Analysis

nurkholisoh's picture

Ada Apa di Eropa?

Oleh: Nurkholisoh Ibnu Aman, ST., MSc., Peneliti Ekonomi di Bank Indonesia, Kepala Departemen Litbang TANDEF, sedang menempuh program M.B.A. di University of Chicago, Amerika Serikat

Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah “krisis Eropa”. Banyak pula analisis maupun prediksi yang telah dibuat. Ada pihak yang optimis, namun tak kurang juga yang pesimis.

Tapi apa sebenarnya yang terjadi di sana? Mengapa bisa sampai terjadi krisis?

Tulisan ini mencoba memberi jawaban ringkas atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk memudahkan pembaca memahami, tulisan ini diperkaya dengan grafis yang menarik.

kazmi's picture

Bagaimana Mengoptimalisasikan Pelibatan Komponen Swasta dalam Strategi Makro Pertahanan Negara Maritim?

Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF

  1. Pendahuluan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus 2010, jumlah penduduk yang dikategorikan sebagai buruh/karyawan/pegawai mencapai 32.521.517 jiwa [1] . Bila dikurangi jumlah Pegawai Negeri Sipil yang menurut data Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebanyak 4.598.100 jiwa [2] , lalu dikurangi lagi jumlah anggota TNI sebesar 466.773 jiwa dan POLRI sebesar 415.557 orang [3] , maka jumlah komponen buruh/karyawan swasta adalah sebanyak 27.041.087 jiwa. Ini merupakan komponen terbesar dalam 7 kategori pekerjaan utama pada statistik BPS/SAKERNAS ini (Tabel 1).

dewiaryani's picture

Sustainable Energy Management: From Words to Action

Oleh: Dewi Aryani, Member of Indonesia Parliament (Commission VII) , PhD Candidate, University of Indonesia

Abstract

This short paper will focus its discussion on how important the role of scenario planning in achieving sustainable energy management in Indonesia as well as how to ensure that scenario planning is implemented and not just words.

Keywords: sustainable energy management, scenario planning, energy policy

1. Introduction

Energy is a vital daily resource and one for which demand is growing rapidly as well as the single most important commodity for our survival and continuation of our society. Energy is also at the heart of most critical economic, environmental and developmental issues facing the world today. Since the dawn of history, we have generated the energy we need by burning hydrocarbons. Today, over 80% of all the energy that we consume still comes from the burning of hydrocarbons.

ageng's picture

Operasi Pemelihara Perdamaian PBB Sebagai Bentuk “Tepa Selira” Antar Bangsa di Dunia

Oleh: Lettu Pnb Ageng Wahyudi, Pasiop Yonmek Garuda 23E Lebanon

1. PENDAHULUAN

Konflik berkepanjangan dan kerugian yang berkepanjangan akibat Perang Dunia II , telah membangkitkan semangat sebagian pemimpin dunia untuk membidani lahirnya suatu organisasi yang menghimpun bangsa bangsa di dunia. Bermula dari Konferensi Dumbarton Oaks di Washington, DC dan secara maraton dilanjutkan dengan penandatanganan United Nations Charter pada tanggal 26 Juni 1945 di San Francisco, lahirlah secara resmi Perserikatan Bangsa Bangsa pada tanggal 24 oktober 1945 dengan 50 negara sebagai anggota pertama. Badan inilah yang diharapkan menjadi wadah penampung seluruh kepentingan negara di muka bumi.

Oke's picture

Konsep Pengembangan Doktrin Teritorial Dalam Rangka Menghadapi Insurjensi dan Terorisme di Indonesia (3)

Oleh: Kapten Arm Oke Kistiyanto, S.AP, Pasiops Kodim 0502/Jakarta Utara Kodam Jaya

1. Desain Operasi Teritorial Tingkat I : Masa pra-Insurjensi.

a. Sasaran :
Menciptakan “jembatan” antara kepentingan pemerintah dan kepentingan masyarakat melalui menguasaan informasi dan opini serta merupakan persiapan pelaksanaan Operasi Lawan Insurjensi.

b. Metoda : Diagnosis dan Preventif.

c. Tahapan (Eskalasi Bahaya) :

1) Potensi Gangguan.

a) Ketidakpuasan Publik.

b) Opini Publik.

2) Ambang Gangguan.

a) Unjuk Rasa.

