Oleh: Bayu Dardias Kurniadi, S.IP, Grad.Dipl. Pub Admin, MA., Dosen UGM, Kontributor TANDEF
Salah satu pesawat TNI AU jatuh lagi pagi ini. Belum jelas apa penyebabnya, yang jelas petaka ini adalah musibah berikutnya setelah jatuhnya pesawat Fokker di Bandung beberapa waktu lalu yang menewaskan putra-putra terbaik Paskhas AU. Saya langsung mengganti status di Facebook menjadi "Audit TNI !!!!". Banyak komentar masuk. Musibah jatuhnya pesawat TNI AU ini sangat emosional buat saya. Mengapa?
Salah seorang sahabat, Norman Nugroho, tewas bersama jatuhnya Chopper Superpuma di Wonosobo dua hari sebelum tsunami Aceh di akhir 2004. Waktu itu pangkatnya masih Letnan Satu. Saya berdebar-debar menunggu berita di tagline TV setelah ditelpon kawan-kawan berkali-kali tentang kabar Norman adalah salah satu dari 14 korban. Norman adalah teman baik ketika SMA dan kami mendaki beberapa gunung bersama, termasuk berbagai kegiatan di SMA antara lain Pramuka. Dia Ketua PMR saya ketua Glacial (Pecinta Alam). Kami sering kerja bareng. Bersama teman saya yang lain, kami bertiga pernah ikut Geowisata di Bantul yang diselenggarakan Mapala Geologi UGM selama tiga hari. Ini peristiwa yang sangat mengesankan. Diantara teman tentara yang lain, dia yang paling tidak pelit untuk diajak diskusi. Darinya, saya tahu tentang berbagai posisi "sikap" di AAU. Setiap pesawat jatuh selalu mengingatkan saya pada sosok kalem Norman.
Saat menulis status tersebut di Facebook, saya tidak bermaksud memojokkan TNI AU. Maksudnya adalah, dengan diaudit, akan jelas kebutuhan "standar" TNI. Kalau kurang sebaiknya ditambah, kalau belum beres dibenahi. Kalau standarisasinya masih kurang, mungkin perlu sertifikasi management. Dengan cuaca yang bagus seperti di foto evakuasi (tidak seperti ketika Superpuma jatuh), jelas ada yang tidak beres, baik di internal TNI, maupun di luarnya. Mari diperinci satu-satu.
Secara politis, posisi TNI sangat-sangat jauh berbeda sejak Post-Soeharto Indonesia. Kebetulan, saya sedang membaca buku Marcus Mietzner (2009), dosen saya, Military Politics, Islam, and the State in Indonesia: From Turbulent Transition to Democratic Consolidation. Pemerintah Indonesia pasca Soeharto yang mengusung ideologi Huntingtonian yang menganggap tentara harus militer professional. Dengan pandangan ini, Dwi Fungsi ABRI dihapus, dan dampaknya sungguh sangat luar biasa. Keuangan Prajurit menciut drastis. Saat ini muncul desakan agar bisnis TNI dipreteli yang juga masih berakar pada ideologi Huntingtonian ini. Kini menjadi tentara tidak segagah sebelumnya. Di lain pihak, rakyatpun menolak militer termasuk pensiunan, ke kancah politik. Sekitar 8% pensiunan TNI dan Polri yang berlaga di Pilkada sebagian besar kalah (Mietzner, Inside Indonesia, January 2006). Saat ini sulit mencari Gubernur yang berasal dari TNI/Polri. Di Jawa hanya tersisa di Jateng. Di Jaman Soeharto, seluruh Gubernur di Jawa dari TNI. Dari lebih dari separuh kepala daerah di Indonesia yang berasal dari TNI selama Orba, hanya menyisakan kurang dari 10 orang di 400 lebih kabupaten kota dan 33 Provinsi atau sekitar 2%-3% saja. Posisi TNI di Di DPR/DPRD semakin masuk dalam kategori "endangered species".
