Oleh : Kolonel Lek Noor Pramadi, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
UAV (unmanned aerial vehicle) adalah pesawat udara tanpa awak (juga dikenal sebagai pesawat udara dikendalikan dari jarak jauh atau RPV/ remotely piloted vehicle). Pengguna terbesar saat ini adalah untuk aplikasi militer dan sedikit untuk aplikasi sipil. Untuk membedakan UAV dari rudal, sebuah UAV didefinisikan sebagai reusable (dapat digunakan kembali), kendaraan tanpa awak yang dikendalikan, penerbangan berkelanjutan dan didukung oleh mesin jet atau turbo. Oleh karena itu, rudal jelajah tidak dianggap sebagai UAV, karena merupakan senjata yang tidak bisa digunakan kembali setelah dilepas, meskipun rudal juga tidak berawak.
Ada berbagai bentuk UAV, ukuran, konfigurasi, dan karakteristik. Secara historis UAV drone pada awalnya dibuat dengan sangat sederhana dan akhirnya dikontrol secara otonom (autonomous) semakin banyak produksi dan digunakan. Saat ini, UAV telah digunakan untuk melakukan misi inteljen, pemantauan (surveillance), pengintaian (reconnaissance) serta misi serangan (attack). Banyak dilaporkan bahwa UAV telah berhasil dengan tingkat akurasi tinggi dalam melakukan misi intelijen, pemantauan, pengintaian dan serangan dengan menggunakan roket, rudal dan bom. UAV sering lebih disukai untuk misi yang terlalu "membosankan dan berbahaya/ beresiko tinggi" bagi pesawat berawak.
Istilah UAV telah diperluas pengertiannya, dan Federal Aviation Administration (FAA) telah mengadopsi istilah ini dengan nama Unmanned Aircraft System (UAS). Awalnya istilah ini diperkenalkan oleh Angkatan Laut AS untuk merefleksikan kenyataan bahwa ini bukan hanya pesawat terbang, tapi sistem, termasuk stasiun pengendali (controle stations) dan data link serta elemen lainnya. Akhirnya Departemen Pertahanan US secara resmi menggunakan istilah UAS bagi pesawat tanpa awak.
Sejarah UAV
UAV yang paling awal adalah buatan PM Low "Aerial Target" pada tahun 1916. Sejumlah pesawat yang dikendalikan jarak jauh berhasil mendapat kemajuan, termasuk diantaranya Hewitt-Sperry Airplane Otomatis, selama dan setelah Perang Dunia I diterbangkan pertama RPV (Remote Piloti Vehicle), yang dikembangkan pertama kali oleh bintang film dan model pesawat Reginald Denny pada tahun 1935. RPV yang dibuat dalam teknologi terburu-buru selama Perang Dunia Kedua, juga digunakan untuk melatih penembak anti pesawat terbang. Mesin jet WW2 diaplikasikan dalam UAV, jenis ini disebut sebagai Ryan Teledyne Firebee I pada tahun 1951, sementara perusahaan-perusahaan seperti Beechcraft juga memproduksi dengan Model 1001 untuk Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1955. Meskipun demikian, mereka tidak lebih dari pesawat yang dikendalikan dengan remote controle sampai dengan era perang Vietnam.
Selama Perang Yom Kippur, baterai rudal Suriah di Lebanon menyebabkan kerontokkan jet-jet tempur Israel. Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, Israel mengembangkan UAV modern pertama. Gambar yang dihasilkan oleh UAV sangat membantu Israel untuk mengatasi pertahanan udara Suriah pada awal Perang Lebanon tahun 1982, sehingga tidak ada lagi pilot yang gugur.
Pada Reno Air Show RQ-1 Predator ditampilkan dengan matang dan merupakan miniaturisasi teknologi yang terlihat pada 1980-an dan 1990-an, minat para pejabat tinggi militer AS terhadap UAV menjadi tumbuh. UAV terlihat menawarkan kemungkinan lebih murah, lebih rendah risiko untuk aircrews. UAV dapat digunakan untuk pencarian dan penyelamatan, UAV dapat membantu menemukan manusia tersesat di padang gurun, atau terapung di laut. Generasi awal terutama pesawat untuk pengawasan, beberapa saat kemudian mencoba untuk dipersenjatai yaitu RQ-1 Predator (offensive operations), dengan memanfaatkan rudal AGM-114 Hellfire (rudal air to ground). UAV bersenjata dikenal sebagai sebuah pesawat tempur tak berawak Unmanned Combat Air Vehicle(UCAV). Selanjutnya terus berkembang dengan penggunaan MQ-9 Reaper yang mampu melakukan tugas-tugas intelligence, surveillance, reconnaissance dan attacks dengan memanfaatkan persenjataan kombinasi AGM-114 Hellfire missiles, GBU-12 Paveway II dan GBU-38 Joint Direct Attack Munitions dan hasilnya sangat sempurna. Perkembangan terakhir USAF di Afganistan mengoperasikan RQ-170 Sentinel yang sampai saat ini masih dirahasiakan.

