Pendidikan Bela Negara Solusi Jitu Lahirkan Generasi Cinta Tanah Air Berwawasan Kejuangan

ptriwidodo's picture

Oleh: Puji Triwidodo, ST., Akademisi & Praktisi Pendidikan, Kontributor TANDEF

Sudah pernah melihat raut wajah murid-murid sekolah ketika pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan? Atau mungkin diri kita yang dulu belajar Pendidikan Moral Pancasila? Kalau gurunya bukan seorang yang cantik jelita atau pandai melawak (itupun lawakannya di luar materi pelajaran), saya berani bertaruh para siswa akan terlihat bosan dan sebentar-sebentar melihat jam dinding menanti pertolongan bel tanda kelas usai.

Ini merupakan problema besar bagi bangsa. Masa depan bangsa berada di tangan generasi muda khususnya pelajar. Mereka adalah harapan kita. Generasi bintang. Sudah sepantasnya energi dan perhatian kita curahkan kepada pelajar demi terwujudnya masa depan bangsa yang memiliki ketahanan nasional yang tangguh. Jangan berharap terlalu besar untuk menumbuhkan nasionalisme dari generasi tua. Mahasiswa saja sudah sulit. Nasionalisme mereka memiliki makna yang berbeda-beda. Menurut Taufik Abdullah, mantan Ketua LIPI, krisis nasionalisme yang dialami bangsa Indonesia merupakan hasil sebuah proses kompleks sejarah kepemimpinan nasional yang memberikan dampak pada jiwa-jiwa rakyatnya. Bahkan dalam salah satu artikelnya ia memberikan sebuah retorika “Krisis Nasionalisme, Wacana atau Struktur Kesadaran?”. Dengan demikian kaum pelajar tidak masuk dalam kategori yang terkena krisis nasionalisme karena mereka termasuk lugu pada kasus ini. Terkecuali mereka yang keluarganya menjadi korban serius sebuah rezim.

Ancaman dan hambatan untuk pelajar menumbuhkembangkan rasa cinta tanah air adalah lingkungan dan globalisasi. Dan jangan lupa mereka adalah ‘Digital Native’ - lahir dan besar di era digital. Mereka lahir di masa yang memanjakan fisik dan mobilitas seseorang di mana pelajaran mengenai tugas dan kewajibannya sebagai warga negara menjadi sebuah hal yang membosankan dan jadul.

Lantas bagaimana jalan keluarnya?

Bagaimana pendapat Anda tentang Pendidikan Bela Negara?

Apakah ini bisa dijadikan pintu masuk cinta tanah air?

Sudah banyak instansi mengadakan pendidikan semacam ini secara massal. Pada bulan Agustus 2008, Batalyon 613 Raja Alam bersama Pemerintah Kota terkait menggelar Pendidikan Kesadaran Bela Negara yang diikuti puluhan peserta, terdiri anggota Batalyon 613 Raja Alam, mahasiswa, pelajar, serta organisasi kepemudaan. Puluhan peserta pendidikan bela negara ini telah menjalani latihan selama 10 hari. Mereka berasal dari berbagai elemen masyarakat. Mulai pelajar, hingga anggota TNI. Dengan bekal disiplin dan tekad membela negara, para peserta diminta untuk lebih tanggap terhadap perkembangan situasi, serta peduli kondisi keamanan negara. Karena jika mengandalkan kekuatan TNI saja, tanpa dukungan masyarakat, mustahil keutuhan NKRI dapat dijaga.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) juga telah menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Kesadaran Bela Negara Pemuda Tingkat Nasional 2008. Kegiatan berlangsung pada 11 sampai dengan 22 Mei 2008 di Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur. Peserta yang terlibat sebanyak 100 orang yang terdiri atas DPP KNPI (5 orang), OKP Tingkat Nasional (27 orang), DPP KNPI/OKP Provinsi (33 orang), dan senat mahasiswa perguruan tinggi (35 orang). Dari seratus peserta dipilih sepuluh besar untuk mendapatkan beasiswa dari Depdiknas. Selain itu, dipilih tiga (peserta) terfavorit. Sakhyan Asmara, Deputi I Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenegpora, menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat bela negara dan kebangsaan di kalangan pemuda. "Target bela negara (adalah) membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda dan mahasiswa, agar pemuda bisa bersatu di antara perbedaan-perbedaan," katanya. Adapun pelaksanaan kegiatan melibatkan Departemen Pertahanan, Lemhanas, KPK, Kopassus, Praktisi, Mahkamah Konstitusi, Tim ESQ, dan BKPM.

