Analysis

moharifwidarto's picture

Rongrongan Intens Malaysia Atas Wilayah Kedaulatan Indonesia dan Usaha Pencegahannya

Oleh: Moh.Arif Widarto, S.E., Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF

Saya pernah menulis di blog pribadi saya sebuah kiriman berjudul "Strategi Sistematis Malaysia Dalam Merongrong Indonesia". Pada kiriman tersebut saya menyampaikan bahwa Malaysia tidak akan pernah diam dalam usahanya untuk menggerogoti wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Usaha tersebut saya sebut sebagai Strategi Penggerogotan Wilayah.

salim's picture

Makna Kemerdekaan dalam konteks Proklamasi dan konteks Ramadhan


Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Anggota Dewan Penasehat Harian Tandef

Rakyat dimana-mana dibawah kolong langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain, tidak mau di ekploiter oleh golongan apapun, meskipun golongan itu adalah dari bangsanya sendiri. Rakyat dimana-mana dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan dari kemiskinan dan kebebasan dari rasa takut, baik karena ancaman di dalam negeri maupun ancaman dari luar negeri. Rakyat dimana-mana dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan untuk menggerakkan secara konstruktif aktivitas sosialnya, untuk mempertinggi kebahagian individu dan kebahagiaan masyarakat. Rakyat dimana-mana dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat yaitu menuntut hak yang lazimnya dinamakan demokrasi. Itulah sebenarnya tuntutan Rakyat Indonesia.

dedy_brahmana's picture

HARI BHAKTI TNI ANGKATAN UDARA

oleh Kapten Pnb Dedy P. Brahmana, Kasi Binpotdirga Disops Lanud Medan

Salah satu sejarah monumental yang selalu diperingati TNI AU tiap tahun adalah Hari Bhakti TNI AU. Peringatan Hari Bhakti TNI AU dilatarbelakangi oleh dua peristiwa yang terjadi dalam satu hari yaitu pada tanggal 29 Juli 1947. Peristiwa pertama terjadi pada pagi hari, yaitu tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu pesawat Guntei yang take off dari Yogyakarta berhasil melakukan pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota yakni Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

noorpramadi's picture

PERLUKAH NKRI MEMBENTUK SKADRON UAV (UAS) ?

Oleh : Kolonel Lek Noor Pramadi, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

UAV (unmanned aerial vehicle) adalah pesawat udara tanpa awak (juga dikenal sebagai pesawat udara dikendalikan dari jarak jauh atau RPV/ remotely piloted vehicle).   Pengguna terbesar saat ini adalah untuk aplikasi  militer dan sedikit untuk aplikasi sipil. Untuk membedakan UAV dari rudal, sebuah UAV didefinisikan sebagai reusable (dapat digunakan kembali), kendaraan tanpa awak yang dikendalikan, penerbangan berkelanjutan dan didukung oleh mesin jet atau turbo. Oleh karena itu, rudal jelajah tidak dianggap sebagai UAV, karena merupakan senjata yang tidak bisa digunakan kembali setelah dilepas, meskipun rudal juga tidak berawak.

rasyidalhafiz's picture

Climate Change and Its Further Impact on Maritime Security Interests of Asia-Pacific States

Oleh : Kapten Laut (P) Rasyid Al Hafiz, MMP Candidate, ANCORS (Australian National Centre for Ocean Resources and Security), University of Wollongong, Australia

Introduction

The impact of climate change such as more droughts, more floods, more strong storms, and more heat waves1 has been considered by mostly states throughout the world as one of new security concerns. Australia, for example, beside proliferation of weapon mass destruction and international terrorism, its government also considered these impacts in its strategy outlook2. Undoubtedly, climate change causes threats over the supply of energy, food and water3. These impacts, obviously, could be pose further impact such as marine environmental security, unlawful acts at sea and the submerging of coastlines4. It is believed that these further impacts affect the main attributes of the sea, namely the sea as a resource, the sea as a medium of transportation, the sea as an area of dominion, and the sea as an environment5.

