Oleh: Kapten (Cpn) Sundoro Agung Nugroho, Perwira PENERBAD, Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF
Sebuah Negara akan menjadi lebih berwibawa apabila mempunyai kekuatan militer yang kuat dengan perlengkapan alutsista yang modern. Demikian juga dengan Negara kita Indonesia. Saat ini sudah mulai mengembangkan kekuatan militer maupun alat utama sistem senjata guna mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengadaan alutsista dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan renbangkuat TNI.
Banyak pertimbangan yang mungkin dilakukan berkaitan dengan pengadaan alutsista ini. Mulai dari anggaran, kelebihan dan kekurangan alut yang mau dibeli, kaitan dengan penggunaannya, termasuk prospek ke depan dari alutsista tsb. Mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Negara serta kebutuhan akan modernisasi alutsista milik TNI, hal ini ibarat menjadikan suatu alasan pembenar terhadap orientasi pengadaan alutsista yang baru yaitu kuantitas. Jadi sampai saat ini seperti ada kecenderungan kita membeli alutsista dengan anggaran yang terbatas tetapi bisa mendapatkan jumlah alutsista yang relatif banyak tanpa memperhatikan prospek ke depan terutama masa pakai alut tsb.
Pengadaan alutsista baru yang kurang memperhatikan masa pakai akan dapat menimbulkan kesulitan dan hambatan bagi kita. Masa pakai ini berkaitan erat dengan pemeliharaan dan perawatan alutsista tsb. Sebagai contoh kita mau membeli alut baru, kemudian ada dana sekitar 100, dana ini cukup untuk membeli alut tsb sebanyak 4 buah itupun dengan alut yang sangat standard bahkan ada beberapa item yang tidak ikut di dalamnya (dengan kata lain standard minus). Akhirnya dengan berorientasi pada kuantitas inilah diputuskan untuk membeli 4 alut yang berkualitas standard minus tsb. Tanpa membeli alat perlengkapan pendukung pemeliharaan dan perawatan (maintenance tools), karena kalau dilengkapi dengan alat pendukung perlu dana yang lebih besar dan anggaran yang ada tidak cukup. Tanpa ada alat pendukung ini, pemeliharaan dan perawatan (maintenance) alut tidak bisa dilaksanakan secara maksimal.
Maintenance ini terdiri dari dua, scheduled dan unscheduled. Scheduled maintenance sesuai dengan checklist yang diikutkan dalam maintenance manual alut tsb. Sehingga bisa direncanakan secara terprogram masuk dalam anggaran rutin. Sedangkan unscheduled maintenance ini terjadi karena adanya kerusakan-kerusakan pada alut, baik sistem maupun komponennya. Untuk melaksanakan perbaikan ini diperlukan alat-alat khusus (special tools) yang merupakan alat pendukung maintenance. Dapat kita bayangkan, sebenarnya kita punya kemampuan untuk melaksanakan perbaikan namun karena tidak adanya tools langkah kita terhenti dan sebagai akibatnya alut tidak dapat beroperasi (grounded). Agar dapat beroperasi kembali, satu-satunya jalan harus mengganti komponen yang rusak dengan paket pemasangan oleh pabrik pembuat karena kita tidak mempunyai alat membongkar pasang komponen tsb.
Biasanya kerusakan-kerusakan pada alut akan terjadi setelah memasuki tahun ke-2 setelah pembelian. Karena pada tahun pertama masih ada warranty terhadap segala kerusakan yang terjadi. Pada masa warranty ini semua kerusakan akan diperbaiki oleh pabrik bahkan komponen yang rusak diganti dengan baru.
Jadi dari contoh diatas, dari 4 alut yang dibeli dalam jangka 2 tahun 1 alut tidak dapat beroperasi, mungkin lebih bahkan bisa ke empat-empatnya tidak bisa beroperasi.
Lain ceritanya apabila dalam paket pembelian diikut sertakan alat pendukung maintenance. Seperti contoh diatas, dari dana yang ada kita belikan 3 alut dengan alat pendukung maintenance secara lengkap, maka masih ada sisa dana yang bisa digunakan untuk melengkapi komponen alut supaya menjadi standard plus tidak standard minus. Bahkan akan lebih menguntungkan bagi pengadaan alut yang serupa di tahun-tahun berikutnya. Karena biasanya alat pendukung maintenance ini dapat digunakan juga untuk alat maintenance bagi alut lain yang diproduksi oleh Negara yang sama, ataupun pabrikan yang sama.