Pada bulan Juli 2008, juga telah diadakan Forum Sosialisasi Bela Negara di Yogyakarta. Kegiatan yang dihadiri 300 pelajar tersebut terdiri dari Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan se Kota Yogyakarta. Selain para pelajar tampak hadir para Mahasiswa yang tinggal di asrama di wilayah Kota Yogyakarta. Forum Sosialisasi Bela Negara bagi Pelajar Mahasiswa se Kota Yogyakarta, menghadirkan narasumber dari Fakultas Filsafat Univesitas Gadjah Mada Yogyakarta, Alif Lukman Nul Hakim, S Fil yang menyampaikan ceramah dengan judul Pemuda dan Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu Prof. DR.Wuryadi MS Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DIY, menyampaikan makalahnya yang berjudul Peran Pemuda dalam Perjuangan Bangsa dan Wawasan Nusantara. Sedangkan materi Bela Negara disampaikan langsung komandan Kodim 0734 Yogyakarta Let.Kol. Setya Hari, serta Walikota Yogyakarta Herry
Zudianto, yang menyampaikan tentang Ketahanan Nasional.

Sedangkan tahun lalu, pada Agustus 2007, ratusan pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Jayapura, Papua mengikuti pelatihan bela negara. Nara sumber pelatihan ini adalah Kapolresta Jayapura, Dandim 1701 Jayapura, Dinas Pendidikan dan Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Pelatihan bela negara bagi pelajar menengah atas tersebut bertujuan agar para siswa memiliki rasa nasionalisme sebagai generasi penerus bangsa. Sedangkan materi bela negara yang diberikan kepada para pelajar tersebut antara lain, peran pemuda sebagai pilar pembangunan dalam keikutsertaannya dalam bela negara, rasa cinta tanah air, wawasan kebangsaan serta etika berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Bela Negara yang tepat tentunya menggunakan sistem pembelajaran constructive and active learning, yang berarti serangkaian aktivitas belajar dibuat sehingga para peserta mampu secara otomatis mengetahui apa itu wawasan kejuangan, kebangsaan dan nusantara tanpa diberitahu oleh penyelenggara. Berbeda dengan passive learning seperti model perkuliahan di ruangan yang menuangi peserta bagaikan sebuah teko (guru) berisi air penuh mengalirkan air ke gelas (murid) yang kosong. Ini namanya spoonfeeding. Tak akan berhasil mencapai sasaran pembelajaran, yakni nasionalisme.

Bukankah kini outbond banyak digandrungi. Juga permainan pinball, dan soft air gun. Kegiatan yang memerlukan taktik dan sedikit adrenalin ini tentunya bisa menjadi bagian dari Pendidikan Bela Negara. Ini bisa dijadikan sebagai daya tarik pelajar. Belum lagi kalau mereka diperkenalkan dengan mobilitas pasukan dari Titik Bongkar (TB) ke Daerah Persiapan (DP) untuk melakukan penyerangan. Pastinya dalam perang konvensional, dari TB ke DP jaraknya tidaklah dekat dikarenakan titik sasaran berada di sebuah ketinggian. Mereka dapat melatih fisik mereka sembari menikmati alam. Di kota, mana bisa mereka menikmati ini?

Banyak sekali bagian dari Pendidikan Bela Negara yang bisa diperkenalkan dan diperlatihkan kepada pelajar dengan cara yang menyenangkan tanpa tekanan baik Pilih Jurit Tangkas (PJT), pertahanan, serangan, patroli, bahkan sampai pengenalan senjata. Yang penting outcome pembelajaran harus sudah diset termasuk skill dan knowledge yang diharapkan. Penggunaan sistem level juga sangat berarti agar siswa punya semangat untuk berkompetisi.

