TNI AL-PT PAL Siapkan Korvet Baru




KRI Diponegoro (365), salah satu korvet kelas SIGMA dalam jajaran armada TNI AL

Jakarta - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, mengatakan, pihaknya dan PT PAL hingga kini terus menjajaki pembuatan kapal Korvet Kelas Sigma V untuk mendukung sistem pertahanan matra laut dan kemandirian industri dalam negeri.

Ditemui ANTARA usai menghadiri buka puasa bersama Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Mabes TNI, Senin, ia mengatakan proses penjajakan itu terus berjalan.

"Masih dalam proses. Setelah empat kapal Korvet Kelas Sigma seluruhnya tiba di Indonesia, maka segera kita buat Korvet kelas serupa antara TNI AL dan PT PAL," ungkapnya

Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul mengatakan, pembuatan kapal Korvet Kelas Sigma V ini nantinya akan dijadikan standar bagi pengembangan kapal-kapal perang di TNI AL.

Kapal kombatan seperti korvet, fregat, dan perusak, matra laut ke depan akan diadakan dengan mengadopsi teknologi dan kemampuan yang dimiliki Korvet Kelas Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach).

Dengan kata lain, Korvet Sigma yang berteknologi terkini dapat menjadi jembatan transformasi dan standardisasi teknologi kapal-kapal kombatan TNI AL.

Sehingga akan terjadi efisiensi dalam pengadaan, pemeliharaan dan perawatan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL, termasuk pada aspek logistik, pendidikan, dan pelatihan personel pengawaknya.

Saat ini TNI AL punya kapal perang dan sistem peralatan yang berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Yugoslavia, Jerman, Rusia, Amerika serikat, Australia, Inggris, Jepang, Korea Selatan, China, Prancis, dan Afrika Selatan.

Iskandar menambahkan, persiapan pengadaan Korvet Sigma V telah dilakukan dengan melakukan pembahasan tingkat Mabes TNI AL, Mabes TNI dan Departemen Pertahanan.

"Diharapkan paling cepat 2010 kapal sudah mulai memasuki tahap pembuatan di PT PAL. Dengan catatan, kondisi perekonomian nasional sudah membaik," ujarnya.

Indonesia telah memesan empat kapal korvet Sigma dari Belanda dengan nilai total nilai 700 juta Euro (sekitar Rp8 triliun) atau Rp2 triliun untuk masing-masing kapal. Saat ini telah hadir dua kapal perang.

Iskandar mengatakan, dua Kapal Korvet terakhir masing-masing dijadwalkan tiba pada Oktober 2008 dan Maret 2009. "Dengan begitu, Korvet Sigma V dapat mulai dibangun paling cepat 2010, dan dapat segera dilakukan standardisasi kapal-kapal perang TNI AL, disesuaikan dengan kondisi perekonomian nasional," katanya.

Sumber : Antara sebagaimana dirilis di situs Dephan
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=8479

Foto berasal dari:
http://s134.photobucket.com/albums/q93/ambalat/Sigma%20corvettes/

Rujito's picture

Pembuatan peralatan elektronik dan persenjataan produk sendiri

"Saat ini TNI AL punya kapal perang dan sistem peralatan yang berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Yugoslavia, Jerman, Rusia, Amerika serikat, Australia, Inggris, Jepang, Korea Selatan, China, Prancis, dan Afrika Selatan"