Dari jumlah yang sedikit itu, termasuk SBY, Wiranto dan Prabowo, adalah “generasi terakhir” militer dalam politik Indonesia. Mereka semua diuntungkan dengan sistem semasa Orba. Ketiga kandidat tersebut menjadi tokoh nasional karena publikasi sebelas tahun lalu. Jika dulu saya sebagai mahasiswa hapal betul nama-nama petinggi ABRI termasuk Syarwan Hamid yang menjabat Kasospol ABRI, mahasiswa sekarang Panglima TNI pun belum tentu tahu. Apalagi Panglima Kostrad. Tokoh saat ini, baik di tingkat lokal maupun nasional adalah hasil investasi politik, ekonomi dan budaya selama Orde Baru, ketika Dwi Fungsi ABRI masih berjaya. Dalam lima-sepuluh tahun lagi, pensiunan TNI kian tidak diperhitungkan dalam politik Indonesia, karena modal social dan ekonominya semakin tidak signifikan.
Di lain pihak, dukungan pemerintah, terutama dalam hal kesejahteraan untuk anggota TNI masih menyedihkan. Anggaran tahun ini yang hanya 35 trilyun tidak ada separuhnya dari kebutuhan minimal TNI sebanyak 76 trilyun. Tiga tahun lalu saya membaca artikel di Kompas tentang tentara di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Tentara Indonesia disegani betul karena daya "survivabilitasnya" yang luar biasa di hutan. Tanpa dukungan logistic yang memadai, tentara harus berpatroli di hutan-hutan. Jika tentara Malaysia membawa bekal yang sangat menjamin berlangsungnya operasi, tentara Indonesia cukup hanya berbekal parang karena tidak ada jatah. Teman saya bercerita, ketika diterjunkan untuk membantu korban tsunami di Aceh, baru dua-tiga minggu kemudian dukungan logistik datang. Ditengah mengangkut bangkai yang membusuk, prajurit harus jeli mencermati jika masih ada bungkus Indomie yang utuh, untuk sarapan hari itu.
Daya survavilitas untuk mendapatkan benefit ekonomi muncul di Post-Soeharto TNI. Pendeknya, korupsi menjadi pilihan survavilitas terbaik dari sedikit peluang yang ada. TNI dan Polri adalah beberapa institusi yang sampai saat ini masih kebal KPK. Apakah tidak ada korupsi, saya tidak yakin. Artinya, TNI selain keterbatasan dari luar, juga "dihancurkan" dari dalam.
Teman saya bercerita tentang bagaimana managemen perawatan Alutsista TNI AU dilakukan. Setiap komponen pesawat memiliki dua buah nomor, Part Number yang menjelaskan jenis part tertentu dan Serial Number yang menjelaskan seri keberapa part tersebut diproduksi. TNI AU memiliki peralatan canggih yang sangat-sangat mahal yang ditanam di landasan Halim. Alat ini, dengan softwarenya, berfungsi untuk menginvetarisasi seluruh part sekaligus langsung menghubungi pabrikan part tersebut, misalnya ke Lockheed Martin. Dengan alat ini, seluruh keluar masuknya part akan mudah dikontrol. Tapi alat ini meminimalkan peluang "survivabilitas" di TNI AU. Entah mengapa, alat ini cepat rusak, jauh di dari masa pakai seharusnya. Sampai sekarang alat ini belum diperbaiki. Dengan tiadanya alat ini, besar kemungkinan alat yang rusak tidak diganti, hanya dilaporkan diganti. Jika dicek lebih jauh, nomor serinyapun tak terdaftar di pabriknya.
Nah, orang-orang macam begini masih bertebaran di TNI, menyunat apa yang bisa disunat, menjual apa yang bisa dijual. Barang negara menjadi "jarahan" yang menggiurkan atas nama survivabilitas. Internal TNI menjadi medan perang perebutan barang jarahan tersebut. Di tengah perang ini, ribuan tentara berpangkat rendah berhutang setiap bulan di koperasi, hanya untuk membeli susu anaknya. Kasus di Sentani sebulan lalu mensahihkan pandangan ini.
Selain itu, Human Capital, keahlian pilot misalnya, dihargai sangat rendah. Teman saya bercerita betapa murahnya penghargaan terhadap instruktur penerbang, yang harus juga bertaruh nyawa di belakang kokpit yang dikendalikan siswa Setiap jamnya, sang instruktur berpangkat Letkol hanya dihargai beberapa puluh ribu.
Tanpa dukungan kuat dari luar dan dihancurkan dari dalam, generasi terbaik Indonesia hanya akan masuk "peti mati" besar bernama Hercules. Rutin, terjadwal, menuju akhirat.
inisiasi program reduksi senjata TNI 2009-2014
wah analisis yang bagus, sedikit tambahan ya...menurut saya kesalahan ini semerta-merta bukan kesalahan TNI semata, namun juga sistem politik dan pemerintahan yang selama ini yang menomor seratuskan masalah pertahanan.Semua pihak ikut bersalah namun tidak ada yang mau disalahkan.