Masalah pendanaan dan promosi sepertinya bisa melibatkan pihak swasta dalam program CSR (Corporate Social Responsibility). Bidang Bela Negara sudah selayaknya mendapatkan perhatian para pengusaha di samping pendidikan dan kesehatan, karena ketahanan nasional dan masa depan persatuan bangsa juga merupakan masalah bersama. Tentunya diperlukan departemen khusus untuk secara intensif menawarkan program ini kepada swasta dan juga insentifnya. Departemen yang ditunjuk harus bisa memberikan penyadaran betapa arti penting Pendidikan Bela Negara. Biasanya, perusahaan akan mem-blow up kegiatan CSR mereka melalui media massa. Dengan demikian diharapkan banyak pengusaha yang akan bergabung untuk mendukung program ini.

Perang terbuka memang jangan sampai terjadi. Namun, walau nantinya harus terjadi Indonesia sudah siap dengan salah satu potensinya yakni sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dasar tempur.

Di saat damai dan perang, Indonesia jaya!

kazmi's picture

Sangat Inspiratif

Membaca tulisanmu ini Ji, aku jadi pengen nulis juga tentang pentingnya memasukkan pendidikan pendahuluan bela negara dalam kurikulum wajib dari SD s/d perguruan tinggi.
Di perguruan tinggi, ada sih yang namanya mata kuliah Kewiraan, tapi sepertinya contentnya banyak berkutat di wacana2 abstrak yg melayang di awang2 serta terlalu berfokus pada aspek moril / mental semata, padahal apabila kita sudah berada dalam kondisi perang, maka aspek taktis / teknis juga sangat menentukan.

Aku dukung Mi.

Aku dukung Mi.

Pendidikan Dengan Cinta dan Kasih Sayang

Pendidikan militer justru akan melahirkan generasi yang mencintai kekerasan, sehingga saya sangat tidak setuju dengan bela negara yang mengarah kepada militeristik

terimakasih

dari : http://myrazano.com

ptriwidodo's picture

Setuju

Saya sangat setuju dengan pendapat akhi. Pendidikan militer tidaklah tepat untuk diajarkan kepada anak didik. Pendidikan dengan cinta dan kasih sayang adalah cara yang tepat baik di sekolah maupun di rumah.

Pendidikan bela negara bukanlah pendidikan militer atau pendidikan kekerasan. Pendidikan Bela Negara adalah sebuah pendidikan yang mirip dengan outbond, physical education, dan pramuka. Hanya saja di sini, peserta didik akan diberikan pengenalan taktik dan teknis, serta kosa kata terkait plus wawasan kebangsaan.

Bukankah anak-anak kita menyukai outbond? Pramuka?
Bukankah sang pembimbing mendeliver kegiatan dengan cinta dan kasih sayang?
Rasulullah pun seorang Komandan Militer, dan ia memberikan pendidikan dan pelatihan militer dengan cinta dan kasih sayang.

Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman

Jazakallah.

http://pujitriwidodo.blogspot.com

y.syari's picture

Tidak semua pendidikan militer mengarahkan pada kekerasan

Pengalaman saya selama tiga tahun di TN, mata pelajaran yang saya paling tunggu-tunggu ya Bela Negara (BN), kenapa? karena walaupun semi militer, bentuknya outbond yang seru.

Lagipula, setahu saya, pendidikan bela negara tidak harus perang-perangan,kan? di pelajaran BN, mana ada perang-perangan?.

Kurikulum yang diajarkan lebih kepada 'membela diri'.

Saya adalah produk pendidikan semi militer 24 jam sehari 7 hari seminggu. Tapi saya (dan hampir semua teman-teman saya) tidak suka kekerasan sampai saat ini. :)

justru klo terlalu banyak

justru klo terlalu banyak memberikan cinta dan kasih sayang pada generasi muda kita..maka merka akan menjadi sangat manja,,lemah dan muda di provokasi...

konsep pertahanan dan keamanan yang pernah diterapkan..