UAV/UAS MQ-9 Reaper dalam suatu misi di Afganistan.


UAV/UAS RQ-170 Sentinel (Stealth Technology) dalam suatu misi penerbangan di Kandahar Afganistan (2007).
Teknologi UAS/UAV
Negara lain seperti Israel, Rusia dan beberapa negara Eropa juga telah menjadi suatu negara yang mengoperasikan UAV militer dengan tingkat keberhasilan tinggi. Selama Operasi pembebasan Irak, kebutuhan informasi secara tepat waktu dan data intelijen, menjadi suatu hal yang menegaskan bahwa kebutuhan UAV merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Chicago Tribune 23 November 2004 melaporkan, bahwa Brigade Tentara yang beroperasi di Irak, memerlukan sejumlah UAV untuk menunjang tugasnya.


Sistem komunikasi UAV.
Departemen Pertahanan Amerika (US DoD) mengelompokkan UAV dalam jam penerbangan dan jarak jangkau, atau keduanya.
- UAV-Close Range (UAV-CR). Jarak jangkauan kira-kira 50 kilometer.
- UAV-Short Range (UAV-SR). Penerbangan dengan durasi 8 sampai 10 jam yang dirancang untuk menembus ke wilayah udara musuh pada jarak 200 kilometer dengan “datalink”.
- UAV-Endurance (UAV-E). Minimum mampu melakukan 24 jam penerbangan dan mampu melakukan beberapa misi secara simultan.
MQ-9 REAPER Unmanned Aerial Vehicle (UAV), memiliki karakteristik yang sangat baik untuk operasi intelligence, surveillance, dan reconnaissance (ISR).
Karakteristik
- Contractor : General Atomics Aeronautical Systems Incorporated
- Crew : None
- Landing Type : runway
- Launch Type : runway
- Power Plant : Honeywell TP331-10 turboprop engine, 950 SHP (712 kW)
- Fuel Capacity : 1,815 kg (4,000 lb)
- Length : 10.9728 m (36 ft)
- Wingspan : 20.1168 m (66 ft)
- Height : 3.8 m (12.5 ft)
- Empty weight : 2223 kg (4,900 lb)
- Max takeoff weight : 4760 kg (10,500 lb)
- First flight : 2 February 2001
Performance
- Service ceiling : 15 km (50,000 ft)
- Operational altitude : 7.5 km (25,000 ft)
- Endurance : 14–28 hours (14 hours fully loaded)
- Range : 5,926 km (3,200 nmi, 3,682 mi)
- Payload : 3,800 lb (1,700 kg)
- Internal: 800 lb (360 kg)
- External: 3,000 lb (1,400 kg)
- Maximum speed : 482 km/h (300 mph, 260 knots)
- Cruise speed : 276–313 km/h (172–195 mph, 150–170 knots)
Sensors
- AN/APY- 8 Lynx II Radar (Lynx is a multifunction Synthetic Aperture Radar (SAR) operating in SAR and Ground Moving Target Indication (GMTI) modes).
AN/DAS-1 MTS-B Multi-Spectral Targeting System (Raytheon’s MTS-B Multi-Spectral Targeting System provides electro-optical, infrared, laser designation, and laser illumination capabilities integrated in a single sensor package).

UAV/UAS MQ-9 Reaper dengan persenjataan AGM-114 Hellfire dan GBU-12 Paveway II Laser-guide bombs
Armament (Persenjataan)
- 1,500 lb (680 kg) on the two inboard weapons stations
- 500–600 lb (230–270 kg) on the two middle stations
- 150–200 lb (68–91 kg) on the outboard stations
- Up to 14 AGM-114 Hellfire air to ground missiles can be carried or four Hellfire missiles and two 500 lb (230 kg) GBU-12 Paveway II laser-guided bombs. The 500 lb (230 kg) GBU-38Joint Direct Attack Munition (JDAM) can also be carried. Testing is underway to support the operation of the AIM-92 Stinger air-to-air missile.
