Strategy
Submitted by noorpramadi on Mon, 02/08/2010 - 12:08.
Oleh: Kol Lek Noor Pramadi, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Jaringan Internet adalah jalinan/rangkaian berjuta-juta komputer yang terhubung dalam satu sistem komunikasi, dengan demikian sistem internet ini adalah sistem yang bersifat global/mendunia dan tidak mengenal batas wilayah dan Negara. Suatu saat yang tidak terlalu lama lagi kebutuhan masyarakat terhadap internet sebagaimana kebutuhan masyarakat terhadap BBM, listrik, angkutan, dan sembako serta kebutuhan pokok masyarakat lainnya. Dengan demikian kebutuhan terhadap layanan internet akan menjadi suatu kebutuhan pokok sehari-hari dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, oleh karena itu pemerintah seharusnya berkepentingan dan perlu melindunginya.
Submitted by noorpramadi on Mon, 11/23/2009 - 09:12.
Oleh: Kolonel Lek. Noor Pramadi
USA sebagai negara maju yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan teknologi di bidang pertahanan khususnya alat utama sistem senjata (Alutsista), telah membangun sistem pertahanan udara berlapis dengan memanfaatkan berbagai tipe sensor. Pada kesempatan ini penulis ingin menganalisis gelar sistem deteksi pertahanan udara USA. Analisis ini berdasarkan dari sumber-sumber literature yang tersedia, sudah barang tentu terdapat hal-hal khusus yang tidak dapat diungkap oleh penulis karena kurangnya data dan pada tahun 2009 ini sudah barang tentu telah berubah sesuai perkembangan teknologi dan lingkungan strategis. Pemerintah USA memiliki konsep pembangunan jangka panjang (25 tahun) pembangunan sistem pertahanan udaranya untuk tahun 1996-2020 (Strategic Air Defense Mission Area Plan FY1996).
Submitted by noorpramadi on Wed, 10/28/2009 - 08:05.
Oleh : Kolonel Lek Noor Pramadi, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Prajurit yang cukup lama berkecimpung dalam pengoperasian dan perawatan sistem deteksi (Radar) dalam Pertahanan Udara Nasional, sudah sewajarnya jika berangan-angan NKRI memiliki sistem deteksi multi sensor yang handal dan mampu memonitor semua pergerakan pesawat/kapal yang akan melintas atau akan masuk di wilayah NKRI dengan kualitas membanggakan. Semua warga negara dan terutama para elit sangat sadar bahwa posisi NKRI terdapat pada posisi silang dunia, yang memiliki arti bahwa posisi NKRI ibarat berada disebuah perempatan/persimpangan jalan, setiap pengguna jalan yang berlalulalang pasti melewati perempatan/persimpangan jalan tersebut.
Submitted by wicaksono on Thu, 09/24/2009 - 10:10.
Oleh: Wicaksono Aji, ST., Direktur TANDEF
Pada tanggal 31 Agustus 2009 lalu saya dan beberapa orang rekan menghadiri undangan Modernisator (www.modernisator.org) untuk datang dalam acara ”Modernisator Speakers Forum” (MSF). Acara MSF ini merupakan acara yang digelar rutin oleh Modernisator, dan pada MSF ke-8 kali ini tema yang diambil adalah ”Asia in the 21st Century: Trends, Challenges, and Opportunities Post-Global Economic Crisis”.
Submitted by harry haryadi on Fri, 08/28/2009 - 08:16.
Oleh: Kompol Harry Haryadi SIk, M.Hum, Wakapolresta Binjai, Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF
Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan dampak yang sangat positif bagi peradaban umat manusia. Salah satu fenomena abad modern yang sampai saat ini masih terus berkembang dengan pesat adalah internet yang kemudian sangat mengubah cara manusia dalam berkomunikasi dan bersosialisasi baik lewat email maupun jejaring sosial seperti Facebook yang saat ini tengah booming. Bahkan aktifitas ekonomi seperti beriklan dan menjual produk lewat internet terbukti sangatlah efektif dan ekonomis karena vendor atau penjual tidak perlu menghabiskan uang sampai jutaan atau milyaran rupiah untuk membuka toko, menyediakan peralatan kantor atau menyewa para pekerja dalam menjual produknya, tapi cukup dengan membuka situs yang diawaki oleh seorang operator. Bayangkan pengiritan yang bisa dilakukan oleh para pelaku bisnis dengan melakukan cara ini.
Submitted by gs_bhakti on Wed, 07/29/2009 - 01:45.
