Oleh: Lettu (Art) Oke Kistiyanto
Pengembangan kekuatan yang mungkin saat ini (tiga tahun ke depan) hendaknya lebih difokuskan pada peningkatan deterrence effect kepada negara-negara tetangga. Negara tentunya tidaklah mungkin dapat meningkatkan kekuatan pertahanannya secara instant dan signifikan dalam waktu yang sesingkat ini karena upaya tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bayangkan pembelian satu pesawat tempur atau satu kapal perang yang mutakhir saja memakan biaya yang lumayan besar sehingga minimum essential force bagi AU dan AL akan sulit tercapai dalam tiga tahun ini.
Untuk itu, dalam mengatasi konflik perbatasan yang sedang berkembang akhir-akhir ini, terlepas dari entah itu dimunculkan dengan sengaja oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuan tertentu, ataupun tidak, ancaman dari luar mungkin saja terjadi entah beberapa tahun ke depan. Bangsa kita membutuhkan suatu bentuk konsep pertahanan yang efektif dan efisien serta mempunyai efek getar strategis terhadap negara-negara tetangga pada khususnya maupun dunia pada umumnya sehingga mereka tahu bahwa kita memang bukan bangsa yang dapat diremehkan.
Selama ini doktrin pertahanan kita hanya terfokus pada "sektor pertahanan" dan tidak pernah menyentuh konsep "menyerang adalah pertahanan terbaik". Dapat dilihat dari pembelian alutsista 20 tahun terakhir ini, kalau kita melihat secara umum, kita hanya mempersiapkan bangsa kita untuk bertahan, mempertahankan ibukota Jakarta dan Pulau Jawa dari segala ancaman. Padahal ancaman bisa datang dari pulau mana saja, tidak hanya Pulau Jawa. Kalau saya sebagai negara agresor, saya akan mulai serangan dengan menduduki salah satu pulau yang paling lemah kekuatan bersenjatanya. Bisa pulau Kalimantan, Sulawesi, Irian, Sumatra atau Pulau Flores. Dengan didudukinya pulau-pulau tersebut, maka otomatis pasukan akan bergeser dari Pulau Jawa untuk merebut kembali pulau tersebut sehingga kekuatan pasukan di Pulau Jawa akan berkurang sebagiannya. Setelah itu, sebagai negara agresor, maka saya akan mulai melaksanakan serangan pokok ke Pulau Jawa untuk merebut ibukota dengan kekuatan penuh.
Bayangkan bagaimana jika itu terjadi suatu saat nanti di negara kita? Apakah kekuatan bersenjata kita sudah siap menghadapi hal tersebut? Saran saya, dalam waktu tiga tahun ini kita harus menunjukkan deterrence effect kepada negara-negara tetangga. Yang kita ambil yakni aspek strategisnya bukan aspek taktis maupun pertahanan secara total, yang kalau menurut saya maka yang paling tepat saat ini kita harus mempunyai minimal batalyon rudal jarak menengah (300-500km).
Ada beberapa alasan kenapa saya memilih rudal jarak menengah dibandingkan dengan pembelian pesawat tempur, kapal perang, rudal anti pertahanan udara maupun gelar pasukan di sepanjang perbatasan:
1. Rudal mempunyai efek strategis yang luar biasa (coba lihat Korea Utara yang sangat ditakuti disebabkan oleh rudalnya, atau Rusia yang kebakaran jenggot gara-gara rencana AS yang ingin memasang rudalnya di kawasan Eropa).
2. Sepuluh Batalyon Rudal Jarak Menengah memakan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan pembelian satu skadron pesawat tempur (jenis apa saja), ataupun satu armada kapal perang.
3. Satu Batalyon Rudal Jarak Menengah lebih efektif dibandingkan dengan sepuluh batalyon infanteri yang digelar sepanjang perbatasan Indonesia Malaysia. Ini karena rudal jarak menengah mampu mencakup dan melindungi kawasan yang besar dan luas (seperti halnya garis batas perbatasan kita) dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit (kecil namun efisien dan menggigit).
4. Satuan Rudal dapat memberikan pertahanan yang lebih baik terhadap Indonesia, karena "menyerang adalah pertahanan terbaik". Dengan rudal, kita dapat menyerang balik apabila diserang oleh Australia, Singapura ataupun Malaysia karena prinsip kita bukan lagi "bagaimana mempertahankan Jakarta" namun "bagaimana menekan negara agresor dengan melakukan counter attack terhadap kota-kota besar di negara mereka melalui serangan rudal jarak menengah sehingga memberikan kesempatan bagi para diplomat kita untuk menang di forum diplomasi karena kita punya modal deterrence effect.