Dalam pengadaan alutsista yang baru sebaiknya tetap ada pertimbangan masa pakai dengan kata lain maintenance terhadap alutsista tsb. Memang yang menjadi kendala adalah ketidaktahuan kita terhadap alutsista yang baru, bagaimana mengoperasikan maupun pemeliharaannya. Sehingga perlu adanya pertimbangan yang dalam sebelum kita membeli alutsista yang baru. Data-data tentang alutsista yang akan kita beli harus lengkap serta perlu studi banding terhadap alutsista dan cara pemeliharaannya baik di pabrik pembuat maupun Negara lain yang telah menggunakannya. Jangan sampai niat kita untuk memodernisasi alutsista dengan yang baru justru menjadi mubazir hanya karena ketidaktahuan dan keinginan mempunyai alutsista yang banyak serta modern tanpa memikirkan prospek ke depan.
pengadaan alutsista sebuah pendapat
pada dasarnya saya setuju dengan pendapat Kapten Sundoro.
menurut saya dalah hal pengadaan alutsista Indonesia harus minimal mendapat transfer teknologi kalau bisa mendapat lisensi pembuatan alutsista tersebut di dalam negeri.
agar dapat lisensi maka untuk pengadaan alutsista tertentu misalnya pesawat tempur yang bernilai sangat strategis harus difokuskan ke satu jenis pesawat saja, alasannya sekarang sudah ada pesawat multi peran, satu pesawat untuk berbagai macam tugas.
dengan adanya pemberian lisensi untuk membuat di dalam negeri otomatis terdapat transfer teknologi, tidak hanya berguna untuk merawat tetapi juga berguna untuk mengembangkan pesawat tempur sendiri
dari sisi biaya, saya kira membangun kemampuan strategis di bidang kemandirian pengadaan alutsista sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh
dengan demikian suatu saat Indonesia bisa terlepas dari ketergantungan pengadaan alutsista dari luar negeri
ini yang dilakukan india dan cina
Alih tehnologi
Betul bang, sejak dulu kita sering mendengar kata alih tehnologi. Tetapi seiring dengan perkembangan bangsa kita, rasanya masih jauh dari realita. Padahal kita punya platform kuat. Seperti PT DI yang mampu merakit helikopter bahkan memproduksi pesawat sejenis CN. Saya yang berkecimpung di dunia helikopter sedikit mengetahui khususnya masalah operasional dan pemeliharaan alut ini. Untuk har heli, PT DI sudah mempunyai licence melaksanakan overhaull. Namun tenaga lapangan yang melaksanakan tetap dari kita. Karena memang kita mempunyai kemampuan dan pengetahuan har alut serta sparenya. Bongkar engine sampai detail2nya bisa kita laksanakan. Merangkai kembali juga bisa. So why not? Tinggal licensi dan produksinya saja kan?
Pengalaman pada saat di pabrik helikopter Mi-17 di kota Kazan. Kami diajak melihat-lihat proses produksi tiap2 bagian. Tidak semodern yang kita bayangkan. Semuanya masih manual namun hasilnya dapat kita lihat. Saya rasa kalau kita ada kemauan mengembangkan potensi kita, insya Alloh bisa terwujud "alih teknologi".
ASAL JGN ADA KORUPSI
Dewasa ini tidak hanya kemampuan prajuritnya saja tetapi teknologi alutsista juga perlu perhatian...
sebenarnya putra-putri indonesia byk yg memiliki kemampuan untk mendukungya, tinggal bagaimana pemerintah mengakomodir ide dan kemampuan mereka..sehingga kita tdk selalu tergantung dgn negara2 maju.
Yang jg jgn dilupakan adalah pengawasan dalam pengadaannya, sehingga tdk ada penyimpangan anggaran...krn sudh jadi rahasia umum apabila menyangkut dunia militer tidak ada yg berani campur tangan dan dari dalam militer itu juga byk yg teriak tetapi tidak ada keberanian untuk mengatakan salah kepada pimpinannya...
Semoga menjadikan refleksi bagi anak2 bangsa yang akan mengawaki negara ini kedepan.