Rasa Kebangsaan Indonesia Saat Ini: Haruskah Kita Pesimis?

irazpakatto's picture

Oleh: Kapten CZI Hiras M.S. Turnip, Kontributor TANDEF

Pada penyelenggaraan Piala Asia tahun 2007 yang lalu di Jakarta, kita tentu masih ingat, bagaimana kita, seluruh bangsa Indonesia mendukung kesebelasan kebanggaan, tim nasional sepakbola Indonesia. Tua-muda, laki-perempuan, semuanya berbondong-bondong ke Stadion Gelora Bung Karno untuk menyaksikan dan mendukung tim kesayangan kita. Juga pemirsa di manapun di seluruh Indonesia, dengan antusias menyaksikan pertandingan yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. Demam tim sepakbola nasional Indonesia merambah hingga ke pelosok Indonesia. Di kafe-kafe, rumah makan, bahkan di lapangan di perumahan penduduk diselenggarakan acara nonton bareng. Para penontonnya pun terhitung cukup banyak, lengkap dengan atribut kebanggaan nasional, bendera merah-putih, baik yang dikibarkan maupun dalam bentuk ikat kepala, bandana dan lain-lain, juga suara riuh rendah yel-yel penyemangat, tidak ada bedanya dengan penonton yang datang langsung ke Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Kita juga tentu masih ingat, bagaimana dukungan masyarakat untuk tim nasional bulutangkis Indonesia pada penyelenggaraan turnamen Piala Thomas dan Piala Uber tahun lalu. Meskipun akhirnya tim nasional Indonesia gagal juara atau gagal lolos ke babak selanjutnya, kedua momen ini sangat penting bagi bangsa Indonesia. Sungguh, situasi yang membuat bulu kuduk merinding. Ternyata, di tengah wacana anggapan bahwa rasa kebangsaan Indonesia telah menurun, momen olahraga berhasil kembali mempersatukan bangsa Indonesia. Namun, apakah cukup sampai di situ?

Rasa Kebangsaan Indonesia

Konsep rasa kebangsaan Indonesia tumbuh dari sejarah panjang bangsa. Berawal dari hasrat ingin bersatu penduduk yang mempunyai latar belakang yang sangat majemuk, kemudian berkembang menjadi keyakinan untuk menjadi satu bangsa yang akhirnya dideklarasikan oleh sejumlah pemuda pada saat Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Sejalan perkembangan perjuangan kebangsaan, keyakinan terikat sebagai satu bangsa tersebut kemudian berkembang menjadi paham nasionalisme. Kemudian berangkat dari latar belakang sejarah tersebut didefinisikanlah rasa kebangsaan, yaitu kesadaran berbangsa, merupakan rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional dimana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat kebangsaan atau semangat patriotisme. (Nation and Character Building-Melalui Pemahaman Wawasan Kebangsaan-, dari hasil diskusi reguler Direktorat Politik, Komunikasi dan Informasi Bappenas, Otho H. Hadi, MA, Staf Direktorat Politik, Komunikasi dan Informasi Bappenas).

Selama ini, rasa kebangsaan Indonesia dianggap sudah mulai luntur, hal ini dikaitkan dengan kenyataan derasnya arus globalisasi dan westernisasi yaitu semakin lunturnya budaya ketimuran Indonesia. Semakin sulit kita temukan pada anak muda jaman sekarang sopan santun khas budaya Timur yang dulu dipraktekkan orang-orang tua kita pada jamannya. Semakin sulit pula kita menemukan generasi muda sekarang yang hafal butir-butir dari sila Pancasila. Meskipun penguasaan materi butir-butir Pancasila tidak dapat dijadikan indikator pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, paling tidak hal tersebut menunjukkan adanya penurunan upaya pemantapan pemahaman kewarganegaraan pada generasi muda. Saya tidak yakin (bukan berarti pesimis) jika kita ambil sampel di tempat-tempat umum (misalnya mall-mall) apakah pemuda-pemudi kita hafal 100% Lagu Indonesia Raya? Tanyakan pula, siapa pencipta lagu Bagimu Negeri? Tapi coba tanyakan, siapa yang menyanyikan lagu “PUSPA”? Dengan cepat pasti segera dijawab. Sekali lagi, meskipun kadar kebangsaan seseorang tidak semata-mata diukur dengan bisa tidaknya menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengetahui lagu-lagu wajib perjuangan, paling tidak hal ini menjadi suatu peringatan bagi kita pencinta bangsa dan negara ini.

Bangkitkan Kembali !