konsep pertahanan dan keamanan yang mas pudji sampaikan merupakan salah satu cara penerapan sosialisasi konsep pertahanan semesta yang melibatkan seluruh komponen yang dimiliki oleh Negara Republik Indonesia.
Selain itu cara yang lain adalah dengan Penataran P-4, aktif dlm sosialisasi organisasi Pramuka, kegiatan pemuda yang melibatkan seluruh pemuda dari masing-masing propinsi yang bertemu dalam satu wadah kegiatan setingkat nasional, salah satu yang masih bertahan adalah Paskibraka setiap 17 agustusan diIstana Negara, dan lain-lain.
sehingga konsep pertahanan dan keamanan yang demikian bisa menjangkau keseluruh lapisan dan komponen.
Pendidikan Bela negara merupakan salah satu cara penyiapan komponen cadangan yang siap dikerahkan..kalau boleh saran, hal2 positif yang seperti itu agar dimunculkan kembali kepermukaan dalam mewujudkan pertahanan dan keamanan..
sementara kita kurangi konsep pertahanan dan keamanan yang berupa menyiapkan alutsista (kesiapan utk perang..) anggaran negara kita masih belum menjangkau utk ukuran standart kesiapan perang suatu negara, paling tdk 5-10 kedepan..
salut kepada Tandef..

setuju

setuju bgt ttg pendidikan bela negara..
asal jgn teori aja...
krn byk putra-putri indonesia yg terbaik yg karena ketidakmampuan negara untuk mengakomodir ide dan kemampuan mereka akhirnya mereka lebih nyaman menyalurkan dan merefleksikan ide ataupun kepintaran mereka di negeri org...
jadi tidak hanya ttg kemiliteran ataupun teori-teori saja...tp aspek segala bidang
krn sepertinya program itu hanya proyek sekelompok org yg akan mengambil keuntungan...

setuju

salam pramuka,
yuk semangat bina generasi muda melalui gerakan pramuka

Rujito's picture

Cinta Tanah-Air Harus Dari Dua Pihak

Sebagai pendatang baru, saya ingin urun bicara dalam hal pembangunan rasa cinta tanah-air. Apa yang sudah anda tuliskan itu baik dan ideal adanya, yang sudah dicanangkan oleh para petinggi negara kita sejak negara diproklamasikan. Tetapi, bicara soal cinta itu harus datang dari dua pihak, tidak bisa hanya satu pihak saja yang diharuskan memiliki cinta. Selama ini, yang dituntut untuk mencintai hanyalah warganegara, sedangkan negara (yang diwakili oleh para petinggi dalam pemerintahan negara) tidak pernah dituntut untuk mencintai warganegaranya. Mereka selama ini sibuk dengan kepentingan dan ambisi mereka sendiri. Kalau kita menengok negara tetangga, Singapura, kita merasa jauh ketinggalan. Meski bukan berbentuk negara demokratis seperti yang sering kita klaim bagi negara kita, dan bahkan mereka sendiri menyebut negaranya sebagai negara illiberate, tetapi rasa cinta negara terhadap warganegara terlihat nyata. Kehidupan warganegara Singapura sebagian besar sejahtera secara ekonomi, karena itu yang menjadi pilar pertama dari kesejahteraan, sebelum menjangkau ke kesejahteraan bentuk lainnya. Banyak orang-orang yang berusia lanjut masih memperoleh pekerjaan, meski hanya sebagai pembersih meja di warung-warung makan atau jadi tukang sapu halaman. Sehingga, selain menikmati uang pensiun di masa tuanya, dia masih dapat tambahan uang belanja dari pekerjaannya itu. Di setiap kompleks perumahan selalu ada dibangun fasilitas umum (public space) di mana orang dapat bertemu, bersosialisasi, ada perpustakaan umum yang modern dengan biaya relatif murah, tempat main anak-anak gratis, juga untuk fisical fitness gratis. Persekolahan untuk warganegara juga terjangkau biayanya oleh sebagian besar orang, ada juga subsidi bagi pelayanan kesehatan yang bermutu. Ini semua merupakan bentuk kecintaan negara kepada warganegara.
Kalau negara kita dapat menyediakan semua pelayanan tersebut kepada rakyatnya, maka dijamin kalau akan juga tumbuh dengan subur rasa cinta rakyat kepada negaranya, bertumbuh pula rasa rela berkurban untuk membelanya
Ini semua merupakan kewajiban para politisi yang harus berjiwakan sebagai negarawan. Pembentukan kader-kader pimpinan bangsa dengan kualitas seperti itu menjadi kewajiban dari parpol-parpol yang ada. Sayangnya parpol-parpol yang ada sekarang baru bisa membangun kefanatikan para pendukungnya terhadap parpol bersangkutan, agar dapat menang dalam pemilu dan menduduki kursi kekuasaan dalam negara. Dan ujung-ujungnya adalah berebut kue kemerdekaan tetapi melupakan konstituen pendukungnya.
Ini semua hanyalah urun pikiran dari saya. Semoga bermanfaat

Kok kaku banget comment2nya tinggalin bentar donk militernya.

