Perkembangan Manajemen Peperangan TNI AL

salim's picture

Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Manajemen peperangan pada hakekatnya merupakan suatu kemampuan dalam mengorganisasikan, mengatur serta menjalankan peperangan sehingga didapatkan hasil yang optimal. Berbicara mengenai manajemen peperangan tidak dapat dipisahkan dari peralatan, organisasi serta personil yang mengawakinya. Sebagai tulang punggung dari manajemen peperangan adalah perwira peperangan (Principal Warfare Officer) yang merupakan pembantu utama Komandan dalam mengambil keputusan taktis pertempuran maupun sebagai pengganti Komandan pada saat tidak ditempat.

Sejarah terbentuknya sistem ini bermula dari peristiwa tenggelamnya destroyer Israel (eliath) oleh FAC-M Komar Class milik Mesir sebagai akibat kesiagaan yang kurang dari pengawak Eliath dalam merespon datangnya serangan serangan berkecepatan tinggi dengan berdasarkan kepada daftar respon yang telah dipersiapkan sebelumnya – Pre-Planned Responses (PPRs). Berdasarkan kejadian tersebut negara–negara Barat memandang bahwa kesiagaan atau PPRs di kapal kombatan merupakan suatu tuntutan kebutuhan mutlak yang harus dimiliki oleh kapal - kapal kombatan. Penerapan ini diawali oleh Inggris pada awal tahun 70-an selanjutnya di adopsi oleh Belanda maupun Australia dengan disesuaikan alut sista yang dimiliki oleh negara tersebut.

Dengan adanya Kapal Korvet Sigma dari Belanda telah membawa pengaruh pada manajemen peperangan kapal – kapal Belanda. Perubahan manajemen yang mendasar di Angkatan Laut Belanda didasarkan pada penajaman fungsi dan mempertimbangkan beban pekerjaan yang dapat mempengaruhi terhadap tingkat kesiagaan. “bahwa dilingkungan AL Belanda telah terjadi perubahan manajemen peperangan yang cukup mendasar. Semula untuk menghadapi ancaman udara dan permukaan ditangani oleh perwira SAA (Senjata Atas Air) sedangkan untuk menghadapi ancaman kapal selam ditangani oleh perwira SBA (Senjata Bawah Air), diadakan perubahan untuk menghadapi ancaman udara ditangani oleh perwira peperangan udara sekaligus sebagai pengendali pesawat udara sedangkan untuk menghadapi ancaman permukaan dan kapal selam ditangani oleh Perwira Peperangan Permukaan/Kapal selam.

Combat management yang ada di atas kapal perang dewasa ini semakin efektif dan efisien, dengan menggabungkan tugas AAW (Anti Air Warfare / Peperangan Anti Udara) yang terdiri dari Air Defense dan Anti Missile Defense dengan tugas Pernika (Perang Elektronika) kepada seorang perwira peperangan anti udara. Juga menggabungkan tugas ASW (Anti Submarine Warfare / Anti Kapal Selam) dan ASuW (Anti Surface Warfare / Anti Kapal Permukaan) kepada seorang perwira peperangan anti kapal. Dalam pelaksanaannya di KRI kelas Ahmad Yani dan Fatahillah, tugas AAW dan ASuW masih dipegang oleh Pasen (Perwira Senjata), sedangkan tugas ASW dipegang oleh Pasda, hal tersebut tergantung kepada combat management system yang terpasang di atas kapal sehingga konsep PAU (Peperangan Anti Udara) dan PAK (Peperangan Anti Kapal) memang tidak bisa dilaksanakan di KRI jenis Ahmad Yani dan Fatahillah.

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Manajemen Peperangan

1. Filosofi

Secara filosofi perkembangan peperangan dan teknologi akan berjalan seiring, artinya bahwa perkembangan teknologi akan sangat menentukan paradigma manajemen peperangan. Seiring perkembangan teknologi sekarang yang sudah mencapai taraf C4I (Command, Control, Communication, Computer, and Intelligence), maka era peperangan elektronika dan udara menjadi sangat dominan. Pernika menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dan ancaman udara menjadi ancaman prioritas, karena teknologi peperangan khususnya peperangan laut sekarang menggunakan peralatan yang berbasis komputer. Sasaran yang harus diambil aksinya secara cepat adalah sasaran udara mulai dari GEM yang berubah menjadi spot udara seperti sasaran rudal dan pesud (pesawat udara). Pengambilan keputusan dan aksi terhadap sasaran perlu dibutuhkan waktu yang sangat pendek.