Unit cost USD 10.5 million for one aircraft with sensors.

Ground Controle Station UAV/UAS Operators at Balad Camp Anaconda, Iraq, April 20, 2005.
Sepak Terjang Operasional UAV
12 Juli 2007 sebuah jurnal memberitakan: US Air Force mengirimkan UAV MQ-9 Reaper ke Afghanistan dan Irak, bukan sebagai pesawat pengintai, tetapi sebagai pengganti F-16 dan F-15 pesawat tempur-pembom. Sementara pesawat berawak mampu membawa lima atau enam kali lebih banyak bom dibanding Reaper yang hanya mampu membawa payload 1.700 Kg, namun hal ini tidak menjadi masalah. MQ-9 Reaper dapat membawa hingga empat bom pintar GBU-38 JDAM. Sementara lebih dari 300 JDAMs dilepas per hari selama invasi ke Irak tahun 2003, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah rata-rata per hari menurun menjadi paling banyak, 3-4 bom. JDAMs yang dijatuhkan di Afghanistan, setengah lusin sehari untuk seluruh negeri. Pelepasan setengah lusin JDAMs oleh F-16 atau F-15 dapat dengan mudah digantikan oleh Reaper. Ini menghemat banyak biaya operasi, apalagi ketika dua orang kru untuk Reaper (pilot dan operator sensor) kembali ke Amerika Serikat, dan mengoperasikan UAV melalui satelite link. UAV memiliki kelebihan utama dibading pesawat pembom tempur berawak, dalam arti bahwa mereka dapat menginap di daerah target, dan mengendalikan dengan kabin yang lega, sehingga selalu ada mata waspada dengan menggunakan sensor kuat (mirip dengan cocpit pada pesawat tempur) dibawa oleh Reaper. Kelemahan utama dari Reaper adalah kecepatan lambat (sekitar 500 kilometer per jam). Kecepatan adalah faktor penting jika situasi berkembang di medan pertempuran, dan pesawat tempur harus siap bergegas masuk untuk membantu, oleh karena itu beberapa jet tempur akan tetap siaga berada di Irak dan Afghanistan.
Fungsi UAV/UAS :
- Remote sensing. UAV berfungsi untuk penginderaan jauh mencakup sensor spektrum elektromagnetik, sensor biologis, dan sensor kimia serta untuk kegiatan intelligence, surveillance, dan reconnaissance (ISR). Sebuah UAV dapat dipasang sensor elektromagnetik yang biasanya mencakup spektrum visual, inframerah, atau kamera inframerah serta sistem radar. Detektor gelombang elektromagnetik lain seperti microwave dan sensor spektrum ultraviolet juga dapat digunakan, tapi memang jarang terjadi. Sensor sensor biologis mampu mendeteksi kehadiran udara yang mengandung berbagai mikroorganisme dan faktor-faktor biologi lainnya. Sensor kimia menggunakan spektroskopi laser untuk menganalisis konsentrasi dari setiap elemen di udara.
- Transport. UAV dapat mengangkut barang, dengan menggunakan berbagai cara yang didasarkan pada konfigurasi dari UAV itu sendiri. Kebanyakan muatan disimpan dalam teluk payload internal di suatu tempat di badan pesawat. Bagi banyak konfigurasi helikopter, muatan eksternal dapat ditambatkan ke bagian bawah badan pesawat. Dengan sayap tetap UAV, muatan juga dapat melekat pada badan pesawat, tapi aerodinamis dari pesawat dengan muatan harus diperhitungkan dengan cermat. Untuk situasi seperti ini, muatan sering ditutupi dalam polong aerodinamis untuk transportasi.