Ada beberapa solusi untuk pembelian rudal jarak menengah saat ini, dapat dilakukan dengan legal dan dapat dilakukan secara ilegal. Tentu saja ada baik buruknya . Ini harus dipertimbangkan baik-baik karena taruhannya adalah masa depan bangsa.
Apabila secara ilegal, maka ada 3 negara yang sangat mungkin didekati pada saat ini :
1. Korea Utara. Negara ini butuh uang untuk menghidupi rakyatnya serta untuk persiapan perang dengan Korea Selatan/AS.
2. RRC. Hubungan keturunan Tionghoa di Indonesia sangat baik dengan tanah leluhurnya di RRC sana. Selain itu RRC juga memiliki sentimen ketidaksukaan dengan AS.
3. Iran. Negara ini punya teknologi maju, hubungan dengan Indonesia juga baik karena kesamaan agama.
Tentu saja langkah ini (legal maupun ilegal) tidak mudah dan berdampak pada hubungan Indonesia dengan negara sekitar, baik itu dari segi politik maupun dari segi ekonomi. Mari kita kaji dan pertimbangkan masak-masak.
Menarik juga wacana ini,
Menarik juga wacana ini, ijinkan saya dgn pengetahuan yg terbatas memberi dissenting opinion
1. Rudal yg menimbulkan efek deterrence seperti korea utara atau iran tentunya rudal yg hulu ledaknya bersifat non - konvensional (NBC). Tidak murah juga utk memiliki, mengawaki, dan mempertahankan sistem senjata seperti ini. Belum kalau mempertimbangkan reaksi regional dan internasional, yg bisa jadi akan membuat kita malah dikeroyok massa....
2. Sejauh yg saya tahu belum ada konflik modern yg diselesaikan atau reda semata2 dgn daya deterrence rudal. Mungkin beberapa contoh yg menarik :
- Rudal2 V2 Jerman jaman PD II menimbulkan kegemparan, tapi tidak secara efektif merubah arah peperangan.
- Rudal SCUD Iraq jaman Perang Teluk I, menimbulkan kegemparan sesaat, tapi tidak juga berpengaruh banyak pada hasil akhir.
3. 'Menyerang adalah pertahanan terbaik' adalah kredo militer klasik, tapi mungkin lebih tepat utk wacana taktis. Secara strategis perlu dipikirkan apakah argumen bahwa
"bagaimana menekan negara agresor dengan melakukan counter attack terhadap kota-kota besar di negara mereka melalui serangan rudal jarak menengah"
akan memberikan hasil yg diharapkan.
Ketika Sekutu melakukan Pemboman strategis thd kota2 industri Jerman di akhir PD II, yg terjadi adalah semakin tingginya perlawanan sisa2 kekuatan dan masyarakat.
4. "Dengan rudal, kita dapat menyerang balik apabila diserang oleh Australia, Singapura ataupun Malaysia"
Bila kita mengembangkan sistem rudal menengah tanpa mengembangkan sistem senjata taktis konvensional (pesud fighter, sistem Arhanud) bagaimana kita menghadapi bila serangan pertama adalah terhadap kedudukan satuan2 rudal jarak menengah tsb?
5. Sistem rudal jarak menengah kelihatannya memiliki fleksibilitas terbatas dibandingkan sistem senjata taktis lain. Contohnya bagaimana bila konflik terjadi dalam skala terbatas, sistem rudal jarak menengah kurang bermanfaat apabila dihadapkan pada situasi itu.
Apakah semua konflik harus diangkat ke level "all or nothing"?
Saya masih meyakini bahwa struktur kekuatan konvensional kita harus ditata dan dikembangkan lebih dahulu, memberikan kita 'muscle and flexibility'. Setelah itu mungkin kita bisa berpikir mengembangkan sistem senjata strategis yg lebih luas jangkauannya.
