Peran Penerbad dalam Pengamanan Wilayah Perbatasan

sundoro_agung's picture

Oleh: Kapten (Cpn) Sundoro Agung Nugroho, Perwira Korps Penerbangan TNI AD (Penerbad), Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF

Perbatasan merupakan tempat rawan yang harus dijaga dari kemungkinan masuknya musuh demi kedaulatan bangsa dan Negara ini. Perbatasan di Negara kita dibagi menjadi tiga hal utama yaitu udara, air (lautan) serta daratan. Perbatasan udara tanggung jawab diserahkan kepada TNI Angkatan Udara sedangkan perbatasan laut menjadi tanggung jawab TNI Angkatan Laut dan perbatasan darat oleh TNI Angkatan Darat.

Bagaimana kondisi perbatasan darat di Negara kita? Batas darat negara kita dengan Negara lain meliputi pulau Kalimantan, Papua, serta Nusa Tenggara Timur. Kondisi medan yang ada adalah hutan dan gunung-gunung. Kondisi geografis ini sangat menyulitkan bagi pasukan darat yang menjaga wilayah perbatasan. Pengamanan perbatasan darat ini dilakukan oleh pasukan darat dengan cara mendirikan pos-pos sepanjang garis perbatasan dan secara rutin melaksanakan patroli sepanjang garis perbatasan tersebut. Dengan kondisi geografi yang ada menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi pasukan darat tersebut.

Adapun hambatan yang dialami pasukan ini antara lain:

1. Kondisi hutan dan gunung-gunung dimana tidak ada jalan menuju pos serta jauh dari pemukiman penduduk sehingga akan menyulitkan adanya dukungan logistic bagi mereka.

2. Kondisi psikologi pasukan apabila terus menetap di suatu pos akan terganggu, sehingga perlu adanya rolling tempat bagi pasukan. Sedangkan alat transportasi tidak ada.

3. Pelaksanaan patroli sepanjang garis perbatasan tidak bisa dilaksanakan secara maksimal terbentur pada kondisi medan yang ada. Hal ini mengakibatkan pengawasan terhadap orang ataupun kelompok yang keluar masuk tidak terpantau, sehingga celah untuk pencurian sumber daya alam kita menjadi besar.

Penerbad merupakan bagian dari TNI Angkatan Darat yang melaksanakan tugas dalam penerbangan. Penerbad dilengkapi dengan alut berupa pesawat terbang baik fixed wing maupun rotary wing (helicopter). Dengan alut yang dipunyai tersebut, Penerbad mampu melaksanakan operasi mobud, memberikan bantuan tembakan, melaksanakan pengintaian udara, digunakan sebagai komando dan pengendalian serta untuk angkutan udara lainnya. Apabila kita analisa hal di atas, maka sebenarnya Penerbad bisa mengambil peran dalam pengamanan perbatasan ini.

Peran yang bisa dilaksanakan antara lain:

1. Sebagai alat utama transportasi udara. Pesawat terbang terutama Helikopter tidak membutuhkan jalan raya, tetapi hanya sebuah heli pad yang dapat dibuat di dekat pos pasukan untuk tempat pendaratannya. Sehingga kesulitan alat transportasi guna menyuplai logistic serta pemindahan pasukan dalam rangka rolling tempat tidak akan menjadi masalah.

2. Melaksanakan patroli udara (pengintaian udara). Patroli udara ini bisa dilaksanakan secara terjadwal maupun tidak. Dengan tehnis pelaksanaannya membawa pasukan darat yang siap diterjunkan di hutan apabila ditemukan tempat/lokasi yang mencurigakan terutama tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau dengan patroli darat. Bahkan secara psikologi, orang-orang yang berusaha keluar masuk perbatasan akan merasa takut dengan adanya patroli udara ini ditambah lagi mengangkut pasukan yang siap diturunkan sewaktu-waktu. Pasukan darat ini turun dari helicopter dengan menggunakan tali baik secara rappelling maupun fast roping.

3. Sebagai komando dan pengendalian, terutama bagi komandan satuan untuk melaksanakan pengawasan serta pengendalian bagi pasukan darat yang berjaga di pos sepanjang garis perbatasan.

4. Melaksanakan foto udara untuk memantau serta sebagai dokumentasi perkembangan yang terjadi di wilayah perbatasan kita. Dengan adanya data foto ini bisa menjadikan evaluasi bagi kita untuk menentukan langkah selanjutnya guna mengamankan perbatasan. Selain itu juga untuk pemetaan wilayah perbatasan kita.

