Strategy
Submitted by jputranto on Mon, 05/25/2009 - 03:24.
Oleh: Letkol (Inf) Joko Putranto; Pamen Kodam I/Bukit Barisan, sedang tugas belajar di Naval Postgraduate School (NPS), Monterey, AS, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Baru-baru ini pemerintah Sri Lanka mengumumkan keberhasilannya dalam menumpas pemberontak separatis Macan Tamil (LTTE). Mengapa Macan Tamil (LTTE) akhirnya bisa ditekuk oleh pemerintah Sri Lanka secara militer, dan mengapa GAM tidak bisa ditekuk secara militer oleh pemerintah kita?
Kita akan analisa situasi ini dengan menggunakan teori direct dan indirect, serta mengaplikasikan teori Ivan Arrequin-Toft's Asymmetric Warfare (see: Weinberg and Eubank, Twenty-First Century Insurgency: Understanding the Use of Terrorism as a Strategy; In Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century, ed by James JF. Forest, p.86). Dalam konflik semacam ini baik GAM maupun LTTE sama-sama mempunyai posisi inferior dalam hal senjata, personel, finansial, tingkat latihan dan sebangsanya. Artinya, speknya relatif lebih rendah daripada militer milik pemerintah. Oleh karenanya, konflik seperti ini dikatakan sebagai asimetrik. Dalam konflik asimetrik semacam ini selalu ada peluang bagi yang lemah untuk menang dengan penggunaan asymmetric warfare, namun dalam hal ini pemerintah Sri Lanka bisa mengalahkan secara militer pemberontak LTTE. Tentunya harus ada penjelasan yang memadai untuk kasus ini.
Submitted by salim on Wed, 05/06/2009 - 05:46.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
"The Floating Republic" di Spithead dan Nore pada tahun 1797 dalam masa Perang Inggris-Perancis yang merupakan salah satu titik tonggak perjalanan sejarah Royal Navy (Angkatan Laut Inggris) kemudiannya sangat mempengaruhi National Security Strategy yang masuk dalam ranah kebijakan politik pemerintah. Hal tersebut tidak hanya bagian domain militer semata namun juga mencakup seluruh instrumen nasional yang bertujuan untuk mengamankan kepentingan nasional negara secara keseluruhan. Dari keseluruhan instrumen tersebut, ada tiga pilar yang selalu diperhitungkan yaitu: Politik / Diplomasi, Ekonomi dan Militer, di mana ketiganya ini masuk dalam tataran Grand Strategy satu negara dan merupakan level tertinggi dalam memadukan instrumen kekuatan non militer dan militer.
Submitted by jputranto on Wed, 04/29/2009 - 09:02.
Oleh: Letkol (Inf) Joko Putranto; Pamen Kodam I/Bukit Barisan, sedang tugas belajar di Naval Postgraduate School (NPS), Monterey, AS, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Meski saat ini TNI sudah melakukan reformasi internal secara bertahap, namun beberapa kalangan masih menganggap ada yang kurang, terutama bila ditinjau dengan cara berpikir Barat yang cenderung Huntingtonian. Tulisan ini hanya sebagai pengantar bagi rekan pembaca sekalian untuk kiranya dapat memberi masukan yang pas tentang bagaimana seharusnya hubungan sipil-militer Indonesia di masa kini dan mendatang, di mana TNI sendiri ditantang untuk lebih profesional, namun pada saat yang sama, seringkali ditarik-tarik untuk memasuki ranah politik dan sosial lagi. Di masa lalu, dualisme ini dianggap telah membuat TNI -arguably- tidak profesional. Jangan lupa baca tulisan ini sambil rileks saja dan tidak perlu sampai mengerutkan dahi, karena tulisan ini dimaksudkan sebagai trigger saja. Di bagian akhir nanti, pembaca sekalian akan diminta memilih format yang tepat untuk hubungan sipil-militer kita dalam era yang kian demokratis ini, dan tentu tanpa mengorbankan profesionalisme militer itu sendiri.
Submitted by salim on Fri, 04/24/2009 - 02:15.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa....."
(Sumpah Palapa oleh Maha Patih Gajah Mada pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit abat ke–13)
Mau tidak mau, suka tidak suka kita akui bersama bahwa kebesaran sebagai bangsa bahari pernah kita alami pada era Kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Majapahit, dua kerajaan tersebut berbasis pada kekuatan maritim yang tangguh. Sumpah Palapa tersebut oleh Gajah Mada diimplementasikan dengan memperkuat armada lautnya guna memperluas wilayah Kerajaan Majapahit hingga sejarah kemudian memperlihatkan betapa libensraum bangsa Indonesia yang jangkauannya sangat luas. Goresan tinta sejarah tersebut tercatat di Afrika selatan, Madagaskar, India, sampai ke China, Palau, pulau–pulau di Pasifik Selatan dan Australia Utara. Era kolonial menyebabkan missing link yang menyebabkan budaya tersebut dikikis secara halus dan sistematik.
Submitted by salim on Mon, 03/16/2009 - 02:03.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
"Bahwa kita harus dapat menguasai lautan kita, kalau kita hendak mendjamin keamanan negara kita seluruhnja. Selama keadaan ini belum tertjapai, maka keselamatan negara kita selalu dapat terantjam, karena dengan demikian maka djustru lawanlah jang akan mempergunakan kemanfaatan2 keadaan fisik daripada Nusantara kita."