Sekedar pendapat saja, mohon tanggapannya.
hemat saya
Ada 4 (empat) hal penting yang dicatat perlu dikembangkan sebagai pendukung Alutsista di tanah air:
1. Pengembangan system pengintai (surveillance system),
2. Pembuatan perangkat lunak berupa simulator bagi industri pertahanan,
3. Pembuatan bahan peledak (propellant) sebagai isian munisi,
4. Pembuatan rudal berpengendali.
Untuk pengembangan hal di atas, ada beberapa kendala yang patut dicatat:
1. Teknologi untuk pengembangan,
2. Sumber daya manusia,
3. Sumber daya pengembangan (biaya),
4. Situasi politik.
Bagi mengatasi hal di atas, perlu dijajaki beberapa peluang:
1. Kerjasama dengan pihak luar yang telah mencatat keberhasilan dalam mengembangkan alutsista,
2. Kerjasama R&D Dephan dengan Perguruan Tinggi dan Industri terkait melalui suatu forum sarasehan bagi mengembangkan kerjasama penelitian dan pengembangan alutsista,
3. Bersama dengan Perguruan Tinggi menyusun proposal penelitian yang akan diajukan kepada berbagai sumber pendanaan seperti Dikti, KNRT, Dephan, dll.
4. Menyusun suatu cetak biru (road map) pengembangan alutsista dan memperoleh dukungan dari stakeholders dan pengambil keputusan.
Dan sebagai masukan kepada tandef agar bisa menjalin kerja sama dengan salah satu Dekan di Universitas Sumatera Utara (USU) bagian Fabrikasi dan Pemotongan Logam dapat juga digunakan untuk Fabrikasi Alutsista Khususnya untuk Alutsista Arhanud. Kemampuan beliau sudah dapat dibuktikan dengan permintaan dari Negara Perancis untuk merancang dan membuat rudal Perancis yang terbaru dengan kemampuan nuklir. Dan itu sudah dilaksanakan semenjak 2 tahun yang lalu oleh beliau.
Rudal
Eksistensi rudal jarak menengah tidak dapat menegasikan pengendalian laut oleh AL dan pengendalian udara oleh AU. Rudal jarak menengah harus ditempatkan sebagai satu bagian dari sebuah sistem pertahanan. Harap dipahami bahwa pengendalian laut hanya bisa dilaksanakan apabila unsur kapal perang hadir di laut alias naval presence. Kekuatan udara juga seperti itu, mirip-mirip.
Secara pribadi saya tidak setuju dengan komentar seorang pejabat paling tinggi dalam penentuan kebijakan pertahanan negeri ini yang membandingkan harga antara rudal berpangkalan di darat dengan kapal perang dan pesawat udara. Perbandingan itu tidak tepat, sebagai fungsi kapal perang dan pesawat udara tidak dapat digantikan oleh rudal, berapapun jumlahnya. Mohon wacana pengembangan sistem pertahanan dengan rudal ditempatkan dalam sebuah sistem pertahanan integratif, bukan sepotong-potong. Bahwa rudal jarak menengah bagus ditempatkan di choke-points, saya setuju. Tetapi tetap saja dibutuhkan kehadiran kapal perang AL dan pesawat tempur AU.
Terima kasih.
pertahanan terintegrasi
tentang konsep "menyerang adalah pertahanan terbaik" saya pribadi sangat setuju 100 % , karena kedamaian yang tercipta karena adanya faktor penggentar dari angkatan perang kita jauh lebih baik daripada kedamaian yang tercipta karena suatu jaminan dari negara lain, kontrol kedamaian ada di tangan kita.
saya setuju dengan konsep bahwa penggelaran rudal hanud dan rudal permukaan hanyalah sebagian dari konsep pertahanan negara, tetap diperlukan pesawat tempur dan armada kapal perang dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi, bagaimana kita mau menyerang sasaran yang jauh jika tidak ada wahana yang mampu meluncurkan sesuai jarak jangkau rudal ybs, dan bagaimana kita mampu melindungi situs2 rudal kita jika tidak mempunyai pesawat tempur dan armada kapal perang yang cukup.
Untuk angkatan darat, sebagai tambahan unsur pertahanan rudal yang akan dibangun hendaknya juga mempertimbangkan unsur mobilitas penempatan rudal, akan lebih baik apabila rudal dapat diangkut oleh kendaraan tempur sejenis anoa dsb.
Untuk angkatan laut, perbanyak kapal cepat berpeluru kendali, itu sudah mematikan.
Untuk angkatan udara, perbanyak rudal udara ke permukaan dan rudal anti kapal yang mampu ditembakkan dari pesawat tempur kita.
Soal dana, kembali ke komitmen pemerintah, ada banyak alternatif pembiayaan kalau mau
Rudal dibalas Rudal
Apabila Indonesia membangunkan Rudal yang dapat mengancam kestabilan Asia tenggara.. Maka Singapura dan Malaysia serta Filipina juga pasti akan membangunkan Rudal yang sama atau jauh lebih baik lagi.. Lihat kasus pembelian pesawat Sukhoi... apabila satu negara membeli pasti negara lain juga turut membeli..