Uraian diatas hanyalah sedikit peran Penerbad dalam pengamanan perbatasan. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dikembangkan lagi terutama berkaitan dengan operasi pengamanan wilayah perbatasan. Dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebenarnya keberadaan Penerbad sangat dibutuhkan dalam pengamanan wilayah perbatasan, namun kondisi yang sekarang dihadapi adalah belum maksimalnya penggunaan alut Penerbad dalam operasi pengamanan perbatasan darat.

Welcome Aboard

Sun, welcome to TANDEF.
Kemaren kamu muncul beberapa kali di TVRI bareng Rhino di acara CITA ya?
Salut & salam untuk Mi-17 V5 nya :)

Indonesia berbatasan darat

Indonesia berbatasan darat dengan 3 negara : Malaysia (Kalimantan), PNG (Irian) dan Timor Leste (NTT). Untuk perbatasan dengan Malaysia dan PNG dikenal sebagai medan yang sulit, yaitu medan hutan dan pegunungan. Sedangkan dengan Timor Leste relatif mudah.

Masalahnya pangkalan heli penerbad semua ada di Pulau Jawa (Pondok Cabe dan Semarang). Jika ada krisis di perbatasan yang memerlukan operasi SAR atau Mobud bukankah ini sangat menyulitkan. Sebelum sampai tujuan heli ini harus berhenti dulu untuk refuel.

Konsep Manuver

Dengan alutsista yang ada dihadapkan dengan kondisi medan dan situasi yang dihadapi diperlukan "cara" yang efektif untuk dapat melaksanakan tugas pokok. Penerbad memiliki konsep manuver sesuai dengan perintah Panglima TNI untuk mendukung/melaksanakan tugas pokok TNI AD.

Walaupun pangkalan berada di Pulau Jawa, selalu ada helikopter yang ditugaskan di Markas Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan seluruh Indonesia. Penerbad selalu siap mendukung tugas operasi pengamanan perbatasan.

Saat ini setiap Kodam memiliki 1 unit satuan Raider yang memiliki spesialisasi operasi tempur dengan menggunakan helikopter. Disebabkan kurangnya alutsista, maka tidak semua unit Raider dilengkapi dengan helikopter Penerbad standby. Untuk mengatasi hal ini, pimpinan militer setempat senantiasa peka terhadap perkembangan situasi. Untuk daerah-daerah yang rawan konflik atau berpotensi rawan konflik, telah disiapkan helikopter untuk mendukung operasi pasukan Raider sewaktu-waktu diperlukan.

Kebutuhan helikopter untuk manuver operasi TNI AD memang belum mencukupi. Untuk itu, telah dibentuk suatu kerja sama yang sudah tersusun dalam suatu SOP untuk melibatkan satuan/instansi lain yang memiliki helikopter untuk mendukung manuver TNI AD yang memerlukan helikopter setiap saat apabila diperlukan.

Semoga memuaskan Bapak Mac Gyver

Konsep Manuver vs Maintenance Heli ???

Kondisi sekarang, daerah perbatasan yang rawan konflik adalah Papua dan Kalimantan. Di Papua TNI menghadapi OPM, dan di Kalimantan kita menghadapi konflik di Ambalat.

Jika setiap kodam diberi 1 heli standby, maka hal ini akan menyusahkan dalam perawatan heli. Karena setiap sesuatu yang terbang itu (pesawat dan heli) memerlukan maintenance yang extra. Dan perawatan itu harus dilakukan oleh teknisi atau engineer yang telah disertifikasi. Belum lagi keperluan spare part heli. Bagaimana me-manage semua itu jika heli2-nya berada jauh dari pangkalan atau stand by di luar pangkalan. Susah kan?

Sepanjang pengetahuan saya, untuk military transport TNI AU juga mempunyai skadron heli. Skadron Udara 6 (Atang Sanjaya), dan Skadron Udara 7 & 8 (Suryadarma). Sementara jarak jangkau heli ini kan short to medium range. Pertanyaannya adalah jika tugas utama skadron heli untuk mendukung pergeseran pasukan mengapa semua pangkalan heli ada di pulau jawa?

Ide saya, bagaimana jika penerbad atau tni au memindahkan pangkalan heli-nya ke Kalimantan dan Papua. Bukankah itu lebih efisien. Bukankah infrastruktur pendukung di pulau jawa sudah bagus, penyebaran pasukan sudah cukup. Satu pulau dibawahi oleh 4 kodam plus 2 armada laut. Saya yakin jika ada krisis di pulau jawa akan cepat tertangani. Kalau di luar jawa gimana ya? Kayak maluku, sulawesi, kepri, atau di sumatera.

Memang saya akui bahwa anggaran yang minim menyebabkan tni kesulitan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya. Hope you will understand.

Salam kenal dari Mac Gyver.