Oleh: Mayor (Inf) Agus Bhakti, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Beberapa waktu lalu kita begitu dikejutkan dengan terjadinya kembali ledakan bom pada tanggal 17 Juli 2009 secara hampir bersamaan di Hotel Marriott dan Ritz Carlton. Kejadian ini begitu mengejutkan karena selain telah menewaskan 9 orang dan melukai 52 orang lainnya, tercatat bahwa terjadinya teror bom terakhir adalah + 4 tahun yang lalu pada tanggal 31 Desember 2005 di Palu yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang. Kurun waktu yang cukup lama mengingat 4 tahun dalam kondisi yang relatif aman dibandingkan kurun waktu tahun 2000 s/d 2005 yang marak dengan teror bom. Reaksipun bermunculan, dari mulai yang bersimpati kepada korban, kebencian yang mendalam terhadap teroris, solidaritas nasional untuk memerangi terorisme sampai dengan "pengkambinghitaman" individu maupun institusi.
Submitted by krisna on Tue, 07/14/2009 - 03:54.
Oleh: Letkol Laut (K) dr.Wiweka, Kadiskes Lantamal XI - Merauke, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Saya tertarik untuk mengulas sedikit tentang scenario planning, karena dengan memahami dan membuat suatu skenario, kita dapat dengan mudah untuk membuat suatu strategi yang jitu. Awalnya, scenario planning memang digunakan oleh militer, akan tetapi di dalam perkembangannya, ilmu ini dipakai dalam segala bidang. Seandainya ilmu ini betul-betul diterapkan di Indonesia, saya berkeyakinan bahwa kita akan menjadi negara yang kuat, karena kita dapat mencegah terjadinya skenario buruk dengan strategi-strategi yang jitu.
Submitted by salim on Fri, 07/03/2009 - 03:49.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
“Dari Sabang sampai Merauke, empat perkataan ini bukanlah sekadar satu rangkaian kata ilmu bumi. Dari Sabang sampai Merauke bukanlah sekadar menggambarkan satu geografische begrip. Dari Sabang sampai Merauke bukanlah sekadar satu geographical entity. Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu national entity. Ia adalah satu kesatuan kenegaraan, satu entity yang bulat kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologi, satu ideological entity yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, satu entity of social consciousness like a burning fire. Oleh karena itu, tugas menegakkan kedaulatan bangsa adalah peran dari seluruh komponen bangsa.” (Pidato Presiden Soekarno HUT RI tahun 1963)
Pertanyaan yang timbul dari alinea di atas adalah apakah negara kita mempunyai visi yang tepat dan efektif saat ini dan di masa yang akan datang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita? Pertanyaan ini menstimulir kita untuk mampu menggali dan memahami kekuatan nasional. Konflik perbatasan telah menjadi isu nasional, yang kini menjadi bahan pembicaraan tukang becak sampai penguasa istana. Semuanya turut berkomentar, namun apakah hasilnya?
Submitted by Oke on Mon, 06/29/2009 - 15:32.
Oleh: Lettu (Art) Oke Kistiyanto
Pengembangan kekuatan yang mungkin saat ini (tiga tahun ke depan) hendaknya lebih difokuskan pada peningkatan deterrence effect kepada negara-negara tetangga. Negara tentunya tidaklah mungkin dapat meningkatkan kekuatan pertahanannya secara instant dan signifikan dalam waktu yang sesingkat ini karena upaya tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bayangkan pembelian satu pesawat tempur atau satu kapal perang yang mutakhir saja memakan biaya yang lumayan besar sehingga minimum essential force bagi AU dan AL akan sulit tercapai dalam tiga tahun ini.
Submitted by kazmi on Thu, 06/18/2009 - 01:46.
Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF
Beberapa pekan terakhir setelah pupus dari pemberitaan sejak 2005, Ambalat kembali hadir di layar-layar televisi, di halaman-halaman koran, dalam obrolan di warung-warung kopi, di kantor-kantor, di desa dan kota di seluruh penjuru tanah air. Perhatian publik kembali tertuju ke Ambalat, sebuah wilayah laut yang tak jauh dari Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Rasa kebangsaan kita bangkit setelah melihat bagaimana kedaulatan kita di sana dilecehkan oleh tentara negara sebelah. Dalam pekan lalu saja, tercatat terjadi beberapa kali pelanggaran. KD Baung milik Tentera Laut Diraja Malaysia terpaksa harus diusir KRI Hasanuddin pada tanggal 24 Mei, KD Yu dihalau KRI Untung Suropati pada tanggal 25 Mei, KD Baung memprovokasi KRI Untung Suropati dengan manuver zigzag kecepatan tinggi pada tanggal 30 Mei. Belum lagi, pelanggaran wilayah udara oleh pesawat-pesawat militer & polisi Malaysia.
|
Recent comments
4 days 20 hours ago
1 week 3 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 5 days ago
3 weeks 1 day ago
3 weeks 5 days ago
4 weeks 2 days ago
5 weeks 1 day ago
5 weeks 3 days ago