"Tuan-tuan Hakim, siapakah orang Indonesia yang tidak mengeluh hatinya, kalau mendengarkan cerita tentang keindahan itu, siapakah yang tidak menyesalkan hilangnya kebesaran-kebesarannya! Siapakah orang Indonesia yang tidak hidup semangat nasionalnya kalau mendengarkan riwayat tentang kebesaran kerajaan Melayu dan Sriwijaya, tentang kebesaran Mataram yang pertama, kebesaran zaman Sindok dan Erlangga dan Kediri dan Singasari dan Majapahit dan Pajajaran, kebesaran pula dari Bintara, Banten dan Mataram kedua di bawah Sultan Agung! Siapakah orang Indonesia yang tidak mengeluh hatinya kalau ia ingat akan benderanya yang dulu ditemukan dan dihormati orang sampai di Madagaskar di Persia dan di Tiongkok. Tetapi sebaliknya, siapakah yang tidak hidup harapannya dan kepercayaannya, bahwa rakyat yang demikian kebesarannya hari dulu itu pasti cukup kekuatan untuk mendatangkan hari kemudian yang indah pula, pasti masih juga mempunyai kebisaan-kebisaan menaik lagi di atas tingkat kebesaran di kelak kemudian hari. Siapakah yang tidak seolah-olah mendapat nyawa baru dan tenaga baru kalau ia membaca riwayat zaman dulu itu! Begitulah pula rakyat, dengan mengetahui kebesaran hari dulu itu, lantas hiduplah rasa nasionalnya, lantas menyala lagilah api harapan di dalam hatinya, dan lantas mendapat lagilah rakyat itu nyawa baru dan tenaga baru oleh karenanya."
(Ir.Soekarno, dalam pidato pembelaannya di depan Pengadilan Kolonial Hindia Belanda, 1930)


Pembuatan peralatan elektronik dan persenjataan produk sendiri
"Saat ini TNI AL punya kapal perang dan sistem peralatan yang berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Yugoslavia, Jerman, Rusia, Amerika serikat, Australia, Inggris, Jepang, Korea Selatan, China, Prancis, dan Afrika Selatan"
Saya merasa bangga mendengar bahwa PT PAL akan memroduksi sendiri kapal korvet. Tetapi membaca pernyataan di atas, saya jadi agak menyayangkan. Dengan demikian, kita akan selalu bergantung pada teknologi dari negara-negara maju, khususnya Barat. Lalu kapan lagi teknologi kita memliki kesempatan berkembang. Kita sudah memiliki Lembaga Elektronik Nasional (LEN), juga punya banyak industri peralatan elektronik. Dengan demikian, saya rasa sudah waktunya kita membantu Lembaga dan industri itu dapat mengembangkan kemampuannya. Dalam hal apapun kita harus merupakan satu tim, jangan berdiri sendiri-sendiri. Kalau toh ada anggaran dan kita pesan itu pada perusahaan nasional maka akan membantu perusahaan dan industri nasional itu maju. Perihal resetnya dapat diserahkan kepada LEN atau BPPT. Perbankan bertugas menyediakan dana pinjaman (kredit)Kalau mereka maju, yang akan mengambil manfaat kita-kita juga Kita tidak perlu lagi kebingungan akan ada embargo militer.
Mungkin produksi pertama belum dapat memuaskan. Dari pengalaman operasional oleh kita, kita dapat memberi masukan kepada lembaga riset dan industri pembuatnya untuk dilakukan perbaikan-perbaikan. Lama-lama kan juga akan jadi sempurna. Kalau sudah sempurna, industri akan dapat memasarkannya ke negara-negara lain, khususnya negara-negara berkembang, dengan harga yang miring agar laku.
Hal yang sama dapat kita terapkan ke sistem senjata. Banyak senjata yang sifatnya dapat menggunakan teknologi yang tidak terlalu canggih yang dapat kita coba untuk diproduksi dan dapat kita gunakan, seperti misalnya bom laut konvensional.
Kapan kita akan berani memulainya ???
Kami yakin Indonesia bisa.
Kami yakin, apabila pemerintah mau memfasilitasinya, kita pasti bisa. Atau cara lain, mudah-mudahan swasta ada yang tertarik.
Contoh:
Tim Robot Indonesia dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung berhasil meraih juara I dan memperoleh medali emas dalam 'International Robo Games' yang diselenggarakan di San Francisco, AS. Kompetisi Robot Internasional yang berlangsung selama 3 hari (12-14 Juni 2009) itu diperkirakan dihadiri sekitar 3.000 orang.
Kemenangan ini patut dibanggakan mengingat Tim Robot Indonesia baru pertama kalinya bertanding di luar negeri. Tim dari Indonesia berhasil mengalahkan tim dari negara-negara maju, termasuk dari AS sendiri.
http://www.detikinet.com/read/2009/06/16/071450/1148461/398/tim-robot-in...
Ini baru yang mahasiswa, bagaimana dengan yang sudah profesional? Pasti lebih hebat lagi. Tinggal kesempatannya saja yang mesti lebih lagi.
(PR bagi presiden terpilih nanti)
Maju terus Indonesia-ku!
PT. PAL?
Sebelum ada kemajuan berarti dari PT. PAL (kesehatan manajerial dan keuangannya meragukan) saya tidak percaya korvet nasional akan dibangun. LPD ketiga yang dibangun oleh PT. PAL belum selesai hingga saat ini bahkan bisa molor satu tahun lagi.
Kalau korvet akan dibangun di PT. PAL tanpa persenjataan yang kita buat sendiri maka harganya akan sangat mahal. Bahkan lebih mahal jika dibandingkan dengan dibangun di Belanda.
Komponen termahal dalam pembangunan kapal perang adalah komponen indera, battle management dan persenjataannya. Sebagai orang yang ikut (sedikit) melihat pembangunan KRI jenis SIGMA saya bisa melihat situasi, metode kerja yang diterapkan Schelde dan sub kontraktor lainnya seperti Thales dan Otomelara atau WAAS. Sebagai sesama EU, barang dari Perancis atau Italia dapat lewat dengan mudah melintasi perbatasan dan cukup dibawa oleh truk kontainer. Untuk membawa persenjataan dan sistem melintasi benua ke Indonesia ? butuh biaya yang jauh lebih besar.
Alih teknologipun tidak maksimal karena PASTI tidak akan akan kontrak tentang itu. apalagi tentang lisensi produksi. Maksimal hanya pelatihan 2 minggu - 4 bulan sampai di level operator atau ILM (intermediate level maintenance) belum mencapai DLM (Depo level maintenance).
Maka, sebelum kita mampu membuat indera, CMS, dan senjata sendiri, membangun korvet dengan lisensi hanya pembuangan biaya... (kecuali kalau BENAR-BENAR rancangan lokal)
Untuk indera memang sudah ada kemajuan dengan radar INDERA dari ITB, yang bartu akan diujicoba oleh TNI-AL. Ayo yang lainnya.
(teguhelektro43@gmail.com)