Memang solusinya harus jangan saling menyalahkan,namun kita harus saling memberi masukan. Anggaran pertahanan yang minim saat ini sudah menjadi problem publik, dan yang dibutuhkan saat ini ialah bagaimana problem publik ini bisa masuk menjadi agenda pemerintah dalam membahas kebijakan angaran TNI kedepan. Untuk itulah kita memerlukan support dan dukungan dari teman-teman yang duduk di media maupun yang duduk disekitar policy stakeholder agar dapat meng-gol-kan hal ini
sehingga mendesak mereka membawa isu ini menjadi agenda mereka agar bisa dibawa ketika kebijakan publik mengenai masalah anggaran pertahanan ini
dibahas.
Tadi pagi saya membaca tentang inisiasi program reduksi senjata TNI 2009-2014 di media indonesia (versi digitalnya dapat dilihat di http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/05/25/index.shtml ),ini merupakan hal yang menurut "smart" untuk dijadikan salah satu konsep untuk meningkatkan anggaran pertahanan kita yg selama ini terlalu "minim".
Kami menunggu komentar rekan2 tentang ini,terimakasi wassallam
reduksi hanya opsi terakhir
anggaran minim bukan menjustifikasi reduksi,,,yang sangat nyata akan terasa dampaknya dengan reduksi tentu saja TNI-AU dan TNI-AL,,,,lihat banyak pesawat mulai dari angkut sampai tempur yang kesannya memang tua usianya walo dari jam terbang belum harus diganti, kecuali untuk yang macam OV-10 dan hawk MK-53. kita juga harus melihat di AL banyak sekali kapal berumur lebih dari 20-30 tahun. dan nampaknya memang para petinggi tidak melihat ancaman yang nyata tapi kita lihat konsekuensinya:
1. hercules di reduksi,,,bagaimana kalo terjadi bencana?? ato terjadi pemberontakan?? kontingensi pasukan akan berkurang drastis
2. mk-53 dan F-5 di grounded,,,,mk-53 memang jarang hadir di perbatasan,,,tapi F-5??? F-5 sering digunakan untuk menunjukkan kehadiran kita di perbatasan,,,kalo kita mencoret F-5,,,,berarti kita sepenuhnya mengandalkan F-16 terutama untuk kawasan timur dan selatan dimana hawk 109/209 jarang hadir disana
3. Fokker, helikopter,,dan beberapa alutsista lain yang akan benar-benar mengurangi kemampuan TNI AU pada khususnya dan TNI pada umumnya
belum lagi kalo kita membahas TNI-AL,,,bagaimana kita menjaga laut kita,,,kalau sekarang saja belum bisa mencapai minimum essential forces dan mau dikurangi jumlahnya???
maaf agak OOT,,tapi memang diperlukan perhatian yang lebih dari para decision maker baik di pemerintahan maupun di level angkatan bahwa kita harus menyadari,,,,TNI ada dari rakyat dan untuk rakyat,,,tidak ada yang menyuruh anda jadi tentara kecuali panggilan berbakti untuk negeri (kecuali motivasi anda lain). jadi kita harus berjuang bersama-sama untuk meminimalkan kebocoran anggaran demi TNI dan bangsa tercinta,,,,tidakkah anda malu kalo mobil anda puluhan tapi prajurit di bawah anda gugur karena dana yang tidak sampai ke pos yang seharusnya???
jadi,,,menurut pendapat saya, reduksi hanya akan menjustifikasi anggaran yang minim,dan tentu saja akan sangat mengurangi kekuatan TNI,,kalau memang decision maker merasa anggaran TNI sudah cukup, berarti memang nasib TNI hanya bisa menghidupkan beberapa pesawat/kapal dari yang dimiliki
dengan reduksi,kalo tidak diimbangi akuisisi alutsista pengganti,,,hanya akan membuat seolah-olah anggaran militer lebih dari cukup,,,tapi di akhir cerita,,,saya hanyalah orang awam dan tak punya kedudukan,,,saya hanya bisa bersuara dan menunjukkan kepedulian saya pada pertahanan negara
salam
Defence is not only about defence...but also for pride and honour