Berangkat dari uraian di atas, memang kita menyadari terjadinya penurunan pemahaman dan aplikasi terhadap rasa kebangsaan Indonesia. Namun kita tidak perlu berkecil hati, dengan berbagai upaya, kita dapat mempertahankan rasa kecintaan terhadap bangsa ini, dengan memanfaatkan dan menggali potensi yang ada. Berbagai peristiwa dan momen dalam kehidupan Bangsa Indonesia telah menunjukkan, bahwa bangsa kita masih punya rasa cinta tanah air dan bangsa, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, harga diri di antara bangsa-bangsa di dunia, rasa bersatu, dan rasa senasib sepenanggungan. Di antara momen tersebut adalah momen yang diuraikan pada awal tulisan ini. Momen lain yang bisa kita manfaatkan sebagai momen pemersatu bangsa namun diarahkan pada hal-hal yang positif antara lain:

1. Ketika terjadi konflik perbatasan dengan negara tetangga (Malaysia), sebagian masyarakat Indonesia berbondong-bondong menyatakan kesediaan dirinya untuk menjadi sukarelawan ikut berperang melawan Malaysia bahkan sebagian sudah melaksanakan latihan kemiliteran secara mandiri.

2. Ketika budaya bangsa (lagu daerah, kesenian daerah, dsb) diklaim oleh bangsa lain (Malaysia) sebagai budaya mereka, masyarakat Indonesia melakukan protes keras terhadap tindakan negara tersebut.

3. Ketika warga negara Indonesia yang berada di negara asing (TKI, duta olah raga, dsb) mendapat perlakuan buruk/tidak sebagaimana mestinya, masyarakat Indonesia melakukan protes keras dan menuntut keadilan terhadap perlakuan tersebut.

4. Pada acara puncak perayaan Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2008 di Stadion Gelora Bung Karno, masyarakat sangat antusias berpartisipasi, baik sebagai pengisi acara maupun sebagai penonton, termasuk pemirsa televisi di seluruh Indonesia, karena seluruh stasiun televisi nasional menyiarkan secara langsung acara tersebut.

Momen-momen dan peristiwa tersebut sangat penting bagi bangsa Indonesia, dan merupakan suatu potensi yang dapat kita kembangkan dalam upaya pemantapan rasa kebangsaan Indonesia. Upaya-upaya tersebut dapat kita lakukan (pemerintah dan segenap bangsa Indonesia) dengan:

1. Menggalakkan kembali materi pelajaran wawasan kebangsaan dan kewarganegaraan di dalam sistem pendidikan di Indonesia, terutama mulai tingkat dasar, sehingga sejak kecil anak-anak telah ditanamkan rasa kebangsaan yang dalam dan cinta tanah air dan bangsa. (Perlu perhatian yang serius karena kita dihadapkan pada tumbuh dan berkembangnya sekolah-sekolah yang “global-oriented”, yang sangat fokus pada sains, teknologi dan masa depan pribadi (profesi) tetapi kurang perhatian terhadap kesadaran berbangsa dan bertanah air).

2. Memanfaatkan momen-momen kompetisi antar bangsa, termasuk bidang olahraga dan pendidikan (kompetisi sains dan teknologi) yaitu dengan terus mendukung prestasi bangsa Indonesia di dunia Internasional, sehingga semakin banyak hal yang dapat dijadikan kebanggaan nasional. (Sayangnya, pelajar juara-juara kompetisi sains dan teknologi terkadang tidak mendapat perhatian khusus dari kita, khususnya pemerintah, sehingga potensinya sering dimanfaatkan oleh institusi di luar Indonesia)

3. Menggalakkan kembali slogan cinta produksi Indonesia. Namun diharapkan tidak hanya sebagai slogan belaka, tetapi dibarengi usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi dalam negeri sehingga tidak terlalu bergantung pada negara lain.

4. Mendukung pemasyarakatan budaya Indonesia untuk membendung masuknya budaya asing. Misalnya: para pejabat kita agar lebih mendahulukan musik dan lagu-lagu Indonesia seperti lagu-lagu dangdut dalam kegiatan dengan masyarakat, jangan malah lebih memilih lagu-lagu barat atau budaya asing lainnya.

5. Kita semua harus punya kesadaran untuk memproteksi (bukan berarti menutup pintu) arus globalisasi informasi dan teknologi, misalnya dengan membatasi akses internet yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia seperti yang telah dilakukan pemerintah dengan aturan pelarangan akses situs porno di seluruh Indonesia.

Kesimpulan

Rasa kebangsaan Indonesia lahir dari suatu sejarah yang panjang. Kita sebagai generasi penerus mempunyai kewajiban untuk melestarikannya. Pelestarian rasa kebangsaan Indonesia merupakan salah satu usaha untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun wacana yang ada menyatakan bahwa telah terjadi penurunan rasa kebangsaan Indonesia, kita tetap harus optimis, karena terbukti masih banyak potensi bangsa ini yang dapat dikembangkan demi tetap terpeliharanya rasa kebangsaan dan dapat dijadikan pijakan untuk usaha-usaha memelihara dan meningkatkan rasa kebangsaan Indonesia itu sendiri.