- Scientific research. Pesawat tak berawak memang unik, karena mampu menembus daerah-daerah yang mungkin terlalu berbahaya untuk ditembus dengan pesawat berawak. Administrasi Nasional Kelautan dan Atmosfer (NOAA) mulai memanfaatkan sistem Aerosonde pesawat tak berawak pada tahun 2006 sebagai pemburu badai. AAI Corporation Pty Ltd Aerosonde anak perusahaan dari Victoria (Australia), mendesain dan memproduksi sistem UAV seberat 35-pon, yang bisa terbang di angin topan dan berkomunikasi data secara real-time langsung ke Pusat Topan Nasional di Florida. Data yang diambil melampaui standar tekanan udara dan suhu yang biasanya dilakukan oleh pemburu badai berawak. Lebih lanjut aplikasi untuk pesawat tak berawak dapat dieksplorasi dengan solusi telah dikembangkan untuk akomodasi mereka di wilayah udara nasional, sebuah isu yang saat ini sedang dibahas oleh Federal Aviation Administration. Perusahaan Inggris juga memproduksi varian UAS (20 kg) yang dirancang khusus untuk riset ilmiah di daerah beriklim ektrim seperti antartika.
- Armed attacks. Predator, yang berbasis di tetangga negara Arab, digunakan untuk membunuh tersangka teroris al-Qaeda di Yaman pada 3 November 2002. Hal ini menandai penggunaan pertama Predator bersenjata sebagai sarana serangan diluar sebuah teater perang seperti Afghanistan. Pertanyaan telah diajukan mengenai ketepatan penargetan UAV. Pada bulan Maret 2009, The Guardian melaporkan bahwa UAV Israel dengan rudal bersenjata membunuh 48 warga sipil Palestina di Jalur Gaza, termasuk dua anak kecil di ladang dan sekelompok wanita dan anak perempuan di jalanan kosong yang lain. Pada bulan Juni, Hak Asasi Manusia Watch menyelidiki serangan enam UAV yang mengakibatkan korban sipil, dan menemukan bahwa pasukan Israel juga gagal untuk mengambil semua tindakan pencegahan layak untuk memastikan bahwa sasaran adalah militan, atau gagal untuk membedakan antara kombatan dan warga sipil. Di Juli 2009, Brookings Institution merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa Amerika Serikat memimpin sebuah serangan di Pakistan, sepuluh warga sipil tewas untuk setiap satu militan tewas. S. Azmat Hassan, seorang mantan duta besar Pakistan, mengatakan pada bulan Juli 2009 bahwa serangan UAV Amerika itu dapat mengubah pendapat Pakistan terhadap Amerika Serikat, dan bahwa 35 atau 40 korban serangan hanya menewaskan 8 atau 9 tokoh top Al-Qaeda.
- Search and Rescue. UAV memainkan peran penting dalam meningkatkan pencarian dan penyelamatan di Amerika Serikat. Hal ini ditunjukkan dengan sukses. Penggunaan UAV selama 2008 badai yang melanda Louisiana dan Texas. Sebagai contoh, Predator, yang beroperasi di ketinggian di atas permukaan laut, melakukan pencarian, penyelamatan dan penilaian kerusakan. Payloads yang dibawa adalah sensor optik (untuk siang hari), kamera infra merah, dan Syntetis Aperture Radar (SAR). Predator SAR dapat beroperasi untuk segala cuaca, dengan membawa sensor canggih yang mampu memberikan foto-foto meskipun dalam kondisi berawan, hujan atau kabut, dalam kondisi siang atau malam hari, semua data dapat dikirimkan secara secara real-time. Sebuah perubahan konsep deteksi koheren dalam gambar SAR memungkinkan pencarian dan penyelamatan dengan kemampuan luar biasa: mampu mengambil foto sebelum dan setelah badai, menyoroti kerusakan di daerah bencana dll.
Kelemahan-kelemahan UAV yang saat ini masih ditemui adalah belum mampu melaksanakan terbang secara formasi, payload sangat terbatas, kecepatan rendah (mudah di-intercept), waktu scramble relatif lambat dan belum dapat difungsikan sebagai interceptor (buru sergap). Namun tidak menutup kemungkinan kelemahan-kelemahan ini dapat diatasi dengan baik dimasa mendatang.