Kalau menurut pengamatan awam saya sebagai orang/rakyat biasa Pendidikan Bela Negara memang sangat penting agar generasi digital ini mencintai bengsa dan tanah airnya. Tapi yang menjadi krusial sekarang adalah pendidikan bela negara secara formal melalui bangku sekolah terasa kaku dan sangat membosankan. Saya sangat setuju pendekatan rekreasi melalui outbond atau game2 outdoors. Lebih bagus lagi Pendekatan seni budaya, bayangkan kalau banyak produser sinetron & film indonesia yang bikin film bernuansa kepahlawanan & bela negara itu lebih asyik & lebih menyemangati dari pada dibangku sekolah. Bagus lagi kalau ada film animasi buat anak - anak yang sejenis. Tetapi tentunya karya seni tersebut haruslah yang bermutu.Saya prihatin dengan ndustri perfilman yang ada di indonesia, mereka hanya menghasilkan sinetron2 yang melankolis = menghasilkan generasi cengeng & manja, Film Horor berbau porno = menghasilkan generasi penakut & sex minded/ generasi horor porno. Kita lihat saja Amerika dengan industi perfilmanya, di susul Bolywood & mandarin. Banyak dari karya2 mereka mengisahkan kepahlawanan yang membuat bangga akan kebesaran negrinya. Yang otomatis menggugah semangat bela negara generasi mudanya bahkan semua generasi.

Tul Bro

Yup Bro saya kira emang media informasi di negeri ini harus di benahi harus ada peraturan yang jelas dari pemerintah tentang kebijakan media kan sekarang ini hampir 24 jam/7hari generasi duduk di depan TV dan alhasil pola pikir yang secara tidak langsung ditanamkan lewat media tersebut merasuki alam bawah sadar generasi muda sekarang, gimana mereka akan berpikir bela negara sedangkan dalam kehidupan sehari-hari mereka aja tidak pernah terlintas apa dan bagaimana negara ini, dan yang paling menyedihkan adalah ketika event-event pemerintah misalkan pidato presiden, HUT TNI, tidak pernah diliput oleh media tersebut yang diliput malah isu yang meruntuhkan kepercayaan masyarakat pada negara ini, gimana mereka akan kenal dengan negara ini kalo pemerintah sendiri tiddak mau memperkenalkan diri kepada rakyatnya...key

Sedikit berbagi pengalaman

Assalamualakum wr, wb.

Hormat tangan pak dengan tulisan , kajian dan perspektifnya.
Sebenarnya tidak semua dari kita yang menyadari kondisi dilematis krusial ini , saya masih berpendapat sebagian besar orang Indonesia ini awam ( lebih pas-nya Rabun )akan ancaman terhadap sendi - sendi kehidupan bangsa.

Dengan adanya tren " Modern War " yang saat ini telah semakin tampak jelas menyelimuti terhadap semua negara, tidak hanya kita !!
Tren perang ini tidak tampak lagi sebagai perak secara fisik antara 2 ato lebih negara / pihak. Namun lebih tampak sebagai bagaimana suatu pihak / negara dapat mengendalikan negara / pihak sasaran tanpa terdeteksi, akurat, dan optimal tanpa harus berada di negara / pihak sasaran.
Sangat setuju bila dikatakan ini tahapan dalam ops. intel....
yaa, memang perang modern adalah kombinasi ops intel dan upaya pemenuhan common interest.
Dan , serangan terhadap kekuatan mental & psikologi adalah tahapan awal "mereka" terhadap sasaran.....
Tidak ada upaya paling efektif selain membangun kembali Nasionalisme dan pribadi kita melalui wawasan kebangsaan !!
Terdengar kolot, konservatif, kuno...Tapi inilah obat termanjur saat ini untuk patahkan upaya pihak Luar bila masih ingin melihat Indonesia dalam suatu tatanan negara kesatuan dan tidak berfederasi, atau menjadi bangsa yang di nomorduakan di negaranya sendiri...