2. Manajemen

Apabila dihadapkan pada tuntutan pengawakan korvet kelas Sigma maka manajemen peperangan yang ada sekarang belum mampu mengakomodir tuntutan tugas sesuai dengan konsep manajemen peperangan modern. Manajemen peperangan kelas Sigma dengan kemajuan teknologi yang mengedepankan efisiensi dan efektivitas jumlah personel pengawak dengan beban kerja yang lebih kompleks dan tuntutan kemampuan serta tugas sama dengan kapal kombatan yang lain. Hal ini yang membentuk desain manajemen peperangan yang berbeda terhadap alut sista Sigma kelas.

3. Personel

Profesionalisme personil sesuai dengan manajemen peperangan yang baru merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan. Contoh yang paling sederhana adalah pada manajemen peperangan yang lama satu display taktis digunakan oleh tiga personil sedangkan pada manajemen peperangan yang baru satu personil mengawaki dua display taktis. Dari contoh tersebut, penguasaan materi baik teknis maupun taktis terhadap peralatan menjadi suatu syarat pengawakan didalam KRI kelas Sigma. Sebagai konsekuensi dari kebutuhan personel pengawak diperlukan juga peningkatan kualitas operator kompilasi permukaan dan udara.

Pemecahan Masalah

1. Diperlukan perubahan filosofi peperangan yang berorientasi pada manajemen peperangan. Filosofi ini pada akhirnya akan menuntun manajemen, organisasi dan sistem pendidikan.

2. Penyesuaian Sistem Manajemen Peperangan yang berorientasi pada bentuk ancaman dengan merubah organisasi tempur yang ada di KRI kombatan. Struktur organisasi tempur tetap, struktur organisasi penjagaan dirubah.

3. Peningkatan SDM/Personel dengan merancang ulang pengawakan Command Team sesuai tipe kapal kombatan.

Paradigma

Mohon ijin mentor, soal yang kita hadapi di AL pada dasarnya menyangkut paradigma. Selama ini selalu alut baru tapi paradigmanya masih lama. Kan sudah jelas mengoperasikan kelas DPN berbeda dengan kelas AMY dan FTH. Tapi di ASTT tidak ada pengadaan simulator baru buat dukung masuknya Sigma. Itu baru menyangkut di ASTT saja, belum lagi yang lain-lain seperti ILS.
Sejak awal pembahasan soal pengawakan kelas DPN beberapa tahun lalu kan ada dua kubu. Kubu pertama yang mau kapal dipadat-karyakan. Kubu kedua lebih suka efisiensi, pengawakan sesuai "jatah" dari desain Sigma. Kalau 65 yah 65, jangan 80.
Masalah utamanya kembali ke paradigma. Ini pekerjaan besar buat kita, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Cepat atau lambat, kita sebaiknya mengadopsi naval transformation seperti AL negara-negara lain.

Kebijakan Pimpinan

Thanks for ur comment bang allhands,,
Benar sekali bang all hands ttg perubahan paradigma, kebetulan kami ikut merencanakan dan mengawaki sebagai kadep ops sigma 2, yang terpenting adalah kebijakan dari pimpinan untuk merubahnya dan menerima naval transformation walaupun harus dikaji terlebih dahulu. Pengadaan Sigma sangat berbeda dengan Amy dan Fth klas yang sudah ada alongins nya maupun pelatihan pengawakannya. Untuk Sigma baru ada 2 MOC alike yang bisa digunakan untuk pelatihan di Kolatarmatim. Nah sekarang sudah ada 4 Klas Sigma, apakah kita tidak bekerja keras untuk itu, dan juga referensi - referensi untuk latihan apabila kita latihan dengan negara lain sudah menggunakan referensi yg baru, sedangkan kita masih menggunakan yang lama.