Biaya Operasional
Karakteristik, kemampuan, peran, dan misi UAV berbeda dari pesawat berawak, membuat perbandingan langsung antara UAV dengan pesawat berawak sangatlah sulit. Dalam beberapa kasus UAV yang dioperasikan dengan misi tunggal, dapat mencapai hasil yang sama seperti pesawat berawak, sebaliknya misi tunggal dari pesawat berawak mungkin diperlukan dalam banyak sorties untuk menyelesaikannya dibandingkan dengan hasil dari satu misi UAV. Namun sebagian besar analis setuju bahwa biaya operasi UAV pada peran yang sama seperti pesawat berawak, UAV ternyata lebih murah. Deffence Airborne Reconnaissance Office (DARO) telah mengembangkan dan mengevaluasi dengan indikator kinerja "pound hours per kilo per 1000 dollars" menunjukkan biaya operasional untuk pengoperasian dan pemeliharaan dengan payload tertentu bagi operasi pengintaian (reconnaissance). Dengan standar tersebut menunjukkan bahwa biaya UAV lebih rendah daripada pesawat berawak. Metrik lainnya masih dalam pengembangan untuk menilai manfaat produk payload (diukur dalam pixel kuantitas terhadap waktu per dolar). Pengurangan biaya yang penting dalam UAV terjadi karena ketersediaan COTS (commercial-off the Shelf) teknologi. Pendekatan inilah yang menyebabkan biaya MQ-1 Predator dan RQ-3 Dark Star akan tetap, masing-masing pada 3 juta US $ dan 10 juta US $ per jam terbang. Biaya airframes hanya 15 persen dari total biaya, sedangkan ground controle station menyumbang 16 persen, muatan/payloads 20 persen, pelatihan dan dukungan 34 persen.
Meskipun demikian skuadron jarak menengah UAV jauh lebih murah dan lebih cepat menghasilkan untuk mengganti satu pesawat F-14. Tren ini kemungkinan akan terus memberikan kesadaran baru bagi pemanfaatan UAV dan meningkatkan permintaan di sektor non-militer. Meskipun tidak secara ketat UAV sebanding dengan F-14, karena perbedaan besar dalam kemampuan platform, angka-angka cenderung untuk menyoroti fakta bahwa UAV dapat diproduksi lebih murah. Namun jika UAV ditingkatkan dengan survivability dan peningkatan kinerja (kecepatan tinggi dan manuver) maka dapat lebih mengurangi biaya. Biaya payload umumnya sama untuk pesawat berawak dan pesawat tak berawak, UAV dengan muatan yang sedikit lebih mahal karena kebutuhan terhadap ukuran yang lebih kecil dan bobot yang lebih ringan. Namun di masa depan ada kemungkinan kesamaan antara muatan/payload dan komponen pada pesawat berawak dan UAV. Biaya operasi untuk RF-111C Aardvark dan F/A-18 Hornet dari Royal Australian Air Force adalah 50.836 US $ per jam terbang dan 32.781 US $ per jam terbang. Biaya operasi Predator walaupun tidak tersedia data, namun diyakini akan jauh lebih rendah. Biaya operasi rendah bukan satu-satunya faktor yang mendukung efektivitas biaya UAV. Dukungan transportasi dan logistik yang rendah merupakan persyaratan untuk sistem UAV.
Survivability UAV sangat tergantung pada ukurannya. Kemampuan yang dimiliki untuk beroperasi dan mudah dideteksi tidak memberikan kontribusi bagi efektivitas biaya, karena rendahnya investasi yang diperlukan untuk sistem pertahanan diri. Namun musuh harus dapat menemukan cara untuk cepat mendeteksi dan menghancurkan UAV, merupakan faktor efektivitas biaya yang akan cepat terkikis. Lebih jauh ke masa depan, diam-diam UAV akan mengatasi berbagai masalah tersebut, meskipun dengan konsekwensi pada harga lebih tinggi. Meskipun demikian biaya UAV diam-diam akan lebih rendah daripada pesawat stealth. Peran pengintai taktis oleh UAV akan terus menjadi lebih hemat biaya, terlepas dari total biaya yang tinggi, persyaratan kinerja dan survivability. Karena semakin banyak negara mengadopsi program UAV, maka biaya operasi UAV akan terus menurun.
Perlukah NKRI Dimonitor dengan UAV ?