Saya merasa bangga mendengar bahwa PT PAL akan memroduksi sendiri kapal korvet. Tetapi membaca pernyataan di atas, saya jadi agak menyayangkan. Dengan demikian, kita akan selalu bergantung pada teknologi dari negara-negara maju, khususnya Barat. Lalu kapan lagi teknologi kita memliki kesempatan berkembang. Kita sudah memiliki Lembaga Elektronik Nasional (LEN), juga punya banyak industri peralatan elektronik. Dengan demikian, saya rasa sudah waktunya kita membantu Lembaga dan industri itu dapat mengembangkan kemampuannya. Dalam hal apapun kita harus merupakan satu tim, jangan berdiri sendiri-sendiri. Kalau toh ada anggaran dan kita pesan itu pada perusahaan nasional maka akan membantu perusahaan dan industri nasional itu maju. Perihal resetnya dapat diserahkan kepada LEN atau BPPT. Perbankan bertugas menyediakan dana pinjaman (kredit)Kalau mereka maju, yang akan mengambil manfaat kita-kita juga Kita tidak perlu lagi kebingungan akan ada embargo militer.
Mungkin produksi pertama belum dapat memuaskan. Dari pengalaman operasional oleh kita, kita dapat memberi masukan kepada lembaga riset dan industri pembuatnya untuk dilakukan perbaikan-perbaikan. Lama-lama kan juga akan jadi sempurna. Kalau sudah sempurna, industri akan dapat memasarkannya ke negara-negara lain, khususnya negara-negara berkembang, dengan harga yang miring agar laku.
Hal yang sama dapat kita terapkan ke sistem senjata. Banyak senjata yang sifatnya dapat menggunakan teknologi yang tidak terlalu canggih yang dapat kita coba untuk diproduksi dan dapat kita gunakan, seperti misalnya bom laut konvensional.
Kapan kita akan berani memulainya ???

Kami yakin Indonesia bisa.

Kami yakin, apabila pemerintah mau memfasilitasinya, kita pasti bisa. Atau cara lain, mudah-mudahan swasta ada yang tertarik.

Contoh:
Tim Robot Indonesia dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung berhasil meraih juara I dan memperoleh medali emas dalam 'International Robo Games' yang diselenggarakan di San Francisco, AS. Kompetisi Robot Internasional yang berlangsung selama 3 hari (12-14 Juni 2009) itu diperkirakan dihadiri sekitar 3.000 orang.
Kemenangan ini patut dibanggakan mengingat Tim Robot Indonesia baru pertama kalinya bertanding di luar negeri. Tim dari Indonesia berhasil mengalahkan tim dari negara-negara maju, termasuk dari AS sendiri.

http://www.detikinet.com/read/2009/06/16/071450/1148461/398/tim-robot-in...

Ini baru yang mahasiswa, bagaimana dengan yang sudah profesional? Pasti lebih hebat lagi. Tinggal kesempatannya saja yang mesti lebih lagi.
(PR bagi presiden terpilih nanti)

Maju terus Indonesia-ku!

PT. PAL?

Sebelum ada kemajuan berarti dari PT. PAL (kesehatan manajerial dan keuangannya meragukan) saya tidak percaya korvet nasional akan dibangun. LPD ketiga yang dibangun oleh PT. PAL belum selesai hingga saat ini bahkan bisa molor satu tahun lagi.
Kalau korvet akan dibangun di PT. PAL tanpa persenjataan yang kita buat sendiri maka harganya akan sangat mahal. Bahkan lebih mahal jika dibandingkan dengan dibangun di Belanda.
Komponen termahal dalam pembangunan kapal perang adalah komponen indera, battle management dan persenjataannya. Sebagai orang yang ikut (sedikit) melihat pembangunan KRI jenis SIGMA saya bisa melihat situasi, metode kerja yang diterapkan Schelde dan sub kontraktor lainnya seperti Thales dan Otomelara atau WAAS. Sebagai sesama EU, barang dari Perancis atau Italia dapat lewat dengan mudah melintasi perbatasan dan cukup dibawa oleh truk kontainer. Untuk membawa persenjataan dan sistem melintasi benua ke Indonesia ? butuh biaya yang jauh lebih besar.
Alih teknologipun tidak maksimal karena PASTI tidak akan akan kontrak tentang itu. apalagi tentang lisensi produksi. Maksimal hanya pelatihan 2 minggu - 4 bulan sampai di level operator atau ILM (intermediate level maintenance) belum mencapai DLM (Depo level maintenance).
Maka, sebelum kita mampu membuat indera, CMS, dan senjata sendiri, membangun korvet dengan lisensi hanya pembuangan biaya... (kecuali kalau BENAR-BENAR rancangan lokal)
Untuk indera memang sudah ada kemajuan dengan radar INDERA dari ITB, yang bartu akan diujicoba oleh TNI-AL. Ayo yang lainnya.
(teguhelektro43@gmail.com)