Analysis
Submitted by n_tumpal on Thu, 12/11/2008 - 08:00.
Oleh: Kapten (Cpl) Tumpal R. Napitupulu, Kagud Alpal Pal Kopassus, Kadiv Hubungan Pemerintah TANDEF
INTRODUCTION
1. Indonesia is a vast archipelagic country. It has 17,504 islands with more than 8,000 kilometre square territory.1 Therefore, Indonesia offers great challenges to army logisticians to conduct logistics support. In addition, there are also challenges from Indonesia’s geographical characteristics which require special planning and resources in delivering logistics supply. Mountainous area, wide and deep rivers, beaches, and valleys are some of the examples Indonesia natural challenges.
Submitted by sundoro_agung on Fri, 12/05/2008 - 04:34.
Oleh: Kapten (Cpn) Sundoro Agung Nugroho, Perwira PENERBAD, Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF
Sebuah Negara akan menjadi lebih berwibawa apabila mempunyai kekuatan militer yang kuat dengan perlengkapan alutsista yang modern. Demikian juga dengan Negara kita Indonesia. Saat ini sudah mulai mengembangkan kekuatan militer maupun alat utama sistem senjata guna mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengadaan alutsista dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan renbangkuat TNI.
Submitted by jkginting on Thu, 12/04/2008 - 08:43.
Mayor (Tek) Jon K.Ginting, Perwira TNI AU sedang tugas belajar di University of New South Wales at the Australian Defence Force Academy, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Abstract
The geographical constellation of Australia gives a good value that there is no land boundary to concern. However, there are risks in having a long coastline and maritime zones. Therefore, maritime security aspect has paid an attention from the Government for years. The most concerns are directed to Australian northern approaches, as the biggest possibility of adversary will come from that particular area. This is the primary reason driving Australia to maintain a wide scope of elements within maritime surveillance system. Amongst some assets of Australian maritime surveillance system, Spaceborne Synthetic Aperture Radar (SAR) has been used for around 17 years.
Submitted by nurkholisoh on Fri, 11/28/2008 - 08:43.
Oleh: Nurkholisoh Ibnu Aman, ST., MSc., Peneliti Ekonomi di Bank Indonesia, Kepala Divisi Litbang Ketahanan Ekonomi TANDEF
Di awal tahun 2008, kita dikejutkan oleh harga tempe yang melambung tinggi. Seiring dengan meningkatnya harga kedelai (soybean) di pasar dunia, harga jual tempe pun meningkat tajam karena ternyata tempe Indonesia diproduksi dengan bahan baku kedelai impor. Tempe pun kemudian menjadi barang mewah.
Kenyataan ini sulit diterima oleh logika umum sebagian besar masyarakat Indonesia. Tempe yang dianggap sebagai produk asli Indonesia, simbol makanan rakyat yang sederhana dan terjangkau oleh siapa pun, ternyata tak lepas dari jeratan impor. Masyarakat tentu tak mudah memahami hubungan antara krisis finansial di Amerika dengan mahalnya harga tempe favorit mereka.
Submitted by jkginting on Fri, 11/28/2008 - 01:43.
Mayor (Tek) Jon K. Ginting, Perwira TNI AU, sedang tugas belajar di University of New South Wales at the Australian Defence Force Academy, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Abstract
The Jindalee Operational Radar Network (JORN) is aimed to enhance the Australian Defence Force (ADF)’s capability of the northern sea and air approaches to Australia. It is basically an expansion of the previously existing Jindalee Radar Facility Alice Springs (JFAS) which uses over-the-horizon-radar (OTHR). The existence and operation of JFAS appeared to contribute Defence’s confidence to apply similar operational concept in a larger scale. For this need, Defence appointed Telstra Corporation Ltd (Telstra) as the prime contractor, responsible for providing two sky-wave OTHRs.
Submitted by ptriwidodo on Wed, 11/26/2008 - 07:50.
Oleh: Puji Triwidodo, ST., Akademisi & Praktisi Pendidikan, Kontributor TANDEF
Working Together For Freedom
East Timor takes up half of a small island several hundred miles from the capital of Indonesia, Jakarta. A former Portuguese colony, East Timor was invaded by Indonesia in 1975 and ruled harshly. Some people, however, fought back. Carlos Filipe Ximenes Belo, a Roman Catholic bishop, and Jose Ramos Horta, a politician, worked peacefully on behalf of the Timorese people. They were awarded the 1996 Nobel Peace Prize for their efforts. In 1999, East Timor voted to become an independent nation, and in 2002 it was internationally recognized as the world’s newest independent democracy.
Submitted by nurkholisoh on Fri, 11/14/2008 - 07:44.
Oleh: Nurkholisoh Ibnu Aman, ST., MSc., Peneliti Ekonomi di Bank Indonesia, Kepala Divisi Litbang Ketahanan Ekonomi TANDEF
Krisis subprime mortgage yang berawal dari Amerika Serikat telah menjadi mimpi buruk masyarakat dunia di tahun 2008 ini. Satu per satu korporasi besar mengumumkan kerugiannya atau bahkan kebangkrutannya. Daftar kerugian ini masih akan terus bertambah karena tidak ada yang tahu pasti nilai produk derivatif subprime mortgage yang telah diciptakan dan diperdagangkan. Perekonomian dunia yang makin terintegrasi membuat dampak krisis kemudian melebar kemana-mana.
Submitted by sam_kowaas on Thu, 11/13/2008 - 04:37.
Oleh: Letkol Laut (E) Samuel Kowaas, MSc., Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Pendahuluan
Supremasi sipil adalah salah satu agenda yang selalu turut dibicarakan dalam diskusi sipil versus militer. Sebuah persaingan status yang tidak diingini oleh sebagian kalangan tetapi tetap sering menjadi komoditas politik. Jangankan di negeri ini. Bila menilik ke belakang, isu militer dan patriotisme juga menjadi materi kampanye Pemilu di negara sebesar dan setua Amerika Serikat sekalipun.
Submitted by zatria on Tue, 11/11/2008 - 08:14.
Oleh: Imam Riyanto, Praktisi IT, Kepala Divisi Litbang Kemandirian Teknologi TANDEF
Menyambut Hari Pahlawan 10 November, perkenankan saya membuat satu tulisan sederhana yang sebenarnya merupakan kesimpulan dari Acara Diskusi Ilmiah TN4 (alumni SMA Taruna Nusantara Angkatan IV) yang diadakan secara sederhana pada tanggal 10 November 2008 di Jakarta, dengan mendaulat Bang Letkol Laut (E) Samuel Kowaas sebagai salah satu pembicara.
Submitted by r-sa on Mon, 11/03/2008 - 01:51.
Oleh: Letkol (P) Erwin S. Aldedharma, Komandan KRI Nala, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Kebijakan politik, hubungan luar negeri, ekonomi dan militer sebagai bagian dari instrumen kekuatan nasional suatu negara sudah sepantasnya terpadu dan selaras sesuai dengan strategi besar (grand strategy) yang telah ditetapkan. Strategi suatu negara secara logis disusun untuk menjawab kepentingan nasional negara tersebut, dengan demikian tiap negara jelas akan memiliki strategi yang berbeda satu dengan yang lainnya.
|
Recent comments
44 min 11 sec ago
50 min 3 sec ago
1 day 17 hours ago
2 days 7 hours ago
5 days 5 hours ago
5 days 8 hours ago
6 days 20 hours ago
1 week 5 hours ago
1 week 6 hours ago
1 week 7 hours ago