rasyidalhafiz's picture

The Extended Continental Shelf: A Comment on the Basis for and Progress in Claims of Australia and Indonesia

By : Kapten Laut (P) Rasyid Al Hafiz, MMP Candidate, ANCORS (Australian National Centre for Ocean Resources and Security), University of Wollongong, Australia

Introduction

“The sea has been a major contribution to human development.....  One-third of the world’s petroleum reserves are at sea.”1 Rights of the coastal State over the continental shelf2 are very tempting. These rights obviously make a huge contribution to the economies of the coastal States because these rights related to the extensive oil and gas reserves3.  This is one of the major reasons why the coastal States interest in extending their continental shelf beyond 200 nautical miles beside the intention to comply with Law of the Sea Convention (LOSC) and maritime security interest.

rudhi39's picture

Pengusiran Kapal Lusitania Expresso Tanggal 11 Maret 1992

Oleh: Letkol Laut (P) Rudhi Aviantara, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF



1. Latar Belakang

Peristiwa 12 November 1991 di Dilli Timor Timur (Timtim) atau peristiwa Santa Cruz adalah kerusuhan yang terjadi antara kelompok anti integrasi dengan aparat keamanan di tempat pemakaman Santa Cruz Dilli Timtim. Kelompok anti integrasi selesai melaksanakan misa di gereja Motael Dilli dilanjutkan demonstrasi yang anarkhis menuntut referendum. Dalam kerusuhan tersebut tidak hanya mengakibatkan korban pihak sipil tetapi juga dari personel TNI.

imamedy's picture

Indonesia’s Civil-Military Relationship in the Post Suharto Era

Oleh: Kolonel Inf Imam Edy Mulyono, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Introduction

The Indonesian Armed Forces unique establishment was part of the root problems of current frictions of the civil-military relations. Lots of civil-military expert had written in this subject. The feeling of militaries as guardian of the nation, not merely as a government soldier still intact in most of the officer’s mind. The National Reform in 1998 with the Suharto’s resign, clearly affected the whole system of the nation, including the role of the military in democratic society. The military political influence to the nation also decline sharply. The politicians used this situation to assert their control to the military to pursue their own policy. Will the new democratic era solve the long strife in the civil-military relationship in Indonesia?

indraputra's picture

Awal Kehancuran Alutsista Karena tidak ada Standardisasi Peralatan TNI?

Mayor Laut (E) Andi Indra Putra, Perwira Mabes TNI AL

Pembangunan Alutsista TNI merupakan hal yang tidak bias ditawar-tawar lagi selain untuk menunjang keberhasilan operasi dan latihan TNI hal ini guna menunjang efek deterrent dan mendukung kebijakan pembangunan strategy pertahanan negara.

Konsep strategi pengerahan kekuatan Alutsista wajib dipandang dari sudut pandang yang komprehensif, integral dan holistik dan bukan hanya sekedar konsep sektoral yang terfokus ke tiap-tiap matra, melainkan harus dapat mendukung suatu konsep operasi gabungan (joint force operation) dimana tiap sektor harus mampu mengefektifkan menunjang satu sama lain hingga seluruh sumber daya (resource) yang dimiliki dapat digunakan dengan efektif, efisien dan tepat sasaran. Bahkan apabila diperlukan TNI juga harus bisa melaksanakan operasi yang menuntut sinergi dengan lembaga dan kementrian terkait.

jputranto's picture

Satuan Gultor TNI VS Polri

Oleh: Letkol Inf Joko Putranto,
Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Pendahuluan

Banyak di antara kita yang emosi mengomentari pernyataan dari Neta S. Pane (Indonesia Police Watch-IPW) seperti yang dimuat di www.news.okezone.com, 14 Maret 2010. Pane menyatakan bahwa latihan gabungan anti teror antara TNI dan Polri adalah sia-sia karena tidak berdasarkan fakta dan trend ancaman terorisme saat ini. Pane mengatakan latihan gabungan kali ini tidak relevan dengan trend ancaman terrorisme yang cenderung bergaya pemboman, khususnya bom bunuh diri.

Syndicate content