Teknis

Contohnya, di Balikpapan ada lapangan terbang sipil. Walaupun itu adalah fasilitas sipil, namun itu adalah aset strategis negara yang dapat digunakan untuk pertahanan. Maka, berdekatan dengan lokasi airport, ada markas/pangkalan TNI AU. Pangkalan TNI AU di Balikpapan tidak memiliki fasilitas pemeliharaan maka tidak dijadikan pangkalan pesawat/helikopter. Namun demikian pada saat2 tertentu seperti saat gejolak konflik Ambalat memanas dan saat Latgab 2008 kemarin, di sana stand by pesawat2 tempur TNI AU. Pesawat itu stand by di sana tidak lama, hanya untuk keperluan operasi dan latihan saja.

Cara helikopter dideploy di Markas Komando Satgas Perbatasan RI Malaysia yang ada di Kalimantan, Papua dan NTT, juga kurang lebih sama dengan teknis di atas.

Permasalahan teknis manuver operasi helikopter tentunya lebih dikuasai oleh penulis artikel di atas.

Ide Bapak Mac Gyver pada paragraf ke-4 ternyata sudah Bapak jawab sendiri pada paragraf ke-2 dan paragraf ke-5.

Salam kenal juga.

Pengembangan pangkalan

Pengembangan pangkalan Penerbad sudah tertuang dalam rencana strategis jangka panjang (25 tahun) yaitu dengan dibentuknya skadron2 Penerbad antar lain di Lampung, Kalbar dan Sulawesi.

Geografis negara kita yang berupa negara kepulauan merupakan suatu tantangan yg perlu disikapi dengan bijak terutama oleh TNI yang bertugas menjaga kedaulatan wilayah baik darat, laut maupun udara.
Namun demikian sentralisasi alutsista di Pulau Jawa juga memberi keuntungan dalam segi kecepatan bertindak.

Sebagai contoh: untuk menggeser 2 unit helikopter BO-105 ke Perbatasan Kaltim dan Malaysia (dekat Ambalat, misalnya). 1 unit helikopter type yg sama saat ini ada di Pontianak memerlukan waktu mungkin lebih dr 2 hari untuk terbang untuk mencapai Tarakan. Hambatan yang dihadapi lebih banyak :1. Refuelling point, endurance terbang heli ini 2,5 jam (sesuai flight manual yg dikeluarkan pabrik), sehingga perlu titik2 pengisian bahan bakar. Untuk itu perlu penyiapan bahan bakar dr bandara yg memiliki fasilitas Avtur, bila perlu didorong ke spot2 sesuai rute dengan drum dengan jalan darat (truk/pick up)tentunya. Perlu waktu perencanaan dan pelaksanaan. 2. Cuaca, helikopter relatif terbang visual, sehingga apabila menghadapi cuaca buruk lebih baik menunggu. 3. Kondisi medan, dr kalbar ke kaltim apabila heli dipaksa straight flight lewat tengah P. Kalimantan malah akan repot dalam penyiapan bahan bakar di refuelling point. Sehingga pasti akan memutar menysuri ke bawah pulau, dalam hal ini perlu waktu lebih lama dan jam terbang labih banyak.

Bandingkan dengan pergeseran 2 heli dr Pondok Cabe ke Tarakan (Kaltim), cukup terbang dr Pondok Cabe ke Halim (krg lbh 10 menit), cut engine, disassembling 3 jam (maintenance crew 10 org), loading ke pesawat hercules 1jam, hercules terbang 2,5 jam landing bandara Juwata Tarakan, boarding lanjut assembling lg 2 jam. Saya yakin dan percaya dalam waktu 1 hari 2heli Bo-105 sudah bisa terbang ke Nunukan, patroli di Ambalat area dan siap melaksanakan tugas di keesokan harinya.

Ini tak terlepas dr kualitas SDM Penerbad baik penerbang maupun maintenance yang setiap saat terjaga profisiensinya. Yang tidak kalah penting adalah jalur komando pimpinan TNI beserta jajarannya yang 1x24 jam siap merespon setiap gejolak yang timbul dan mengancam kedaulatan NKRI di wilayah2 yang rawan konflik.

Kesimpulan saya kebijakan pimpinan TNI yang diambil sebelumnya dan yang akan datang menurut saya sudah tepat karena selaras dengan perkembangan dan pembangunan baik skala nasional maupun di tingkat daerah.
Ide dr Mac Gyver sdh ada dan tertuang dalam rencana strategis Pimpinan TNI.
Percaya kepada TNI walaupun alutsista belum sepenuhnya maksimal namun TNI sdh menyiapkan SDM yang bisa diandalkan untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah ibu pertiwi.
So no worries...