke kampung halaman selepas penugasan dari sana. Bagaimana komentar mereka kalau tahu anak cucunya mempelajari Citizenship dan Cultural System sebagai bagian dari Social Studies menggunakan bacaan di atas. Pastilah nasionalisme yang diharapkan tumbuh dari seorang generasi bintang muda Indonesia akan pupus tak berbuah.

Ini adalah satu dari sekian banyak realitas pendidikan Indonesia yang kian liberal. Belum lagi banyak sekolah internasional yang ada di Indonesia tidak memberikan pembelajaran tentang Pancasila, UUD 1945, dan sejarah Indonesia. Mereka menggunakan kurikulum yang dibuat oleh induknya di luar negeri. Jangan salah, banyak pejabat-pejabat teras pemerintah Indonesia yang menyekolahkan anaknya di sekolah sejenis.

Memang, sekolah negeri masih memberikan pembelajaran yang menumbuhkembangkan kecintaan anak didik terhadap Ibu Pertiwi. Tapi di masa depan kita harus berhati-hati, karena siswa-siswa sekolah internasional dan nasional plus adalah mereka yang akan mewarisi kepemilikan perusahaan orang tuanya. Generasi penerus itu akan menduduki posisi strategis dalam penguasaan ekonomi bangsa. Penguasaan sumber daya alam dan manusia tanpa disertai nasionalisme akan menjadi ancaman bagi bangsa.

Pemerintah hendaknya menyadari bahwa pembentukan wawasan kebangsaan dan kejuangan adalah dimulai dari sekolah dengan memberikan kewajiban pembelajaran nilai-nilai kebangsaan dan kejuangan di kelas dengan menggunakan indikator kurikulum sebagai standar materi pembelajaran sehingga isi yang diajarkan harus selaras dengan tujuan. Dan pembelajaran harus diikuti oleh semua siswa termasuk warga negara asing.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Nasionalisme dimanakah sekarang kau berada ?

Membaca tulisan ini,
menambah self aware saya mengenai pendidikan di Indonesia,
PSPB yang dulu kita pelajari, walaupun isinya cenderung memuliakan dan kurang objektif mengenai keadaan sesungguhnya,
adalah anugerah tersendiri buat penumbuhan jiwa patriotisme,
Propaganda seperti ini adalah perlu,
walaupun propaganda sering dinilai negatif,
tapi beberapa unsur negara perlu mendalami ilmunya,
jangan seperti yang sekarang,
karena kurang ilmu, mudah sekali ditebak ke arah mana kebijakan itu menuju,

Teruslah menulis,
kita akan dengan senang hati mendalaminya,

zatria

Sejarah Bangsa-Bangsa

Bang,

Saya juga pernah menjumpai kisah serupa. Di Sydney, saya menemukan Ensiklopedi Dunia yang memuat peristiwa-peristiwa penting sejak jaman purba (T-Rex dkk) hingga circa 2007. Sayang saya lupa judul ensiklopedi tersebut dan penerbitnya.

Ensiklopedi diurutkan berdasarkan waktu (dekade atau tahun).

Dan saya terkejut ketika membaca bahwa Negara Republik Indonesia "terbentuk" tahun 1949 ketika Belanda melepas Indonesia dari koloni-nya. Di tahun 1945 tidak tertulis adanya kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan Belanda.

Saya pikir ensiklopedi ini bukan satu-satunya referensi yang menyatakan demikian. Dan sepertinya, inilah cara dunia memandang sejarah bangsa Indonesia.

Nasionalisme ditumbuhkan sejak kanak-kanak

Benar sekali bro'..Kalau kita mau mengamati kondisi bangsa ini sudah mulai terdegradasi nilai-nilai nasionalisme. Ini terlihat jelas saat para pemuda khususnya siswa sekolah banyak yang tidak tahu lagu kebangsaan serta sejarah bangsa ini. Secara formal ini tanggung jawab pemerintah, namun kita punya tanggung jawab moril agar nilai kebangsaan dan nasionalisme tetap terpelihara. Pendidikan dimulai dari sebuah keluarga, kemudian masyarakat dan yang paling banyak adalah di sekolah. Kalau diprosentase keluarga sekitar 50%, masyarakat 15% dan sekolah 35%. Jadi pendidikan keluargalah yang sangat berperan penting membina seorang anak. So, mari kita tumbuhkan kemauan dalam diri kita selaku kepala kelurga untuk menanamkan jiwa kebangsaan ini. Implementasinya bisa bermacam-macam, mulai dari rumah, diajak jalan-jalan ke museum, maupun monumen-monumen. Bisa juga mengunjungi instansi TNI maupun melihat parade-parade TNI. Di negara Rusia, para orang tua mengajak anak-anaknya melihat parade saat hari kemerdekaan bangsanya bahkan mengajari anak-anaknya lagu-lagu perjuangan. Dan ternyata hal ini efektif untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan serta nasionalisme anak-anak tersebut.

laporkan ke diknas

Bro, laporkan saja ke Diknas isi buku itu yang akan merusak pemahaman generasi muda bangsa Indonesia. Mudah-mudahan mereka akan mengambil langkah.

Saya sangat setuju dengan penanaman wawasan kebangsaan dan kejuangan sejak kecil. Liberalisme pendidikan seharusnya tidak sampai menjarah soal muatan dan kurikulum. Diknas harus diberikan wewenang, paling tidak ada kerja sama dengan Kejagung untuk menyaring buku-buku pelajaran yang masuk ke Indonesia. Kekhawatiran saya bertambah justru pada lemahnya penguasaan bahasa Inggris pada orang-orang Diknas sehingga mereka malas memeriksa isi buku-buku pelajaran dalam bahasa Inggris.

Di atas itu semua, degradasi moral tetap menjadi masalah utama bangsa kita. Agama di Indonesia, saya amati, sudah bertambah dengan satu agama lagi, yaitu agama "uang" yang dianut oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Orang-orang yang beragama selain uang akan tersingkir. Orang-orang yang beragama uang akan cepat kaya dan cepat naik pangkat. Orang-orang beragama uang yang memiliki kekuasaan tidak akan peduli dengan wawasan kebangsaan dan kejuangan.