Perdebatan pendapat mengenai apakah pesawat berawak atau tak berawak yang paling efektif untuk digunakan dalam misi intelligence, surveillance, dan reconnaissance (ISR) telah meningkat selama beberapa tahun terakhir. Sementara pesawat berawak telah digunakan dengan baik dalam segala operasi, sedangkan potensi UAV mulai dan sedang diamati. Penggunaan teknologi UAV berkembang cepat dan penggunaan baru dalam operasi militer sedang dikembangkan terus. Penerapan teknologi untuk UAV dalam peran pengintaian taktis telah matang. Kemampuan yang ditawarkan dapat menyaingi pesawat berawak dan satelit. Keuntungan yang paling jelas dari UAV dalam peran pengintaian taktis adalah biaya, kapasitas untuk melakukan misi di mana expendability, dan daya tahan adalah merupakan masalah. Pesawat berawak menawarkan keuntungan fleksibilitas, respon cepat, dan survivability.
Indonesia sebagai Negara kepulauan yang luas sekali (panjang ± 5.000 NM dan lebar ± 3.000 NM) perlu suatu peralatan untuk memantau wilayah darat maupun laut dari udara baik siang maupun malam, dengan biaya yang lebih murah dan resiko yang lebih rendah, namun tetap efektif. UAV dengan payload sensor merupakan peralatan (salah satu peralatan airborn-based sensors) yang mampu memberikan bantuan kelengkapan data dari sensor-sensor lainnya yang telah tergelar. Data yang dihasilkan oleh UAV sebenarnya dapat digunakan untuk otoritas militer maupun sipil, dengan demikian biaya operasi dapat ditekan. TNI AU yang telah memiliki pengalaman dalam mengoperasikan pesawat kiranya dapat menjadi penjuru untuk pengoperasian UAV bagi NKRI. UAV sangat cocok untuk operasi pengawasan perbatasan yang berhutan lebat di Kalimantan dan Papua, untuk operasi pengawasan laut dll. UAV mampu melaksanakan operasi pada kondisi-kondisi ekstrim di darat maupun di laut. Perlukah NKRI memiliki skadron UAV untuk melaksanakan operasi ISR dan kebutuhan sipil lainnya ?. Jawabannya sangat diperlukan karena sensor-sensor lainnya land-based sensors, sea-based sensors dan space-based sensors yang dimiliki oleh NKRI belum optimal. NKRI yang merupakan Negara kepulauan yang sangat luas dan berada pada posisi silang dunia perlu memiliki berbagai sensor/multi sensor antara lain, Radar, Radar Pasif, Passive Coherent Locator, OTHR, AWACS, UAV, Aerostat Radar System,ESM Ship, Ship Radar, Sensor SatelitberupaSynthetic Aperture Radar (SAR) Satelite, Earth Remote Sensing (ERS) Satelite, Electronic Intelligence (ELINT) Satelite dan berbagai sensor lainnya. Dengan sensor-sensor tersebut maka setiap jengkal tanah dan laut dapat dipantau dan akhirnya kedaulatan NKRI dapat ditegakkan. Sudah saatnya NKRI memiliki skadron UAV/UAS serta TNI AU sudah pantas jika menjadi penjuru dalam penggunaan UAV/UAS untuk kepentingan operasi militer, keperluan otoritas sipil ataupun dengan cara penggunaan bersama.
Semoga bermanfaat.
Daftar Pustaka :
- Carlo Kopp, Uninhabited Combat Aerial Vehicles, Panacea or Pipe Dream?, Maret 2010.
- David A. Fulghum and Bill Sweetman ,Black UAV Performs In Afghanistan, http://www.aviationweek.com/aw/generic/story.jsp?id=news/, Maret 2010.
- General Atomics Aeronautical Systems MQ-9 Reaper (RQ-9 Predator B), http://www.aircraftguru.com/aircraft/aircraft-information.php?craftid=13..., Maret 2010.
- MQ-1 Predator UAS: Aircraft profile, http://www.aviationspectator.com/resources/aircraft-profiles/mq-1-predat..., Maret 2010.
- Predator RQ-1/MQ-1/MQ-9 Reaper – Unmenned Aerial Vihicle (UAV), USA, http://www.airforce-technology.com/, Maret 2010.
- Sqn Ldr Rajesh Kumar, Tactical Reconnaissance: Uavs Versus Manned Aircraf, http://fas.org/ irp/program/collect/docs/97-0349.pdf, Maret 2010.
- UAVs Replacing F-16s, http://www.strategypage.com/htmw/htairfo/20070712.aspx, Maret 2010.
- Unmanned_aerial_vehicle, http://en.wikipedia.org/, Maret 2010.
_______________________
Recent comments
1 week 6 days ago
2 weeks 2 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 4 days ago
2 weeks 5 days ago