Oke's picture

Aplikasi Penerapan Metoda Binter dalam Rangka Penanggulangan Bencana Alam di Daerah

Oleh: Kapten Arm Oke Kistiyanto, Danrai A Yonarmed-7 /105 GS Kodam Jaya

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang memiliki jumlah kepulauan terbesar, terbentang luas dari Sabang hingga ke Merauke. Namun sangat disayangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kepulauan yang memiliki keanekaragaman bencana dengan stratifikasi dari yang paling ringan (rawan) hingga paling berat (catastrophyc). Keanekaragaman bencana ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Oleh sebab itu, wajar jika secara historiografis Indonesia merupakan wilayah langganan bencana gempa tektonik dan tsunami. Di samping itu, sebagai daerah tropis dan memiliki musim hujan dan musim kemarau, amat beresiko mengakibatkan terjadinya bencana banjir, tanah longsor dan angin topan serta bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Maraknya bencana tidak hanya menimbulkan kerugian, baik berupa korban jiwa dan kerugian harta benda tetapi juga menimbulkan penderitaan yang cukup berat bagi masyarakat yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan serta musnahnya hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai sehingga untuk mengurangi dampak dari bencana alam tersebut memerlukan penanganan yang sistematis, terpadu, dan terkoordinasi.

Deidy Aprias Sahri's picture

Agresivitas Masyarakat dan Upaya Aparat Teritorial dalam Menciptakan Kondisi Wilayah yang Kondusif Guna Memperkokoh Kedaulatan

Oleh : Letkol Inf Deidy Aprias Sahri.SH, Waasops Kasdam Jaya

Selama tiga tahun terakhir negara Indonesia seolah terasa aman dari ancaman terorisme. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Pernyataan-pernyataan itu seolah termentahkan jika melihat daftar panjang teror yang menghantui warga di banyak daerah selama ini.

Sistem keamanan yang lemah sangat menguntungkan bagi kelompok teroris. Indikasi keamanan yang lemah di antaranya adalah berlangsungnya bentrokan antara teroris dan aparat keamanan secara periodik. Salah satu sasaran kelompok teroris ini adalah gangguan dalam sistem ketertiban dalam masyarakat.

azharisn's picture

Sekilas Contoh Penerapan Teknologi Simulasi di Dunia Militer

Oleh: Azhari Sastranegara, Dr.Eng.*

1. Pendahuluan

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pihak militer adalah salah satu pengguna teknologi paling canggih di dunia. Banyak terobosan revolusioner yang diawali dari penelitian untuk keperluan dunia militer, sebutlah misalnya teknologi nuklir dan internet. Kedua teknologi ini pada awalnya dikembangkan secara terstruktur dan massif untuk memenuhi kebutuhan militer, namun seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya lebih banyak digunakan untuk keperluan masyarakat umum.

Teknologi nuklir dalam bentuknya yang sekarang, secara sistematis pertamakali dikembangkan oleh pihak Amerika dengan program nasional yang secara populer dikenal sebagai Manhattan Project. Berlangsung selama tahun 1942-1946, proyek ini sukses mewujudkan senjata pemusnah massal paling mengerikan dalam sejarah manusia yang dicobakan di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir PD II.

kazmi's picture

Angkatan Darat Negara Kepulauan: Bagaimanakah Postur Idealnya?

Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF

Ditakdirkan sebagai sang empunya negara kepulauan terbesar di dunia, bangsa Indonesia dihadapkan kepada beragam tantangan yang tidak dihadapi oleh penghuni negara kontinen. Dalam konteks negara kepulauan, daratan sebagai area pokok yang dihuni penduduk adalah berupa pulau-pulau yang secara geografis dihubungkan sekaligus dipisahkan oleh laut. Dalam konteks pertempuran darat, bila sebuah sungai saja bisa menjadi perintang alam ( natural obstacle) yang signifikan dalam pertempuran, maka apalah lagi laut.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia. Keberadaan garis pantai yang panjang ini secara militer jelas merupakan risk, karena musuh dapat melakukan proyeksi kekuatannya ke daratan kita secara relatif lebih mudah dibanding negara kontinen, dengan opsi titik pendaratan yang begitu luas.

andywanadi's picture

Dampak Globalisasi terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Oleh : Mayor Inf Andy Irawan Ch, S.Sos, Kasidokin Ditjakstra Strahan Kemhan RI

Berlakunya CAFTA (China-ASEAN Free Trade Area) benar-benar merubah orientasi pasar di negara kita. Bagaimana tidak, belum separuh kita bekerja memperbaiki kondisi perekonomian bangsa ini sudah diterjang oleh pasar bebas yang mengakibatkan pasar industri kita jatuh bangun. Pemberlakuan perdagangan bebas seiring dengan globalisasi sebenarnya sudah lama diprediksi. Di era Presiden Suharto, jajaran kabinetnya sudah mendengungkan soal globalisasi perdagangan yang akan diikuti oleh terbentuknya pasar bebas khususnya dengan RRC. Oleh sebab itu Pak Harto buru-buru menegaskan upaya peningkatan kualitas industri kecil dan menengah dengan orientasi meningkatkan daya saing. Ini tertulis di dalam buku Manajemen Presiden Suharto (Penuturan 17 Menteri). Selain itu pembatasan berpolitik bagi warga negara dengan maksud penguatan ekonomi harus didahulukan, setelah itu baru berpolitik. Namun sayang segalanya tak terealisasi seiring jatuhnya Pemerintahan Suharto.

Syndicate content