"Tuan-tuan Hakim, siapakah orang Indonesia yang tidak mengeluh hatinya, kalau mendengarkan cerita tentang keindahan itu, siapakah yang tidak menyesalkan hilangnya kebesaran-kebesarannya! Siapakah orang Indonesia yang tidak hidup semangat nasionalnya kalau mendengarkan riwayat tentang kebesaran kerajaan Melayu dan Sriwijaya, tentang kebesaran Mataram yang pertama, kebesaran zaman Sindok dan Erlangga dan Kediri dan Singasari dan Majapahit dan Pajajaran, kebesaran pula dari Bintara, Banten dan Mataram kedua di bawah Sultan Agung! Siapakah orang Indonesia yang tidak mengeluh hatinya kalau ia ingat akan benderanya yang dulu ditemukan dan dihormati orang sampai di Madagaskar di Persia dan di Tiongkok. Tetapi sebaliknya, siapakah yang tidak hidup harapannya dan kepercayaannya, bahwa rakyat yang demikian kebesarannya hari dulu itu pasti cukup kekuatan untuk mendatangkan hari kemudian yang indah pula, pasti masih juga mempunyai kebisaan-kebisaan menaik lagi di atas tingkat kebesaran di kelak kemudian hari. Siapakah yang tidak seolah-olah mendapat nyawa baru dan tenaga baru kalau ia membaca riwayat zaman dulu itu! Begitulah pula rakyat, dengan mengetahui kebesaran hari dulu itu, lantas hiduplah rasa nasionalnya, lantas menyala lagilah api harapan di dalam hatinya, dan lantas mendapat lagilah rakyat itu nyawa baru dan tenaga baru oleh karenanya."
(Ir.Soekarno, dalam pidato pembelaannya di depan Pengadilan Kolonial Hindia Belanda, 1930)

Dimulai pada medio tahun 2003, terdapat nuansa baru di Akademi Kepolisian. Dimana sebelumnya Akpol hanya mendidik Taruna yang berjenis kelamin laki-laki saja. Namun semenjak saat itu Akpol mulai menerima Taruna wanita, atau yang selanjutnya biasa disebut dengan Taruni. Sampai dengan saat ini Akpol telah mendidik 6 angkatan Taruni, 3 angkatan diantaranya sudah lulus dan telah melaksanakan dinas di berbagai wilayah RI. Jumlah setiap angkatan berbeda-beda, berkisar antara 30 sampai 60 orang.
syarat jadi taruni
apa saja syarat menjadi seorang taruni?
Perekrutan perwira polisi
Kepolisian RI dalam merekrut calon perwiranya melalui beberapa jalur, yaitu melali Akademi Kepolisian, melalui Sekolah Calon Perwira, dan melalui Sekolah Perwira Sukarela dari berbagai perguruan tinggi. Perekrutan melalui Sekolah Calon Perwira mungkin untuk kepentingan terbatas dalam mencukupi tuntutan organisasi di tingkat pelaksanaan. Sedangkan untuk mencetak kader-kader pimpinan kepolisian negara untuk keperluan pembibitan pimpinan tingkat puncak di lakukan melalui Akademi Kepolisian dan perekrutan sarjana lulusan perguruan tinggi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah perekrutan melalui Akademi Kepolisian masih diperlukan dan masih relevan dengan perkembangan zaman? Akademi Kepolisian dan juga berbagai akademi kedinasan dalam organ pemerintahan lainnya dibentuk karena masih sangat langkanya pemuda-pemuda terpelajar lulusan perguruan tinggi di awal-awal kemerdekaan negara RI di tahun 1950-an. Namun, sekarang di abad 21, di mana sudah berlebihan sarjana lulusan perguruan tinggi apakah masih relevan perekrutan kader pimpinan kedinasan dalam instansi pemerintahan melalui suatu akademi khusus kedinasan. Apakah tidak lebih murah kalau merekrut mereka dari sarjana-sarjana lulusan perguruan tinggi melalui seleksi khusus dan pelatihan khusus juga. Dengan demikian akan membuka lebih luas lapangan kerja bagi para lulusan perguruan tinggi.
Sebagai satu perenungan
mohon doa restu untuk menjadi taruni
assalamualaikum
perkenalkan nama saya tiur bunga gadissa. tahun ini saya mendaftarkan diri untuk menjadi seorang taruni. tgl 20 mei saya sudah mendaftar ke polda semarang dan tanggal 28 mei nanti saya akan kesemarang lagi untuk mengikuti tes rikmin awal.
mudah2an saya lolos dan dapat mengikuti tes2 selanjutnya sampai saya diterima menjadi seorang taruni dan dapat mengikuti pendidikanya dengan baik. ini cita2 saya dari dulu untuk menjadi seorang taruni. mudah2an diberi kemudahan. Amin.
fakta atau 'fakta'
salam dr saya!!!
terkadang saya mrasakan betapa susahnya utk menjadi seorang taruni yg benar2 tangguh,bersih dan tidak hny memikirkan 2 hal pokok yaitu tahta dan harta.
tapi utk hidup memang membutuhkan perjangaun dan ini saya setuju dari sudut pandang tingkat kesulitan tapi tidak setuju dari segi konvensional. terima kasih.
bertanya
pak,apakah bisa klo lulusan sma/smk masuk ke akademi kepolisian?