(Pidato Letnan Jenderal Abdul Haris Nasution di depan Sidang Pleno Dewan Perancang Nasional (sekarang Bappenas), di Bandung, 13 Januari 1960 tentang Pembangunan Angkatan Perang)
Untaian Zamrud Katulistiwa yang terdiri atas belasan ribu pulau ini dicerai-beraikan oleh perairan yang amat luas, seluas 5,8 juta km2. Luas lautnya 3 kali luas daratannya. Membentang di utara dan selatan garis lintang 0 derajat, Indonesia dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia. Namun demikian sebutan "Negara Maritim" tersebut tidak tercermin dari aktivitas penduduknya, yang amat sedikit berorientasi ke laut.
Submitted by salim on Tue, 02/10/2009 - 02:43.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
"Pembangunan harus dilaksanakan secara komprehensif dan bersifat strategis, termasuk dengan mengikutkan di dalamnya pengembangan strategi pertahanan negara yang tangguh, demi suatu bangsa yang bermartabat,"
Pertahanan suatu negara merupakan faktor utama dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Suatu negara tidak akan bisa menjaga eksistensinya dari ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri apabila belum mampu untuk mempertahankan diri dari ancaman tersebut. Oleh karena eratnya kaitan pertahanan negara dengan harkat dan martabat suatu bangsa, maka dengan adanya pertahanan negara yang memadai (Postur Pertahanan yang Kuat) akan membuat bangsa lain tidak memandang sebelah mata terhadap bangsa kita. Sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan negara tetangga serta tingkat ancaman yang relatif tinggi khususnya dalam hal perbatasan maka diperlukan anggaran pertahanan yang besar.
Submitted by salim on Tue, 02/03/2009 - 08:49.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Kecenderungan perkembangan lingkungan strategis semakin unpredictable sehingga menempatkan perkembangan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Jarak antar Negara sekarang bukan merupakan penghalang lagi, sementara sifat ketergantungan antar negara semakin besar. Gejala atau keinginan untuk pemisahan di dalam negara dengan alasan kesejahteraan dan upaya memperbaiki nasib sendiri akan timbul. Dinamisnya perkembangan lingkungan strategis tersebut, secara langsung maupun tidak langsung, akan mempengaruhi pergeseran kepentingan nasional sesuai dengan prediksi ancaman yang akan dihadapi oleh setiap negara.
Submitted by acahyadi on Fri, 01/30/2009 - 09:34.
Oleh: Ashadi Cahyadi, ST. M.Sc., Anggota Dewan Pertimbangan TANDEF
1. Tujuan
Sebagai bagian dari Sistem Pertahanan Republik Indonesia, TANDEF terpanggil untuk memberikan sumbangsih sedikit pemikiran bagi potensi pertahanan negara. Diharapkan dengan adanya tulisan ini, dapat menambah wawasan dan perkembangan potensi pertahanan dari sudut pandang yang berbeda.
2. Kondisi Umum
Jika kita melihat perkembangan situasi pertahanan negara terakhir ini, banyak diwarnai dengan berbagai peristiwa yang sifatnya multi dimensi dan berpengaruh terhadap integritas dan wibawa negara baik regional maupun internasional.
Submitted by y.syari on Tue, 01/20/2009 - 07:31.
Oleh: Yeptirani Syari, SE., Kadiv Litbang Ketahanan Budaya TANDEF
Indonesia adalah sebuah Negara Kesatuan yang terdiri atas ± 17.518 pulau yang terbentang dari Pulau Sabang di Propinsi NAD sampai kota Merauke di Propinsi Papua, dari Pulau Sangihe di Propinsi Sulawesi Utara sampai Pulau Rote di Propinsi NTT. Indonesia adalah negara yang luas. Penghuni Indonesia yang berjumlah ± 237 juta jiwa terdiri atas lebih dari 300 etnik dan sub-etnik. Semuanya adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari ketiga ratus etnik dan sub-etnik yang berbeda, Indonesia pun memiliki kekayaan budaya yang beragam. Karena setiap etnik memiliki kekayaan budayanya sendiri, seharusnya, kekayaan budaya yang sedemikian besar ini dapat membuat Indonesia terkenal di seluruh dunia akan keragaman budayanya serta memudahkan pemerintah dalam mempromosikan "Visit Indonesia 2008".
Submitted by salim on Mon, 01/19/2009 - 01:54.
Oleh: Mayor Laut (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF
Manajemen peperangan pada hakekatnya merupakan suatu kemampuan dalam mengorganisasikan, mengatur serta menjalankan peperangan sehingga didapatkan hasil yang optimal. Berbicara mengenai manajemen peperangan tidak dapat dipisahkan dari peralatan, organisasi serta personil yang mengawakinya. Sebagai tulang punggung dari manajemen peperangan adalah perwira peperangan (Principal Warfare Officer) yang merupakan pembantu utama Komandan dalam mengambil keputusan taktis pertempuran maupun sebagai pengganti Komandan pada saat tidak ditempat.
|
Recent comments
1 day 6 hours ago
5 days 13 hours ago
5 days 20 hours ago
1 week 10 hours ago
1 week 4 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 3 days ago
2 weeks 5 days ago
2 weeks 6 days ago
3 weeks 16 hours ago