Setuju,

I really agree what u have wrote. we have to educate todays "young indonesia" generation with a nation and character building so whatever they do, they do it for the sake of indonesia and contribute to development or great Indonesia.

Bravo, keep writing!

irazpakatto's picture

thanks

Thanks for the comment Mr. Luthfi..
It seems to me that you agree with my point of "the schools", that I called "global-oriented". I named like that because I think it is one of the effect of globalization in system of education. As I've written, they have good concepts for their students' future personally. They fulfil their students need in skills and science but don't pay many attentions in what we call "nationalism". So, what must we do then?

so, what we must do?

hm, very interesting. its always not easy to grow nationalism to every people, but once again, education having its main role where we can educate nationalism through civic education (PPKn) and Indonesian History Lesson. in addition to that, the government and the authority should fine more creative ways and use various media so that every Indonesian could have their strong nationalism.

i also think it is very important the role of our top leader in this matter. i remember sukarno who always able to boost indonesian nationalism, which i can not fine on our leader after him.

so the first thing is the example action from the president and whole of government. they should have proper nationalism thereby every policies government made would be refer to that.

if during the colonialization our people awoke and had their nationalism because they had one common enemy (the colonialist country), maybe in this era we can attempt to aware them with these enemy :our nation low competitiveness, corruption problem, and poverty. then we tell all the people of Indonesia that we have to FIGHT those together.

what do you think?

PS. plz pardon me of my poor english, and since i've been writing the comment in english, it doesnt mean i dont love bahasa indonesia. it is simply on my effort to practice writing.

irazpakatto's picture

agree

once again, your comment shows that we are in the same side in this point.
i really agree with your suggestion about the role of our government in improving the ways to keep nationalism as important subject in schools, and about the role of our leaders who must give good examples in leading this country by their attitudes ..

about enemy that we are facing today and going to face in the future, that we can call it "threat", our defence white paper, published by defence ministry, divides it into two types: military threat and non-military threat.
for more explanation and more understanding about the threats, i suggest you to read that book..

finally, about english, don't be ashamed.
english is our need in facing the globalisation.
it doesn't mean we don't love bahasa indonesia if we speak and write english fluently.
we are in the same situation.
i just started to improve my english two or three months ago..
so don't be ashamed to use english, you have friend now..

rasa kebangsaan siapa??

jika kita bicara masalah rasa kebangsaan,cinta tanah air,nasionalisme atau apapun namanya,mau tidak mau kita pasti akan menengok ke masa lalu.masa dimana seakan semua rakyat indonesia memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.sedangkan sekarang??
tapi harus dipilah,rakyat mana yang dimaksud...karena menurut saya,kita gak perlu ngajarin tentang isme2 pada rakyat bawah,karena saya sangat yakin,bahwa kalangan bawahlah,bahwa rakyat jelatalah fundamental nasionalisme bangsa Indonesia yang sesungguhnya.
saya malah mempertanyakan mereka yang kini sedang ongkang2 diatas.bukannya saya anti kemapanan,tp fakta membuktikan demikian.
seperti yang bung Hiras katakan,arus globalisasi demikian kencangnya.siapa yang membuka kran-nya di bumi kita ini?dan guru2 pun dengan tanpa filter pengetahuan tentang kebobrokan globalisasi,mengajarkan pada murid2nya apa adanya.juga masih banyak contoh,kebanggaan orang2 berdasi jika ikut arus globalisasi.
mereka yang diatas lah-baik para pejabat,orang kaya,konglomerat,pengusaha dll- yang seharusnya benar2 menjejakkan kakinya di bumi Indonesia ini.jangan cuma mengeruk kekayaan bumi ini saja,tp angan2 mereka di bawa kabur ke langit tinggi.
bangsa ini akan terus merana dan akan hancur dengan sendirinya jika para pejabat atow pemegang kekuasaan adalah mereka yang dengan entengnya menggadaikan harga diri bangsa,trs apa bedanya mereka dengan pengkhianat??
saya melihat dan merasakan sendiri,bahwa generasi muda kita sekarang dalam posisi sangat terancam,terancam oleh siapa??oleh mereka2 yang pny kepentingan akan bangsa indonesia,baik asing ataupun oknum wni yang jadi antek2 asing.lihat saja,bermacam cara dilakukan demi kebobrokan dan pembusukan generasi muda kita.siapa yang salah??apakah kita akan saling lempar kesalahan jika masing2 kita sendiri saling cuek dan seakan saling tak peduli??
kita harus sadari,bahwa kehancuran bangsa yang paling menyakitkan(dan jika dibiarkan,kita pasti mengalaminya) adalah kehancuran sistematis dari dalam negara itu sendiri.apa artinya??dengan kedewasaan berpikir dan mawas diri,kita pasti tahu itu.......
salam dari newbie....

be_yourself