Apa yang dilakukan oleh instansi - instansi peduli wawasan kebangsaan pernah saya lakukan di daerah domisili saya. Hasilnya juga cukup menggembirakan dengan banyaknya jumlah peserta dan antusias mereka dalam mengikuti kegiatan semi outbond tersebut. Tanpa diduga , muncul saran dari mereka untuk memasukkan hal ini dalam kurikulum ekstra kurikuler. Hal tersebut tidak berlebihan karena pada saat di laksanakan kegiatan tersebut , kami menggunakan juga tehnik diskusi panel dan sesi re-vitalisasi nasionalisme dengan gunakan media film dokumenter dan film perjuangan.
Saran kedua dari audiens adalah pemberian predikat siswa merah putih kepada siswa2 yang dianggap memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan wawasan kebangsaan atau prestasi yg membanggakan negara. Selain predikat siswa merah putih, mereka juga berharap untuk mendapatkan bea siswa baik di dalam ataupun di luar negeri....

Apa yang mereka sarankan, saya rasa adalah hal positif yang keluar dari akumulasi cita-cita dan empati terhadap kondisi bangsa. Sungguh suatu hal yang tidak bisa kita abaikan begitu saja atau bahkan dianggap sebagai hal memberatkan karena memberikan tambahan beban pekerjaan bagi pemerintah daerah dan pusat.

Bela Negara != Militer

Jadi ingat sewaktu pra jabatan PNS, kami mengikuti pelatihan bukan berbasis militer tapi kepolisian. Bela negara ternyata tidak harus militer, tetapi bisa dalam bentuk lain. Membela negara juga bukan hanya kewajiban militer, orang sipil pun juga harus ikut berperan.

muhamadyusuf's picture

Kaku

"Bukankah kini outbond banyak digandrungi. Juga permainan pinball, dan soft air gun. Kegiatan yang memerlukan taktik dan sedikit adrenalin ini tentunya bisa menjadi bagian dari Pendidikan Bela Negara"....

saya sangat setuju dengan pendapat penulis..

sayang ini hanya menjadi wacana bagi para muda defender muda yang kreatif dan prihatin thdp pendidikan bela negara dinegara kita...

betapa susahnya bagi para pengusaha permainan perang2an seperti airsoft gun dan paintball untuk memasukkan senjata2 ini ke Indonesia...
belum lagi perijinan dan paranoia terhadap pelaku terorisme...

TNI bisa mendukung cinta belanegara dengan membuat kompetisi rutin bagi pemain airsoftgun, paintball dsb ...

Bahkan US Army turut mendanai game developer yang membuat game2 perang seperti counterstrike, Delta Force dll...

Muhamad Yusuf ST
Jogja / Cepu

dipohendro's picture

bentuk pertahanan negara

Bro ada masukan siapa tahu berguna
Maaf saya bukan apa-2 disini hanya orang yg kepingin nimbrung aja , setelah baca artikel tentang alutsista kita
Usul : perlunya diadakan peralatan tempur gerak cepat mini untuk personnel yg bentuknya seperti sepeda motor yg bisa membawa amunisi banyak seperti roket dan lainya termasuk bekal makanan , komunikasi kalo bisa yg memakai tenaga surya , cara pengaktifanjalannya pakai password . ini kan lumayan bisa fleksible dan cukup cepat untuk bergerak terutama daerah perbatasan ,
Kalo di sungai atau laut perbatasan jarak dekat bisa membuat pasukan serbu yg banyak memakai bentuk kapal nelayan yg dirancang khusus dengan senjata ringan sampai semi berat .
Tapi saran saya jangan Pindat saja yg bikin pemerintah harus dukung dana dari pada dibelanjakan diluar negri ... anak negeri kita yg jagoan di pupuk dan dibiayai baik riset dan segala hubungannya ... jangan nggantung terus sama technologi orang luar ??? kapan bisa menang !!!!

Demikian dari saya
thanks alot

Belajar dari Korea Selatan

Coba kita lihat negara ginseng ini, mereka sdh mulai mewajibkan murid tk sampai perguruan tinggi utk mempelajari Taek Won Do, bahkan di sana ada Universitas yang khusus membidangi bela diri ini. Suatu kehormatan bagi keluarga/orang tua apa bila anak2 mereka dapat menguasai bela diri Taek Won Do. Bahkan pemerintahnya telah menetapkannya sebagai bagian dari Kurikulum Pendidikan dan Budaya Bangsa.
Coba kita lihat negara kita......kita punya pencak silat...saat ini sudah banyak negara lain mempelajari tentang pencak silat, sayangnya hasil Sea Games kemarin, tim pencak silat kita hampir di buat malu oleh vietnam, thailand dll. Kenapa tidak kita kembangkan sj Pencak silat ini.....warisan budaya yg luar biasa.

Soal kekerasan....militerisasi.......bukan itu substansinya dalam membentuk pemuda indonesia yg diharapkan, tapi nilai-nilai Nasionalisme, Patirotisme, Kesatria yang diwujudkan dalam sikap Percaya diri, disiplin, Hidup Sehat, Fisik kuat, Semangat, dan lain lain yang tentunya hal positif kita inginkan itulah menjadi tujuan kita.

Kita semua tentunya berharap generasi Indonesia masa depan harus lebih baik, silahkan lihat diri anda sendiri apakah lebih baik dari orang tua anda, kakek anda, atau hanya berharap menunggu warisan kemalasan, materialistik, sadisme, pengguna narkoba, wah.....Semoga Allah SWT menjauhkan generasi kita dari hal-hal ini. AMIN

kangamay's picture

....Jangan terpesona dengan menara gading...

Banyak diantara kita yang lebih bangga dengan produk budaya luar negeri dan meremehkan budaya lokal. Cengkeraman globalisasi telah banyak menghapus rasa nasionalisme pemuda - pemudi yang beruntung namun tidak mampu bersyukur atas karunia ilahi di negeri ini. Ilmu yang mereka dapat di luar negeri belum sampai pada tataran "think globbally dan act locally", baru sampai kerongkongan dan menghamba pada kemilau dunia global yang belum sepenuhnya tidak mereka mengerti. Mereka meremehkan budaya mereka sendiri, bahkan berkhianat menjual dan menghancurkannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Tanggapan

Setelah membaca artikel ini, saya merasa menjalani kilas balik pada kurun waktu 2006-210. berdasarkan pengalaman pribadi ada kesamaan pelaksanaan kegiatan pendidikan bela negara yang pada intinya diimplementasikan melalui latihan baris-berbaris, pembinaan fisik, dan berbagai latihan dasar kemiliteran lainnya. Namun, apa yang menjadi refleksi adalah apakah hal itu sudah tepat atau belum? dan untuk menjawab pertanyaan ini dalam artikel ini hanya memuat apa yang biasa dilaksanakan dan belum menyertakan apa yang seharusnya. Menanamkan cinta tanah air dan bela negara diawali melalui media pendidikan. Berangkat dengan media ini, banyak hal yang harus diperhatikan misalkan, apakah secara filosofis para pelatih sudah memiliki human capital yang memadai? dengan demikian pertanyaan ini bisa menjadi evaluasi mengapa latihan dilaksanakan namun kurang bisa menanamkan apa yang menjadi esensi cinta tanah air dan bela negara itu sendiri. Komplesitas yang menyertai apa yang harus dilakukan semestinya dalam pendidikan menandakan bahwa kita terbiasa mendidik dan melatih sebagai formalitas belaka dan hasilnya miskin akan makna. Saran saya, untuk pengembangan tulisan ini kedepan mungkin bisa disertakan berbagai perspektif tentang pemahaman pertahanan, cinta tanah air, dan bela negara dalam satu kesatuan tinjauan pendidikan kedewasaan atau pendidikan usia dewasa( adult learning theory) yang mempelajari secara kompleks yang akan menemukan suatu formulasi bagaimana pendidikan bela negara diterapkan dengan suatu konsep yang kaya akan berbagai tinjauan yang mendalam dan hal ini akan bisa menghindari berbagai kegiatan fomalitas belaka.
Salut sudah berani menuliskan tulisan ini dan semoga sukses selalu.